ROAN’S JOURNEY

Maximus

Dapatkah mereka para manusia itu sekali saja berterima kasih kepada kami?

Dengan menaburkan bibit kasih dan budi pekerti?

Tidak! Mereka tidak pernah peduli!

Hanya nafsu perut, kekuasaan semu, dan harta fana yang mereka turuti!

Sudah sungguh luar biasa kesabaran kami!

Tiga puluh delapan kali penciptaan awal dan akhir direkontruksi

Namun hasilnya tetap nihil tak berarti

Mereka mengulangi hal yang sama, persis setiap kali!

Sekarang biarkanlah mereka memegang sendiri…

Buku takdir akan nasib mereka yang selalu buta mata hati

[Catatan Fere : 201 – Heaven Palace]

Pernahkah kau merasa bahwa dirimu telah bersikap sangat sabar dan toleran dalam menghadapi seseorang yang kau sayangi namun bersikap sangat menyebalkan? Dan kau sudah, atau lebih tepatnya sudah berkali-kali memberi himbauan dan peringatan agar ia berubah dan tidak mengganggumu lagi?

Namun ia tetap mempertahankan sikap menyebalkannya itu dan mengacuhkan niat baikmu? Sampai emosi dan kesabaranmu meleleh, mendidih, dan menguap di suatu titik yang disebut “titik batas kesabaran”? Sehingga kau merasa ledakan  bom atom bukanlah ancaman yang berarti dibandingkan dengan ledakan emosimu?

Mungkin itulah hal yang terjadi kepada Tuhan hari ini. Emosinya meledak-ledak tak karuan. Beberapa galaksi hancur karenanya.  Dan seandainya tadi ia tak dihentikan, mungkin ia terpaksa mengulangi penciptaan kembali sampai ke nomor tiga puluh sembilan.

Ia kesal, sangat kesal.

Mungkin kalian belum tahu, bahwa hari ini adalah hari penciptaan kembali yang ke tiga puluh delapan, dan seperti biasa di penciptaan sebelumnya, ex-ciptaan favoritnya : manusia, melakukan kesalahan yang sama –lagi.

Peperangan, pemusnahan, dan penghancuran massal, entah alam atau kaum mereka sendiri yang kali ini jadi korban. Semata-mata terjadi, karena nafsu keserakahan dan kekuasaan.

Padahal entah sudah berapa utusan yang ia kirim untuk menyampaikan firman-Nya.

Karena itu hari ini, Tuhan merasa sudah tidak sanggup lagi mengurusi manusia dan segala yang berhubungan dengan mereka.

Dan menghela nafas penyesalan karena, terikat kontrak perjanjian abadi penciptaan manusia dengan alam semesta.

Karena itu ia hari ini berdiri di sini, di Gunung Ascorbat, gunung tertinggi di dunia.

Kemudian ,Ia memanggil malaikat pencatat takdir kebanggaannya – Malaikat Fere, untuk menyerahkan buku takdir, pena ketentuan, dan tinta kejadian.

Lalu ia menggenggam ketiga benda itu erat-erat.

Melemparkannya ke tiga sudut dunia yang berbeda.

Dan menatap sinis Fere yang tersenyum lebar dan hampir melonjak-lonjak kegirangan karena mendapatkan pensiun sementara ia harus tetap bekerja.

****

“Kau terlambat.” Ucap laki-laki berambut biru itu tanpa menoleh. Ia menutup buku tebal yang sedang dibacanya dengan satu hentakan cepat sebelum memalingkan wajahnya kepada pemuda tadi.

Pemuda berambut kuning itu melemparkan tatapan sinis berkilatnya, sebelum akhirnya menghela nafas panjang. “Kau harus tahu apa yang kulewati, Michael” ucap pemuda itu akhirnya.

“Itu resiko. Tapi bukan alasan yang tepat untuk terlambat.” Kata lelaki berambut biru itu sambil menyunggingkan senyum aku-tahu-dan-tidak-peduli-nya.

‘Terserahlah, ini benda yang kau minta.” Ucap pemuda berambut kuning tadi sambil melemparkan sebuah kantong berwarna kecoklatan kepada laki-laki berambut biru itu.

Michael membuka kantong itu dengan perlahan, kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sebuah botol tinta kristal transparan dengan tinta emas yang memendarkan cahaya perak kebiruan.

