SABTU, 4 APRIL

Eve Shi

Sekolah sudah sepi, hanya tinggal ada penjaga, tapi Zena belum beranjak pulang. Sosok yang selama sepuluh menit belakangan bertengger di atap gudang masih ada di sana, bergeming selama anak-anak dan akhirnya para guru meninggalkan bangunan. Rupa sosok itu sudah akrab bagi Zena: mirip manusia dewasa berbahu lebar dan berkulit hijau lumut. Karena mahluk itu tidak berkeliaran mencari mangsa seperti yang nyaris selalu dikerjakan kaum sebangsanya, Zena menduga ia sedang lemah, dan ada di sini semata-mata demi mendobrak masuk gudang. Zena juga curiga mahluk itu tahu sedang diamati, karenanya masih sangsi untuk bertindak.

Ponsel di saku seragamnya bergetar. Zena mengeluarkan ponsel dan menekan tombol jawab. “Halo?”

“Zen, masih di situ sasarannya?” Seperti biasa, gaya bicara Agung tegas dan berkesan tidak sabaran.

“Kenapa telpon, bukan SMS saja?”

“Nanti kamu malah lihat ke HP, bukan mengawasi sasaran. Masih di WC?”

“Ya. Untung nggak pesing-pesing amat.”

Suara Agung berubah agak jengkel. “Tunggu apa lagi? Bagaimana kalau dia menyerang pak penjaga atau kabur? Perlu bantuan?”

Tanpa langsung menjawab, Zena mengintip dari sela pintu WC. Sosok di atas gudang menggeliat. Zena baru sadar posisi sosok itu kini sudah nyaris di pinggir atap, seakan sedang bersiap meluncur.

“Iseng betul yang bikin sekolah ini, ya,” gumamnya. “Bikin WC murid persis di depan ruang guru. Bayangkan waktu anginnya bertiup dari sini ke sana. Pantas jendela ruang guru sering ditutup.”

“Hoi! Jangan bahas WC melulu! Aku ke sana kalau…” Agung terdiam sejenak. “Di depan ruang guru? Pas di depannya? Zen, kamu di WC cowok, ya?”

Sebentuk bayangan mirip tungkai menjulur dari tepi atap, disusul kaki yang satu lagi. Zena mulai beringsut ke arah pintu WC, ponsel tetap menempel di telinga. “Kayaknya dia mau turun. Nggak usah ke sini, Gung. Tapi nanti aku salin PR Bahasa Indonesia dari kamu, ya. Terima kasih.” Tanpa mengacuhkan protes Agung, ia mematikan ponsel, menyelipkannya ke dalam saku, dan menghambur keluar WC.

Tepat ketika ia menginjak jalur kerikil di antara WC putra dan gudang yang bersisian dengan ruang guru, sosok itu mendarat di depan pintu gudang. Di wajahnya tak ada hidung dan mulut, hanya sepasang bola mata yang sepenuhnya berwarna putih kekuningan. Kepalanya licin tak berambut, dengan dua lubang di kiri-kanan. Kedua ibu jarinya runcing lurus, berwarna hitam, hampir sepuluh senti panjangnya.

Zena mengilas ibu jari mahluk itu. Seumur hidup ia belum pernah melihat sendiri cara ibu jari itu digunakan, hanya pernah diberitahu oleh ayahnya. Saat bersantap, mahluk-mahluk ini akan menghunjamkan ujung ibu jari ke tenggorokan korban sebagai saluran untuk mengisap sumsum tulang dan darah. Mereka baru akan berhenti setelah korbannya tewas. Semasa Zena kecil, bayangan pemandangan itu kadang menghantui tidurnya.

Sekolah hening senyap. Pak penjaga barangkali juga sudah pulang, maka mahluk ini akhirnya berani turun. Sambil bersyukur karena risiko tahu-tahu kedatangan pihak ketiga berkurang, Zena maju setindak.

