PENYELAMAT TERAKHIR

Aben

Kabur!

Hanya kata itu yang tergambarkan di dalam pikiranku saat ini, saat ada sepuluh laki-laki dewasa yang menghadangku ketika  hendak mencari tempat berteduh setelah seharian mengais rezeki. Walaupun aku baru berumur 15 tahun, aku tidak takut dengan mereka karena mereka selalu minta uang kepadaku berupa uang pajak karena memasuki daerah kekuasaan mereka.

“Hai anak setan! Jika sayang nyawa sebaiknya serahkan kepada kami uangmu!” bentak salah satu dari mereka.

“Kak saya masih kecil dan butuh makan lagian mendapatkannya tidaklah mudah dan…”

“Alaaah alasan saja. Saya tidak peduli kamu mendapatkannya dengan cara seperti apa, paling anak gembel seperti kamu hanya bisa maling dan mengemis,” salah satu dari mereka memotong perkataanku. Tetapi yang dikatakannya itu memang benar, aku adalah salah satu dari sekian banyak anak yang tidak memiliki tempat tinggal apalagi orang tua. Sejak kecil aku tidak pernah melihat siapa kedua orang tuaku apalagi merasakan kasih sayangnya, sejak kecil yang  aku tahu hanyalah bagaimana cara mendapatkan uang untuk bertahan hidup. Sejak kecil aku diasuh oleh Kak Tapa, tetapi sekarang dia sudah menghilang dari kehidupanku begitu saja seakan aku sudah sanggup untuk menjaga diri sendiri dengan baik.

“Kenapa melamun!” bentak salah seorang lagi kepadaku.

“Ti..tidak Kak,” sahutku. Tanpa kusadari sebuah tendangan yang keras mendarat tepat mengenai dadaku dan aku pun terdorong sejauh tiga meter. Dadaku terasa sangat sesak dan rasanya susah sekali untuk bernafas, kulihat samar-samar salah satu dari mereka mendekat sambil menggenggam pisau di tangan kirinya dan akupun mendapat sebuah tusukan di bahu sebelah kanan. Kepalaku sangat pusing dan terasa darah segar mengalir dari tubuhku.

”Bagus biar mati aja sekalian, dasar anak setan.” Itulah kata-kata terakhir yang aku dengar sebelum semuanya benar-benar gelap, aku pingsan.

Aku terbangun dan kulihat sekelilingku, semuanya gelap. Ternyata hari sudah malam sedangkan aku sendirian di daerah yang liar ini. Di sekelilingku yang kulihat hanyalah pohon dan semak-semak tinggi. Rupanya aku telah dibuang ke dalam hutan yang belum terjamah ini. Tanpa disadari aku marasakan semak di sekelilingku bergemerisik dan mulailah muncul makhluk yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Makhluk tersebut adalah binatang yang berukuran tinggi dan berjalan layaknya manusia.

“Kilta, tolonglah kami. Suku Mailando sangat membutuhkan pertolonganmu karena kamu adalah penentu dari hidup kami. Temuilah Tohga,” kata seorang dari mereka. Sekejap semuanya langsung berbalik dan meningalkanku yang diterpa kebingungan. Suasana berlangsung sepi kembali, nafas serta darahku mulai lancar kembali setelah melihat sesuatu kejadian yang sangat mustahil terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat sehingga aku tidak sempat berbuat apa-apa. Aku menyandarkan tubuhku ke sebatang pohon besar sanbil membenturkan kepalaku ke tanah seakan-akan aku baru saja bemimpi. Tetapi semua itu nyata! Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhku dan badanku gemeteran. Aku takut!

“Tidak mungkin” teriakku dan akupun kehilangan kesadaranku kembali.

Untuk kedua kalinya aku terbangun dan “…aaakhh”. Sinar matahari tepat mengenai bola mataku. Rupanya hari sudah siang dan cahaya matahari sudah mulai menembus dedaunan menerangi sebagian sisi hutan. Sekejap aku langsung berdiri karena aku haus. Kebetulan dari jauh aku mendengar suara air mengalir. Aku langsung minum setelah menemukan sumber air tersebut. Setelah pikiranku jernih aku teringat akan luka tusukanku dan ternyata sudah hilang sepenuhnya tanpa bekas sedikitpun. Memang akhir-akhir ini aku sering mengalami hal-hal yang aneh. Aku mulai bermimpi tentang suatu makhluk yang mengerikan, kemarin malam aku diklejutkan oleh kelompok makhluk aneh yang berbicara, dan hari ini lukaku tiba-tiba saja menghilang tanpa bekas.