“Jadi ini tinta kejadian itu.” Kata Michael sambil sesekali memutar-mutar botol tinta di tangannya. Ia menatap lekat pendaran kilau kebiruan itu dengan mata penuh kekaguman.

“Ehm!” Suara deheman milik Roan menyadarkannya. Michael mendengus kecil sebelum mengeluarkan sebuah kantung dari dalam tasnya. Bunyi gemerincing terdengar jelas dari kantung itu. Sepuluh detik kemudian ia menyerahkan kantung itu dengan berat hati.

“Seribu, dua ribu, …. ini hanya lima ribu Franc! Perjanjian kita sepuluh ribu Franc!” Protes Roan.

“Tenanglah, kalau kau mau membantuku lebih jauh, aku akan memberimu sepuluh ribu lagi.” Jawab Michael santai.

“Membantu lebih jauh? Kau pikir aku tidak mengerti arti dari kata membantu lebih jauhmu?”

“Karena itulah aku memilihmu.” Ucapnya tersenyum simpul.

****

Bar Levingstone : Menjual segala macam obat dan ramuan sihir. Plang toko reyot dan hampir rubuh berukuran satu kali setengah meter itu menyambut kedatangan mereka.

Tua dan hampir rubuh adalah dua kata yang cocok untuk menggambarkan bar tersebut. Kaca-kaca jendela yang berdebu di sana sini, beberapa bagian  yang sudah dimakan oleh rayap, dan letaknya yang berada di daerah kumuh menambah kuat kesan itu.

Dengan sedikit dorongan, Michael berhasil membuka pintu bar itu. Kepulan debu dan asap menyeruak, bersamaan dengan bau obat-obatan sihir yang menyengat dan menusuk hidung.

Aku mengernyit, aku tidak pernah menyukai bau obat-obatan sihir sejak masih kecil, hal itu mengingatkanku kepada dongeng horror kakek. Dengan langkah terpaksa, aku mengikuti Michael masuk ke dalam bar tersebut.

Tanpa banyak bicara, Michael menunjuk sebuah meja kosong yang berada di pojok kanan ruangan, meja itu sedikit berdebu dengan pencahayaan yang temaram. Meja yang cocok untuk perbincangan rahasia.

Setelah kami berdua duduk, seorang pelayan datang menghampiri untuk memberikan menu. Sebelum pelayan itu sempat berbicara, Michael sudah mengucapkan suatu kata ajaib “Kami pesan Vermilion of the Beach.”

Pelayan itu mengernyit sesaat, lalu mengamati wajah Michael secara perlahan. Kemudian ia tersenyum, mengangguk, dan kembali ke belakang bar.

****

Seorang laki-laki tua, berumur lebih dari satu abad keluar menghampiri kami. Aku mengenalinya sebagai “si penyihir” dari hadiah tiga ratus ribu Franc yang dijanjikan salah satu dari poster-poster “Most Wanted” yang dipajang di alun-alun kota.

Menurut kabar yang ada, si penyihir adalah pewaris sah pemegang pena ketentuan. Dan ia menolak bekerja sama dengan kerajaan untuk menciptakan pasukan tak bisa mati dalam memenuhi ambisinya menguasai Benua Velith.

“Kau bawa barangnya?” Tanya si penyihir itu menyelidik.

Michael mengeluarkan botol tinta kejadian itu dan menunjukannya kepada si penyihir, si penyihir mengamati botol tinta itu untuk beberapa saat , sebelum ia mengembalikannya ke Michael.

“Jadi?” Tanya Michael setelahnya dengan raut tidak sabar.

“Ya, ini barang yang tepat.” Jawab si penyihir itu.

“Kapan rencana dapat dilaksanakan?” Tanya Michael lagi.

“Besok, ketika gerhana, di Eulyess.” Jawab si penyihir itu. Sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arahku.

“Maaf aku lupa mengenalkannya, namanya Roan, ia orang kepercayaanku.”

“Jadi kau sudah mengerti tugasmu anak muda?”

“Ya.”

“Bagus.”

****

Beberapa saat kemudian penyihir itu pergi, meninggalkanku dan Michael yang masih terduduk di pojok ruangan.

“Jadi? Maukah kau jelaskan tugasku kali ini?” Tanyaku tanpa basa-basi lagi.

“Baik, dengarkan.” Jawab Michael.

“Zaman dahulu takdir manusia ditentukan oleh Tuhan dan dituliskan oleh seorang Malaikat –Malaikat Fere.” Katanya memulai pembicaraan.