Sosok itu tidak bereaksi, entah gentar atau justru menganggap remeh Zena yang hanya seorang diri. Zena menghadapkan kedua telapak tangan di depan wajah. “Langit, Bumi, Manusia,” ujarnya dengan suara nyaring, menekankan tiap suku kata. Lelatu mencetus dan memercik di antara kedua telapaknya.

Sambil menggeram lirih, mahluk itu mencondongkan badan ke depan, dengan bahu dan siku tertarik ke belakang, seakan mengambil ancang-ancang.

Seluruh kulit Zena serasa tersapu aliran listrik ringan. “Angin Utara, Samudra Barat.” Segaris api warna biru dan jingga membentang dari satu telapak tangan ke telapak yang lain. Ia mengulurkan tangan kiri ke depan, sementara tangan kanan yang terkepal ia tarik ke belakang, bagai meniru gerakan mahluk di depannya. “Badai Selatan, Kilat Timur!”

Geraman mahluk itu meledak menjadi raungan. Ia menerjang Zena, bersamaan dengan terbukanya tinju kanan Zena.

Garis api biru-jingga melesat, mendesis di udara. Mahluk itu mencium adanya bahaya dan berusaha mundur, tapi terlambat, sebab saat itu juga garis api menghantamnya. Di perutnya, di tempat garis api menembus, timbul lubang hitam yang membesar dengan cepat. Selagi garis api bertebaran menjadi bunga-bunga api dan menguap, tubuh mahluk itu pun terbelah dua. Sekejap kemudian ia pecah berkeping-keping, diiringi lengkingan bunyi mendecit. Serpihan tubuh berkulit hijau tua beterbangan di udara, sebagian menghantam dinding sekolah, lalu sirna dengan cepat berbarengan dengan padamnya bunga-bunga api.

Sambil menggerutu pelan, Zena menekankan buku jari dengan hati-hati ke rahang. Bunyi mendecit tadi selalu membuat giginya agak ngilu, dan tak peduli berapa banyak mahluk yang berhasil ia tumpas, rasa ngilu itu saban kali pasti mendera. Tapi yang penting urusannya sekarang sudah beres. Sekarang ia akan pulang, tidur sebentar. Biar saja Agung menerka-nerka –

Dari belakang terdengar suara berdebum dan berderak, pertanda ada yang jatuh ke jalur kerikil. Zena terlonjak kaget, sama sekali tidak merasakan kehadiran orang lain di sekitarnya. Ketika ia berbalik, satu lagi mahluk serbahijau tengah tergeletak di hamparan kerikil, yang ini dengan dada berlubang. Selagi Zena memandang dengan masih setengah termangu, mahluk itu pun meledak dan lenyap, lagi-lagi mengakibatkan gigi Zena ngilu.

Firman muncul dari balik pojok bangunan. “Yang itu tadi duduk di atap WC,” ia melapor dengan nada datar, seperti orang membacakan jumlah penduduk di satu RT. “Kayaknya menunggu kamu lengah.” Seperti Zena, ia mengenakan kemeja seragam dan celana olahraga.

“Terima kasih.” Zena tidak terkejut bahwa Firman masih belum pulang. Selain selaku Pemusnah tertua di sekolah ini, Firman selalu penuh tanggungjawab dan waspada. “Kak Firman dari tadi di sini?”

“Ya. Ayo, ke halaman belakang. Agung juga ada di sana.”

Jadi tadi Agung menelepon dari lingkungan sekolah juga, bukan dari rumah seperti yang disangka Zena. Secercah firasat tak enak menyusup ke dalam hatinya. Biasanya, selain di waktu-waktu tertentu, mahluk-mahluk ini muncul sendiri-sendiri. Hari ini dua sekaligus menyatroni sekolah, pertanda ada hal yang harus mereka bertiga bahas. “Sebentar, Kak, aku ambil tasku dulu.”

