SKY OF DAWN

Noirciel

Gawat.

Kalau diucapkan dalam satu kata, itulah kondisiku saat ini.

Bayangkan begini; kau seorang prajurit dengan pangkat rendah, diberi tugas penting sehubungan dengan tawanan dan informasi yang dimilikinya, (kesampingkan perasaanmu saat menerimanya), tapi di tengah-tengah pekerjaan kau lepas kontrol untuk alasan yang tak dapat dijelaskan, lalu berakhir menghantam pingsan semua atasan dan orang penting yang ada di tempat. Tampak gawat? Yah, itulah yang baru saja kulakukan.

“Aaaghhh…” aku berjongkok, memegangi kepalaku dengan putus asa. Di hadapanku ada lima orang – semuanya tak sadarkan diri. Tiga di antaranya gegar otak ringan, satunya patah hidung dan dijamin akan sulit bergerak selama beberapa hari setelah terbangun, dan yang terakhir tertidur akibat ‘bius’ yang kuberikan sebagai bagian dari pertolongan pertama – aku nyaris membunuhnya dengan pukulan yang kulancarkan ke lehernya. Untung aku sadar sebelum dia berhenti bernafas dan sempat menolongnya.

“Aku ini ngapain, sih…!!” aku mengacak-acak rambutku.

Mendadak, ada sentuhan dingin di tanganku yang bengkak dan lecet. Aku mengangkat kepala dan melihat sepasang mata hijau cerah milik seorang gadis Elf menatapku dengan pandangan khawatir.

“Ah…” aku baru sadar, gadis itu masih setengah telanjang. Menghalau pikiran lain dari kepala, aku membuka seragam dan menyampirkannya di bahu mungilnya. Paham maksudku, gadis itu mengenakannya dengan benar. Tubuh mungilnya tenggelam dalam atasan seragam yang mirip mantel itu, tapi dengan begini dia tidak perlu tampil memalukan.

Aku berdiri dan mengulurkan tanganku. Dia terlihat ragu sesaat, tapi kemudian mengenggam tanganku.

“Ayo kabur!!”

Sambil menapaki tangga meninggalkan ruangan suram berbau darah dan orang-orang yang masih tak sadarkan diri di belakang kami, benakku melayang ke dua jam silam, yang rasanya kok sudah lama sekali berlalu…

***

Kegiatan sehari-hariku setelah berkeliling mengecek pasien di bangsal penyembuhan adalah berlatih sihir. Sihir itu seperti hafalan, kalau tidak sering dilatih atau digunakan, bisa hilang. Dalam kasusku, aku selalu salah mengalirkan mana ke jalur yang tepat dalam pembuluh sihirku. Untungnya sejauh ini belum pernah ada kasus serius. Paling-paling cuma sihir jadi tidak berjalan semestinya.

“Pertama, kumpulkan mana dari udara…” aku bergumam dan merasakan sesuatu yang mirip aliran listrik – mana – mengalir ke dalam tubuhku. Mengumpulkan sih mudah, tapi tahap berikutnya tidak demikian.

Bayangkan sebuah jalan raya, dengan lima jalur yang berbeda-beda. Mana yang kukumpulkan harus melalui jalur yang benar untuk menjadi sihir penyembuhan yang sempurna. Di sinilah aku kesulitan, karena pada umumnya, manusia cuma punya DUA jalur – energi biasa dan mana. Dan jujur saja, menemukan jalur yang tepat butuh waktu dan konsentrasi. Aku butuh pikiran yang setenang permukaan air…

“Leena Salvatore!!”

…yang bisa langung hancur lebur begitu dipanggil orang.

Aku membuka mata dan menatap orang yang memanggilku – sebisa mungkin berusaha untuk tidak pasang wajah marah atau sebal. Terheran-heran mendapati kenalan ibuku – Kolonel Clare Veeno dari Pleton 4 – menatapku dengan serius.

“Kami butuh Healer. Ikuti aku,” dia berkata tanpa basa-basi. Aku buru-buru mengambil seragam yang tergelatak di tanah dan memakainya sambil jalan. Kalau Kolonel sampai khusus mencariku, artinya ada pasien sangat serius, karena beliau tahu tentang kemampuanku yang tak dimiliki Healer lainnya. Ibu menganggapnya bisa dipercaya, dan pernah menceritakan hal itu padanya.