“Tapi pada penciptaan kembali yang ke tiga puluh delapan, Tuhan merasa muak mengatur takdir manusia yang menurut-Nya tidak tahu terima kasih.”

“Mengapa? Manusia menurutnya selalu berperang, menumpahkan darah, membunuh sesamanya, dan merusak alam.”

“Lalu sebagai akibat dari kemuakannya, Tuhan memutuskan untuk membiarkan manusia mengatur takdirnya sendiri, ia melempar ehm… menjatuhkan tiga artifak penentu takdir yang selama ini dipegang oleh Malaikat Fere.”

“Buku takdir, pena ketentuan, dan tinta kejadian.”

“Michael, itu dongeng paling dongeng yang pernah ada. Bahkan nenek ibuku pun tahu itu.” Protesku.

“Aku sudah bilang dengarkan, jangan menyela.”

“Kemudian, diakibatkan oleh sifat keserakahan yang sudah mendarah daging di tubuh mereka, para manusia saling berperang untuk mendapatkan ketiga artifak tersebut, untuk mengatur takdir sesuai keinginan mereka.”

“Dan lima ratus tahun telah berlalu semenjak perang perebutan itu”

“Kerajaan memegang tinta kejadian dan buku takdir sedangkan si Penyihir memegang pena ketentuan.”

“Dan aku berhasil mengambil tinta itu.” Sela Roan.

“Ya.”

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

“Kau tahu kenapa si penyihir dihargai tiga ratus ribu Franc?”

“Karena ia memegang pena ketentuan?”

“Ya, tepat sekali, kerajaan berniat untuk melakukan perang agresi ke kerajaan lain. Dan mereka berencana untuk membuat ribuan, tidak puluhan ribu tentara yang kuat, tangkas, dan tak kenal mati dengan ketiga artifak itu.”

“Namun si penyihir menolak bekerja sama?”

“Tepat, si penyihir menolak memberikan pena untuk memenuhi ambisi gila kerajaan, sehingga tiga ratus ribu Franc disediakan bagi yang berhasil menangkapnya, namun tentu saja siapa yang mau berurusan dengan penyihir berumur seratus tahun? Dia pasti sudah gila.”

“Terus? Kau belum menjelaskan apa yang harus kulakukan.”

“Tugasmu sebenarnya mudah, hanya mengawalku sampai “rencana” dimulai.”

“Rencana apa?”

“Setiap dua ratus lima puluh tahun, terjadi gerhana matahari di Eulyess, gerhana itu akan membuka semacam pintu gerbang menuju dimensi lain yang mustahil untuk dijangkau oleh tangan manusia.”

“Dan kau berencana untuk membuang, minimal salah satu artifak tersebut ke dimensi lain?”

“Yep, begitulah, tanpa salah satu dari tiga benda tersebut, benda lainnya hanya sampah.”

“Dan besok menurutmu, akan ada banyak tentara kerajaan yang akan mengejar kita??

“Ya, dan jangan lupa dengan para pemburu hadiah yang juga mengincar enam ratus ribu Franc.”

“Enam ratus ribu? Aku pikir, harga kakek tua itu hanya tiga ratus ribu.”

“Kau juga bernilai tiga ratus ribu, tahu.”

“….”

****

Perjalanan menuju Eulyess tidak memakan waktu yang terlalu lama, hanya membutuhkan waktu perjalanan selama tiga setengah jam. Jadi jika kami berangkat pukul tujuh pagi, kami akan tiba di sana pukul setengah sebelas. Sehingga masih ada cukup waktu untuk melakukan persiapan menyambut gerhana yang terjadi pada pukul satu siang.

Eulyess terletak di tengah-tengah benua, dikelilingi oleh Hutan Akar  Kematian yang penuh dengan monster dan roh-roh orang mati, dan setelah itu terdapat Sungai Homer. Sungai yang penuh dengan buaya-buaya yang ganas, membuat orang-orang berpikir dua kali untuk pergi ke sana.

Michael menyewa dua ekor kuda, seekor kuda cokelat dengan surai berwarna keemasan untuknya, dan seekor kuda hitam dengan surai perak untukku.

Kami berencana untuk bertemu dengan rombongan penyihir di gerbang masuk Hutan Kematian, untuk menghindari kecurigaan tentara kerajaan, kami berangkat terpisah. Bahkan, kami harus mengenakan jubah dan tudung abu-abu untuk menyamarkan diri.