Tas ransel hitamnya masih tergolek dalam posisi semula di kolong meja guru. Setelah menyandang tas di bahu, Zena menutup pintu kelas dan langsung menuju ke halaman belakang sekolah. Sembari ia melangkah, pikirannya mengembara.

Ujian nasional untuk kelas dua belas sudah menjelang, yang artinya sebentar lagi Firman lulus. Hanya Zena dan Agung yang akan menjaga sekolah. Yang mengusik Zena bukan pertanyaan sanggup tidaknya ia dan Agung bertugas berdua saja, melainkan sampai kapan keluarga mereka harus hidup seperti ini.

Kekuatan seorang Pemusnah akan hilang di umur empat puluh, ia merenung. Itu pun kalau orangnya masih hidup. Mati? Bagiku rasanya itu kemungkinan yang jauh sekali…Tapi tante Kak Firman, adik ibunya, meninggal waktu Kak Firman kecil, gara-gara luka parah dalam pertarungan. Jadi aku tinggal mengasah kemampuan supaya lebih kuat, habis perkara. Tapi siapa yang menjamin kalau mengasah kemampuan saja sudah cukup?

Kenapa kami yang mengemban tugas ini? Kenapa harus ada mahluk-mahluk ini, harus ada gerbang yang dijaga? Apa salah keluarga-keluarga kami sampai harus menanggung kutukan turun-temurun?

Seperti yang sudah-sudah, tak ada jawaban menentramkan yang datang menyapa. Zena menarik ikat rambut merah jambu di ujung kepangnya, membiarkan kepang itu tergerai di pundak, lalu menjalin dan mengikat ulang rambutnya dengan erat. Tindakan iseng tanpa tujuan, yang ia lakukan sekadar agar pikirannya tak terlalu terpaku pada kewajiban tak berkesudahan yang bak lingkaran setan.

Resminya, tak ada halaman belakang di SMU ini, hanya sepetak lahan sempit berlapis aspal di belakang bagian bangunan tempat gudang dan ruang guru berada. Lahan ini, yang dulu luput dari perhitungan waktu bangunan sekolah dirancang, dibatasi tembok bata setinggi tiga meter. Agung tegak di depan tembok, seperti biasa dengan wajah kering senyum. Kadang Zena kagum betapa orang yang blak-blakan dan tak suka bercanda begini sampai terpilih menjadi ketua kelas. Pasti karena ia jago mendiamkan kelas ribut, mengumpulkan tugas, dan memikul beban-beban lain yang teristimewa diperuntukkan bagi seorang ketua kelas.

“Ada apa, Gung?” tanyanya.

“Pagi ini cuaca gerah dan mendung, tapi hanya di lingkungan sekolah. Begitu keluar ke jalan raya, hawanya sejuk. Kalian rasakan tidak?”

Gaya bicara Agung yang tanpa basa-basi sering menyebalkan dalam percakapan santai, namun berguna dalam rapat kilat begini. “Ya,” sahut Zena. “Tiap masuk ke ruang kelas, udaranya pengap. Rasanya seperti…sekolah sedang tenggelam di tengah awan tebal dan gelap.”

Firman berkata, “Belum lagi jumlah Anak Pandau. Biasanya satu hanya muncul sekali tiap lima, enam, paling banter delapan hari. Tapi sejak Senin kemarin, satu Anak Pandau muncul tiap hari, dan barusan muncul sekaligus dua.” Orang yang tidak mengenal Firman bisa-bisa menganggap ia sedang bosan atau mengantuk, sebab begitu datar suaranya. “Artinya gerbang sebentar lagi akan terbuka.”

Sejenak mereka bertiga terpekur. Ingatan Zena menerawang pada kisah yang pertama kali dituturkan ayahnya ketika ia masih kelas satU SD. Sebuah kisah yang memikat, sampai Zena sadar ini bukan dongeng, melainkan nasib keluarga mereka.