Oh, sebelumnya, aku harus menceritakan sedikit tentang ibu. Ibuku anggota pasukan khusus Blue River, komandan Divisi 4. Spesialiasi, penyiksaan.

Tampak mengerikan? Ya. Tak beradab? Tidak juga. Ini masa-masa kelam. Semua jungkir balik. Sulit untuk mengatakan dengan pasti, mana yang ‘benar’ dan yang ‘salah’. Yaa, sampai batas tertentu, hal itu memang masih kupahami, tapi, batas samar seperti ‘apakah menyiksa orang itu tidak beradab?’ tidak bisa kunilai dengan objektif lagi.

Dua puluh tahun terakhir ini, Elda Rune dilanda perang berkepanjangan, dan melibatkan seluruh ras yang ada.  Lupakan slogan kuno seperti ‘Elf adalah makhluk cinta damai’ atau ‘Ramita tidak akan marah selama penelitiannya atau penemuannya tidak diganggu’. Aku pernah mendengar dari ibu, sebuah desa dibumi-hanguskan oleh satu klan Elf. Warga yang melawan dibunuh dan yang tersisa dibawa pergi untuk dijadikan budak atau semacamnya – beberapa yang paling cantik dan tampan bahkan dipotong kakinya dan dijadikan budak seks. Fraksi Ramita Anti Manusia yang dianggotai Ramita garis keras belum lama ini bahkan menciptakan bom manusia – menggunakan anak-anak dalam aksinya!

Jadi, apakah menyiksa musuh itu salah? Aku tidak bisa menjawabnya, karena aku sudah merasakan sendiri, informasi yang keluar dari mulut tahanan seringkali menyelamatkan banyak orang. Dan karena manusia tidak bisa dibilang unggul dari segi fisik maupun intelegensi, yang tersisa bagi kami hanyalah kekerasan.

Aku hidup bersama ibu dan anggota pasukan khususnya. Kata ibu, ayahku sudah meninggal sebelum ibu sadar di kandungannya ada diriku. Ibu menetap di militer bersamaku, karena menganggap itulah tempat teraman bagi kami. Sebenarnya, aku tidak diharapkan jadi tentara pula, tapi – setengah ngotot – aku meminta ibu mengajariku berbagai hal, mulai dari menyiksa orang sampai menjahit luka di kepala.

Musim dingin tahun lalu, aku mengikuti tes resmi untuk bergabung dengan militer. Menurut penilaian, bakat bertarungku payah (katanya, aku terlalu mudah panik, dan kalau sudah panik aku tidak bisa membedakan kawan dan lawan), tapi aku berbakat dalam medik, dan mampu menguasai sihir penyembuhan yang terkenal sulit dalam hitungan minggu. Hasilnya, sekarang aku termasuk salah seorang prajurit medik yang paling diandalkan oleh kesatuan ini. Tapi, belakangan ini aku mulai merasa jabatan itu terlalu berat untuk kepalaku.

Tahanan yang kemarin kuurus, misalnya. Dia sudah kehilangan kuku jari tangan dan kakinya empat kali selama dua hari ini – belum termasuk luka cambuk dan tusukan besi di tubuhnya – tapi belum juga buka mulut. Aku enggan menyembuhkannya hanya untuk menjadikannya segar bugar dan siap disiksa lagi, tapi, bisa apa prajurit dengan pangkat rendah dan super lemah sepertiku?

Sejujurnya, aku merasa orang itu memang tidak tahu apa-apa. Belakangan ini, pola kerja kami – interogasi itu – sudah mulai diketahui lawan, dan mereka menahan informasi seminim mungkin. Yang tertangkap semua cuma prajurit rendahan, yang tak punya informasi berharga. Aku jadi kasihan pada mereka. Maksudku, mati dalam medan perang mungkin lebih baik ketimbang diperlakukan seperti mainan di sini.

“Pasukan pengintai menangkap seorang Elf kemarin siang,” Kolonel memecah keheningan dengan nada datar. “Pihak atas bersikeras dia mengetahui dimana letak perkampungan Elf garis keras. Dia tidak mau buka mulut, jadi…”

Kolonel bukan orang yang ramah tapi ibuku bilang dia salah satu dari sedikit orang militer yang masih punya otak. Dia tidak suka penyiksaan, tidak bisa dibilang akur dengan Ibu, tapi keduanya saling menghormati. Intinya, aku tak punya alasan untuk tidak suka padanya.

