SILENCE

JAP

Sunyi.

Suasana ini terlalu sunyi bahkan untuk seekor naga sepertiku, dengan pendengaran yang terlalu tajam sampai awan beradu pun mampu kudengar. Aku setengah menutup kelopak mata, memposisikan keempat cakarku di atas rerumputan hijau yang lunak dan di bawah sinar matahari yang bisa kurasakan hangatnya merayap di kulitku yang bersisik. Sesekali kugerakkan ekorku, mencoba membuat suara dengan menggesekkan sisik ke batu. Situasi ini membuatku mengantuk, meskipun sebenarnya aku baru saja bangun. Ribuan tahun telah kuhabiskan di tempat ini, sendirian dikelilingi pepohonan yang tak kuketahui tingginya, dan aku tahu betul bahwa belum pernah ada keheningan seperti saat ini. Bahkan angin pun tidak berbisik di antara dedaunan, atau menghamburkan aroma bunga yang tumbuh acak.

Entah mengapa, aku merasa sedikit kesepian.

Mendadak terdengar bunyi debum pelan di belakangku, dan aroma memuakkan masuk ke dalam lubang hidungku, melewati relung-relung dan menggelitik tenggorokanku. Aroma ini sudah lama tak mengotori udara pernafasanku—aroma darah manusia yang masih segar, dan aroma daging yang terkoyak lebar. Aku berbalik, mengendus untuk mendapatkan gambaran akan makhluk kecil yang berani memasuki wilayahku. Lelaki. Masih muda. Tampaknya ia sekarat, karena aku mendapati aroma keringat dan air mata dari tubuhnya yang terkapar, diam tak berdaya. Juga ada bau besi, api dan mesiu. Mungkin korban perang, atau tentara bodoh yang tidak cukup kuat untuk mempertahankan nyawanya di medan perang, atau pahlawan perang yang ingin menyembunyikan kekalahannya dari laporan pertempuran, atau hanya prajurit biasa yang tersesat dalam usahanya untuk menyelamatkan diri, atau… Yang manapun, sama saja. Manusia.

Makhluk kecil menggelikan yang senang berperang, merusak alam, dan kemudian menyesali segala perbuatannya. Bah.

“Siapa kau, manusia? Berani sekali dirimu datang kemari, melanggar perbatasan antara aku dan kaummu. Apa kau tidak tahu bahwa hutan ini adalah hutanku?” aku bertanya kepadanya. Tapi setelah kutunggu, ia sama sekali tak bersuara, juga tidak bergerak. Hanya bunyi nafasnya yang mulai memudar yang kudengar, terkadang bertambah cepat, terkadang hilang sama sekali. Aku mulai tak sabar. Apa manusia ini sudah di ambang ajal, sampai dia tak mampu lagi menjawab?

Kuulurkan cakarku ke onggokan tubuhnya, mendapati bahwa tubuhnya liat oleh otot, dan ada logam yang menutupi bagian-bagian tertentu dari tubuhnya. Baju zirah. “Bicaralah dalam hatimu, manusia, aku bisa mendengarnya selama kau bersentuhan denganku.” Sudah lama sekali aku tidak menggunakan kemampuan ini, sampai aku merasa kemampuan ini tidak ada gunanya lagi.

Singkirkan cakarmu dariku, kadal raksasa.

Aku mendengus. Manusia ini sudah hampir mati saja, masih tidak tahu sopan santun. “Aku bisa langsung memakanmu, manusia. Jangan macam-macam. Kau harusnya berterimakasih aku tidak langsung melahap dagingmu, merobek-robek kulitmu dan meremukkan tulang tengkorakmu untuk menghisap cairan otakmu.”

Sejenak aku menduga bahwa ia akan langsung memohon ampun kepadaku, merengek-rengek minta dibebaskan, menceritakan bahwa masih ada sanak keluarganya yang memerlukan dirinya, dan sebagainya.

Makan saja aku. Toh sudah tidak ada lagi yang tersisa bagiku. Kerajaanku diporakporandakan kaummu tujuh tahun lalu. Kaummu merampas orangtuaku. Salah satu merobek leherku, merusak suaraku.

Ah, bisu rupanya. Pantas saja ia tidak bersuara sama sekali.

Ia berhenti sejenak untuk memuntahkan darah pekat dan dahak pada cakarku, membuatku sedikit jengah.

Kini kerajaanku diserang pasukan dari negeri lain. Kupikir pada saat terakhirku, aku bisa mati dengan tenang di sini. Tapi ternyata ada kau, makhluk terkutuk.

