SEPAKBOLA 2189

Qeeya Aulia

“Sampai besok, Ra! Besok harus tetap fit ya?!” ujar Setyo teman se-klub sepak bolaku

“Ok!” jawabku pasti dengan memamerkan jari-jariku yang membentuk sebuah lingkaran dari ibu jari dan jari telunjuk.

Namaku Satria Dira Wardhana. Panggilanku Dira. Aku masih duduk di bangku kelas 3 SMPN. Sukamulya. Hobiku sama seperti anak lelaki pada umumnya. Bermain Sepak Bola. Besok adalah Pertandingan Final Antar Sekolah Menengah Pertama se-Bandung Raya. Kali ini tim inti sekolahku harus berhadapan dengan juara bertahan di  pertandingan  ini selama 5 tahun berturut-turut. SMPN. Wanaguna 1. Ini adalah salah satu kehormatan bagi sekolah kami yang belum pernah menginjakkan kaki di pertandingan final.

Sesampainya di rumah, kulihat ayah dan ibuku sedang duduk  di ruang keluarga. “Sudah pulang, sayang ?” sapa ibuku ramah.

Aku hanya mengangguk sambil menghampiri kedua orang tuaku. Seperti biasa, aku mencium tangan mereka kemudian berjalan menuju kamarku yang beberapa jam yang lalu aku tinggalkan.

Setelah mandi, kubuka beberapa halaman komik ninja yang sudah kumal, sejak dua minggu yang lalu komik itu tak kunjung selesai kubaca. Tapi rasa kantuk terlalu memegang kendali. Mataku yang tadinya siap membaca, kini mulai lelah dan mengucurkan air mata. Ku tutup komik yang ada ditanganku dan kuputuskan untuk tidur supaya besok pagi kembali fit dan siap untuk bertanding. Tak lama kemudian, mataku mulai tertutup dan aku pun bersiap meluncur ke alam mimpi.

***

“Farhan dengan nomor punggung 99 mulai mengarahkan tendangannya. Dan Gol…..!!!” teriak komentator  pertandingan yang disambut teriakan bahagia dan puas para supporter tim tersebut.

Aku membuka mataku. Ternyata aku ada di antara ribuan penonton yang sedang sibuk menonton jalannya sebuah pertandingan. Tapi pertandingan apa ini? Disana hanya ada lapangan yang di setiap sisinya mempunyai gawang seperti lapangan sepak bola. Aku berfikir lebih keras lagi. Siapa tahu aku mengerti apa yang sedang mereka tonton. Kulihat semua yang ada di lapangan hijau itu dengan seksama.

Apa benda bulat emas di tengah lapangan itu? Dilihat dari motifnya seperti bola untuk permainan sepakbola. Tapi mengapa warnanya emas? Dan jika ini pertandingan sepak bola, dimana para pemainnya? Apakah orang – orang yang duduk dipinggir lapangan dan hanya menggerak – gerakkan kakinya itu adalah pemainnya? Kenapa mereka tidak lari ke tengah lapangan? Apa cahaya hijau dan biru yang berkelebatan disekitar bola emas itu? Siapa 4 orang yang memakai kaos ungu dan celana hitam yang berdiri di setiap sudut lapangan? Apakah mereka wasit pertandingan ini?

Aku mulai dibuat heran dan kebingungan oleh semua hal aneh yang aku lihat. “Sepertinya ini memang pertandingan sepakbola!” ujarku yakin. Aku menoleh ke kanan dan kiriku. Siapa tahu ada yang aku kenal. Ternyata ada Setyo duduk di sebelah kananku. Seperti yang lain, matanya tetap memperhatikan bola yang terus menggelinding di tengah lapangan tanpa ada satu pun yang menyentuhnya.

“TOOOOOOOOOOOOOOOOTTT” bunyi bel tanda pertandingan babak 1 usai.

“HUUUUUU…” seru para penonton pertandingan ini kecewa, termasuk Setyo temanku.

“Payah…Willy tidak canggih seperti biasanya!” keluh Setyo.

“Maksudmu?” tanyaku heran

“Dia bermain buruk kali ini! Bahkan sangat…sangat…buruk!” jawabnya dengan ekspresi sedikit sedih

“Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Dari tadi aku tak melihat satu orang pun bermain disana! Dan permainan apa ini?” aku benar – benar bingung.

“Ini permainan sepak bola kesukaan kita, kawan!” jawabnya sambil menepuk punggungku beberapa  kali

“Sepakbola? Seperti ini? Bagaimana cara mainnya?” tanyaku polos

“Ini tahun 2189 dan kau tidak mengerti cara bermain sepakbola? Ya Ampun, kemana saja kamu selama ini? Apa yang kau lihat sejak tadi?” Setyo balik bertanya kepadaku sambil mengerenyitkan keningnya.