****

Tiga puluh menit berlalu dengan cepat, kami sudah mencapai pintu gerbang Hutan Kematian

Si penyihir sudah menunggu di sana, sama seperti kami, ia juga menyamar. Ia mengenakan jubah biru dengan tudung kepala berwarna hitam. Ia mengangkat tangan kanannya dan melambaikannya tiga kali. Semacam kode isyarat yang sudah disepakati.

Seorang pemuda menemani si penyihir itu, pemuda itu berambut hijau dengan bola mata sewarna safir. Ia menunggangi seekor kuda putih dengan surai perak.

“Salam kenal Tuan Michael, saya Joseph, murid pertama tuan penyihir Herbert, senang bertemu dengan anda.” Ucapnya memperkenalkan diri ketika bertemu dengan kami.

“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Joseph.” Ucap Michael membalas perkenalan kami.

“Ayo, kita tak punya banyak waktu.” Ucap si penyihir mengingatkan.

****

Joseph benar-benar luar biasa, ia mampu menangani sepuluh Troll dan lima Lycantrophus sekaligus, ia mampu memainkan pedangnya dengan sangat baik, dengan sekali sabetan saja, ia mampu mengalahkan makhluk-makhluk tersebut.

Oh ya, aku lupa menjelaskan. Hutan Kematian dihuni oleh berbagai jenis monster,  baik yang agresif kepada manusia maupun tidak. Dimulai dari Gnarf ,monster mirip kurcaci yang mampu menggunakan sihir, sampai Ogre monster raksasa yang bau dan berwarna kehijauan.

Di hutan ini, segala bentuk kekuatan sihir sangat tidak dianjurkan untuk digunakan, karena kekuatan sihir memiliki semacam energi positif yang mampu menarik keberadaan para monster dan roh-roh yang telah mati.

Sekarang aku mengerti mengapa Michael menyewaku, sebagai seorang ahli sihir, adalah sebuah masalah jika melewati Hutan Kematian tanpa ditemani pengawal.

****

Mailenth arvacasted domeclaith amaerodouz

Selesai sang penyihir mengucapkan inkantasi itu, sekonyong-konyong air dari sisi terdalam Sungai Homer terangkat, air-air itu membentuk semacam gumpalan batu bata, yang kemudian membeku menjadi es. Batu-batu bata es itu kemudian secara perlahan tersusun menjadi sebuah jembatan.

Kami melewati jembatan itu dengan mudah, sedikit licin dan menyebabkan kudaku hampir terpeleset memang. Tapi, paling tidak kami tidak perlu menghadapi buaya-buaya lapar yang menghuni Sungai Homer.

****

Sengatan cahaya matahari pukul dua belas siang menyambut kami tiba di Eulyess. Eulyess merupakan reruntuhan kuil sihir tempat melakukan upacara-upacara pemujaan kuno. Altar batu yang bersimbolkan bulan sabit yang berada di dalam matahari berada di tengah-tengah reruntuhan. Lima pilar batu yang membentuk simbol pentagram tampak di kelima sisinya.

Patung-patung berukirkan hewan-hewan magis diletakkan di atas pilar-pilar batu tersebut. Didorong oleh rasa penasaran , aku mendekati pilar-pilar itu untuk sekedar mengamatinya.

Di pilar pertama tertulis “Vleen” yang merupakan bahasa kuno  Kerajaan Glores untuk  api,  dengan aksara-aksara kuno yang terukir di pilarnya, kesan mistis dan magis menjadi semakin kuat. Hewan magis yang mewakilinya adalah Phoenix, sang burung api yang melambangkan semangat dan perjuangan.

Di pilar kedua tertulis “Aredius” yang berarti air, hewan magis yang mewakilinya adalah Cleoreith, putri duyung yang memegang sebuah guci berisi air, Cleoreith melambangkan kedamaian dan kesejukan hati.

Pilar ketiga bertuliskan “Basica” yang melambangkan tanah. Hewan magis yang mewakilinya adalah Gnome, raksasa yang tertidur jauh di dalam tanah. Gnome melambangkan usaha keras, dan kepribadian yang setia.

Pilar keempat bertuliskan “Hymnic” yang berarti angin. Lairenth adalah hewan magis yang mewakilinya, Lairenth merupakan naga angin, dengan sayapnya yang besar melambangkan keinginan untuk bebas dan terbang menjelajahi dunia.