Di zaman dahulu, di lokasi kompleks SMU ini dibangun, terdapat sebuah desa. Tepat di bawah tempat yang sekarang merupakan gudang dulunya adalah lapangan becek yang dihuni Anak Pandau. Mahluk-mahluk serbahijau ini, yang tercipta dari batu, udara dan air, sudah ada sejak zaman kerajaan kuno yang wilayahnya hampir seluas provinsi ini sekarang. Sang Prabu dan keturunannya konon mengumpankan penjahat dan pengganggu dari luar pada Anak Pandau, supaya mereka tidak memakan penduduk tak bersalah.

Setelah kerajaan kuno tersebut runtuh, tak ada lagi yang mengingat apalagi menghiraukan Anak Pandau. Abad demi abad silih berganti. Lambat laun mereka marah, hingga seratus tahun yang lampau mereka keluar dari wilayah lapangan. Mereka berkeliaran memangsa manusia, sambil sesekali pulang ke sarang mereka di lapangan demi memulihkan tenaga yang terkuras. Berkat upaya keras orang-orang sakti di daerah ini, Anak Pandau akhirnya berhasil dikurung di bawah tanah. Tugas menjaga penjara Anak Pandau diwariskan pada empat keluarga, keturunan sebagian orang sakti tersebut. Saat ini hanya keluarga Zena, Agung dan Firman yang masih mendiami daerah ini. Keturunan keluarga keempat sudah pindah ke luar negeri tiga puluh tahun lalu, dengan alasan tak ingin terbebani kewajiban menjaga penjara yang memberatkan.

Tiap dua puluh lima tahun sekali, kekuatan gerbang penjara akan ada dalam titik lemah, hingga lebih mudah bagi Anak Pandau untuk keluar-masuk. Pada saat itu mereka akan lebih ganas dan gigih dari biasa, cenderung berkelompok, dan satu kelompok bisa terdiri dari dua puluh Anak Pandau. Karenanya keturunan tiga keluarga sebisa mungkin wajib menumpas semua Anak Landau yang mereka temui, serta mencegah mereka kembali ke dalam penjara untuk memulihkan tenaga. Kali ini tugas itu jatuh pada Zena, Agung, dan Firman, setelah dua puluh lima tahun silam menjadi kewajiban generasi orangtua mereka.

Kini Zena teringat Anak Pandau yang ia basmi barusan, serta gerakannya yang agak lamban. Menghadapi dua puluh mahluk yang sedang kuat-kuatnya setara dengan menghadapi empat puluh mahluk macam tadi. “Tapi bukannya gerbang biasanya mencapai titik lemah di bulan Maret atau September? Ini baru April…”

Ucapannya terputus oleh bunyi dentuman teredam dari gudang, seperti benda meledak di bawah berlapis-lapis selimut tebal. Zena, Agung dan Firman serempak menoleh. “Datang, tuh,” kata Firman tenang, seakan bunyi itu tak bersangkut-paut dengan dirinya.

“Cepat.” Agung bergegas menuju ke gudang, disusul oleh Firman. Setelah menaruh ransel di atas hamparan aspal, di sebelah tas Agung dan Firman, Zena berlari mengejar mereka berdua.

Begitu ia memutari sudut bangunan dan gudang tinggal berjarak dua meter, penciuman Zena disergap bau tak sedap, mirip semburan asap knalpot. Sambil batuk-batuk dan mengibaskan tangan di depan hidung, ia mengerem langkah di samping Agung dan Firman yang sudah berhenti lebih dulu. Sesaat mereka menatap gudang, membisu. Di langit, awan kelabu bergulung-gulung telah menyerap seluruh cahaya matahari, mengubah siang menjadi kelam.

Lebih dari dua puluh Anak Pandau bergerombol di depan pintu gudang. Tak seperti rekan mereka yang tadi dirobohkan Zena, mereka berdiri tegap, sama sekali tak tampak kekurangan tenaga. Sebagian berpaling pada ketiga anak yang baru datang, dan tak lama semua mahluk itu memandangi mereka. Zena menahan napas, namun kumpulan Anak Pandau itu tidak melakukan apa-apa, hanya membatu di tempat.

