SEBUAH HARAPAN SEORANG GADIS MUNGIL

Yuni Batue

Seorang gadis yang bertubuh mungil duduk terdiam di sebuah halte bus. Entah apa yang sedang dia tunggu, sudah hampir seharian penuh dia tidak pergi dari halte tersebut. Menatap jalan yang ramai dilewati oleh banyak kendaraan. Hingga hujan turun dan sampai akhirnya hujan telah berhenti. Dia sama sekali tidak bergerak dari tempat dia duduk.

“ Ingin sekali melihat bintang saat hujan turun,” Sebuah kata yang terucap dari mulut gadis mungil itu dengan nafas panjang.

Seusai berkata demikian, Gadis mungil tersebut berjalan menyusuri trotoar yang terlihat basah karena hujan. Gadis mungil itu mengeluarkan sebuah kertas berwarna biru muda, Kertas yang tadi ditulisnya selama seharian duduk di halte. kemudian membuangnya ke tong sampah yang ada ditrotoar tersebut. Meninggalkan keinginan dan harapannya berlalu didalam tumpukan sampah.

Wahai bintang bisahkah aku menggapaimu walau hanya sedetik saja.

Bisakah aku melihatmu saat hujan turun seperti sekarang ini

Aku rasa tak mungkin, tapi kenapa aku masih terus berharap?

Seandainya itu terjadi, mungkin aku tidak akan  terus berharap meraihmu dalam hujan.

Keinginanku menggapaimu sama dengan keinginanku menggapainya…..

Walau tak mungkin tapi aku akan terus berharap, mungkin suatu saat nanti kau dapat kuraih begitu juga dirinya….. ^_”

****

Hari ini Gadis mungil kembali duduk di halte yang sama. Dengan sebuah senyuman pagi yang begitu indah. Masih menanti akankah harapannya hari ini terwujud. Dengan penuh kesabaran ditemani sebuah buku yang selalu dibacanya berulangkali. Entah akan berapa puluh kali dia akan terus membaca buku tersebut. Halaman demi halaman telah dia hafal bahkan letak titik dan koma pun telah dia hafal. Tanpa bosan Gadis Mungil terus menunggu harapannya, karena dia yakin akan bertemu dengan bintang harapannya.

“ Aku yakin hari ini dia akan muncul, dan kamu akan menemukan majikanmu.” Gadis mungil berkata pada buku yang selalu dia baca berulangkali itu. menunggu pemilik buku yang selama ini dia bawa kemanapun dia pergi. Setiap hari pula Gadis mungil selalu menunggu si pemilik buku tersebut di halte ini. dia tidak akan pernah menyerah sebelum bertemu dengan orang yang telah menolongnya dan meninggalkan buku tersebut untuknya.

“ Aku ingin mengucapkan terima kasih, kalau bukan karena dia mungkin aku tidak akan ada disini sekarang,” Gadis mungil yang terus bicara pada buku yang dipegang olehnya. Seperti biasa seusai bicara dia menuliskan keinginannya di kertas berwarna biru dan membuangnya kembali di tong sampah yang sama. Keinginan yang  berulang kali ditulis kemudian dibuang oleh gadis mungil. Berharap  suatu saat nanti lelaki yang menolongnya setahun yang lalu menemukan harapannya. Saat hari sore dan matahari mulai tenggelam, Gadis Mungil berjalan meninggalkan halte dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan walaupun dia tidak bertemu dengan pemilik buku tersebut. Karena dia yakin suatu saat nanti dia pasti akan bertemu dengan lelaki tersebut. Lelaki yang telah memberikan sebuah kehidupan untuknya.

Hari ini aku tidak bisa menggapaim tapi aku yakin suatu saat nanti aku dapat menggapaimu….

Aku tak akan pernah bosan menunggumu disini, karna aku yakin aku akan menemukanmu walau dalam gelap sekalipun

Saat mengingat kebaikanmu padaku aku pasti memiliki keyakinan yang begitu kuat…

Sekuat kepercayaanku bahwa aku akan melihat bintangku dalam hujan.

Aku selalu menunggu untuk bisa menggapaimu walau dalam hujan selkalipun wahai bintangku….

****

Entah berapa harapan yang telah dia buang di tong sampah tersebut. Hampir setiap hari gadis mungil menuliskan harapannya disana. Berharap akan ada yang memungut harapannya dan menjadikannya sebuah kenyataan. Seperti hari ini, Gadis mungil telah berjalan pergi dengan membawa senyumanya setelah meninggalkan sebuah harapan di tong sampah.