Dan pilar terakhir bertuliskan “Omnicit” yang berarti jiwa. Dilambangkan oleh Melovaith,  hewan magis yang memiliki dua wajah yang berbeda. Salah satu wajahnya putih bersih dan ceria , sedangkan yang lain hitam kelam dan menyedihkan. Melambangkan dua sisi sifat manusia yang bertolak belakang.

Puas mengamati pilar-pilar batu itu, aku kembali menuju altar Eulyess, kulihat Michael dan si penyihir sudah mulai bersiap-siap. Mereka meletakkan batu safir, zamrud, rubi, topaz , dan amethyst dalam garis pentagram di sekeliling altar.

Kemudian dengan batu kapur, mereka menggambar bintang segi lima yang menghubungkan kelima batu tersebut, setelah itu mereka seperti membacakan semacam mantra dan menaburkan bubuk-bubuk sihir berwarna putih dan hijau ke sekelilingnya.

****

Sedikit rasa heran terbersit jelas di benakku kali ini, mengapa tidak ada satupun tentara kerajaan yang datang mengejar? Apakah mereka sudah menyerah?

Tidak, tidak mungkin! Mengingat sifat Raja yang sangat ambisius itu mereka pasti menyembunyikan suatu taktik licik, tapi apa? Apa?

Firasat burukku semakin menjadi-jadi setiap detiknya, untuk menghindari hal tersebut aku memfokuskan perhatianku kepada Michael, mungkin saja para tentara busuk itu akan mengejutkan kami di sini, menunggu saat yang tepat untuk merebut pena ketentuan dan tinta kejadian.

Aku menunggu dengan nafas tertahan…

****

Dimulai!

Sisi kegelapan rembulan mulai menampakan kuasanya, dengan mega umbra dan penumbranya, cahaya terang matahari mulai ditenggelamkan dalam bayangan semu sementara.

Perlahan-lahan tapi pasti, cahaya matahari mulai berkurang intensitasnya, dimulai dari setitik sabit hitam yang terpancar ragu di angkasa, kemudian berubah menjadi separuh purnama hitam, hingga akhirnya sempurna menjadi sebuah bola kegelapan.

Semilir angin utara, menambah kesan dingin dan gelap suasana, kilatan petir akibat efek magis dan distorsi dimensi mulai terasa, puluhan burung-burung yang tadinya bertengger tenang di sarangnya masing-masing mulai berterbangan menjauhi kami.

Michael dan si Penyihir tampak sedang berkonsentrasi di dekat altar, mulut mereka tak henti-hentinya melafalkan ratusan baris inkantasi yang harus dihafal tanpa cacat memori satu katapun.

Sinar dari kelima batu-batu sihir yang diletakkan tadi mulai mengambil alih suasana, sinar kemerahan dari batu ruby, biru dari safir, kuning dari topaz, hijau dari zamrud , dan ungu dari amethyst berdesakan berusaha saling mendominasi.

Kemudian, patung-patung hewan magis yang terletak di atas pilar batu itupun juga mulai bercahaya, dari mata mereka tampak seberkas sinar yang dipancarkan secara tegak lurus, membentuk simbol pentagram lapisan kedua.

Suasana menjadi semakin tidak terkendali, aura sihir semakin pekat menyelimuti, sampai pada puncaknya, dari kegelapan bola matahari keluar semacam petir berwarna hitam yang menyambar pusat altar.

Sekonyong-konyong, aku merasakan guncangan yang luar biasa terjadi. Ketika aku membalikan pandanganku tampaklah semacam kumparan cahaya warna-warni yang membuka pintu gerbang dimensi.

Michael dan si Penyihir bertukar senyum, seulas senyum kemenangan. Kemudian mereka mengeluarkan tinta kejadian dan pena ketentuan untuk dibuang ke dalam gerbang dimensi itu.

Pena ketentuan, ternyata adalah sebuah pena yang terbuat dari bulu angsa, dihiasi dengan motif bintang dan matahari, pena itu tampak memendarkan cahaya keperakan.

Aku menghela nafas lega, mungkin pihak kerajaan memang tak tahu dengan rencana ini. Aku sudah membayangkan bersantai di rumah sambil menikmati cokelat hangat ketika itu terjadi.

Ya, itu.

Joseph mengeluarkan pedangnya dan menghunuskannya secara cepat ke arah gurunya, dengan satu hentakan ia berhasil merebut pena ketentuan. Michael tampak shock melihat kejadian itu, Joseph tak menyia-nyiakannya, ia berhasil merebut tinta kejadian dengan melemparkan seberkas bola api ke arah Michael.