Agung berbisik, “Jangan lengah.”

Firman mengiyakan, sementara benak Zena justru tahu-tahu melayang ke hal-hal lain: chatting dengan teman SMP di Facebook, menyiapkan sop buah untuk kudapan malam, membaca novel pinjaman dari teman sebangkunya. Hal-hal yang akan ia nikmati sepulang ke rumah nanti. Dengan sedikit jengkel, ia menggeleng keras-keras untuk menjernihkan isi kepala.

Bagai diberi aba-aba, tujuh Anak Pandau berlari sekaligus ke arah mereka bertiga dengan kecepatan tinggi.

Firman menyerukan mantra pemanggil, dan di depannya mendadak menjelma lengkungan cahaya merah berkilau, yang saat itu juga ditabrak mahluk-mahluk itu. Mereka terpental mundur, sementara kawan-kawan mereka merangsek maju. Begitu terhalang lengkungan cahaya merah, mereka spontan menggempurnya dengan tinju dan tendangan bertubi-tubi. Kedua lengan Firman terangkat, terdorong ke belakang seakan tengah menahan tekanan benda kasat mata, dan napasnya mulai memburu.

Zena tahu ini karena Firman belum pernah menghadapi lawan sebanyak ini sekaligus. Api biru-jingga meletup-letup di tangannya selagi ia dan Agung menjauh sedikit dari Firman, mengapitnya masing-masing dengan jarak sejengkal. “Siap, Gung?”

“Siap! Satu…dua…ti- “

Lengkungan cahaya merah pecah menghilang begitu Agung dan Zena melepaskan serangan. Garis-garis api biru-jingga dari Zena menikam lima Anak Pandau, menyerempet satu lagi. Sebanyak itu pula Anak Pandau yang terpukul kilasan api putih benderang dari Agung. Tiba-tiba saja mereka hanya berhadapan dengan sembilan Anak Pandau, yang sempat terpaku demi melihat musnahnya kawan-kawan mereka, sebelum maju kembali.

Dengan mengerahkan segenap tenaga, Zena mengeluarkan apinya lagi. Namun kali ini yang tumbang oleh api gabungan darinya dan Agung hanya tiga Anak Pandau. Sisanya, seraya menghindar, dengan cerdik telah menyebar ke kiri dan kanan, memperluas lingkup serangan.

Peluh membutir di dahi dan pelipis Zena. Tangannya mulai gemetar capek, dan detak jantungnya berpacu. Kalau begini terus, jangan-jangan belum umur empat puluh sudah tamat dulu riwayat kami, pikirnya kelu, menembakkan apinya lagi.

Dua Anak Pandau hancur selagi keempat teman mereka dengan sigap membentuk lingkaran, mengepung Zena, Agung dan Firman. Menurut Zena, jika mahluk-mahluk ini punya mulut, pasti dari tadi sudah berteriak-teriak. Ia menghirup udara dalam-dalam, mengusir bayangan semangkuk buah yang berkelebat di depan mata. Pertarungan sudah begitu lazim baginya sampai kebosanan kadang menghampiri, padahal kebosanan bisa membuyarkan konsentrasi, terutama di saat genting.

“Gung, Kak Firman, masih kuat?” ia bertanya, sebagian demi menyemangati diri sendiri.

“Kamu nggak boleh capek,” tukas Agung dengan nada sedikit menuduh.

Nyaris Zena membalas dengan hardikan, tapi ia berhasil menyabarkan diri. “Iya, aku tahu.” Nanti, setelah semua ini beres, akan kutoyor kepalanya sambil lewat, ia berjanji pada diri sendiri.

Baru tekad itu terlintas, keempat Anak Pandau menerjang mereka beramai-ramai.