“Hah? Sepak bola? 2189? Aku benar – benar tak mengerti apa yang kau bicarakan!”

Setyo melihatku dengan tatapan sangat mengenaskan. “Kau benar – benar tidak sadar kita ada dimana?” Aku menggeleng “Kita sekarang ada di Potuyr untuk menonton pertandingan sepakbola antar club sepak bola Tingkat Nasional ke-87. Dan mereka yang duduk di pinggir lapangan adalah  para pemain setiap tim. Sedangkan 4 laki-lakik disetiap ujung lapangan adalah wasit permainan ini! Oya, bola yang ada di tengah itu adalah bola yang menggantikan bola hitam putih sejak tahun 2130. 159 tahun yang lalu.” jelas Setyo padaku.

“Lalu bagaimana cara para pemain memperebutkan bola? Aku tidak melihat satupun dari pemain berlarian ditengah lapangan. Aku hanya melihat sekelebat bayangan biru dan hijau di sana”

Bukannya langsung menjawab pertanyaanku, Setyo malah memukul kepalaku pelan. “Ku harap kau cepat ingat apa yang telah kau lupakan.” ujarnya risau “Cara bermain berlarian di tengah lapangan itu sudah sangat kuno sekali! Cara itu sudah digantikan dengan menggunakan tenaga dalam para pemain untuk menggerakan bola. Dengan kata lain, para pemain tidak usah repot-repot berlarian berebut bola di tengah lapangan. Mereka cukup duduk dan menggunakan tenaga dalam mereka untuk memainkan permainan ini.” terang Setyo bersemangat . “Apa benar kau tidak bisa melihat tenaga dalam para pemain ketika pertandingan berlangsung?” lanjutnya heran.

“Hah??? Duduk dan mengendalikan bola dengan tenaga dalam?? Aneh sekali!” aku benar – benar tercengang dengan keadaan yang sangat jauh berbeda dari sebelum aku tidur. Apakah sekarang aku sedang bermimpi? Pertanyaan demi pertanyaan semakin deras mengalir di kepalaku. Ku coba mencubit pipiku sendiri untuk memastikan bahwa ini bukanlah sebuah mimpi. “Awww…sakitt!” Sepertinya aku memang tidak bermimpi. Tapi, ini benar-benar aneh dan tidak masuk akal! sanggahku.

Setyo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Hei, kau belum menjawab pertanyaanku! Apa benar kau tidak bisa melihat tenaga dalam para pemain ketika pertandingan berlangsung?!”

Aku mengangguk dan melemparkan senyuman aku-benar-benar-tidak-tahu kepada Setyo. Dan ia hanya menarik nafas dalam-dalam dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“TTOOOOOOOOOOOOOOOOTTTT” bunyi bel tanda istirahat berakhirpun berbunyi.

Semua pemain yang tadinya berkumpul dalam sebuah lingkaran di masing-masing tim, kini duduk kembali ke tempat mereka semula.

“Coba nanti kau perhatikan, setiap orang mempunyai warna tenaga dalam yang berbeda. Tapi setiap tim mempunyai kesamaan bentuk aliran tenaga dalam. Lihat! Detrur si Macan dari Club Wekhuil sedang menggiring bola menuju gol lawan.” terang Setyo sambil menatapku dengan tatapan apa-kau-mengerti.

Lagi-lagi aku hanya tersenyum miris karena ketidak pahamanku. Setyo membalasnya dengan mengacak-ngacak rambutnya yang sebenarnya sudah berantakan dari pertama aku melihatnya.

“Lihat ke lapangan!” “Kau lihat pemain dari tim yang duduk sebelah kanan dan bernomor punggung 33?”tanyanya sambil mengarahkan telunjuknya

“Ya”

“Nah, ia Detroit, Kapten kesebelesan Club Hyurire. Club sepakbola terhebat sepanjang sejarah di negeri ini! Nah, sekarang ia sedang berusaha merebut bola dari striker Club Wekhuil. Coba kau perhatikan dengan seksama! Kau pasti bisa membedakannya dengan cepat.”

Benar! Perlahan aku bisa kelebatan orang-orang yang sedang bermain di tengah lapangan. Mereka bergerak dengan sangat cepat. Aku tidak pernah melihat pergerakan secepat ini. Kini yang kulihat bukan hanya cahaya biru dan hijau yang tadi berkelebat saja. Bayangan setiap orang yang duduk di pinggir lapangan kini muncul satu persatu. Dan sekarang, aku bisa menikmati pertandingan yang tadi tidak ku pahami.

