ROH HIJAU

Franci

Lelaki itu datang lagi. Dia memegangku dengan lembut. Hangat.

Dia melihat ke lapangan. Lama. Apakah dia melamun?

Melihat manusia selalu membingungkan. Apalagi kalau dia diam.

Apa yang dia pikirkan, apa yang dia sukai. Apa yang dia impikan, apa yang dia sadari.

Aku menyukai laki-laki ini. Dia tampak rapuh dan manis.

Kali ini dia mengerutkan keningnya. Aku penasaran dengan apa yang dipikirkannya.

Tapi tentu saja aku tidak akan bisa tahu itu. Jadi aku hanya bisa tersenyum dan membelai rambutnya.

Rambut yang hitam dan tebal. Lurus menutup sebagian dahinya.

Pandangannya melembut  dan dia menutup matanya.

Aku masih membelai rambutnya yang halus. Kemudian duduk dan mencium keningnya. Mencium pipinya. Hihihi…

Tentu saja dia tidak akan menyadarinya.

Lelaki ini sangat menggemaskanku.

Tiba-tiba dia membuka matanya. Dia melihatku dan menatap ‘rumahku’.

Aku terkejut. Terdiam. Sungguh, apa yang sedang dia pikirkan…?

Aku menarik nafas dan menatapnya lekat-lekat.

Lelaki itu menyandarkan tubuhnya ke batang pohon. Aku merasakan panas tubuhnya menguar menyentuh kulitku.

Aroma keringatnya…

Kemejanya, kancing-kancing yang terbuka.

Hari yang panas tentu.

Lelaki yang kusukai ini, bisakah aku mengenalnya lebih jauh?

“Ren, disini kau rupanya.” Teman lelaki itu mendekat.

“Hey, Do.”

“Kau dicari Sera tadi. Sana gih…” Do menepuk pundaknya dan duduk di atas tanah.

“Ok, aku duluan…” Dan lelakiku pergi.

Aku menatap sedih setiap langkahnya menuju gedung itu.

Ah… aku tak bisa kesana. Kenapa harus pasif begini.

Akhirnya kutahu lelakiku bernama Ren.

Aku tak tahu apapun informasi tentangnya.

Aku ingin tahu, tapi aku tak bisa pergi ke tempatnya dan melihat seperti apa dunianya.

Seandainya aku bisa menjadi manusia.

Lelakiku. Ren… Ren… cepat-cepatlah kembali ke sini.

Aku menunggumu.

-.-

Lelah sekali hari ini. Banyak masalah yang berputar di kepalaku.

Ayah yang menyebalkan. Ibu yang tak mampu berbuat apa-apa.

Kuliah yang membosankan. Dunia ini begitu semu. Hitam. Abu-abu. Tanpa warna. Gelap.

Teman-temanku terasa hambar.

Sungguh sepi.

Apa yang harus kulakukan besok?

Aku mencoret-coret lembar belakang buku. Kota-kotak. Lengkungan-lengkungan. Garis-garis.

Sial. Sampai kapan benakku melayang-layang memikirkan hal-hal tak jelas.

Entah apa yang akan terjadi besok, tentu aku tak tahu.

Biarkan saja orangtuaku mengambil langkah sendiri dan aku terpisah.

Aku tak benar-benar peduli tentang itu.

Sungguh melelahkan menjadi pelarian dalam jiwa ini.

Tanganku menutup wajah. Kepalaku kutelengkan di atas meja.

Mataku tak sadar menangkap wajah-wajah pada bingkai foto di meja belajar.

“Ugh…!” Tanganku mengepal.

Akhirnya kuraih bingkai foto itu.

Wajah-wajah itu… masa yang kurindukan.

Aku tidak mau mengingat-ingat ini lagi dan terus terombang-ambing diantara pilihan-pilihan hidup.

Luntang-lantung dihempas ombak dalam lautan pikiranku.

Menyiksa perasaan yang masih kumiliki.