“Siap,” ucapku kaku. Aku tegang, seperti biasa. Aku tak pernah biasa masuk ke ruang penyiksaan. Bau darah segar, daging terbakar, serta hawa kematian yang begitu pekat selalu membuatku pusing. Kolonel menatapku sejenak, tapi tidak mengatakan apapun.

Kami tiba di ruang bawah tanah – kamar penyiksaan. Bukan tempat ibuku biasa bekerja, tapi isinya mestinya sama saja. Kolonel berhenti dan mengedikkan kepalanya ke arah pintu.

Aku menarik nafas panjang, kemudian mendorong pintu terbuka.

Neraka menyambutku.

Bukan, aku bukan takut melihat kondisi tahanan yang terikat di palang berbentuk huruf X di sudut ruangan ini. Oke, tubuhnya yang nyaris telanjang penuh bekas cambukan yang sebagian telah mengelupas dan menampakkan daging serta benda putih yang kemungkinan besar adalah tulang itu memang bukan pemandangan bagus – tapi aku sudah terbiasa. Begitu pula dengan luka bakar serta bekas-bekas tetesan lilin di sekitar luka-lukanya. Sadis, tapi, itu masih bisa kuterima. Kuku yang lepas apalagi. Itu makanan sehari-hari.

Alasanku kepingin nangis sekarang ini cuma satu.

Ibu pernah mengajarkan bagaimana melihat sejatinya seseorang dari mata mereka. Dari situ aku bisa tahu apakah seseorang bersalah dan layak disiksa atau tidak. Nah, aku sekarang bahkan tidak butuh melihat matanya untuk tahu gadis Elf ini tidak bersalah. Dia bahkan bukan petarung!!

“Leena Salvatore?” Kolonel menegurku.

“Siap!!!” aku spontan menegakkan tubuhku. “Anu…Ini…Maksud saya, gadis ini…”

“Bisa kau sembuhkan dia?” Kolonel tidak memberiku kesempatan bertanya lebih jauh.

Baru aku menyadari, ada tiga atau empat orang di dalam ruangan – selain gadis elf itu. Dua diantaranya pernah kulihat. Mereka anggota pasukan khusus, beda divisi dengan ibuku, dan tidak terlalu akur…tapi ibu memang biang masalah, sih, jadi belum tentu mereka jahat. Sementara sisanya…Aku belum pernah melihat mereka. Dan menilik dari pakaiannya, kemungkinan mereka orang-orang atas. Aneh…ada perlu apa para tuan besar itu berada di ruangan bau darah ini?

“Bisa atau tidak!?” salah seorang dari mereka bertanya tidak sabar.

Aku tersentak dan buru-buru mendekati gadis itu – berusaha keras untuk tidak menampakkan ekspresi yang bisa membuat mereka makin sewot. Tidak ada untungnya dibenci orang berkuasa. Tidak sopan pada gadis malang ini, tapi aku juga harus memikirkan diriku!

Kosongkan pikiran. Tenangkan batin. Kerjakan tugasmu. Aku Healer, dan yang akan kusembuhkan ini musuh – mati-matian aku mengulangi hal itu dalam kepalaku.

Tapi, begitu melihat genangan darah di kaki, serta luka besar yang melintang di pangkal leher hingga ke perut gadis itu, serta tanda-tanda yang mengindikasikan luka itu sudah berumur cukup lama, isi kepalaku langsung kosong.

Ini gawat. Sihir yang kumiliki – tidak, seluruh Healer yang ada di markas ini sekalipun tidak akan bisa menyembuhkan luka separah ini. Duh! Mereka ini pasti bukan yang terbiasa menyiksa serius, deh!! Tubuh elf itu tidak sekuat manusia, tahu!! Mereka juga lebih rentan terhadap virus dan bakteri!! Luka sebesar ini dan tidak langsung kalian tangani!? Tahu nggak sih, normalnya sebuah tim penyiksa interogasi itu menyertakan seorang Healer!? Kalian itu mau mengorek info atau isi perut, sih, sebenarnya!?

“Turunkan dia! Izinkan saya meminjam ruang sebelah!!” biasanya di ruang seperti ini ada ruangan untuk siksaan lain. Tapi sebenarnya, dimanapun oke. Aku cuma butuh privasi karena yang akan kulakukan sekarang bukan sesuatu yang boleh disaksikan orang lain.