Ternyata keberuntunganku belum terwujud hari ini..

Bintangku tak terlihat saat hujan dan aku tak dapat menggapaimu sekarang…

Berapa lama lagi kah aku harus menunggumu agar bisa aku gapai..??

Lelah.. entah kenapa ada perasaan ini?

Aku ingin sekali menyerah, dan membiarkan ka uterus berada ditempatmu,

Sulitkah bagiku untuk mengucapkan terima kasih kepadamu bintangku?

Detik ini aku ingin sekali menangis….

Tak sanggup menghadapi kenyataan kalau kau tak nyata untukku…

Tidak….tidak…

Aku yakin kau pasti bisa aku raih. Pasti bisa!!

Karna tetesan darahmu telah mengalir diseluruh tubuhku..

Berikanlah aku kekuatan untuk dapat terus menunggumu….

Wahai bintangku……

Gadis mungil menampakan kekecewaannya, dalam setahun hanya hari ini dia merasa begitu kecewa dan terlihat seperti orang bodoh. Menunggu seseorang yang dia sendiri tidak tahu seperti apa wajahnya. Hanya tahu kalau usia mereka tidak terlampau terlalu jauh. Itupun dia mendapat informasi dari dokter yang merawatnya setahun yang lalu.

****

Gadis mungil berjalan dengan begitu gembira. Dia berjalan sambil menyanyikan lagu kesukaannya. Menggerakkan seluruh tubuhnya untuk berjoget di tepi jalan. Menyeberang jalan tanpa memperhatikan rambu – rambu lalu lintas. Padahal lampu untuk pejalan kaki sudah merah. Dan itu tandanya Gadis mungil tidak seharusnya menyeberangi jalanan. Namun begitu asyiknya dia mendengarkan musik sampai tidak menyadari sudah berada dimana dia saat ini berjalan.

Disaat dia berada ditengah jalan sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju dengan sangat kencang dari arah yang berlawanan. Gadis mungil tidak mendengar peringatan yang diberikan oleh sipengendara mobil tersebut. Begitu asyiknya dia mendengarkan musik sampai tidak menyadari akan bahaya yang sedang menghampirinya.

Semakin lama mobil sedan hitam semakin mendekat kearah Gadis mungil dan sedetik kemudian tubuh Gadis mungil telah tergeletak di pinggir jalan. Darah mengelir deras dari kepalanya. Tubuhnya tidak dapat bergerak dan gadis mungil langsung jatuh pingsan. Sedangkan pengendara mobil sedan hitam melarikan diri. Menggas dengan kencang mobilnya, meninggalkan Gadis mungil terkapar seorang diri di tengah jalan.

“ Cepet dibawa kerumah sakit!!” teriak seorang lelaki tua yang baru saja turun dari bus.

Seorang lelaki yang juga turun dari bus segera berlari mendekati Gadis mungil. Mengangkat tubuh Gadis mungil kemudian membawanya berlari sambil mencari taksi.

“ Pak, kerumah sakit terdekat!!!” teriak lelaki tersebut dengan sangat tergesa-gesa. “ Cepet ya pak??” pinta lelaki tersebut. Keringat mengalir deras dari tubuhnya. Dia terlihat sangat cemas melihat kondisi Gadis mungil yang terus mengeluarkan banyak darah. Seluruh bajunya dipenuhi oleh darah Gadis mungil.

Selama seminggu Gadis mungil terbaring diranjang rumah sakit tidak sadarkan diri. Selama itu pula lelaki yang menolongnya menemani Gadis mungil. Menunggu dengan penuh kesabaran.

“ Bagaimana keadaannya Dok?” Tanya lelaki bertubuh sedang dan tinggi tersebut kepada seorang dokter yang sedang melakukan pemeriksaan terhadap Gadis mungil dihadapannya.

“ Sudah semakin membaik, kemungkinan nanti malam sudah sadarkan diri,” balas Dokter tersebut dengan penuh keyakinan.

“ Syukurlah,” balas lelaki tersebut menghela nafas dan raut wajahnya terlihat sangat bahagia. “ Saat dia sadar, bila dia menanyakan Saya tolong berikan ini untuk wanita ini,” pinta lelaki tersebut dengan menyerahkan sebuah buku bersampul cokelat pada dokter.

“ Memang anda tidak akan menunggunya sampai sadar?”