Termanfaatkan oleh hubungan darah. Aku merasa habis. Dan tak terkendali.

Peganganku makin erat dan kujatuhkan bingkai itu ke tempat sampah di samping mejaku.

Maaf. Aku harus melupakan semua ini. Semuanya.

Aku tidak ingin berhenti di sini dan menjadi orang yang labil selamanya.

Kubuang pandanganku dari tempat sampah.

-.-

Aku melirik jalan. Sebentar kemudian kulirik gedung. Aku duduk di depan rumahku.

Pohon besar yang hijau dan lebat.

Menunggunya.

Aku adalah roh pohon yang sangat cantik, kau tahu?

Walaupun rambutku hijau, manusia tetap akan menyebutku cantik!

Kau tak percaya dengan kata-kataku?

Lihat! Tanganku ramping. Badanku ramping. Perutku rata. Dadaku… humm… kurasa lumayan…

Bibirku merah dan aku sangat lincah.

Lihat mataku yang bersinar. Lihat. Lihat. Malah tidak ada mata manusia seindah ini.

Kau masih tidak yakin?

Oh, Ren… hatiku bergetar mengingatmu.

Tidak seharusnya roh pohon jatuh cinta pada manusia.

Bagaimana caranya aku bisa mengungkapkan agar kau tahu yang kurasakan?

Aku akan mati menahan rasa ini. Aku yakin aku akan mati.

Daun-daun pohonku layu.

Oh, Ren…

-.-

Aku sudah membuang masa laluku dan merasa lebih kuat.

Aku melihat pemandangan di balik jendela.

Terang. Pagi. Silau.

Manis udara meremang dan menggodaku untuk terbang menjelajah.

Hijau-hijau memenuhi mataku. Biru-biru mengombak di ujung tatapanku.

Orang-orang yang lewat membawa jiwa-jiwa yang terkungkung di dalam tubuh.

Kuning matahari menyengatku lembut.

Aku tak bisa tak merasa romantis hari ini. Cahaya hidupku mulai terasa menerangi gelapnya pikiran-pikiranku yang menggerogoti sudut-sudut hati.

Aku sungguh tak peduli.

Hanya hidupku sekarang. Hanya aku.

Aku bersiap-siap dan pergi menjalani hari.

Sedikit perjalanan ke kantor paruh waktu.

Sedikit perjalanan mengais ilmu.

Sedikit waktu merebahkan diri pada pelukan alam. Untuk ketenangan jiwaku.

-.-

Akhirnya kau muncul, Ren.

Aku merindukanmu, kau tahu?

Ren berjalan ke arahku dan aku langsung menghampirinya sebelum benar-benar sampai ke pohonku.

Tentu saja aku bisa melawan sinar matahari ini. Kan hanya beberapa meter. Kau sudah tahu kalau aku keras kepala, bukan?

Ren duduk di tanah dan bersandar pada pohon.

Aku ikut duduk di sebelahnya, mengaitkan lengan kiriku ke lengannya. Menyandarkan kepalaku ke bahu kanannya.

Aku mendongak. Menatap wajahnya selama beberapa saat sebelum dia pergi lagi.

Menatap lekuknya. Alisnya, matanya, hidungnya, rahangnya, bibirnya, lehernya…

Bahunya…

Aku sungguh menatap semuanya.

Aku menginginkan dia jadi milikku.

Tak ada yang lain kuinginkan seperti aku menginginkan lelakiku.

Ren menengadah dan menatap daun-daun pohonku. Matanya tampak teduh.

Sedikit senyum tersungging di wajahnya. Oh, dia begitu manis hari ini.

Ada sesuatu. Aku tahu. Ada sesuatu yang berbeda.

Aku bergerak kedepannya sehingga posisi kami berhadapan.

Apakah ada wanita lain? Kenapa dia terasa lain?

Tidak mungkin.

Aku akan membuatnya tidak mungkin.

Aku akan melakukan sesuatu. Aku akan menemui Roches.

Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan.

Menjadi seperti manusia.