“Lalu, bagaimana kabarnya persatuan sepakbola di setiap daerah seperti PERSIJA, PERSIB, PERSIPURA,dan lain-lain? Apa sampai saat ini mereka masih tetap ada?” tanyaku pada Setyo tanpa mengalihkan pandanganku dari pertandingan yang sudah mulai memanas karena waktu pertandingan tinggal 5 menit lagi.

“Persatuan Sepakbola daerah? Apa itu? aku tak pernah mendengarnya.” Jawab Setyo sambil mengerenyitkan keningnya yang lapang.

Percakapan kami tidak berlanjut karena perhatian kami seluruhnya terpusat pada bola emas yang hanya berjarak 5 meter lagi dari gawang. Nafasku rasanya tertahan di kerongkongan. Otot-otot di seluruh badanku rasanya ikut tegang. Tanganku mengepal keras dan badanku seperti terpaku pada tempat dimana aku duduk.

“Fergyt mulai mengejar bola yang direbut oleh Detroit. Tapi sayang Detroit terlalu cepat untuk di kejar!!” Detroit melesat seperti biasa…wah…ternyata Detrur si Macan yang tak lain adalah adik kandung Detroit mengejar dan ya ternyata bola berhasil direbut!….” teriakan-teriakan komentator semakin membuat tegang suasana.

“GOOOOOOOOLLLLLLLLLLLLLLL!!!!” aku berteriak kegirangan saat Detrur si macan dari tim hijau, Club Wekhuil, mencetak sebuah gol yang sangat fantastis (menurutku). Tapi aneh, tidak ada satu orangpun yang berteriak kecuali aku. Tiba-tiba suasana di stadion berubah sunyi. Angin menerpa wajahku pelan. Sorak sorai yang tadi ramai terdengar kini hilang seketika. Awan berputar membuat spiral besar di langit sana. Apa ini? Semuanya berubah dengan sekejap!

Aku mengedarkan pandanganku. Stadion sepak bola aneh ini sekarang berubah menjadi tepian jurang dan aku berdiri tepat ditepinya! Kulirik ke kanan dan ke kiri. Tak ada orang sama sekali disini. Dimana Setyo dan orang – orang yang tadi jumlahnya sekitar ribuan itu? Karena kaget dan ketakutan, aku mundur kebelakang dan tubuhku menjadi tak seimbang. Badanku limbung ke bawah “WAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!” aku jatuh dari ketingian puluhan kilometer. Jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya aku hanya berdoa supaya aku bisa selamat. Mungkin karena jarak tempat aku jatuh terlalu tinggi, aku belum mendarat sampai sekarang.

Aku mencoba membuka mataku dan kulihat Setyo di depanku mengarahkan telunjuknya padaku. Sedangkan aku sekarang sedang melayang sekitar 3 meter dari daratan dibawahku. “Apa lagi ini?”  ujarku dalam hati

“Setyo, apa yang sedang kau lakukan padaku?” teriakku khawatir Setyo tidak waras lagi.

Setyo hanya bergeming. Dahinya semakin berkerut. Pertanyaanku terabaikan.

“Woi, SETYO!!!” teriakku lagi sedikit kesal karena pertanyaanku tak dijawabnya

Setyo memberenggut kesal dan jari tangannya yang mengacung ke arahku diturunkan dengan kasar olehnya. Anehnya badanku ikut turun. “BRUK” badanku jatuh ketanah. “Aduh …” seluruh badanku rasanya remuk tapi ku hanya bisa mengaduh.

“Kita ada dimana?” tanyaku pada Setyo sambil membersihkan tanah yang menempel di bajuku

“Latihan” jawabnya singkat

“Kau marah ya Setyo? Maafkan aku. Aku benar – benar tak mengerti.” Jelasku mengingat tadi banyak sekali pertanyaan yang aku ajukan padanya.

“Tidak, aku hanya sedikit benci padamu. Tapi sekarang giliranmu latihan. Dan satu lagi namaku bukan Setyo!” bentaknya

“Latihan? Latihan apa? Kamu bukan Setyo? Lalu siapa kamu?”

“Sampai kapan kau amnesia? Aku Serito kapten tim B. Kau sudah ingat?” ujar Setyo sinis

Aku hanya tersenyum pahit. “Aku benar – benar tak ingat.” Aku heran, mengapa Setyo berubah menjadi tak ramah dan tak mengakui dirinya bernama Setyo. tim B??? Sejak kapan pula ada tim B dalam club sepak bola kami?