“Kilta, jangan melamun sebaiknya pikirkan cara supaya kamu bisa keluar dari hutan ini,” hati kecilku berbicara. Benar saja aku harus secepatnya keluar dari sini. Akhirnya aku bulatkan tekat untuk menelusuri sungai ini hingga hilir, siapa tahu nantinya aku menemukan perumahan penduduk.

Setelah kira-kira satu jam berjalan, akhirnya aku melihat aktivitas penduduk. Aku langsung berlari mendekati seorang penduduk terdekat yang sedang berlatih pedang. “Pak, bisa Bapak memberi saya sedikit makanan,” kataku memelas kepada orang yang kelihatannya sudah berumur sekitar 43 tahun tersebut.

“Liza tolong kau siapkan makanan,” serunya sambil melihat ke dalam rumah. “Mari masuk, namaku Yokee, namamu siapa?” katanya menatapku.

“Namaku Kilta” jawabku.

Ia menyuruhku masuk ke dalam rumahnya yang sudah kelihatan rapuh. Setelah kami selesai makan aku diajaknya duduk di pelataran depan rumah yang tidak terlalu luas.

“Kilta, kenapa kamu bisa sampai di sini, dan dari mana asalmu?” tanyanya penasaran. Aku lalu menceritakan semuanya kepadanya termasuk hinaan “anak setan” yang sering aku terima dari orang-orang.

Ekspresi wajahnya langsung berubah setelah mendengar kata tersebut. “Apa katamu? Anak Setan?” tanyanya penasaran

“Iya. Apa Bapak tahu artinya?” tanyaku.

“Oh tidak, tunggu ya saya mau ke belakang dulu” katanya sambil berlalu meninggalkanku yang penasaran. Aku disuruh tinggal oleh istrinya supaya aku bisa belajar sedikit ilmu bela diri dan untuk mempersiapkan bekal untuk perjalanan nanti.

Tujuh hari sudah aku lalui dengan banyak latihan ilmu bela diri dan selama itu pula banyak  hal baru yang aku ketahui termasuk profil Yokee yang ternyata adalah seorang pembunuh bayaran yang kejam. Tapi ada satu hal yang aku tidak ketahui yaitu alasan Yokee melatihku, padahal itu nampaknya ia sangat membencinya.

“Oh tidak!” teriakku seraya terbangun dari tidurku. Rupanya pembunuhan yang kusaksikan itu hanya mimpi. Aku bangkit dari ranjang dan kubuka jendela kayu yang sudah ditelan umur. Di langit banyak sekali bintang dan rembulan yang bersinar dengan terangnya sehingga enak sekali rasanya bisa jalan-jalan di luar sana. Samar-samar kudengar orang yang sedang berdebat dari ruangan sebelah. Kuseret langkah kakiku mendekati asal suara dan kutempelkan sedekat mungkin telinga kananku ke arah pintu yang menghalangiku.

“Liza, sebaiknya kita bunuh anak itu sekarang, dia sudah terbukti anak setan yang dicari,” kata sebuah suara yang aku kenal, Yokee.

“Aku setuju denganmu, sebelum Kilta menjelma menjadi monster seperti orang tuanya,” kata suara yang satu lagi.

Seketika jantungku terasa berhenti berdetak, mana mungkin aku monster. Tanpa permisi langsung kudobrak pintu tersebut.

“Siapa itu?” kata Yokee. Tanpa pikir panjang aku langsung bersalto sanbil mengeluarkan pisau yang diberi Yokee. Krakk tubuh Yokee menimpa dinding. Sebelum aku sempat menghajarnya dengan pisau aku ditendang dari samping oleh Liza, akibatnya tusukanku hanya menggores pelipis Yokee.

”Aww, awas kau!” erangnya. Sekejap aku langsung meloncat keluar dan berlari melewati jalan setapak menuju hutan. Di belakang, Yokee mengejarku dengan bantuan teman-temannya.