Kau akan melihatku. Rupaku. Rampingku.

Mataku. Cintaku. Semua yang ada padaku.

Dan kau akan mencintai aku, seperti aku mencintaimu.

Aku mengerti bahwa kau hanya bisa merasakan kehangatanku.

Betapa teduhnya aku. Betapa kau tenang disini.

Kau bahkan harus menemuiku setiap hari.

Kau mencintaiku. Aku tahu.

Kau pasti mencintaiku.

Kau hanya tak sadar kalau aku ada.

Semuanya akan segera berakhir. Di matamu semuanya akan segera terlihat.

-.-

Tenang sekali. Begitu teduh dan hangat.

Aku menyukai pohon ini. Tinggi, ramping dan berdaun lebat. Rindang sekali.

Sedikit cahaya menembus sela-sela daun.

Aku selalu menyukai pohon. Sangat indah. Memberikan sedikit rasa… entahlah.

Menyukainya.

Berapa tahun umur pohon ini? Mungkinkah puluhan tahun?

Daun-daunnya sangat hijau. Dan ada aroma yang menguar disini.

Apakah itu bau daun?

Aku menyentuhkan jari-jariku ke dahannya yang besar. Terasa tekstur yang kuat dan kulitnya yang tajam.

Telapakku menempel pada pohon itu. Hangat.

Aku menyandarkan sebelah wajahku ke batang pohon. Tanganku melingkarinya.

Menumpukan berat badanku pada pohon itu.

Bagaimana jika pohon ini diwujudkan sebagai perempuan?

Aku tersenyum.

Tertawa kecil dan memeluk pohon itu lebih erat.

Jika pohon ini perempuan, maka dia adalah perempuanku.

Yang kukunjungi setiap hari.

Yang kusukai. Dan selalu bertambah disetiap hari-hariku bersamanya.

Yang menghiburku dalam diamnya.

Tak pernah ada waktu yang terbuang begitu lama. Selama apapun waktu bersamanya hanya bagai sepenggal waktu.

Dalam sepenggal waktu yang ada, aku merasa lebih.

Tenang. Kuat. Dan melankolis?

Mungkin ada klorofil-klorofil masuk ke dalam darahku dan membuatku jadi sedikit aneh.

Aku tertawa dalam hati.

Tawa yang sudah lama tidak muncul.

-.-

“Roches, aku harus bisa menjadi manusia. Aku sangat mencintai pemuda itu. Sejak malam pertama kami bertemu. Kalau memang ada yang lebih kuat dari sihir pohon, tentu manusia itu sudah mengguna-gunai aku. Tapi kau tahu itu tak benar. Dia tak mampu melakukannya. Manusia tak mampu melakukan apapun dengan benar.” Aku berkata-kata dengan cepat sambil melihat sekeliling rumahnya. Pohon besar.

“Lalu sekarang kau datang padaku memohon-mohon dengan paksaanmu? Mencoba membuatku melihat bahwa memang tidak ada jalan lain yang tersedia dalam kondisimu?”

“Apakah ada?” mataku bersinar.

“Ada. Tentu saja. Selalu ada jalan.” Roches menatapku.

“Lupakan lelaki itu, Mya.” Roches berkata datar.

Dia membuang pandang tak peduli.

“Apa katamu? Kenapa tidak kau suruh saja aku mati sekalian? Itu lebih masuk akal bagiku!” Aku marah dan melayang keluar dari pohon Roches menuju pohonku.

-.-

‘Lebih masuk akal’, heh? Aku tidak habis pikir apa yang perempuan muda itu katakan.

Seperti dia punya cukup akal saja.

Menyerahkan diri untuk cinta. Hah.

Cinta kepada mahkluk lain.

Seperti ada yang bisa dibanggakan menjadi seorang manusia.

Seperti ada yang diperjuangkan dalam hidup.

Manusia. Makhluk lemah yang terus membunuhi semua yang hidup?

Merusak apa yang bukan menjadi milik mereka?

Membenci apa yang ada dalam darahnya sendiri?

