PERJALANAN: EKSTREMIS, SENIMAN, TUHAN

Smith61

Forum Semesta memperkirakan bahwa suatu bencana besar akan datang di masa depan. Perkiraan ini berdasarkan penemuan data aneh dari tempat sangat jauh, yang sepertinya berasal dari suatu peradaban makhluk lain yang selama ini dipertanyakan umat manusia.

Mungkin memang masih belum pasti dan sangat lama, tapi umat manusia harus bersiap. Berdasarkan pemikiran itu, Sang Seniman DNA melaksanakan misi kemanusiaan besar-besaran.

Berkeliling antariksa menyusuri koloni-koloni manusia. Menyebarkan sebuah penemuan rekayasa genetik bernama Anugerah DNA. Bertujuan mengubah setiap manusia menjadi makhluk yang lebih sempurna.

Anugerah DNA ini menyebabkan perubahan drastis pada manusia. Selain bentuk fisik yang menjadi ideal, berwarna keperakan, dan beraroma manis, serta memiliki kemampuan melayang, membuat manusia mampu bertahan hidup di berbagai medan berbahaya, bahkan dalam air, bahkan sanggup bertahan hidup dalam ruang hampa! Bahkan tidak menua setelah mencapai masa dewasa! Nyaris abadi! Sungguh sebuah mahakarya Sang Seniman DNA.

Ada konsekuensi akibat Anugerah DNA, tapi tidak begitu berarti jika dibandingkan manfaatnya.

***

Ratusan koloni! Baru kali ini ia temukan manusia yang tidak berubah dan hanya berpengaruh sedikit setelah diberi Anugerah DNA, bahkan hingga berkali-kali dengan dosis tinggi.

Ia terkejut bukan main karena dua hal. Pertama, karena menemukan gadis dengan karakter DNA yang mematahkan kesempurnaan Anugerah DNAnya. Kedua, karena kecantikan mengguggah jiwa pada  gadis muda itu.

Kata orang-orang koloni, gadis itu adalah seorang cenayang yatim piatu yang terkenal atas pisau keramat dan kemampuan meditasinya.

“Cenayang muda, sakitkah?” Tanya Sang Seniman DNA

“Lebih sakit perasaanku, tidak bisa berubah menjadi ciptaan God yang menakjubkan sepertimu.” Jawabnya.

Tiba-tiba tubuh gadis itu jatuh dari kursi operasi, beruntung ditangkap tangan Sang Seniman DNA.

“Ciptaan God?” Sang Seniman DNA sedikit tak nyaman. Dalam dekapannya, ia memperhatikan gadis itu. Alisnya tebal, matanya berwarna kelabu. Rambutnya hitam, lurus lebat, sepanjang lengan. Proporsi hidung yang elok, juga bibir mungil yang menggoda.

Kau juga adalah organisme langka yang begitu manis,kau menaklukanku. Tidak akan kubiarkan kau hilang oleh waktu, pikir Sang Seniman.

“Namamu?”

“Umbra.”

Sang Seniman DNA membuat dirinya melayang melewati sebuah lubang atap kapal, kemudian berlalu menuju langit malam. Ia mempererat peluknya ketika udara dingin menyergap. Jemarinya menyentuh pipi Umbra yang selembut kapas, mengarahkan wajah gadis itu ke langit.

“Lihatlah angkasa raya itu, maukah kau menjadi istriku, menemaniku mengarungi antariksa? Menemaniku menolong umat manusia dengan segala permasalahan mereka? Dalam perjalanan itu, aku akan terus berusaha mengubahmu, berusaha memperpanjang hidupmu yang singkat, meskipun … aku harus menyakitimu.”

Gadis itu tampak tidak terkejut sama sekali, kemudian menjawab, “Aku sudah tahu hal ini akan terjadi.”

“Sejujurnya, aku telah menunggu saat ini sejak meditasi pertamaku ketika berumur 4 tahun, dan aku rela mendampingimu dalam penderitaan asal dapat memenuhi takdirku yang telah ditentukan God.” Jawabnya seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Sang Seniman DNA, ia tak kuasa menolak semerbak aroma manis yang begitu memabukkan.

Benarkah? Godkah yang memberitahumu? Pikir Sang Seniman DNA.

“Kalau begitu mari mengarungi antariksa bersama, akan kutangkap God yang bersembunyi di sana, mungkin ia bisa membantuku untuk mengubahmu.” Ujar Sang Seniman sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Umbra.