Whuussh! Sebatang anak panah melesat di atas kepalaku. Ada pula seseorang yang berlari ke arahku sambil menghunus pedang. Trang! Kutahan sabetannya, dan sebuah tendangan kukirimkan ke kepalanya. Satu orang lagi maju dengan sangat cepat dan tendangannya tak terelakkan lagi.

Sekarang posisi tidak seimbang, aku dikepung 15 orang bersenjata. Satu persatu memukuliku tanpa ampun, dan sebuah anak panah manancap di punggungku. Aku kewalahan, badanku penuh memar dan luka, kakiku tidak bisa lagi menopang berat badanku sehingga aku terjatuh. Sebelum aku kehilangan kesadaran sesuatu yang familiar bergetar didalam tubuhku, sesuatu yang berwarna kuning menyelimuti tubuhku. Sesuatu telah terjadi, luka dan memar langsung hilang dan anak panah yang menempel terbakar oleh panasnya kulitku.

Perlahan kuku panjang mencuat keluar, kulitku berubah menjadi sangat kasar dipenuhi otot dan bulu. Rambutku berubah layaknya surai singa, telingaku mengecil tapi tak sedikitpun suara yang luput dari pendengaranku. Rahangku membesar diiringi gigi panjang yang tajam. Perubahan terakhir terjadi pada hidungku yang semakin membesar.

“Tidak mungkin ini benar-benar terjadi! Seraaang…!” perintah Yokee.

Mereka langsung berlari kearahku. Sebuah gerakan seperti mencakar tepat kuarahkan ke depan dan lima orang langsung mati. Dua gerakan yang sama kuarahkan ke samping kanan dan kiri, hingga akhirnya semuanya binasa, termasuk Yokee.

Kondisi kembali hening, kuputuskan menjauh ke dalam hutan karena tubuhku yang mengerikan ini akan membuat orang berpikir untuk bersikap ramah. Aku terus berlari tanpa memedulikan keadaan, menjauh ke dalam hutan sampai akhirnya aku beristirahat di sana.

Aku terbangun karena bau wewangian yang sangat asing masuk ke hidungku. Aku terperangah melihat makhluk-makhluk yang pernah kujumpai duduk mengeliligiku. ”Penyelamat datang,” sebut mereka.

“Kilta, akhirnya kau datang juga. Tohga sudah lama menunggumu.”

“Siapa itu Tohga?” kataku penasaran

“Dia adalah ayahmu.”

“Mana mungkin ayahku masih hidup?”

“Dia masih hidup karena terus menunggu kedatanganmu sampai kamu siap”

“Siap buat apa?” Mereka tak menjawab.

“Tuan Kilta silakan masuk, Tohga sudah semakin menburuk keadaannya,” ujar salah satu makhluk sambil menunjuk ke sebuah gua yang tadinya kupikir hanya tumpukan batu. Kuikuti mereka melewati dinding gua yang kelihatan berkilau, perjalanan mengarahkan kami ke sebuah tangga menuju bawah, di maana terdapat ruangan yang sangat luas. Di tengahnya terdapat seekor makhluk mirip dengan diriku dalam pertempuran semalam.

“Kilta, mendekatlah ke Ayah,” katanya sambil meraih tanganku. Seketika air mataku berlinang.

“Di mana ibuku?” tanyaku.

“Ibumu seorang manusia yang baik sepertimu, sudah lama meninggal saat kami melarikan diri dari amarah penduduk,” katanya. “Sekarang yang penting adalah menyelamatkan hidup kita,” lanjutnya.

“Menyelamatkan dari apa?”

“Dari suku hutan yang akan membunuh kita.

“Oleh karena itu berjanjilah padaku untuk menggantikan ayah memimpin pasukan kita melawan mereka. Kita tidak akan bisa lari terus manerus dari mereka. Kamu harus berhati-hati menghadapi senjata bergerigi milik mereka,” pintanya kepadaku.

“Aku berjanji,” kataku meyakinkannya walaupun aku tidak tahu aku berada di pihak yang benar atau salah.