“Tidak ada yang tersisa bagimu… sama sekali?”

Kurasakan getaran – rupanya ia mengangguk pelan.

Entah kenapa, aku malah mulai tertarik pada dirinya. Manusia yang benci pada naga, dan bukannya takut. Ia malah menantangku meskipun ia sekarat dan… cacat. Makhluk kecil ini punya nyali, dan diriku membutuhkan jiwa seperti ini dalam hidupku yang hambar dan membosankan. Dia bumbu yang tepat.

“Kau bohong, manusia. Ada sesuatu dalam dirimu yang mengatakan kepadaku bahwa semangat hidupmu masih sangat tinggi. Pastilah ada sesuatu yang tersisa bagimu… Selain dendam yang belum terbalaskan.”

Keraguan memasuki hatinya. Ia terdiam. Ini memberiku tanda bahwa kata-kataku tepat sasaran.

Versa.

Nama seorang perempuan. Mungkin kekasihnya?

Dia adikku. Dia masih ada di sana. Di istana.

Oh.

Rupanya begitu. Dia kakak laki-laki yang ingin menyelamatkan adik perempuannya, yang seperti biasa, tidak berhasil melarikan diri dari medan pertempuran. Klise. Kisah-kisah yang sudah banyak kudengar dalam ribuan tahun hidupku, dikicaukan oleh burung-burung yang melintasi hutanku. Tapi ini memberiku jalan untuk meraih apa yang kumau, dan aku bukanlah sosok yang mau melewatkan kesempatan ini begitu saja.

“Dengar, manusia, apa kau ingin kembali ke medan perang, menyelamatkannya sekaligus mencetak kemenangan?” aku mendesis kepadanya, sebuah rencana tersusun di benakku. Ini satu-satunya kesempatanku untuk menjalani hidup yang jauh lebih baik daripada terkurung dalam hutan sampai akhir hayatku, untuk membuat satu hari yang kuhabiskan ke depan lebih berarti daripada merenung selama ratusan ribu tahun lagi.

Ia mengangguk pelan, dagunya membentur cakarku.

“Aku bisa membantumu. Meskipun mungkin bantuanku merupakan hinaan bagimu.”

Ia tidak menjawab. Aku mulai meragukan keberhasilanku dalam membujuknya, karena manusia-manusia semacam ini biasanya memiliki harga diri yang tak tergoyahkan. Mereka memilih mati daripada menerima bantuan dari musuhnya. Terkadang bahkan ada yang tidak mau menerima bantuan dari temannya sendiri hanya karena ia merasa bahwa mati karena pertempuran adalah sebuah kebanggaan. Menggelikan, sesungguhnya, karena manusia-manusia semacam itu tidak bisa berpikir secara rasional. Mereka adalah makhluk-makhluk bodoh yang tidak tahu betapa berharganya hidup itu.

Tapi aku tidak boleh menyerah. Dia satu-satunya peluang yang ada jikalau aku ingin merasakan yang namanya hidup.

“Begini, aku tertarik padamu. Dalam setiap ucapanmu, tak ada rasa takut padaku. Tak ada sedikitpun. Manusia yang mencoba menantang aku, seberani apapun dia, ia tetap merasakan ketakutan akan diriku,” nada suaraku, anehnya, terdengar penuh kekaguman, “Tapi kau? Hatimu begitu penuh kebencian sampai rasa takut pun lenyap oleh kebencianmu.”

Tentu saja. Kenapa aku harus takut padamu, reptil berpanu? Sungguh tidak logis.

“Karena aku tidak sekarat, aku tidak bisu, dan aku berpanu,” aku tertawa atas sarkasme yang kulontarkan, tanpa sengaja menyemburkan bara api ke udara kosong. “Jadi, bagaimana?”

Apa keuntungan yang kau dapat dari membantuku? Supaya kau bisa memangsa saudara-saudara sebangsaku? Supaya kau bisa menghabisi manusia sebanyak yang kau mau?

Ia terbatuk. Lagi.

Jelaskan.

“Membosankan sekali kedengarannya,” aku melengos, berpura-pura kecewa akan kedangkalannya dalam menilaiku, “Yang kuminta hanyalah penglihatanmu.”

Lagi-lagi ia terdiam, hanya bergerak pelan untuk menunjukkan keheranannya.

Kau buta?

Spontan ia tertawa dalam hatinya.

