TEA TIME (OR THE STORY WHICH WAS WRITTEN FROM ANOTHER SIDE)

Serasoshiny

Bulan menunjukkan setengah tubuhnya dengan malu-malu.

Nun jauh di kegelapan malam, sebuah rumah berbentuk apel yang terguling memancarkan cahaya yang terang.

“Dragon,” panggil salah seorang tamu. “Asistenmu datang berkunjung.”

“Dragon, aku datang membawa kerjaan minggu ini,” ujar orang yang satunya, yang lebih pendek dan lebih muda. “Kalau kau telat mengumpulkan seperti minggu lalu, Raja bisa marah padamu, lho.”

Ya, dua orang itu adalah dua pekerja organisasi Elvenlith Army—organisasi yang bertugas menyokong kerajaan sebagai ahli sihir dan medis—milik negara Faires Thallia. Negara itu biasanya adalah negeri yang tenteram dan damai, tapi setelah rajanya berganti, negara itu menjadi tempat yang menyesakkan. Raja memang cerdas dan pandai mengatur strategi. Tapi, ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Sementara kekayaannya semakin bertambah, para rakyat sengsara. Banyak orang berpikir bahwa ia sedang mengumpulkan uang untuk perang. Padahal, seharusnya ia lebih mementingkan negaranya, kan.

“Apa dia sudah tidur, ya?”

“Belum, kok,” ujar sebuah suara lain.

Si asisten yang berambut putih dengan aksen cokelat di sisi kanan-kiri rambutnya itu melongokkan kepala ke semua sudut yang bisa dijangkaunya, tapi ia tidak bisa menemukan atasannya. Pintu masih tertutup, dan di jendela pun tidak ada siapa-siapa. “Dragon, kau di mana?”

“Di lantai tiga.” Kini si asisten melihat ke atas. Seorang laki-laki berumur delapan belas tahunan berambut pirang dan bermata sayu melambaikan tangannya dari beranda lantai tiga. Dia menggenggam sebuah tali yang berujung pada batu giok berbentuk mulut. Oh, jadi ia menggunakan Speaking Spell itu untuk mengeraskan suaranya. “Maaf, aku tidak bisa bicara langsung. Kalau aku teriak, suaraku bisa habis, sih.”

“…Dragon, kau sakit lagi, ya?”

“Ups… Harusnya aku tidak mengatakannya tadi.” Dragon tertawa kecil. Saat ia bicara, Speaking Spell yang dipakainya pun ikut bergerak. “Kerjaanku banyak, sih.”

“Aku tahu… Tapi jaga diri yang baik, dong. Makanmu teratur nggak? Obatnya gimana? Jangan sampai karena sibuk meneliti dan membuat ramuan, kau jadi lupa membuat obat untuk dirimu sendiri!”

“Santailah, Rabbit,” Dragon tertawa. “Dr. Ailee Gon yang hebat ini belum akan mati.”

Rabbit menghela nafas. Wajahnya sedih. Dragon hanya bisa tertawa miris dan terbatuk melihatnya. Dragon memang belum akan mati, tapi karena pekerjaannya sebagai ilmuwan dan ahli ramuan satu-satunya di desa itu, ia jadi sangat sibuk. Padahal, tubuhnya sangat lemah. Rabbit jadi khawatir, sebab Dragon tinggal sendiri di pedalaman hutan. Rabbit pernah menawarkan diri untuk ikut tinggal bersama dan merawatnya, tapi Dragon malah bilang itu membuatnya terkesan seperti kakek-kakek.

“Dragon, jangan menyebutkan nama aslimu sekeras itu,” ujar orang yang satunya. “Kita diberi codename memang untuk menyembunyikan nama asli kita, kan. Bisa gawat kalau sampai ada yang tahu. Bisa-bisa kita harus pindah desa dan membuat markas baru lagi di sana.”

“Iya, iya,” kata Dragon. “Ngomong-ngomong, terima kasih. Arrow sudah berbaik hati mengembalikan kelinci yang tersesat pada pemiliknya.”