***

Waktu terus berjalan, dan sudah sepantasnya tubuh manusia lama Umbra tidak mampu lagi melakukan perjalanan antariksa, begitu juga anak mereka yang diberi nama Penumbra(anak merekapun tidak dapat diubah menjadi manusia baru). Namun Sang Seniman bersikeras. Ia mengurung Umbra dan Penumbra dalam ruangan khusus berisi kabut pekat mutasi gen dan memberikan mereka Anugerah DNA secara rutin.

Sementara Forum Semesta sedang panik karena teleskop-teleskop telah menyaksikan sebuah fenomena. Bencana yang dahulu diperkirakan telah mendekat dan kini dapat diketahui apa sebenarnya bencana itu …

Penyempitan alam semesta.

Objek-objek terjauh yang mampu dilihat teleskop hilang! Digantikan dengan kegelapan murni yang tanpa cacat, kegelapan sempurna.

Seiring waktu bergulir, umat manusia mulai menyaksikan pengungsian besar-besaran makhluk luar angkasa lain. Dan ketika bencana itu sudah di depan mata, manusia juga harus ikut mengungsi ke arah pusat semesta. Celakanya segala pengungsian itu menyebabkan tragedi.

Berbagai makhluk luar angkasa saling berebut daerah. Setiap terjadi penyempitan, terjadi perang dahsyat. Beruntung manusia memiliki Sang Seniman DNA, karena dia sangat membantu dalam peperangan berkat alat-alat dan armada-armada kapal organik ciptaannya.

***

Setelah menyelesaikan penciptaan armada kapal organik tipe baru, ia pergi menghampiri sebuah tempat di kapal induknya.

Tubuh keperakannya melayang lesu dalam ruangan oval. Di tengah ruangan terdapat ruangan lain lebih kecil berbentuk tabung yang berlapis membran transparan. Terdapat kabut mutasi gen berwarna emas dalam ruangan lebih kecil itu.

Sang Seniman DNA mendarat di lantai, berjalan pelan mendekati tabung, ia meraba membran keras itu.

Ini sudah menjadi semacam rutinitas semenjak istri dan anaknya tak sadarkan diri. Ia selalu kemari untuk menuangkan segala beban pikirannya, kepada istri dan anaknya yang terbujur kaku. Dengan berbuat seperti ini ia selalu merasa lebih lega, seakan istrinya benar-benar mendengarkan.

“Umbra, Penumbra, aku minta maaf lagi, aku belum mampu menemukan cara untuk mengubah kalian.”

Ia tempelkan dahinya pada membran.

“Ini menyedihkan, Aku dan Forum Semesta juga belum mampu menemukan solusi atas penyempitan semesta ini, dan aku hanya dapat membantu semampuku.”

Ia menjatuhkan tubuhnya hingga tidur telentang pada lantai. Melirik ke jendela di belakang, terlihat pemandangan gelap antariksa.

“Hmm apa itu istilahnya? Errrr ah ya, Dark Matter! Ahli-ahli astrofisika di Forum Semesta selalu bersitegang jika membahas ini.”

“Umbra,  sejauh yang kutahu, materi ini adalah penyusun semesta yang tak memantulkan dan tak memancarkan cahaya, keberadaan mereka hanya dapat dideteksi, itupun dengan cara yang rumit.”

“Materi ini diperkirakan sangat mempengaruhi struktur semesta beserta evolusinya, oleh karena itu, kemungkinan Dark Matter berhubungan erat dengan bencana ini.”

Ia sekarang duduk bersila.

Dark Matter, melihat fungsinya yang mendasar seperti itu, mengingatkan ku pada DNA, dan apabila DNA merupakan cetak biru dari makhluk hidup, maka mungkin Dark Matter juga adalah cetak biru dari Alam Semesta.”

“Dengan mempermainkan DNA, aku bisa mengubah makhluk hidup, haha itulah yang kusebut seni.”

Matanya melirik jendela.

“Maka jika seseorang mampu mempermainkan Dark Matter, maka ia mungkin dapat mengubah alam semesta. Ia mungkin akan menjadi apa yang kau sebut God, atau setidaknya cukup pantas disebut God.”

Jika aku menguasai Dark Matter, aku akan menjadi God, aku bisa menyehatkan umbra lagi dan menyelamatkan semesta.

Tiidak …

Aku akan berbuat lebih.

“Bicara God, mungkin ia memang ada, mungkin semua bencana ini hanya keisengannya, mungkin juga ia hanyalah seorang beruntung yang mampu mempermainkan Dark Matter …  ”

Melayang mendekati jendela, ia mengamati bintang-bintang.