Kadal buta! Menggelikan sekali. Pantas saja aku tidak pernah melihatmu meskipun hutan ini begitu dekat dengan kerajaanku. Kau pasti takut keluar, reptil kudisan. Andai aku tahu ada kau di sini, aku sudah sedari dulu kemari, mencincang dagingmu dan merontokkan setiap lempeng sisikmu.

Aku menyeringai, memamerkan deretan taring tajam yang mampu menembus batu dan logam. Ia pikir ia bisa memprovokasiku? 1000 tahun lagi, nak, itupun kalau kau masih hidup – hal yang tidak mungkin terjadi, kecuali…

“Manusia, kaumku dan kaummu pernah terikat oleh perjanjian, dan perjanjian itu masih berlaku hingga sekarang. Bila kaumku meminjamkan kekuatannya pada kaummu, maka kaummu harus memberikan sesuatu. Tapi kau akan mendapatkan kekuatanku dan kesetiaanku, karena sekali kita terikat, jiwa kita adalah satu. Hidup kita adalah satu. Satu dalam sebuah segel yang bernama Kontrak.”

Ya, aku pernah membaca tentang itu.Banyak dari kaumku yang mencari kaummu hanya demi umur panjang dan kekuasaan mudah. Jadi, itukah yang kau tawarkan kepadaku, kadal raksasa? Sebuah Kontrak?

“Ya. Apakah nyalimu cukup besar untuk mengikat diri dengan kadal iblis sepertiku, manusia bisu?”

Ia terdiam sejenak, menggerakkan tangannya untuk mencengkram kukuku sekuat tenaga untuk menunjukkan kegusarannya.

Kaummu benar-benar busuk, kadal.

Ia terbatuk, memuntahkan darah panas di cakarku. Aku kembali menyeringai, cukup senang akan perkembangan ini.

“Terserah kau saja, sebenarnya. Kalau memang tidak mau, aku bisa membiarkanmu membusuk di sini, atau di dalam perutku. Kalau di sini, kau bisa menjadi pupuk yang bagus. Kalau di perutku, kau bisa menjadi kotoran naga, yang nantinya juga akan menjadi pupuk kualitas tinggi. Yang manapun, sama saja.” Kujulurkan lidah dari moncongku, menjilati cairan merah pekat pada sela-sela jemariku untuk menggertaknya.

Baiklah.

Aku terdiam beberapa saat, sedikit tidak menyangka. Rupanya maut mampu meruntuhkan harga diri pemuda ini – ataukah ada hal lain yang mendorongnya untuk menerima tawaranku?

Yang manapun, sama saja.

“Pusatkan pikiranmu pada diriku, manusia,” perintahku kepadanya. Ia mengangguk, dagunya kembali membentur cakarku. Maka tanpa menunggu lebih lama lagi, aku menyentuhkan moncongku ke tubuhnya, menutup mata, mendengar degup jantung si pemuda yang bertempo tak karuan. Ajalnya sudah semakin dekat. Aku harus cepat. Sisikku bergesek dengan tangannya yang lembab dengan susah payah meraih kepalaku, gemetaran dan lemah. Kupusatkan konsentrasiku pada keinginannya untuk hidup, untuk bertahan, dan untuk membalas dendam. Kuhembuskan nafas ke tubuhnya, dan bisa kurasakan adanya semacam energi kehidupan yang membungkus kami berdua, sebelum akhirnya mengumpul di mataku, membuatku meraung karena panas luar biasa menghujam kepalaku. Panas yang laksana paku ditimpa palu.

Begitu panas sampai aku membuka kedua mataku.

Detik itu juga aku terpana, menatap barisan pohon yang menjulang menantang langit yang laksana kanvas dengan noda biru muda. Awalnya sulit bagiku untuk menerjemahkan bentuk-bentuk yang ada, namun bagaikan seorang pelukis yang menyapukan detil detik demi detik, visualisasi yang ada semakin nyata dan jelas setelah penglihatanku mampu beradaptasi. Warna hijau daun membaur secara harmonis dengan berbagai warna cokelat di pucuk batang yang merupakan perpaduan warna putih dan abu-abu muda, sementara jauh di bawah, hamparan rumput menari bersama bunga-bunga jingga dan kuning. Kesunyian yang sedari tadi membuatku merasa begitu sendiri langsung tersapu pergi oleh keindahan yang terukir dalam pandanganku.

Aku merunduk, menatap kubangan air persis di depan wajahku, menatap pantulan seekor naga bersisik putih, dengan mata biru safir cemerlang. Ada bekas luka di sepanjang matanya, membentuk garis lurus. Luka yang merampas penglihatanku.

Itu aku.