Pak Doni, pelatih kami meniup pipa kecil. Tapi bunyinya seperti peluit. Apa itu? mungkin itu alat tiup lain pengganti peluit. “Arghh, sepakbola disini semakin aneh saja!” gerutuku

“Baiklah anak – anak, pemanasan sudah cukup. Sekarang waktu kalian untuk latihan. Saya akan membagi kalian menjadi dua tim, seperti biasa.” “Sekarang semuanya berkumpul di lapangan dan mulai pertadingan setelah saya meniup spoitula!.” perintah Pak Doni setelah membagi kami menjadi dua tim.

“Dengar, latihan kita kali ini harus benar-benar maksimal! Kalian pasti tahu, lawan kita pada pertandingan final besok bukanlah club sepakbola sembarangan. Dan saya tidak ingin melihat satu pun dari kalian tidak bersemangat ataupun tidak optimal!” Pak Doni menatap semua mata yang ada dihadapannya. Seakan mendapat transfer energi dari Pak Doni, aku dan teman-temanku kini lebih semangat dari sebelumnya.

Semua berlari menuju lapangan. Tanpa pikir panjang, aku ikut berlari bersama mereka. Tak lama suara spoitula terdengar. Aku bersiap berlari secepat mungkin ke tengah lapangan. Pak Doni meniup spoitulanya kembali. “Driko! Apa yang kamu lakukan?! Cepat duduk bersama timmu!” teriak Pak Doni padaku.

“Saya, Pak?” tanyaku

“Iya, siapa lagi?!” jawab Pak Doni kesal

“Ta…tapi…pak…bukankah kita akan bermain sepak bola?”

“Ya! Dan kau cepat pergi ke bangkumu! Jangan bermain-main lagi!”

“Taa..tat…tta tappi pak…”

“Jangan banyak tapi tapi! Cepat!”

“Hah?! Bagaimana caranya?” tanyaku dalam hati. “Lebih baik aku melihat teman – temanku dulu, baru aku mencobanya sendiri.” pikirku mencari solusi

Aku berlari menuju bangku timku sambil terus berfikir apa yang harus aku lakukan dan siapa Driko? Aku? Aku bukan Driko! Aku Dira!

Semua pemain menertawakanku. “Uuugghh…aku seperti orang yang bodoh!” rutukku dalam hati

Tak lama kemudian Pak Doni (tapi aku tak yakin ia benar-benar Pak Doni) meniup spoitula sebagai peringatan bahwa latihan akan segera dimulai. Kami semua duduk berjejer di sebuah bangku yang telah disediakan di pinggir lapangan. Semua anak yang berada disini berkonsentrasi penuh kepada bola emas yang ada di tengah lapangan. Pertandingan pun dimulai. Para pemain berkonsentrasi pada bola yang ada di tengah lapangan. Kaki mereka bergerak seperti orang yang sedang berlari di lapangan. Bola pun bergulir. Menggelinding kesana kemari. Aku sedikit mengerti sekarang. Mungkin ini sepakbola yang menggunakan tenaga dalam seperti yang dijelaskan oleh Setyo pada pertandingan sepakbola waktu itu. Tapi bagaimana aku menggunakan tenaga dalamku?

“Alirkan kekuatan pada kaki kalian! Yakinkan pada diri kalian bahwa kalian semua pantas untuk menjadi JUARA di Pertandingan Antar Club Sepak Bola Junior B Tingkat Nasional tahun 2189!” teriak Pak Doni mengarah dan memotivasi murid – muridnya

Baiklah akan ku coba. Aku bayangkan tenagaku mengalir dan berpusat pada kakiku. Aku menggerakkan kakiku dan mencoba menendang pelan. Ini benar – benar seperti pertandingan bola biasanya. Ku coba mengerahkan tenaga dalamku dengan membayangkannya seperti tenaga yang keluar dari tubuhku. Ajaib! Aku bisa merasakan badanku berlari di lapangan. Aku bisa merasakan keberadaan teman ataupun lawan disekitarku. Aku bisa melihat perbedaan tenaga mereka!

“Hmmm…ternyata mudah juga! Aku tinggal membayangkan gerakan-gerakanku dan mengatur tenaga dalam yang harus ku keluarkan! Ayo Dira! Kamu bisa!” ujarku dalam hati, berusaha menyemangati diriku sendiri.

Aku membayangkan bermain sepak bola di lapangan sepak bola, bola hitam putih dan juga cara yang biasa aku pakai. Dan itu membuatku merasa lebih baik. Aku mulai menikmati permainan yang mereka sebut dengan sepak bola.