“Jika benar ada, di manakah ia bersembunyi? Aku sungguh ingin memintanya mengajariku memainkan Dark Matter.”

“Umbra, mungkinkah ia bersembunyi di salah satu Hypergiant Star? Atau mungkin di salah satu Super Massive Blackhole?”

Ia terdiam sejenak.

“Tempat paling mencurigakan di pikiranku adalah sebuah galaksi yang berdasarkan pengamatan semu, galaksi itu hanya terdiri dari Dark Matter. Di sebuah galaksi jauh yang terletak di Virgo Cluster…”

“Masalahnya adalah … Virgo Cluster sudah tertelan penyempitan semesta.”

Ia teringat sesuatu.

“Umbra, aku masih ingin bercerita padamu, tapi aku harus ke medan perang untuk memimpin armada-armada kapal organik, doakan keselamatanku pada God ya … ya … agar aku masih dapat hidup untuk dapat menangkapnya suatu saat nanti hahahahahaha … ”

***

Kapal-kapal hitam bersurai api mengaum, mengirimkan peringatan kepada sisa pasukan musuh yang terkepung, mencoba membuat mereka menyerah. Namun para raksasa ternyata lebih memilih punah dalam perang daripada menyerah.

Lima ribu raksasa bersenjatakan kapak dan tameng menyerbu ke segala arah, mengamuk. Mereka melesat, berkelit, menangkis hujan raksa panas yang terlontar dari tenggorokan tiga juta unit kapal organik Richtersius coronifer.

Raungan horor terdengar dari raksasa-raksasa yang meleleh. Sementara yang selamat segera menyebarkan maut. Sekali ayunan kapak, sekitar dua ratus kapal hancur.

Kapal-kapal non organik milik Pahlawan Forum Semesta berusaha membalas dengan bermacam laser. Kapal-kapal yang jauh lebih kecil bermanuver kilat, menghindari maut sembari meluncurkan tembakan semampunya.

Di tengah kekacauan itu, Sang Seniman DNA dengan sigap menggunakan Hydrogen bondnya sebagai komando jarak jauh. Ia mengerahkan kapal organik Milnesium Tardigradum yang segera menikam para raksasa pada bagian vital tubuh mereka, mencoba membunuh raksasa-raksasa itu dengan instan. Sementara, armada lain mundur perlahan sambil kembali membentuk formasi.

Pertempuran semakin sengit ketika pasukan manusia mendapat serbuan pasukan raksasa bertentakel yang tiba-tiba muncul dari sebuah lubang ajaib di belakang mereka. Tentakel mereka menyambar-nyambar kapal, kemudian menelannya.

Demi umat manusia, Sang Seniman dan para Pahlawan Forum Semesta bertempur mati-matian. Segala teknologi Forum Semesta dan karya Sang Seniman dikerahkan.

***

Di luar sudah sunyi. Di dalam sini, di lambung raksasa, Sang Seniman DNA merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan sejak menjadi manusia baru.

Kehilangan rasa kantuk memang konsekuensi setelah menjadi manusia baru, apalagi tidur. Semua manusia baru tidak pernah lagi tidur sejak diubah dengan Anugerah DNA.

Tapi kali ini.

Di saat tubuhnya tak bisa bergerak akibat terhimpit bagian-bagian kapal, di saat seluruh tubuhnya tenggelam dalam cairan asam, di saat ia merasakan tangan dan kakinya menghadap posisi yang salah dan terasa sangat sakit.

Ia mendapati rasa kantuk terus menggodanya untuk tidur. Sungguh aneh. Ketika ia memikirkan Umat manusia, Umbra, dan Penumbra untuk memberinya motivasi, justru membuatnya semakin mengantuk. Bahkan pada akhirnya, ia benar-benar tertidur.

***

Ia tahu jelas wajah itu, ia sangat jelas mengingatnya.

Sang Seniman DNA tertegun mendapati bahwa ia, Umbra, dan Penumbra berada di sebuah dunia aneh. Dunia yang dipenuhi dengan gelembung menyala-nyala. Tempatnya berpijak adalah kristal indah warna-warni, sementara latar dari semua ini adalah kombinasi warna ungu dan hijau.

“Suamiku, kau harus selamat.”

Sang Seniman DNA tak mampu berbicara, ia masih terkejut melihat istri dan anaknya di tempat aneh ini.

“Kau harus selamat karena kau bisa menyelamatkan alam semesta!”

“Benarkah?”