Entah sudah berapa lama aku tidak melihat diriku, sampai aku tak lagi sanggup merindukannya. Aku terus menatap refleksi itu. Ada huruf-huruf tertulis di dahiku – aksara naga. Aku mencoba menggali ingatanku, mengartikan rune demi rune. Bunyi kalimat itu adalah demikian: ‘Jika Kau Mencari Kekuatan Maka Akan Kautemukan Naga, Penglihatan Yang Kauberikan Kekuasaan Yang Kaudapatkan’.

Ini menandakan bahwa Kontrak berhasil. Aku bisa melihat, dan dia… Ah, ya, di mana dia sekarang? Aku mengangkat wajah, mencari-cari dirinya, dan kutemukan ia tengah berdiri tegap tanpa luka di depan deretan pepohonan. Kontrak menyelamatkan nyawanya. Kekuatan naga telah menyembuhkan dirinya sampai ke organ-organ yang terdalam sedikitpun. Kalau boleh berterus terang, bahkan diriku tidak menyangka bahwa kaumku memiliki kekuatan sehebat itu.

Kulangkahkan kaki mendekati dirinya, pelan tapi pasti. Ia berpaling ke arahku karena merasakan getaran di bumi, dan kutatap lurus kedua matanya tertutup. Aksara naga tertulis di atas kedua kelopak matanya, berbunyi sama dengan yang ada di kepalaku. Aku mengamati dirinya. Cukup tinggi untuk ukuran manusia, berkulit pucat dengan rambut cokelat gelap dan memiliki garis wajah yang berkarakter. Bisa dibilang tampan. Karisma memancar dari dalam tubuhnya yang terbalut baju zirah berbahan orichalcum. Ah, karisma dan kebencian. Ya, kebencian yang luar biasa pekatnya, amarah yang begitu membara sampai bisa membakar hutan ini, nafsu membunuh yang meronta-ronta minta dilepaskan dari belenggu kewarasan, dan gairah akan darah yang melekat di setiap syaraf tubuhnya – meskipun ekspresi wajahnya tidak mengatakan apa-apa sedikitpun. Raut mukanya tanpa emosi, seakan tidak ada yang terjadi. Namun Kontrak memberiku akses kepada seluruh perasaannya, segala yang ia rasakan, dan harus kuakui bahwa dia adalah manusia yang berhati sangat gelap. Tapi kegelapan yang ada dalam dirinya adalah kegelapan yang kokoh dan mempesona, bukan kegelapan yang najis ataupun menjijikkan. Ini adalah kegelapan yang layak menginfeksi setiap kehidupan yang ada.

Apakah itu karena kegelapan yang ia miliki berdasar dan beralasan?

Kutepiskan pikiran itu jauh-jauh dari benakku. Sekarang bukan saatnya untuk menerka-nerka. Toh waktu akan menjawab segalanya – itu kalau waktu masih membiarkan aku dan dia bertahan hidup dalam guliran rodanya.

“Jadi,” kuulurkan cakarku kepadanya lagi, menyentuh lengannya yang sangat kecil dibandingkan kuku jariku, “Sekarang kita satu. Bekerjasamalah.”

Hanya sekarang. Ia menyeringai, giginya putih cemerlang. Setelah segala urusanku beres, termasuk membalas dendam pada kaummu yang haram keberadaannya itu , aku akan mengakhiri hidupmu, meskipun itu berarti aku juga harus mengakhiri hidupku.

Rencananya cukup masuk akal. Pantas saja ia menerima tawaranku. Tak mengapa. Mungkin seru juga kalau aku bisa bertempur melawan kaumku sendiri, menguji seberapa kuatnya diriku yang sudah lama tidak terjun dalam pertempuran ini. Ditambah lagi, kurasa lebih baik mati dibunuh mitra Kontrak daripada mati membusuk di tempat ini karena usia. Lagipula, apa yang bisa dilakukan oleh seorang manusia buta dan bisu terhadap seekor naga sepertiku? Menggelikan.

“Coba saja,” kataku kepadanya dengan nada main-main, setengah menantangnya. Ia tidak berkata-kata lagi, hanya menjawab dengan meletakkan tangannya ke atas cakarku sebagai tanda bahwa ia serius.