Menghianati apa yang ada dalam dirinya. Pikirannya. Hatinya.

Ah, aku tak tahu apa bagusnya menjadi makhluk seperti itu.

Tentu saja menjadi roh pohon jauh lebih bermartabat.

Roh pohon menghidupi pohon. Setiap pohon menghidupi banyak makhluk hidup.

Pohon tidak merusak.

Dan roh pohon tidak pernah berbohong. Kami hanya suka tidur lama. Tapi, dalam tidurpun kami masih berguna.

Memang benar kami mudah bereproduksi. Dan kami berumur panjang.

Tapi itupun tak bisa menjadi perisai saat berhadapan dengan manusia.

Ah… tidak ada gunanya menjadi manusia.

Sungguh tidak ada.

-.-

Aku menangis seharian. Daun-daunku layu.

Beberapa lebih cepat mencoklat dan bahkan gugur sebelum waktunya.

Aku menderita menahan semua yang kurasakan.

Seperti ada yang menancapkan jarum-jarum kecil dan banyak di sekujur badanku.

Aku jadi lemah dan tidak punya semangat untuk hidup.

Apa yang berarti dalam hidupku? Apa yang kuinginkan?

Apa yang bisa kulakukan? Apa yang kudapatkan?

Apa yang bisa kutanggung? Apa yang mampu kuperbuat sekarang?

Lumpuh. Lumpuh. Aku sesak nafas.

Darah hijauku mengering. Aku sakit.

-.-

Hari-hari berlalu semakin mudah setelah kutinggalkan masa lalu.

Aku berbaring di bawah pohon dan menatap ke atas.

Keningku berkerut.

Kenapa daun-daun pohon ini mulai mencoklat? Musim gugur masih jauh untuk tiba-tiba datang.

Kuambil daun-daun yang jatuh ke atas wajahku. Hijau.

Banyak daun gugur. Tetapi hanya di pohon ini.

Aneh.

Apakah ada penyakit pohon yang menggugurkan banyak daun?

-.-

Lelakiku datang lagi. Tapi aku tak mampu menemuinya.

Aku hanya melihatnya dari sini.

Ren, Ren, aku sakit. Apa kau tahu?

Aku tak bisa keluar dari pohon dan mendekatimu.

Membelai-belai dan duduk di sebelahmu.

Air mataku mengalir. Dan tubuhku kaku tak bergerak.

-.-

Aku membuat sketsa di bawah pohon. Hari yang menyenangkan.

Garis-garis yang kutarik kuat, kontras di atas kertas.

Tenang dan tenang. Pikiranku bersih. Pundakku ringan.

Tak ada yang mengganjal.

Kutarik garis-garis perlambang kenyataan.

Daun-daun jatuh ke atas kertas.

Aku melihat pohonku.

Kenapa?

Kulihat pohon-pohon lainnya.

Daun-daun terus-menerus gugur dan tak ada pohon lain yang seperti ini.

Apakah aku harus ganti tempat?

Aku berjalan ke pohon lain dan mulai menarik garis.

Sketsa lagi. Lembar lagi.

Membalik lagi.

Dan aku kembali melirik pohon itu.

Benar-benar mengganggu konsentrasi.

Aku berjalan lagi ke pohonku.

Aku menatapnya prihatin.

Aku memeluknya dan merasakan hangatnya.

Cepatlah membaik. Kataku di dalam hati.

-.-

“Roches. Kau lihat Mya? Dia mulai mati. Kudengar dia mau berubah menjadi manusia. Kenapa tak kau kabulkan saja?” Kore bertanya.

“Kau pikir aku yang membuatnya mulai mati? Itu pilihannya sendiri.”

“Aku tahu. Tapi lihat. Dia bahkan tak seperti makhluk hidup lagi. Menyedihkan! Kalau kau tak mau merelakannya jadi manusia, lebih baik kau membunuhnya sekarang.”