“Benar! Dan kau harus tahu bahwa selama ini aku tidak tidur di dalam ruang pelindung, Aku bermeditasi! Aku juga mendengar semua keluh kesahmu dari dalam ruang itu!”

“…”

“Saat bermeditasi, Aku dan Penumbra berkelana ke berbagai dimensi mistis untuk membantumu mencari solusi, dan telah kutemukan cara menyelamatkan semesta dari seorang leluhur, jadi tolong–” Seru Umbra sambil menyodorkan Penumbra kepada Ayahnya.

“Jadi tolong lakukan apa yang kami minta.”

“Apa?”

Anak kecil itu menyodorkan sebilah pisau ke Ayahnya seraya berkata, “Ayah, tolong bunuh jiwaku.”

“Gila!?”

“Fisikmu sedang sekarat! Ambilah jiwanya untuk menyelamatkan hidupmu, Setelah membunuhnya kau akan mendapatkan Dark Energy dari memori gerhana matahari.”

“Memori gerhana matahari? Apa itu matahari?” Katanya sambil berusaha mengingat-ingat. Peradaban manusia memang telah berkali-kali jatuh bangun dan sangat banyak istilah yang perlu diingatnya.

“Astaga! Matahari adalah bintang pertama yang menjadi sahabat umat manusia! Memorinya yang begitu berharga dan kuat tentang perkembangan awal peradaban manusialah yang menyebabkan penciptaan leluhurku, para cenayang bayangan! Oh Suamiku, segalanya terlalu rumit dan memakan waktu untuk dijelaskan, jadi kami mohon.”

“Tidak, aku masih sangat bingung.”

Kemudian Umbra mulai membentak.

“SUAMIKU! Pertama aku mendengar dari leluhurku itu aku juga tidak mudah percaya! Semua ini memang rumit! Tolong, sekarang bukan waktunya bertanya! Kami mohon …”

“Aku mohon Ayah, bunuh jiwaku”

“SEKARANG!” Bentak istrinya sambil menangis.

Tak sanggup dipercaya, tangannya telah meraih pisau itu dan bergerak, menikam anaknya sendiri. Penampakan Penumbra tercerai berai namun tetap tersenyum dan sempat menyebutkan, “Ayah hebat!”

***

Perang dimenangkan umat manusia, sementara ia baru saja keluar dari perut raksasa bertentakel, tubuhnya terasa sangat sehat meskipun pikirannya sedang kacau akibat sebuah mimpi.

Ia melihat rombongan kapal manusia masih belum jauh dari bekas medan perang. Ia bergegas menyusul, kemudian melayang ke kapal induk secepat kilat, tidak menghiraukan segala sambutan gembira dari manusia-manusia yang mengira bahwa dirinya telah tewas.

Ia mendatangi ruang pelindung istri dan anaknya. Di dalam ruang itu, ia memperhatikan mereka yang masih terbujur kaku untuk beberapa saat, namun pada akhirnya ia memutuskan untuk berbalik, berniat pergi, sebelum suara itu membekukan langkahnya.

“Semuanya benar terjadi!”

Ia berbalik arah, melihat Umbra sedang menggendong Penumbra yang tak sadarkan diri. Ia sendiri masih terpaku oleh kebingungan.

“Suamiku, kau benar ingin menolong semesta bukan? Kalau begitu, turutilah permintaanku, demi memenuhi takdir God.”

“Apa maksudmu?”

“Inilah takdir God untukku yang telah kutunggu sekian lama. Untuk membantumu! Juga agar aku dan Penumbra dapat pulang ke tempat leluhur.”

“…”

“Ketika bermeditasi, sosok yang mengaku sebagai leluhurku dalam dimensi mistis telah memberi tahuku kemungkinan solusi dari bencana ini. Aku mendengar ucapanmu tentang God, dan sebenarnya itu… antara benar dan salah, semuanya … begitu rumit … tapi sosok itu bilang, jika kau ingin menguasai Dark Matter, kau harus menemui …… Dark God.”

“Hmmm.”

“Dan kau harus menjadi Dark Matter itu sendiri untuk dapat menemui Dark God.”

“…”

“Pertama, kau harus mendapatkan cukup Dark Energy agar mampu mempertahankan wujud di dunia sana nanti.”

“Setelah itu, baru kau boleh berubah menjadi Dark Matter, dan aku yang akan mengubahmu menggunakan separuh memori gerhana matahari, separuhnya lagi akan menjadi bekal untukmu.”