“Dragon!”  Rabbit memanggil codename atasannya yang nakal itu.

“Ahahaha, begitu dong. Raoul Abbith memang harusnya ceria,” Dragon tertawa lagi. Rabbit hanya bisa memalingkan wajah manisnya yang memerah dan merengut.

“Dragon…” panggil Arrow dengan sinis.

“Ah, maaf, aku kelepasan lagi, hehehe!”

Setelah Arrow memarahi Dragon, membuatnya berhenti tertawa konyol, dan memastikan Rabbit menjaga Dragon dan dirinya sendiri dengan baik, Arrow pun mengundurkan diri. Ia meminta labu berisi kunang-kunang –lentera—yang dibawa Rabbit. Saat Rabbit bertanya bagaimana ia bisa pulang nanti, Arrow hanya menjawab dengan senyuman, lalu menghilang di bayangan pepohonan.

Rabbit tidak ambil pusing, toh labu di rumah Dragon juga banyak. Ia memasuki pintu rumah yang berbentuk mirip mulut itu. Lalu ia mengikuti Dragon yang menuntunnya menyusuri rumahnya, melewati lorong dan menaiki tangga di sana-sini hingga akhirnya sampai ke kamarnya yang luas di lantai tiga. Aneh, rasanya dari luar rumah apel terguling ini tidak terlihat seluas itu. Pasti Dragon menggunakan sihir.

“Nah, Dragon, ini dokumen-dokumennya,” ujar Rabbit. Ia membuka tas ransel birunya dan mengeluarkan kertas-kertas yang penuh tulisan.

“Eh, hati-ha—”

Belum sempat Dragon memperingatkan, Rabbit sudah menghempaskan dirinya dengan kasar ke kursi. Tiba-tiba, lantai—tanah—atau apalah itu di bawah kursi itu bergetar, bergelombang, dan menggeram marah. Rabbit yang kaget pun mencengkeram kursinya erat-erat supaya tidak jatuh. “A-apa itu tadi?”

“Kan aku baru mau bilang, hati-hati, rumah ini hidup,” ujar Dragon santai. Ia berbalik ke arah dinding, menepukkan tangan dua kali di depannya, dan sebuah lemari berpintu kaca muncul di dinding itu. Lemari itu seolah mengapung di dinding yang menjadi seperti cairan. Rabbit terkesima, lalu memandang ke sekitarnya. Ia melihat sebuah meja tengah menelan beberapa potong tulang ayam. Mungkin itu cara rumah ini makan.

“Daripada itu, ayo kita mulai acara minum tehnya,” ujar Dragon senang. Ia melompat-lompat ke arah meja  sambil membawa beberapa cangkir, saucer, sendok teh, tempat gula, poci dan beberapa tabung plastik yang isinya tak terlihat.

“Eh? Tapi.. Ini sudah jam sembilan malam, kan?” tanya Rabbit heran. Dragon tidak menjawab. Ia mengambil poci berisi air dingin, lalu meletakkannya di atas sarang burung di atas dahan yang muncul dari dinding. Sarang burung itu pun mengeluarkan api seperti kompor. Rumah yang praktis, ya.

“Eh, kau mau teh hitam, teh apel atau—umph!”

Rabbit melemparkan bantal duduk tepat ke muka Dragon sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. “Istirahat, Dragon.”

“…Lho? Kau tidak mau minum—”

Rabbit melemparkan satu bantal duduk lagi. Kali ini bantal itu hampir jatuh ke meja di depan Dragon dan mengacaukan persiapan minum tehnya, tapi sudah ditangkap oleh Dragon sendiri.

“Dragon, aku ingin kau istirahat sekarang.”