Aku tak tinggal diam, aku segera menghunus pedangku dari sarungnya, dan dalam hitungan detik kami telah beradu pedang.

Percikan bunga api kecil tercipta ketika kami beradu pedang, aku menduga kemampuannya setara dengan diriku. Dia bukan lawan yang mudah.

“Kenapa kau melakukan ini Joseph?” Tanyaku sambil menangkis serangan pedangnya yang berkilat.

“Kenapa? Apa kau gila? Uang sebesar enam ratus ribu Franc dapat menjamin hidup makmur sampai pensiun!” Katanya sambil terus melancarkan serangan bertubi-tubi ke arahku.

“Aku gila? Jadi kau tidak mengerti? Dunia akan hancur sebelum kau dapat menikmati uangmu!” Jawabku berusaha menjelaskan.

“Aku tidak peduli, Aku akan menguasai benua ini bersama dengan Raja, aku akan menjadi penguasa!!”

“Apa kau tak sadar raja hanya mempermainkanmu, begitu tinta dan pena itu  berpindah ke tangannya, ia akan mencampakkanmu seperti sampah!!” Kataku berusaha menyadarkannya.

Serangan Joseph semakin lama semakin tinggi intensitasnya, sebelum aku sempat menyadari, ia berhasil membuat pedangku terlepas dan menancap di tanah.

Setelah itu ia dengan pedangnya ia menusuk kedua lutut kakiku agar tidak dapat bergerak, ia menyeringai puas.

“Roan, Roan… Omong kosong apa yang kau bicarakan. Lihat ini!” Katanya sambil mengacungkan selembar kertas putih kusam.

“Apa itu?”

“Ini adalah sobekan dari buku takdir, sekarang aku akan membuktikan kenaifanmu dengan menuliskan Roan van Glearith akan merasakan penyakit panas yang luar biasa sehingga ia terbakar hangus, kemudian mayatnya akan membusuk dan dimakan oleh ribuan serangga kecil dalam waktu kurang dari satu menit.”

“Kau Gila!”

“Tidak ,aku masih waras..”

Kemudian Joseph mencelupkan pena ketentuan ke dalam pena kejadian dan mulai menuliskan sesuatu di atas kertas itu. Aku berontak , berusaha untuk melawan, namun apa daya, kedua kakiku terluka tidak dapat digerakkan.

Kertas dari potongan buku takdir itu mulai bersinar memancarkan cahaya keemasan, sekonyong-konyong cahaya itu menyelimuti sekeliling. Aku sudah pasrah dengan apa yang terjadi, tak sanggup melawan ketentuan takdir.

****

Mataku terbelalak melihat kejadian di depanku, Joseph mengerang kesakitan, air mukanya berubah mengerikan dengan bola mata yang hampir mencuat. Kemudian dalam hitungan detik, api mulai menjalar dari kaki kanannya, menyelimuti seluruh tubuhnya, dan membangkar hangus dirinya.

Setelah itu, entah dari mana datangnya, ribuan serangga berbagai jenis, datang berkumpul memakan mayatnya. Dalam satu menit mayatnya telah habis. Dan serangga-serangga itu lenyap.

“Apa yang terjadi?” Tanyaku kebingungan.

“Aku tak sebodoh itu Roan, tidak memikirkan kemungkinan pengkhianatan bukanlah sifatku.”Jawab Michael yang berjalan tertatih-tatih memungut botol tinta kejadian dan pena ketentuan.

“Maksudmu?” Tanyaku masih tidak mengerti.

“Tinta ini palsu, hanya tiruan, salah besar jika aku tak mengantisipasi kejadian ini.” Jawab Michael tenang.

“Jadi, jika salah satu dari artifak itu palsu, efek buruknya akan kembali ke penulisnya, begitu?” Tanyaku memastikan.

“Memangnya, menurutmu kenapa orang-orang bersusah payah mengumpulkan ketiganya? “ Jawab Michael santai.

“Oh ya, ini sepuluh ribu Franc-mu.” Katanya sambil melemparkan sebuah kantung berisi uang kepadaku.

“He he, senang bekerja denganmu.” Kataku mengucapkan terima kasih, ketika melihatnya mengeluarkan botol tinta yang asli dari kantungnya, dan melemparkannya ke gerbang dimensi.

Iklan