“Umbra, aku masih bingung meskipun sudah mencoba untuk memahami segala pembicaraan aneh ini!!!”

“Kalau begitu, turuti saja perintahku, kumohon.”

Umbra meraih tangannya, membuka jari-jari peraknya yang mengepal dan gemetar, lalu menyelipkan sebilah pisau hitam.

“Ambil seluruh energi Penumbra, bunuh anak kita sekarang!”

Hanya manusia tidak berperasaan yang mampu membunuh anaknya sendiri dua kali. Sebenarnya Sang Seniman DNA masih sangat ragu, ia bahkan sempat berpikir bahwa Umbra sudah tidak waras akibat terlalu lama menghirup kabut mutasi gen. Tapi hatinya luluh ketika Umbra mulai menjatuhkan dirinya ke lantai, menangis, memohon, menyebut-nyebut lagi soal takdir God.

Akhirnya, bagai menikam kewarasannya sendiri, ia menikam anaknya.

Sang Seniman DNA nyaris terlonjak ke udara karena merasakan aliran energi, terasa begitu deras.

“Sekarang bunuh aku!”

“APA?” Ia terkejut mendengarnya, dan lebih terkejut lagi ketika melihat seluruh tubuh Umbra telah menjadi hitam pekat, sehitam kegelapan sempurna yang terjadi akibat penyempitan semesta.

“Cepat!”

Semua telah dimulai, dan ia terpaksa harus menyelesaikannya. Ia menikam tubuh istrinya yang kemudian meledak menjadi gumpalan kegelapan. Gumpalan kegelapan yang kemudian menelan dirinya. Melenyapkannya.

***

Segalanya putih.

Dunia ini memang putih dan terdapat bintang-bintang hitam di langitnya.

Sebagai salah satu Dark Matter yang dipancarkan bintang hitam, ia bertugas membisikkan perintah-perintah Dark God kepada materi-materi lain yang ada di seluruh dunia, ia juga harus sigap mengisi tempat rekannya yang dimusnahkan akibat satu kesalahan saja, pekerjaan yang sangat berat, menuntut kegigihan luar biasa agar tidak dimusnahkan.

Hanya tujuan utamanya ke sini dan separuh memori gerhana matahari yang mampu terus memberinya kekuatan ekstra. Tapi tidak perlu waktu lama sebelum Dark Matter lain cemburu kepadanya. Gosip tersebar, membuatnya dipanggil menghadap Dark God.

Ia yang hanya Dark Matter, tak ada apa-apanya dibanding kegelapan raksasa di hadapannya. Kegelapan yang bagai terdiri dari semilyar bintang hitam.

“Hey, Aneh!” Panggil Dark God.

Ia hanya membisu, perlahan berusaha mengumpulkan keberanian.

Dark Matter lain bilang kau sudah hidup lama namun belum juga berbuat kesalahan ya? Tunggu dulu, aku tidak ingat pernah menciptakanmu.“

“…” Ia masih mati-matian mengumpulkan keberaniannya.

“Hey ternyata kau penyusup! Bagaimana pula kau bisa begitu lama menyusup dan tetap hidup?!” Gelegar Dark God.

“Karena aku ingin memintamu mengajariku menguasai Dark Matter, kumohon, aku ingin menghentikan penyempitan semesta!”

“ … Ah … ternyata kau sudah datang rupanya.”

Apa? Ia sudah tahu akan kedatanganku?, pikirnya.

“Masuklah ke dalam gelapku.”

“…”

“Percayalah.”

Ia mendekatinya, menempel, lalu menyatu.

***

Ia mendapati seseorang dihadapannya, menyodorkan cangkir.

“Minumlah ini, kau akan menggantikanku menjadi Dark God.”

Ia meminumnya.

***

Ia merasakan seluruh objek angkasa! Ia mengontrol seluruh Dark Matter!!

Alam semesta masih terus menyempit, namun umat manusia masih bertahan. Ia segera melaksanakan tujuan awalnya. Berhasil! Ia dengan mudah dapat menghentikan penyempitan alam semesta. Tapi penyelamatan ini terasa hambar, karena ia tidak berada di sana, ia tidak ikut berbahagia bersama manusia.

Lalu apalagi? Mencoba, ya, ia kemudian bermain-main dengan kekuasaan. Mengacau lebih tepatnya, karena ia sembarangan memusnahkan bintang, mengubah orbit, dan lain-lain. Ia keasyikan beberapa waktu hingga sebuah suara menegur.