Kakiku yang tadinya kaku, kini sudah lihai seperti yang lainnya. Aku mencoba menambah kecepatan lariku dengan menggerak-gerakkan kaki secepat mungkin. Tepat di depanku ada Serito yang sedang mengendalikan bola.

Raut muka Serito masih seperti tadi, tidak bersahabat. Aku mencoba merebut bola. Tapi gagal. Aku tak ingin menyerah! Aku pasti bisa! Dan untuk kesekian kalinya aku mencoba merebut bola,tapi sayang, gerakanku kurang cepat. Lagi-lagi tertinggal dari Serito yang berlari menjauh dariku. Aku kembali mempercepat derap lariku.

Serito masih mengendalikan bola, tapi aku sekarang sudah ada tepat disisi kanannya. Ia menatapku tajam. Dan itulah saat yang paling kutunggu-tunggu, karena saat itu adalah waktuku untuk merebut bola darinya. Benar apa yang kuperhitungkan. Bola emas itu kini dengan mudahnya aku rebut dari Serito.

Aku bisa merasakan bola yang sekarang ada di depan kakiku. Aku membawa bola menuju gawang lawan. Penjaga gawang terlihat begitu serius dan sigap melihatku mulai mendekati daerah kekuasaannya. Tapi semua itu tidak membuatku takut atau ragu, melainkan membuatku semakin semangat untuk menendang bola emas ini. Kukumpulkan semua tenagaku pada kaki dan menendang sekeras mungkin. Sang Kiper terlihat berusaha menghalangi bola dengan seluruh tenaga dalamnya, tapi sayangnya tendanganku terlalu keras dan membuatnya ikut tersungkur ke dalam gawang.  GOL!!!!

“Wow! Aku bisa?!” teriakku girang.

“Hore!!!” teman – teman yang berada disekitarku mengerubungiku karena aku telah mencetak sebuah gol pada latihan kali ini.

Aku menyambut mereka dengan sangat bahagia, karena ini gol pertamaku di permainan asing yang disebut “sepak bola” di tahun 2189. Mungkin karena terlalu senang dan terlalu bersemangat, aku menjejakkan kakiku sekuat tenaga.

Senang rasanya melihat semua teman-teman satu

“Awas!!!” teriak Pak Doni

Kami semua menoleh kebelakang. Ternyata ada bola berkekuatan penuh mengarah pada kami. Semua temanku berlarian. Sedangkan aku tidak bisa menggerakkan kakiku sama sekali. Semua temanku berteriak menyuruhku merunduk. Pak Doni ikut khawatir dan berlari mendekatiku. Tapi ternyata bola itu lebih cepat dari Pak Doni. Aku tidak bisa merunduk dan melakukan apapun. Kulihat Serito tersenyum licik dari ujung mataku. “Uh, pasti ini ulahnya!” tebakku

Aku memejamkan mataku. Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit. Mengapa tidak ada apapun yang menghantamku? Aku mencoba membuka mataku. Kulihat sekelilingku bukan lapangan tempatku berlatih tadi. Tidak ada teman – teman ataupun Pak Doni disini. Yang ada hanya meja belajar, foto-fotoku, keranjang baju, tas sekolahku dan aku yang tergeletak di atas kasur.  Samar – samar aku mendengar suara ibuku memanggil “Dira, ayo cepat bangun! Bukankah kamu harus berkumpul di sekolah jam enam pagi?”

Aku mencoba mengumpulkan kesadaranku. Huft..ternyata aku hanya bermimpi! Aku teringat pertandingan yang akan aku hadapi hari ini. Tapi bayangan sepakbola tenaga dalam di tahun 2189 masih menari – nari di kepalaku. Apakah mungkin akan ada sepakbola dengan menggunakan tenaga dalam? Ah… entahlah! Terserah nanti saja. Yang penting hari ini tim kami harus menjadi juara!

“Oya, akan kuceritakan mimpiku pada Setyo diperjalanan menuju sekolah nanti!” aku tersenyum mengingat mimpi aneh yang aku alami. Badanku kini penuh dengan keringat. Aku harus segera bersiap-siap.

“ Ayo Dira! Kamu pasti bisa!” teriakku

“Syuut…pagi-pagi sudah teriak-teriak. Ayo cepat mandi sana!” perintah ayahku yang terganggu dari ritual paginya, membaca Koran.

Aku tertawa jahil dan berlari menuju kamar mandi. Ya! Hari ini harus seindah mimpiku! Aku harus bisa mencetak sebuah gol!

***

Iklan