“ Saya ada urusan diluar kota yang harus diselesaikan, dan kemungkinan Saya juga tidak akan kesini lagi.” Balas Bintang sambil memandang wajah manis Gadis mungil.

****

Lelaki yang menolong Gadis mungil menepati janjinya. Dia tidak pernah datang lagi kerumah sakit untuk menjenguk atau menanyakan keadaan Gadis mungil lagi. Sampai akhirnya Gadis mungil sadarkan diri dan berangsur-angsur pulih dari sakitnya.

“ Dok, kalau boleh Saya tahu siapa orang yang membawa Saya kemari?” Tanya Gadis mungil pada dokter yang menghampirinya untuk memeriksa keadaannya.

“ Seorang lelaki yang bernama Bintang,” Balas Dokter “ Dia juga menitipkan sebuah buku untuk kamu, hampir saja saya lupa kalau kamu tidak menanyakannya. Awalnya dia sering datang untuk menjenguk kamu, menanyakan keadaan kamu. Namun setelah tahu kondisi kamu mulai membaik. Dia hanya menitipkan buku ini untuk kamu.” Jelas sang Dokter pada Gadis mungil dihadapannya.

“ Dia tidak menitipkan pesan lagi Dok? Alamat rumah atau nomor telepon yang bisa saya hubungi?” Tanya Gadis mungil antusias.

“ Maaf, dia tidak memberikan itu semua pada Saya,” balas sang Dokter. “ Hanya memberikan buku ini untk kamu saja.” Sang Dokter yang mengambil sebuah buku dari laci sebelah tempat tidur Gadis mungil. Kemudian menyerahkan buku tersebut kepada Gadis mungil.

****

Setiap kali mengingat bahwa bintang harapannya yang telah menyelamatkan hidupnya. Gadis mungil semakin semangat kalau suatu saat nanti dirinya akan bertemu dengan bintang harapannya.

Hari ini seperti biasa Gadis mungil menunggu dengan penuh kesabaran dan keceriaan yang dia miliki. Menunggu bintang harapannya muncul untuk dapat digapai olehnya. Membaca kembali buku yang diberikan oleh bintang harapannya hingga selesai. Mendengarkan musik kesukaannya sambil memperhatikan setiap orang yang turun dari bus.

“ Begitu banyak bus dan orang yang melewati halte ini, tapi kenapa Bintangku belum juga muncul? Apakah dia tidak mengenaliku?” Gadis mungil yang berkata pada dirinya sendiri. “ Semoga saja dia mengenaliku, walau aku tidak mengenalnya dengan baik tapi aku yakin dia pasti mengenaliku,” Gadis mungil kembali menyemangati dirinya sendiri. Dengan wajah yang begitu mantap. Senyum yang begitu pasti, keteguhan hati yang begitu kuat. Seolah tak dapat tergoyahkan oleh hal apapun juga. Walau badai menerjang sekalipun, keteguhan dan semangat Gadis mungil tidak akan pernah pudar.

Menjelang sore hari dia menuliskan pesan dan harapannya kedalam sebuah kertas berwarna biru dan membuangnya ke tong sampah dekat halte. Kemudian pergi meninggalkan halte dengan sejuta harapan yang dia tinggalkan disana. Berjalan menyusuri trotoar. Menaiki tangga penyeberangan menuju arah pulang.

“ Aku tidak akan pernah menyerah menunggu untuk menggapaimu bintangku,” Gadis mungil yang menyemangati dirinya sendiri. Dan selalu melakukannya bila dia merasa lelah dan hamoir putus asa. Karena bintang yang selama ini menjadi harapannya belum juga dapat dia gapai. Keyakinan dalam hatinya mulai bergejolak, namun saat itu pula ada semangat baru yang muncul dari dalam hatinya. Semangat yang dapat mengalahkan kegelisahannya dengan sangat cepat.

“ Mungkin lain hari kita pasti akan bertemu,” Gadis mungil yang berkata sambil meninggalkan harapannya di tong sampah seperti biasanya. Berjalan dengan penuh kebahagiaan walaupun jauh dilubuk hatinya sangat berharap bisa bertemu dengan bintang harapannya. Senyum dibibirnya selalu terpancar begitu indah. Gadis mungil tidak pernah menyerah untuk menggapai harapannya. Keyakinannya yang teguh telah mengalahkan segala kegelisahan yang timbul dipikirannya.