Suara yang begitu berkuasa. Bahkan dengan kekuatan Dark Godnya, ia tak mampu melawan ketika dihadapkan pada cahaya yang memancarkan trilyunan warna tak dikenal.

Hal itu terjadi lagi, ia diajak menyatu dengan cahaya itu.

***

“Kau senang memiliki kekuasaan semacam itu rupanya?” Tanya seseorang bersosok buram yang sedang menggenggam cangkir.

“Aku punya penawaran menarik, apa kau mau menjadi God?”

“…Iya.”

“Minumlah ini, kau akan menjadi God.” Ia berjalan mendekat.

“Tunggu dulu … sebelum kau meminumnya, berikan memori gerhana matahari itu padaku.”

Tanpa pikir panjang, ia menukar memori gerhana matahari dengan cangkir minuman. Ia meminumnya dengan menggebu-gebu.

“Selamat! Sekarang, rasakanlah bagaimana menyedihkannya menjadi God, bagaimana sepinya menjadi God!” Seru orang itu sambil menyelimuti dirinya dengan memori gerhana matahari.

“Dengan memori gerhana matahari ini hey calon God! Aku akan lahir kembali menjadi manusia, AKU BEBAS!”

Ucapan itu tak dianggapnya, karena ia sedang tenggelam dalam euforia.

***

Ia menelantarkan dunia. Menyibukan diri mencoba berbagai hal fantastis, aneh, ekstrem, mesum dan berbagai hal yang hanya bisa dilakukan oleh God. Namun tidak butuh waktu lama sehingga ia bosan.

Kalau ia bisa melakukannya kapan saja, jadi untuk apa terus-terusan dilakukan?

Sistem dunia kacau karena ia terlantarkan, lalu ia memilih untuk membuat dari awal segalanya. Pekerjaan yang menarik! Namun semakin lama semakin membosankan, karena ternyata ia bisa mencipta peradaban, mencipta sistem bintang dan lain-lainnya, dalam sekejap saja.

Waktu terus berjalan.

Ia mulai menyadari bagaimana menyedihkannya menjadi God. Ia menciptakan makhluk tapi sebagian makhluk itu tidak percaya pada keberadaan God. Ia menciptakan pedoman-pedoman, namun para makhluk itu pura-pura tidak tahu dan memilih kerusakan. Berbagai segala pembangkangan ciptaannya terkadang membuatnya murka.

Menyenangkan memang, bisa mengirimkan murka sesukanya, bisa mengirimkan berkah sesukanya. Itu sebelum ia menyadari bahwa pada akhirnya ia hanya penonton.

Penonton yang memiliki kuasa penuh akan tontonannya. Penonton yang merasa kesepian dalam segala kesempurnaan. Ia sempat menciptakan kembali Umbra dan Penumbra, juga istana megah untuk mereka bertiga tinggal.

Tapi itu percuma karena keadaan sudah berbeda. Ia tak lagi mendapat kepuasan dari segala cumbu rayu dengan Umbra, tak ada lagi kepuasan dari bercanda dengan anaknya. Karena dirasa sia-sia, akhirnya ia memutuskan untuk memusnahkan mereka.

Dalam penyesalan ia mereka ulang riwayat hidupnya.

Sasmito, seseorang yang memiliki ambisi ekstrem dalam dunia sains. Ambisi aneh yang berasal dari dirinya yang hanyalah seorang penulis. Ambisi sains yang ditertawakan karena mendukung God.

Ia tidak tahan. Bersama pengikut fanatiknya, ia mencoba membajak laboraturium. Tragedi, pembajakan itu menyebabkan banyak korban.

Namanya tercoreng, ia dipenjara seumur hidup…

Sampai suatu hari di dalam penjara, sosok yang mengaku Demon, menawarkannya seni, dengan syarat ia harus melupakan God.

Ya, ia memutuskan membuang masa lalunya, dan dengan seni barunya ia menjelma menjadi Sang Seniman DNA.

Sang Seniman DNA yang kemudian menjelma menjadi God.

Hahahaha, aku dikerjai God sebelumnya!

Sekarang aku mulai menyesal menjadi God.

Mungkin aku harus mencontoh perbuatan God sebelumnya padaku.

Hmmm lihatlah makhluk-makhluk ciptaaanku yang sedang saling bertikai itu, Adakah di antara mereka yang ingin menggantikanku?

Adakah yang ingin menjadi God?

Catatan :

  • Sebagian besar kata bergaris miring bisa dicari referensi dunia nyatanya di en.wikipedia.org, sisanya bisa diperoleh via search enggine.

Iklan