“Bluusssh.” Wujud ayahku melebur menjadi cahaya dan menghilang dari pandangan. Dia telah mati. Tapi entah mengapa aku tidak merasa kesepian. Mungkin karenakan selama ini aku terbiasa hidup mandiri.

Malam ini semua anggota suku Mailando turut berduka cita atas kematian Tohga, dan malam ini aku resmi menjadi pimpinan suku Mailando, suku makhluk yang berbentuk binatang.

“Kilta, gunakanlah ini, senjata milik Tohga,” kata seorang prajurit sambil menyerahkan sebuah pedang ke tanganku. “Di dalam pedang ini tersimpan semangat juang Tohga,” lanjutnya.

Kutimang-timang pedang tersebut. Rasanya sangat berat, tapi aku yakin siapa saja yang memegang pedang ini akan ikut terlimpahkan semangat juangnya. Beberapa saat setelah prajurit pertama pergi, datang seorang prajurit yang berbadan sangat kekar.

“Tuan Kilta, perkenalkan nama saya Karo. Kalau tuan membutuhkan apa-apa, panggil saja saya dan saya akan menjadi suruhan yang baik untuk anda,” katanya.

“Baiklah,” aku mengiyakan, dan diapun berlalu. Entah mengapa firasatku tidak enak dengan prajurit ini. Menurutku, dia adalah seorang yang tidak suka diperintah

“Sekarang waktunya istirahat. Bagi prajurit tingkat pertama, ditugaskan untuk berjaga,” kata karo dengan lantang hingga semua pasukan mendengarnya. Prajurit tingkat pertama yang terdiri dari makhluk yang bisa terbang dan yang ahli dalam mengintai dari darat langsung mengambil posisi. Rupanya Karo memiliki kedudukan yang tinggi di dalam pasukan sehingga semua langsung menjalankan perintahnya. Pasukan yang tidak tergolong pasukan tingkat pertama langsung mengambil posisi untuk tidur.

“Silakan lewat sini, Tuan Kilta,” kata dua prajurit sambil menunjukan tempat yang paling aman untuk seorang pemimpin. Seketika keributan berubah menjadi keheningan dan aku pun terlarut dalam mimpi-mimpi aneh seperti biasanya.

Pagi harinya udara sangat segar dengan pemandangan yang begitu mempesona, sehingga tak satu pun dari sekian banyak pasukan yang siap untuk berperang.

”Tuan Kilta,sekarang waktunya makan di dalam aula pertemuan pertama,” kata seorang prajurit.

”Baiklah,” balasku.

Semua pasukan berkumpul di dalam aula pertemuan pertama dengan hidangan berupa daging terletak di atas meja bundar yang panjang.

“Anak-anak keluarkan nafsu makan kalian,” kata Zohar dengan lantang. Sekejap pasukan monster dan binatang langsung menyerbu makanan dan melahapnya dengan sangat rakus. Takut kehabisan, aku pun langsung menyambar makanan terdekat dan memakannya. Tidak seperti manusia, adab makan monster mengeluarkan suara seperti kucing yang mendengkur

Setelah selesai makan, semua pasukan pergi keluar gua dan berjemur. Ini adalah kebiasaan mereka. Dilihat dari kondisi pasukan, saat ini sangat tidak memungkinkan untuk berperang, mereka menjemur diri sambil meletakkan perut mereka menghadap angkasa. Tiba tiba datang monster burung di atas kepala kami dengan terburu buru. ”Perhatian semua! Bersiaplah untuk berperang! Pasukan musuh datang dan mereka sudah melewati perbatasan hutan!” kata burung tersebut dengan nada memperingatkan.

Serentak semua monster berukuran satu setengah tubuh manusia bangun dari santainya. Semua memakai peralatan tempur masing masing dan bersiaga. Ada juga yang mengaktifkan jebakan. Aku juga langsung mempersiapkan diri, bersembunyi di balik semak dengan tangan menggenggam pedang milik Tohga. Di lubuk hatiku yang paling dalam aku masih sedikit ragu untuk berperang.

Suasana di dalam hutan langsung menjadi hening. Sesuatu yang mengganggu di pikiranku, yaitu tentang gambaran musuh yang kami hadapi.