“Jadi sekarang roh pohon sudah mulai saling membunuhi, heh? Biarkan saja dia. Nanti sebelum detik-detik kematian, dia akan berbalik dari niatnya yang kekanak-kanakan itu.”

“Aku tak yakin. Kau ingat Clea dulu? Hampir 200 ribu kilas matahari. Dan sekarang terjadi lagi! Aku memang tak begitu mengerti tentang manusia. Tapi sungguh, aku kasihan melihat Mya harus seperti itu. Lihat! Lihat! Lelaki itu masih saja terus datang. Setiap hari. Bahkan jika daun-daun itu membuatnya tak bisa bekerja. Kadang kupikir lelaki itu agak gila. Mana ada manusia yang memeluk pohon. Dia lebih cocok menjadi roh pohon daripada manusia.”

Aku melihat lelaki itu.

Manusia menjadi roh pohon? Itu tidak mungkin.

Tetapi mungkin kalau roh pohon yang menjadi manusia.

-.-

“Mya, kali ini menurutku kau lebih bodoh dari biasanya. Dan tidak hanya bodoh, kau juga benar-benar keras kepala –keras hati! Kau pikir aku akan membantumu berubah menjadi makhluk itu? Tidak. Tidak akan pernah.”

“Aku tak peduli…. Kalau aku harus hidup selamanya tapi tak bisa mewujudkan mimpiku, aku tak mau hidup lebih lama. Cukuplah sampai disini.”

“Terserah kau. Ini adalah hidupmu. Tentu kau yang memilih akan menjalani hidup yang seperti apa.” Aku menutup pembicaraan dan melayang keluar dari pohon Mya menuju pohonku.

Dasar perempuan keras kepala. Terbuai dengan cinta sebelah tangan dan tak melihat pintu lain untuk terus hidup.

Aku tak habis pikir dengan roh pohon muda. Mereka tak bisa berpikir panjang.

Apa jadinya kalau aku mengiyakannya? Mungkin semua roh pohon muda yang ada di sini akan meminta hal-hal yang lebih.

Aku harus bertanggungjawab atas ’pengetahuan’ ini.

Kali ini aku tak akan membantunya.

-.-

Kore muncul di pohonku. Bersandar ke kulit pohon dan menatapku dalam diam.

“Apa maksudmu muncul dan menatapku begitu?” Akhirnya aku bersuara melihat dia hanya diam saja.

“Lihat Si Mya. Dahan-dahannya mulai patah.” Kore menggeleng-gelengkan kepalanya. “Umurnya tak lama lagi. Dia sudah berguguran selama 15 kilasan matahari. Paling banyak 5 kilasan matahari lagi, kemudian rohnya lenyap dan kulitnya kering dan keropos di dalam.”

“Ya…”

“Jangan ‘ya’ saja. Apa kau tak punya perasaan? Dia benar-benar tak berpaling dari ‘bunuh-diri’nya itu. Bantulah dia. Hanya kau yang cukup tahu bagaimana mengubahnya. Mungkin dia bisa menjalankan hidup dalam bentuk yang berbeda dengan kita.”

“Tidak.” Aku terus mengeraskan hati.

“Kita tak bisa membiarkan saudari kita tersiksa, Roch. Apakah bentuk kehidupan yang berbeda akan membuat kita menjadi berbeda? Apakah proses perubahwujudan akan membuatnya tercuci otak dan otomatis menjadi manusia bodoh seperti yang sering kita lihat?

“Entahlah. Aku tak mendapatkan informasi tentang efek transformasi.” Aku berusaha cuek.

“Mungkin kita harus memberikannya kesempatan. Kepercayaan.”

“Tidak.”

“Kadang kupikir kau lebih keras daripada batu yang mengganggu akar-akar kita, Roch.” Kore melayang pergi keluar dari pohonku.

Kacau. Kore ikut-ikutan berusaha memelencengkanku. Roh-roh lain juga mulai bersimpati.

Aku tak ingin Mya menderita. Aku tersiksa setiap kali melihatnya.