“Haa?” orang yang menyentakku tadi terdengar sangat tidak senang. “Lakukan di sini saja!” ujarnya.

“Lukanya terlalu parah untuk ditangani dengan sihir penyembuhan biasa. Saya satu-satunya di tempat ini yang mampu menyelamatkannya,” aku menelan ludah, berusaha untuk terlihat meyakinkan. “Itu sebabnya Anda memilih saya, bukan?” aku menatap Kolonel.

“Haruskah berdua…?” Kolonel bertanya hati-hati. Tampaknya dia curiga, tapi aku tak ada waktu.

“Pilihannya dua; tinggalkan kami berdua, atau dia mati.”

***

Ancaman ‘mati’ memang paling manjur untuk manusia keras kepala. Aku menarik nafas berulang kali, menatap tubuh Elf yang terbaring di hadapanku. Kami hanya berdua di ruang penyiksaan. Kolonel dan yang lainnya memutuskan menunggu di luar. Perutku terasa kejang, tapi aku mengacuhkannya dan memulai proses penyembuhan ‘istimewa’ yang kumaksudkan pada Kolonel barusan.

“Tenangkan diri, Leena…Kamu bisa…” aku bergumam, dan mulai memejamkan mata. Merasakan mana dan energi mengalir dalam pembuluh-pembuluh tubuhku. Begitu keduanya sudah mulai aktif aku masuk ke tahap berikut; ‘membuka’ tiga jalur lainnya.

Jalur pertama untuk menghubungkan aku dan gadis ini. Jalur kedua untuk arah sebaliknya (ini bukan jalan dua arah). Dan jalur ketiga…ini yang paling rumit – sekaligus alasan utamaku tidak mau proses penyembuhan ini dilihat orang.

Aku membuka mata, menunduk, merasakan sensasi dingin saat bibir kami bersentuhan. Yeah, aku tahu, ini tampak bodoh dan tidak masuk akal, tapi memang beginilah cara kerja kekuatan penyembuhanku.

Lewat kontak bibir ini, jalur kelima dalam lalu lintas energi tubuhku akan aktif, dan aku akan bisa ‘memperbaiki’ kerusakan yang ada pada tubuh lawan. Kalau diumpamakan, bagaikan menghadapi sebuah puzzle raksasa yang sangat rumit dengan menggunakan pikiranku. Bagian-bagian yang hilang dan rusak memperoleh suplai energi dariku untuk pemulihan. Tentu saja, bukan hal mudah dan sangat memakan tenaga. Dan yang paling merepotkan, selama itu aku harus tetap mencium bibir lawan. Sudah berulang kali aku dapat masalah karena ini, makanya ibu – dan aku sendiri – tidak mengizinkanku menggunakannya selain untuk masalah darurat.

Tiga menit berlalu. Aku mulai bisa merasakan tubuh gadis ini kembali hangat. Tampaknya aliran darahnya sudah mulai pulih. Luka di dadanya tidak bisa kututup sempurna, tapi setidaknya daging yang koyak sudah menyatu kembali. Intinya, aku sudah bisa menarik wajahku kembali.

Aku menarik nafas panjang, menyadari wajahku panas. Tapi buru-buru kuhapus semua hal tak penting dan mulai berkonsentrasi menggunakan sihir penyembuhan biasa. Untuk sentuhan akhir, cukup ini saja. Mana lebih mudah pulih ketimbang energi kelima yang kugunakan barusan. Dan saat aku melakukannya, telingaku menangkap erangan perlahan.

Jujur saja, aku tak mau dia melihat wajahku – bajingan yang menyembuhkan dirinya supaya bisa disiksa kembali untuk alasan entah apa. Tapi, sebelum aku sempat menggunakan bius atau memikirkan cara lain, dia telah membuka matanya.

Sepasang mata hijau menatapku. Aku merasakan dorongan untuk kabur, tapi formasi sihir dalam telapak tanganku masih solid – tak mungkin kulepas sekarang.

Gadis Elf itu menatapku, kemudian tanganku – yang masih bekerja memulihkan luka-luka di tubuhnya. Tampaknya dia masih bingung. Bagus! Bingunglah terus, non! Lalu izinkan aku kabur!! Maafkan aku, tapi aku cuma prajurit rendahan, perintah atasan adalah absolut…

“..sih…”

“He?”

“Te…ri…ma…kasi…h,” gadis itu terbata-bata mengucapkan terima kasih dengan senyum lemah tersungging di bibirnya.