“ Kenapa kamu selalu membuang harapanmu ke tong sampah?” Tanya seorang lelaki yang memungut kembali kertas yang telah dibuang oleh Gadis mungil. “ Bukankah akan tidak berguna kalau dibuang di tong sampah? Siapa yang akan memungut sebuah harapan didalam tong sampah?” Suara seorang lelaki berkata dengan nafas yang masih tidak beraturan. Keringat telah membasahi seluruh tubuhnya dan juga pakaian yang sedang dikenakannya.

Gadis mungil menoleh kearah dimana suara lelaki itu berada. “ Kamu…….” Gadis mungil tak sanggup melanjutkan kalimat berikutnya yang ingin dia katakan. Dia begitu bahagia bintang yang tak dapat dia raih saat hujan kini berada dihadapannya.

“ Ingin berapa ratus harapan yang kamu buang?” balas Bintang sambil memperlihatkan semua kertas harapan Gadis mungil yang telah dia kumpulkan selama setahun ini.

“ Kenapa kamu bisa memungut semua kertas ini?” Tanya Gadis mungil dengan perasaan bingung sekaligus senang. Senang karena Bintang yang ingin di temuinya telah memungut semua harapannya. “ Aku akan terus menulis harapanku sampai bintang harapanku memungutnya dan dapat aku gapai walau saat hujan turun sekalipun.”

“ Dengan menungguku dihalte dan membuang semua harapanmu ke tong sampah. Berharap kamu akan bertemu aku disini karena disini setahun yang lalu kamu kecelakaan dan aku yang menolongmu disini,” balas Bintang dengan wajah yang penuh dengan Tanya namun begitu hangat.

“ Aku ingin bertemu denganmu untuk….” Kalimat Gadis mungil terhenti sejenak dan mengambil sebuah buku dari dalam tas miliknya. “ Untuk mengembalikan ini,” Gadis mungil menyerahkan sebuah buku kepada pemiliknya.

“ Aku juga ingin bilang terima kasih, terima kasih telah menolongku dari maut setahun yang lalu. Kamu telah memberikan darahmu untukku disaat rumah sakit sedang kehabisan darah. Dulu aku belum sempat mengucapkannya padamu, karena setelah aku sadar kamu sudah tidak ada. Kamu hanya membantu mengantarku kerumah sakit, menandatangani surat keputusan operasi, memberikan sebagian darahmu unttukku. Kemudian pergi meninggalkanku begitu saja seolah kamu ini seorang malaikat yang sengaja diutus Tuhan untuk menyelamatkanku dari kematian.” Gadis mungil yang mengutarakan semua isi hatinya pada lelaki dihadapannya. Perasaan yang selama setahun hanya dipendam didalam hatinya. Menunggu sesuatu yang tidak ada kepastiannya hanya berdasarkan keyakinan yang ada didalam hatiinya saja.

“ Hanya sebuah ucapan terima kasih?” Tanya Bintang dengan senyuman yang mengembang diwajahnya. “ Hanya itu kamu selalu menungguku disini? menuliskan harapanmu di tong sampah setiap hari.” Balas Bintang sambil berjalan mendekati Gadis mungil yang juga telah lama ingin dia temui.

“ Aku yakin kamu pasti sering lewat sini, oleh karena itu aku selalu menunggumu dari pagi hingga sore disini,” balas Gadis mungil dengan senyum kecil dibibirnya untuk bintang yang telah dia raih saat ini. perasaan bahagia yang dia rasakan sungguh tidak dapat digantikan oleh apapun.

“Sungguh seperti menggapai bintang disaat hujan,” Bintang berkata dengan tersenyum. “ Dan aku rasa, kamu telah menggapai bintang disaat hujan.”

“ Karena aku yakin aku bisa menggapai bintangku saat hujan sekalipun.”

Gadis mungil pun tersenyum dan memeluk Bintang yang telah dia tunggu selama setahun ini. Dengan penuh kehangatan Bintang pun membalas pelukan gadis mungil dengan perasaan senang. Walaupun mereka tidak saling mengenal tetapi darah mereka telah menyatu. Mereka memang tidak pernah bertemu, tetapi saat gadis mungil pergi meninggalkan harapannya di tong sampah. Disaat itulah bintang harapannya datang dan memungut harapannya. Disaat bintang ingin memanggil gadis mungil selalu saja tidak sempat, Karena Gadis mungil telah naik bus.  Bintang harapan tidak dapat mengejar bus yang dinaiki Gadis mungil.

****

“ Kenapa kamu bisa menumpulkan semua harapanku?” Tanya Gadis mungil kapada bintang dihadapannya.