Tapi, tak semua yang kita inginkan selalu terjadi. Kadang kita harus berkompromi dalam hidup.

Membuat penyesuaian dalam situasi yang tak kita inginkan.

Aku melihat Mya lagi.

Hatiku sakit dan pemikiranku mulai goyah.

Mungkin aku perlu menyampaikan ini ke Tetua.

-.-

Pohon ini sekarat. Aku yakin.

Sungguh aneh, dahan-dahannya terbelah dan banyak ranting patah dan berjatuhan.

Seperti Sakura yang gugur. Tapi Sakura tidak menggugurkan ranting-rantingnya, kan?

Tak mungkin aku mengikat dahan-dahan yang terbelah ini.

Aku memanjat dan duduk di salah satu batangnya yang agak besar.

Prihatin melihat pohon ini sekarang.

Betapa berbedanya dengan yang kulihat dulu. Hari aku pergi dari rumah.

Pasti pohon ini terkena penyakit yang membuatnya tak mampu hidup lagi.

Kasihan kau pohon…

Aku memeluk batang pohon yang besar itu.

Mungkin tak lama lagi dia menemani aku. Aku ingin tertidur di sini seperti dulu.

Tidur di batangnya dan menikmati angin yang membelai rambutku.

Membiarkan dia menemaniku dalam hening.

-.-

“Hampirrrr matiiiii?”

“Ya, Tetua Gaharu. Dia terlalu sedih karena aku tak mengizinkannya berubah menjadi manusia.”

“Kenapaa?”

“Dia jatuh cinta pada manusia yang terus mengunjunginya.”

“Beraaapaaa lamaaa?”

“Menyukai lelaki manusia? Tidak lama. Sekitar 100 kilas matahari. Lelaki manusia itu baru muncul di daerah ini. Sebelumnya tak pernah terlihat. Setelah kedatangan pertama kali, dia terus datang. Setiap hari. Dugaanku kediamannya tidak jauh.”

“Perlihatkaaann Myaaa.”

Aku melihat Mya dan Tetua Gaharu melihat Mya melalui mataku.

“Itu manusiaaanyaaa?”

“Benar Tetua. Sepertinya malam ini dia tidur di pohon itu. Seperti kunjungan pertamanya dulu, dia tidur disana sampai pagi.”

“Biarkaaan diaaa berubaaahhh.”

“Tetua mengizinkan –dia berubah jadi –manusia? Benarkah?”

“Setiappp rooh punyaa takdirnyaaa sendiriii.”

Tetua hilang dari kesadaranku.

Mya direstui. Aku tersenyum. Lega.

Bebanku terasa ringan.

-.-

“Mya… kau masih di sini? Aku akan mencoba mengubahmu walaupun kau sudah berkabut. Tetua Gaharu merestui.”

“…”

“Mya, apa kau masih utuh? Kau tak ingin menjadi manusia? Lihat, lelakimu ada disini. Kau tahu?”

“Roch…” Aku menjawab lemah.

“Ha! Kau masih disitu. Cepat kumpulkan rohmu. Aku tak tahu dimana intimu. Aku tak bisa mengubahnya jika roh mu masih seperti kabut.”

“Aku mau…” Aku mulai melihat Roches samar-samar.

“Ya… ya… begitu…. Biarkan aku memegang intimu. Kumpulkan semangatmu. Ya… begitu…”

Aku berusaha keras memadat sampai Roches berhasil memegang intiku.

Diapun menyanyikan lagu pohon yang tak pernah kudengar. Ada harmoni yang mengalun indah dan aku terpaku pada alunan suaranya.

Megah dan sendu.

Angin datang dan berpusar pelan mengelilingi batang pohonku. Tanah terasa menggetarkan.

Perutku teraduk-aduk. Rambutku ditarik-tarik. Tangan-kakiku seperti disayat dan kukuku seperti dicabut.

Nafasku putus-putus.

Sakit sekali.

Kesadaranku mulai hilang dan sekilas kulihat Roches…

-.-

Seorang lelaki membangunkanku.