Ibu pernah bilang, kebanyakan Elf tidak bisa bicara bahasa manusia, terutama mereka yang memang tidak punya urusan dengan manusia. Gadis ini jelas masuk kategori itu. Tapi barusan dia mengucapkan ‘terima kasih’ padaku…Padaku yang seperti ini…yang cuma cari selamat…

Sesuatu meledak dalam kepalaku.

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya ingat membuka mulutku, meneriakkan sesuatu yang tidak bermakna. Pandanganku merah, seolah ada tirai dari darah yang menutupinya. Dan ketika gejolak emosi yang bagaikan badai itu mereda, aku mendapati empat orang – lima ditambah Kolonel tergeletak tak berdaya, dan tiga diantaranya tidak dalam kondisi oke.

AKU yang menyebabkannya.

Sekarang aku paham benar kenapa instruktur dan penilai melarangku jadi prajurit biasa.

***

Tidak sulit membawa gadis Elf itu ke bangunan tua di luar markas. Tempat ini dulunya istal, tapi sudah lama kosong. Yang tersisa cuma jerami kering dan perkakas yang mulai dimakan karat. Kadang-kadang tempat ini dipakai oleh tentara muda yang memadu kasih – tahu maksudku, kan? Tapi, di sore hari begini, akulah pengunjung tetapnya. Terutama jika ibu sedang tidak di markas ini. Ibu dan pasukannya sudah seminggu pergi ke kota lain. Entah aku beruntung atau tidak, karena tampaknya aku baru saja melakukan hal paling gila.

“Aku ini mikir apaan, sih…” entah untuk keberapa kalinya aku bergumam begitu di atas tumpukan jerami kering. Duduk di sebelahku, gadis Elf yang mendorongku melakukan kegilaan ini. Tapi, mungkin aku sudah gila sungguhan, karena tidak terbersit sedikitpun keinginan untuk marah padanya. Cuma, sekarang aku harus bagaimana?? Komunikasi saja tidak bisa, mau menentukan langkah selanjutnya pakai apa?

Sementara aku tenggelam dalam pikiranku, gadis Elf itu bergerak. Lewat sudut mataku aku melihatnya mencari-cari sesuatu. Tak lama kemudian, dia berjongkok di atas tanah berpasir dan menggambar sesuatu dengan sepotong kayu. Penasaran, aku mengintip lewat bahunya dan melihat bentuk-bentuk – tulisan – yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“…Terima kasih sudah menolongku….?” tanpa kusadari, mulutku bergerak sendiri membaca ‘tulisan’ di atas pasir. Hal ini membuatku bingung, karena aku seharusnya tidak pernah melihat simbol ini – apalagi belajar cara membacanya. Seolah paham kebingunganku, gadis itu menghapus tulisannya, kemudian menulis sesuatu yang lain. Kali ini agak panjang, dan baru setelah dia usai aku bisa memahami isinya – lagi.

“Ini bahasa kuno, tidak digunakan lagi, tapi terukir dalam jiwa setiap makhluk hidup…”

Aku tambah bingung, jujur saja. Tapi, kalau memang begitu, sedikit masuk akal. Yang tahu bahasa ini bukanlah otak, tapi jiwa-ku. Dan ini menyadarkanku, bukan waktunya berpikir soal bahasa kuno.

Kenapa gadis ini seperti bisa membaca pikiranku?

“Elf…memahami pikiran lawan, yang ditujukan padanya…” gadis itu kembali menulis. “Jadi, sekedar memahami percakapan, tak masalah…” dia tersenyum.

“Oke. Akhirnya ada juga hal baik,” gumamku, tersenyum untuk pertama kalinya dalam dua jam ini. Komunikasi itu dasar dari segalanya. Sekarang setidaknya aku tahu, kami bisa berkomunikasi, walau seadanya. “Oh, sampai lupa. Namaku Leena. Siapa namamu?” tanyaku.

Elitihiasca – tulis gadis itu.

“Oke. Sekarang…Bisakah kau ceritakan…err…sependek mungkin, tapi yang cukup akurat, kenapa kau bisa tertangkap…dibawa kemari?”

Bahasa kuno tampaknya memang dibuat untuk ‘bercerita’. Setiap simbol memiliki makna, jadi bukan berupa abjad seperti bahasa manapun yang kukenal. Berkat itu, dalam waktu kurang dari sepuluh menit aku sudah memahami apa yang terjadi pada Lithia – dia ngotot dipanggil demikian.