Dari kejauhan aku tidak mendengar tanda-tanda kedatangan musuh. Seketika bulu romaku berdiri tegak. Tiba-tiba semua pohon yang tumbuh di depan mataku tumbang seketika. Cahaya biru tercampur kuning muncul dan berubah menjadi beribu ribu pasukan yang berbentuk seperti manusia berbulu, bertanduk, dan berekor pendek layaknya kucing. Mereka memakai baju zirah dan pemimpin mereka membawa sebuah senjata bergerigi.

“Serang!!” seru sang pemimpin.

Langsung mata dan ujung jari mereka mengeluarkan cahaya biru. Pertempuran pun dimulai. Senjata besar bergerigi langsung melenyapkan dua pasukanku hanya dengan disentuhnya. Serangan balik para monster menghajar balik pasukan musuh. Pijaran api muncul di mana-mana akibat bertemunya senjata senjata berat yang bercampur dengan sihir.

Dua orang musuh langsung menyerangku yang sendirian. Satu tebasan melesat di sebelah tangan kiri dan satu tusukan dari depan berhasil kuelakkan dan penyerangku terguling ke samping kanan. Tak kalah cepat, satu tebasan ke samping kukirimkan tepat menusuk musuh dan dia pun melebur menjadi air. Satu monster lagi tersisa, dia mengirim tendangan tepat mengenai punggungku

”Sialan,” umpatku. Ternyata  kekuatan musuh sangat besar. Hyaaa…! Pukulan kedua mendarat di kepalaku.

“Dasar makhluk bodoh! Kubunuh kau!” umpatku sambil melakukan gerakan salto mengenai musuh, dia pun melebur tena tebasanku.  Di sekelilingku ribuan pasukan mengadu kekuatan. Kupegang erat erat pedang Tohga dan aku pun masuk ke medan pertempuran sambil meleburkan setiap musuh yang menghadang. Luka memar memenuhi tubuhku, serta darah menetes keluar dari mulutku. Aku sudah lelah, padahal pasukan musuh sudah menang jumlah sekarang.

Bruggghh! Aku terjengkang ke belakang dan mendarat dengan kepala lebih dulu. Sakitnya tak tertahan. Kulirik di belakangku telah berdiri seseorang dengan senjata gerigi, tidak lain adalah pemimpin pasukan musuh. Badanku terasa sangat berat sedangkan pedang Tohga terlepas dari genggamanku akibat dari tendangan tadi.

“Kubunuh kau, Kilta,” katanya menyebut namaku sambil mengangkat senjata bergeriginya dan bersiap membunuhku. “Mati kau!” raungnya.

Sontak aku merasakan sesuatu yang pernah aku alami waktu melawan Yokee. Kurasakan tubuhku berubah menjadi monster. Berguling ke kanan sambil menghindari senjata bergerigi, kupukul musuhku tepat di dadanya dan dia terpental jauh ke belakang. Sekarang tinggi serta bentuk tubuhku sudah sama seperti monster lain. Tenagaku seolah bertambah berpuluh puluh kali lipat dari biasanya.

“Apa? Ternyata makhluk seperti kau masih hidup?” ucap kaget pemimpin musuh. “Jangan takut kalian semua, akan kuurus dia,” kata pemimpin congkak itu pada pasukannya. Pasukanku yang sudah kalah jumlah mulai terpojok ke arah sisi gua. Langsung senjata bergerigi menghantam dadaku sampai aku terpental jauh ke belakang, tetapi aku tahu aku tidak mungkin mati karena saat ini aku bukan manusia biasa. Tanpa menghiraukan rasa sakit kuserang balik dengan cakaran yang mematikan, tapi senjata bergerigi tersebut menghalangi seranganku. Ternyata benar apa yang dikatakan Tohga bahwa senjata tersebut sangat kuat.

Kuambil pedangku yang terpental. Pada saat kupegang pedang tersebut berubah warna menjadi merah dan bertambah besar. Rupanya pedang ini bisa berubah sesuai dengan kekuatan tuannya. Pedang tersebut membuatku semakin kuat dan seakan dia tahu tugasnya. Terlepas sendiri dari tanganku, terbang keatas lalu turun menancapkan diri di tanah di hadapan pemimpin musuh. Kemudian pedang tersebut membuat lingkaran penuh mengelilinginya.