Tangan salah satu Anak Pandau mencengkeram pergelangan tangan Zena sebelum ia dapat mengeluarkan apinya. Rasanya seperti dijepit benda yang sangat dingin dan kering, hingga bulu-bulu halus di lengan Zena tegak semua. Anak Pandau itu menyentakkan Zena ke depan sampai ia nyaris tersandung, dan seketika itu juga pikiran Zena seakan membeku. Kedua rekannya terlupakan, badannya bergerak menuruti naluri. Kakinya berderap membawa ia mendekati mahluk itu, dan tinjunya mendarat di badan lawan disertai nyala tanpa suara dari api biru-jingga.

Alis Anak Pandau itu berkerut sedetik. Kemudian sekujur tubuhnya hancur berkeping-keping, kecuali satu lengannya, yang masih memegangi pergelangan tangan Zena. Baru saja ia ingin berseru jijik, tangan itu turut luluh dan lenyap. Sambil berusaha menenangkan isi perut yang bergolak, Zena mengibas-ngibaskan tangan, berusaha menyingkirkan perasaan bahwa tangannya habis dililit ular. Barulah ia menoleh pada Agung dan Firman.

Hanya satu Anak Pandau yang masih ada, terkapar di kaki Firman dengan dahi mengernyit. Tanpa menunda-nunda, Agung mengirimkan sambaran api putih pada mahluk itu. Anak Pandau itu pun hilang tak berbekas, dan Agung mengembuskan napas keras-keras.

Firman menyapukan punggung tangan ke lehernya yang lembap. “Kalian nggak apa-apa?”

“Asal nggak dikuntit sampai ke rumah, nggak apa-apa.” Zena ragu-ragu. “Tapi…kalau ada yang datang lagi ke ruang guru sesudah kita pulang?”

Agung mengangkat alis. “Jadi maksudmu, kita harus terus jaga di sini?”

“Ya, bukan begitu.”

“Hmm. Sebaiknya besok kita mampir ke sini untuk mengecek. Malas betul kalau harus ke sekolah hari Minggu, tapi apa boleh buat.”

Keduanya menatap Firman, minta pertimbangan dari kakak kelas mereka itu. “Aku belum pernah dengar mereka datang lebih dari dua puluh ekor sehari,” kata Firman. “Kemungkinan tadi itu rombongan yang terakhir.”

Pandangan mereka bertiga bergeser ke pintu gudang. “Benar begitu?” tanya Zena, setengah berharap mereka bisa pulang sekarang, setengah malu atas keegoisannya bercampur was-was, siapa tahu Firman keliru. “Kakak yakin?”

Selama mengenal Firman, Zena tak pernah melihatnya bimbang. Kali ini pun tidak. “Yakin. Ayo, kita pulang.”

Bertiga mereka berbaris ke arah halaman belakang. Sekali Zena merasa mendengar bunyi kertak perlahan, dan ia berpaling cepat, berdebar-debar. Namun pintu gudang tetap tertutup rapat. Ia melirik atap, WC, ruang guru, kembali ke gudang. Masih tak ada apapun yang mencurigakan. Hatinya mulai lega, dan ia mempercepat langkah. Ia pun baru sadar, bagian atas kemeja seragamnya menempel ke kulit oleh keringat.

Tidak heran tante Kak Firman dulu sampai tewas, pikirnya letih. Bertarung begini betul-betul sangat menghabiskan tenaga. Kalau suatu saat aku sudah tidak kuat, lalu musuh terlalu banyak…kalau itu terjadi, dan aku belum sempat pamit pada Ayah dan Mama…

“Siapa tahu besok ada dua puluh lagi, atau malah tiga puluh,” Agung tiba-tiba mencetus, dan Zena, menggenapi niatnya tadi, mengetukkan buku jari keras-keras ke kepala Agung.

cerita ini bisa dilihat juga di:

Livejournal

Iklan