“Saat pertama kali kamu pergi dari halte ini aku melihatmu membuang sebuah kertas, merasa penasaran apa yang telah kamu buang. Dan aku memungutnya,” balas Bintang dengan senyum yang sangat ramah.

“ Tapi kenapa baru sekarang kamu menegurku?” Gadis mungil merasa marah karena selama ini bintang harapannya telah mengetahui dirinya sedangkan dia tidak.

“ Karena saat aku datang kamu sudah pergi, dan aku hanya seorang manusia. Lariku tidak mungkin bisa mengalahkan lari sebuah bus.” Balas Bintang dengan memberikan sebuah senyuman yang begitu terang untuk gadis mungil dihadapannya.

Gadis mungil hanya diam mendengarkan jawaban yang diberikan bintang harapannya. Yang sekarang dia tahu siapa dan seperti apa bintang harapannya. Gadis mungil tidak memalingkan sedikitpun pandangannya. Hanya terus memandang wajah putih bintang harapannya dengan sangat teliti. Melihat bentuk alisnya yang begitu tebal, mata bulatnya yang begitu indah, rambut yang tebal dan sedikit panjang. Wajah yang putih dan bersih nyaris tanpa ada komedo sedikitpun tumbuh diwajahnya. Senyum makin lebar tergaris diwajah gadis mungil.

“ Kenapa terus melihatku seperti itu? aku bukan monster, aku juga bukan kakek berusia tujuh puluh tahun yang telah menolong gadis bertubuh mungil berusia dua puluh tiga tahun.”

“ Sayang sekali, padahal aku berharap yang menolongku adalah kakek berusia tujuh puluh tahun. Atau paling tidak pria berusia tiga puluhan atau empat puluhan yang sudah punya anak dan istri,” balas Gadis mungil dengan memincingkan matanya melihat Bintang yang duduk disebelahnya.

“ Benarkah? Sungguh disayangkan, karena yang menolongmu adalah seorang lelaki yang bernama Bintang dan berusia dua puluh lima tahun,” Balas lelaki Bintang  memamerkan wajah tampanya.

“ Haha….” Mereka berdua tertawa dengan sangat lepas. Kebahagian begitu terlihat jelas dimata mereka berdua.

“ Bintang sungguh nama aslimu? Atau hanya….”

“ Perlu KTP untuk membuktikannya?” balas Bintang yang merogoh kantongnya dan mengeluarkan KTP ( kartu tanda penduduk ) dari dalam dompetnya. “ Kalau begitu apakah Bulan itu nama palsumu?” Bintang yang menanyakan kembali nama gadis mungil.

“ Apa perlu KTP juga?” balas Gadis mungil yang tidak mau kalah dari Bintang. Dia juga mengeluarkan KTP miliknya dari dalam dompetnya. Menyerahkan  pada Bintang.

“ Tidak usah kamu tunjukan, aku juga sudah tahu kalau itu nama aslimu. Waktu kamu masuk rumah sakit setahun yang lalu aku juga sudah melihatnya. Bahkan datang kerumahmu. Namun ternyata kamu hanya tinggal seorang diri, jadi aku enggak bisa memberitahu keluarga kamu.”

“ Kenapa kamu tidak mencoba untuk datang lagi setelah aku sembuh, kenapa hanya memungut harapanku dari tong sampah?” Tanya Gadis mungil penasaran.

“ Bukankah kamu sudah pindah rumah?” balas Bintang yang memandang wajah Gadis mungil dihadapannya. “ Dan aku tidak tahu kamu tinggal dimana, jadi setiap hari aku hanya bisa memungut harapanmu dari tong sampah. Aku selalu berusaha datang cepat untuk sampai disini, tapi selalu saja terlambat. Dan akhirnya hanya bisa memungut setiap harapan yang kamu tuliskan untukku. Berharap semoga Tuhan mengabulkan harapanmu yang juga menjadi harapanku.”

Perkataan yang dilontarkan oleh Bintang membuat Gadis mungil terperangah. Dia tidak menyangka kalau ternyata selama ini waktu telah membuat mereka sulit untuk bertemu. Namun karena waktu juga akhirnya mereka bertemu dengan Bintang harapannya.

“ Mulai saat ini aku tidak akan melepaskan Bintangku begitu saja,” Gadis Mungil berdiri dan berkata dengan memegang punggung Bintang.

“ Dan aku akan selalu membuat harapanmu terwujud selama aku mampu untuk mewujudkannya,” Balas Bintang dengan memeluk tubuh Gadis mungil sekali lagi.

Iklan