Dia berasal dari klan Rems, dan – benar dugaanku – bukan petarung. Dia bahkan tidak bisa menggunakan sihir sama sekali. Klan Rems yang sebagian besar tinggal perempuan dan anak-anak selama beberapa puluh tahun terakhir hidup berpindah-pindah, menghindari konflik. Lithia terpisah dari klan-nya ketika mereka berpindah tiga hari yang lalu – pindahan yang tidak terencana, dikarenakan panik melihat pasukan Blue River terlihat di sekitar perkampungan mereka. Sisanya, seperti yang kudengar dari Kolonel.

“Makin rumit saja, nih…” gerutuku sambil menggaruk-garuk rambut.

Satu hal yang pasti, aku sudah tak bisa berada di sini. Aku telah melanggar perintah – yang tidak kusesali – dan tinggal menunggu waktu saja sampai penjaga menemukan kelima orang di dalam ruang penyiksaan yang terkunci dari luar. Dan setelah mereka keluar, aku tamat. Gadis ini juga, pasti akan menerima siksaan yang lebih parah lagi…

Aku melirik Lithia, menyadari dia menatapku dengan khawatir. Mungkin dia takut aku menyesal dan berubah pikiran, atau segala hal negatif lainnya.

“Tenang. Aku tahu kok rasanya kepingin pulang,” ucapku seramah mungkin sambil mengelus kepalanya. Melihat tanganku terangkat, dia berjengit kaget, seperti kucing yang waspada. Tapi, ketika merasakan sentuhan tanganku di kepalanya, dia memejamkan mata, tampak menikmatinya. Aku terkekeh dan melanjutkan mengelus. Sebuah ide mulai lahir dalam benakku. Perlahan-lahan aku bisa melihat apa yang bisa kulakukan.

“Kau tahu kira-kira kemana klanmu pergi?” tanyaku. Lithia membuka matanya, kemudian mengangguk ragu. Bukan jawaban yang menguatkan hati, tapi cukuplah untuk sekarang.

“Oke. Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang. Mungkin kau enggan berada bersama manusia, tapi kumohon, sabar…” ucapanku terpotong oleh genggaman luar biasa erat dari kedua tangannya. Seperti anak kecil yang merajuk, dia menatapku lekat-lekat dan menggeleng kuat-kuat.

“…Aah…” aku tersenyum kecil, dan kembali mengelus kepalanya dengan tanganku yang satu lagi. “Terima kasih,” ucapku.

Terima kasih, sudah mempercayaiku.

***

Beberapa jam kemudian, matahari mulai terbenam saat kami duduk di tronton bersama setidaknya 50 pengungsi. Tujuan kami ke semenanjung barat yang masih cukup aman. Lithia tertidur di sisiku; kepala menyandar di bahu, sementara tangannya menggenggam erat tanganku. Perban melilit kepalanya – kamuflase untuk telinganya.

Pelarian kami cukup mulus, kalau aku boleh berbangga. Tapi, kami belum bisa tenang.

“Ibu sih pasti bisa melacakku, ya…” aku bergumam.

Jujur saja, itu sumber kekhawatiranku sekarang. Sebagai putrinya, aku tahu benar betapa ahlinya ibuku. Dia memang spesialisasi penyiksaan, tapi bukan berarti tidak bisa melacak jejak narapidana. Dan kalau kami sampai tertangkap…

Aku merinding membayangkan nasib Lithia kalau sampai bertemu ibuku. Namanya juga ibuku, dia pasti mencerna penjelasan Kolonel bahwa aku melarikan tawanan jadi seperti ini; “Putriku ditipu cewek Elf jahat!! Akan kukukiliti rubah betina itu hidup-hidup!”

Tapi, sudah terlambat untuk mundur. SANGAT terlambat.

Aku tertawa pahit, mendesah, dan menatap langit yang kemerahan. Sedikit terkenang cerita ibuku bahwa aku lahir di senja seperti ini. Dan menyadari bahwa mungkin besok aku takkan bisa menyaksikan pemandangan ini lagi.

Tapi, di sisi lain, yang kulakukan ini tidak salah. Merepotkan dan GILA, tapi, tidak salah.

Aku percaya – dan yakin untuk yang satu itu.

Iklan