Dia terlihat mirip seperti lelakiku.

Matahari muncul dan sinarnya tak membuatku sakit.

Tapi aku lemah dan tak bisa menggerakkan tubuhku.

Sinar-sinar matahari menghilang.

Gelap.

-.-

Kenapa perempuan ini tidur di tanah?

Bajunya bagus. Seperti serat-serat daun. Tidak mungkin gembel.

Apa dia korban kejahatan? Tapi tak ada luka-luka ditubuhnya…

Mungkin dia lari dari rumah seperti aku?

Seharusnya dia mengunjungi kerabat atau teman. Tak mungkin perempuan tidur di luar.

Apalagi perempuan cantik. Berapa umurnya?

Dia pucat. Sepertinya aku kenal…

Mungkin sebaiknya kubawa kerumah saja.

-.-

Mataku terasa berat. Kepalaku sakit.

Asing.

Tapi aku melihat punggung yang tak asing di mataku dan perlahan mulai duduk.

Tangan dan kakiku berwarna kuning. Rambutku hitam dan panjang.

Kakiku tampak padat dan aku mulai berjalan.

“Hei, kau sudah bangun?” Lelaki itu memberiku air.

Aku meminumnya dan menatapnya dalam-dalam.

Dia lelakiku. Ren.

“Apakah kau sakit?” Ren bersandar di sisi meja dan menatapku.

Aku terus memandangnya. Hatiku senang. Sesuatu terasa melonjak di dalam hatiku.

Aku berhasil menjadi manusia!

“Hei, kenapa kau menangis? Apakah separah itu? Kuantar ke rumah sakit saja?” Ren melihatku khawatir.

Sesaat diam dan dia berkata lagi. “Apakah kau –bisu?”

Aku tertawa.

Aku sangat bahagia…

“Sepertinya kau tidak bisu. Bicaralah.”

“Aku mau tinggal disini.”

“Eh?” Ren kaget. “Tidak baik begitu…”

“Kau marah?

“Tidak. Hanya saja tidak baik perempuan muda tinggal bersama lelaki yang tidak dikenal.”

“Aku mengenalmu.”

“Kita pernah kenal? Sudah kuduga. Kau terasa tidak asing. Tapi aku tak bisa mengingat namamu. Apakah kita teman kecil?” Ren tampak bingung.

“Aku Mia. Kau melupakan namaku. Aku mau tinggal di sini…”

“Kau tak punya kerabat atau teman? Maksudku aku paham kau lari dari rumah, itu berarti kau punya masalah besar…” Ren terus berbicara tapi aku tak mendengarnya.

Aku mendekatinya. Memegang tangannya. Terasa utuh dan hangat.

Aku memeluk lengannya dan menyandarkan kepalaku.

“Tidak. Aku tak kenal siapapun di dunia ini.” Aku berkata pelan.

Ren diam dan membiarkanku.

“Kau sepertinya sangat –kukenal. Tapi aku tak bisa ingat –dimana pernah mengenalmu…” Ren mencoba mengingat-ingat.

“Tentu. Aku juga mengenalmu. Itu sebabnya aku ingin tinggal di sini. Kau tidak bohong bahwa mengenalku. Tak lama lagi kau akan mengingatnya. Aku yakin.”

“Begitu? Hmm…” Ren menggumam.

“Kau akan bermasalah kalau tidur di luar seperti kemarin. Apa jadinya kalau orang jahat mengganggumu…” Ren berkata-kata lagi tapi aku tak menangkap apa yang dia katakan.

Aku mengangkat muka, melihatnya wajahnya lekat-lekat.

Aku tahu aku mencintainya. Sejak dia datang padaku hari itu.

Anugerah hari ini akan terus kuingat setiap hari.

Sebelum rohku lenyap, aku ingin terus bersamanya.

Kebahagiaan memenuhi dadaku, dan aku menciumnya.

-.-

cerita ini dapat dilihat juga di:

Kemudian

Iklan