“Tidak!! Aku tidak bisa terkalahkan,” kata musuhku dengan suara ketakutan.

“Kilta! Dekati dan tusuk dia,” Karo memintaku.

Aku tidak tahu maksudnya, yang jelas ini sangat konyol. Langsung kutembus lingkaran tersebut, sebelum aku menusuk, terdengar suara seorang prajurit dari belakang

“Jangan! Itu sama saja dengan bunuh diriii!”. Seruannya tak kuhiraukan, dan langsung kutusuk musuhku itu. Ia langsung meledak. Musnah.

“Begitu saja? Mudah sekali!” seruku tercengang. Tapi seketika tubuhku melemas seakan tenagaku ikut terlepas pergi. Padahal semua pasukan musuh langsung meledak menyusul. “Mudah tapi sangat mematikan,” pikirku.

“Hyaaa” serentak semua pasukan berteriak senang penuh kemenangan.

“Bagus sekali kerjamu Kilta” kata Karo dengan nada sinis. “Tapi setelah ini kamu akan menyusul mereka,” tawa Kare pun meledak.

“Tidak! Ternyata kau telah berkhianat” ujarku menyadari kelicikannya. Karo langsung mengeluarkan senjatanya yang bergerigi mirip milik para musuh.

“Kau tahu, Kilta, kau akan mati di sini,” katanya. Semua prajurit ternyata sudah dipengaruhi oleh Karo sejak awal kecuali satu prajurit. Ia berseru padaku.

“Kilta masuklah ke dalam gua dan lepaskanlah makhluk yang ada di dalam petiii!” itulah kata-kata terakhirnya sebelum dicekik oleh kawanannya.

Aku berlari dengan tenaga yang sangat minim ke dalam gua yang dipenuhi bebatuan. Sekian banyak monster mengejar di belakang siap menghabisiku. Dengan nafas terengah-engah, kutatap setiap sudut gua sampai akhirnya kulihat sebuah peti yang tersandar pada batu

“Berhenti! Atau hidupmu berakhir sekarang!” Karo berteriak dari belakang. Mau tidak mau harus kubuka peti tersebut karena Karo sudah pasti mambunuhku.

Braaakkk!!! Sebuah batu terdekat kulempar sampai menghancurkan kunci peti tersebut. Sesuatu  berwarna putih keluar dari dalam peti  menerangi seluruh isi gua dan membuat mataku tidak bisa melihat. Seiring dengan munculnya cahaya tersebut, lolongan demi lolongan kesakitan para monster menggema di seluruh sisi gua.

“Tidaaak!” teriakan histeris para monster yang memekakkan telinga lambat laun menghilang dari pendengaran diiringi menghilangnya cahaya menyilaukan itu. Setelah penglihatanku normal kembali, kulihat tubuh para monster mencair. Meraka semua musnah. Nasibku tidak jauh beruntung dari mereka karena energiku sudah benar-benar habis. Aku jatuh…

Aku menyadari bahwa aku sudah berada di suatu tempat yang aman sebab semua lukaku dibalut dan diobati.

“Akhirnya kamu sadar,” seorang tua berdiri di hadapanku.

“Di mana aku sekarang?” tanyaku lemah.

“Kamu sekarang ada di tempat yang aman” lanjutnya menenangkan.

“Bagaimana kalian bisa menemukanku?”

“Coba kamu lihat ke sana,” tunjuknya ke sebuah jendela di belakangku.

Pemandangan yang sangat mengerikan. Separuh dari hutan yang tadinya hijau, kini menghitam habis terbakar.

“Namamu Kilta, kan?” tanya seseorang yang datang memegang pundakku.

“Iya.”

“Kami tahu siapa kamu sebenarnya, dan kami sudah memusnahkan makhluk yang ada pada dirimu jadi kamu tidak perlu takut lagi,” jelasnya. “Kami sudah memutuskan kamu bisa tinggal bersama kami di sini.”

Aku tak berkata-kata walau sangat menyetujui hal tersebut. Sudah lama aku merindukan tempat tinggal yang layak. Ternyata kasih sayang dan kedamaian juga bisa didapatkan di masa mudaku ini.

Iklan