Ketika tangannya terangkat, aku melirik pinggangnya, mendapati sebuah pedang panjang bersarung kulit dengan ukiran-ukiran mantera peri dan berhiaskan batu-batu mulia. Tampaknya mitraku ini menguasai sihir juga, karena ukiran mantera peri hanya aktif apabila yang menggunakan adalah si pengukir. Aku mulai mencurigai kalau dia seorang bangsawan atau keluarga kerajaan, bukannya ksatria atau pahlawan perang seperti yang kuduga sebelumnya. Penampilannya begitu terawat dan megah, dan mantera peri, berdasarkan kabar yang kudengar dari para unggas, hanya dipelajari oleh manusia yang berpendidikan tinggi. Bagi kaumku, memang batu mulia dan baju zirah orichalcum tidak berarti, namun aku tahu betul bahwa bagi manusia, keduanya adalah perlambang kekuatan dan kedudukan.

Barulah aku menyadari sesuatu. “Omong-omong, aku belum tahu namamu.”

Ia sedikit terkejut. Rupanya ia juga baru menyadari bahwa kami sama sekali belum bertukar nama.

Vesaro.

“Namaku Blanche,” aku tersenyum, “Nah, Vesaro, apakah kita harus berangkat ke medan perang sekarang?”

Tentu saja, kadal. Kita harus membinasakan mereka.

“Kupikir aku sudah mengatakan namaku padamu, idiot. Berhentilah memanggilku kadal. Kadal tidak bisa terbang. Well, ada yang bisa, tapi – ”

Terserah. Kita tidak boleh membuang-buang waktu untuk hal yang tidak penting seperti ini. Waktu adalah darah.

Kekepalabatuannya membuat diriku menghela nafas panjang. “Naiklah,” aku menunjuk punggungku, “Penerbangan berangkat tiga menit lagi.”

Seharusnya kurang dari itu. Ia mendengus sambil memanjat tubuhku tanpa kesulitan, hanya sedikit meraba-raba karena kebutaannya, tapi seakan sudah begitu hafal akan setiap lekuk tubuhku. Semenitpun tidak dihabiskannya. Ia sungguh tangkas dan sigap, mengingat sisik naga adalah permukaan yang sangat licin dan halus. Apalagi aku adalah naga betina, dan itu berarti sisikku jauh lebih licin dan lebih halus dari naga jantan, yang jumlahnya jauh lebih banyak di dunia ini. Apa mungkin ia pernah menaiki naga?

Ah, tidak mungkin. Ia berkata sendiri bahwa ia membenci kaumku.

“Baiklah, Vesaro, bersiaplah untuk perjalanan menakjubkan di udara bersamaku,” aku memposisikan keeempat kakiku, memiringkan sayap, memusatkan kekuatan pada cakar-cakarku dan bersiap untuk mendorong tubuhku menuju langit, “Pegangan yang erat.”

Aku bisa merasakan kedua tangannya tanpa ragu memeluk leherku erat-erat, dan kepalanya bersandar pada surai naga. Kedua kakinya diselipkan pada celah-celah sisik yang cukup kecil untuk menjepit telapaknya dengan kencang. Rupanya ia cukup rasional untuk menyingkirkan rasa jijiknya pada naga, daripada mati konyol gara-gara terjatuh dari naga yang sedang terbang. Namun ia begitu tampak terbiasa ketika menempatkan diri di punggungku sampai aku mulai mempertanyakan hal yang sama – apa ia pernah menaiki naga?

“Hei, Vesaro, kau pernah menaiki naga?” desisku padanya.

Dulu sekali.

Ia tidak melanjutkan lagi, dan karena waktu adalah darah, maka aku tak melanjutkan bertanya.

“Di mana pertempuran itu terjadi?”

Kerajaanku. Tidak jauh dari sini, lurus di timur. Makan waktu tiga setengah jam kalau berjalan kaki.

“Tiga setengah menit kalau terbang.”

Kedua kaki belakangku menghempaskan tanah, mendorong diriku ke udara seiring dengan bergeraknya kedua sayapku yang mengepak teratur, mengangkat seluruh tubuhku ke atas. Mendadak sayapku keram setelah melewati pepohonan, membuat tubuhku oleng dan Vesaro nyaris meluncur ke bawah – aku sudah terlalu lama tidak terbang. Tetapi aku berhasil menyeimbangkan posisi, dan sayapku kembali kuat, cukup kuat untuk membawaku pada angkasa. Vesaro kembali memperkuat pelukannya di leherku pada saat yang sama. Aku meluncur secepat kilat ke langit biru bertakhtakan awan putih salju, melawan gravitasi yang mencoba merobohkanku ke bumi.

Hati-hatilah, manusia-manusia bersenjata. Perangmu akan segera berakhir. Berakhir dalam kehancuran.

Kehancuran bernama Blanche.

Iklan