Saat kalimat itu diucapkan, wajah Rabbit serius, tapi melukiskan emosi yang tidak karuan. Wajar saja. Selama ini atasannya yang seorang profesor dan pembuat ramuan itu sudah bekerja terlalu keras. Dragon yang pintar tidak bisa mengatasi rasa penasarannya untuk meneliti ramuan, tapi ia tidak punya cukup uang untuk melakukannya. Kemudian, Raja datang padanya dan mempekerjakannya sebagai ahli ramuan dan peneliti. Tetapi saat Dragon menyadari bahwa kerajaan itu salah, ia diancam bahwa kerajaan akan melakukan pembunuhan besar-besaran bila ia tidak menurut. Dragon tidak punya pilihan lain. Padahal, Dragon tidak ingin membantu kerajaan. Ia memikirkan banyak cara bersama seluruh anggota Elvenlith Army yang juga diam-diam melawan kerajaan, sehingga beban mentalnya sangat berat. “Matamu merah dan sayu. Bibirmu pucat. Kau juga berkeringat dingin. Kau demam, kan?”

“Ah, ini sih tidak—”

“Minum ramuan penyembuh lalu tidurlah. Ingat apa yang terjadi tahun lalu saat kau memaksakan diri? Kau pingsan di gedung markas dengan suhu tubuh jauh di atas normal. Kalau berlanjut lama, kau bisa mati.”

“Tapi tehnya—”

“Lain kali, Dragon.”

Sang profesor langsung tertawa keras, wajahnya terlihat puas dengan jawaban asistennya yang berani menentangnya itu. “Ah.. Iya, iya. Aku istirahat, deh, iya.”

Kadang-kadang, kita butuh bertindak keras pada orang yang kita sayangi untuk kebaikan mereka sendiri.

###

Malam itu bulan terlihat lebih percaya diri, menampakkan tiga perempat bagian tubuhnya yang memang mengagumkan.

Udara yang dingin membuat Rabbit menggigil, lalu memakai jubahnya lebih erat dan memasang tudung hingga menutupi rambut putih-cokelatnya. Perlahan ia menyusuri jalan setapak menuju rumah yang menjadi pusat cahaya di padang rumput di tengah hutan itu. Ia jadi merasa seperti ngengat kecil yang berusaha terbang menuju matahari. Atau orang-entah-siapa-itu yang kabur dari penjara dengan membuat sayap-sayapan dari bulu burung, tapi sayapnya malah terbakar karena berusaha menangkap matahari. Bedanya, Rabbit tidak sebodoh itu untuk mencoba meraih matahari.

“Dragon, aku datang lagi, nih,” ujar Rabbit. Tidak ada jawaban. Ia hendak mengetuk pintu, tapi ternyata pintunya bisa dibuka. “Lho, kok pintunya terbuka? Aku masuk, ya, Dra—”

Lolipop oranye bergaris putih menyambutnya saat ia masuk.

“Eh.. Dragon? Kau ngapain?” ujar Rabbit kaget. Diperhatikannya dengan lebih baik lagi, dan ternyata lolipop itu dipegang oleh Dragon… Yang bergantung terbalik tepat di depan pintu. Dasar profesor muda yang aneh. Tapi setidaknya Rabbit jadi tahu bahwa Dragon sudah sehat. Yah, seminggu sudah berlalu, sih.

“Aku sedang mengalirkan lebih banyak darah ke kepalaku,” jawab Dragon seraya meloncat dan berlari di beranda dalam. Ia menyusuri pagar beranda, lalu melompat ke lantai satu, tepat di depan Rabbit. Ia mengulurkan tangan kanannya, menawarkan lolipop yang dibawanya pada anak yang terkejut itu. Senyumnya mengembang.

“Bisa kita mulai minum tehnya?”

Dragon benar-benar serius ingin mengajak Rabbit minum teh pada jam 9 malam sampai Rabbit pun menertawakannya.

Rabbit tetap menerima ajakan itu, sih.

Mereka membicarakan banyak hal, tentang Dragon, tentang Rabbit, tentang Elvenlith Army, tentang perlawanan mereka. Diceritakannya bahwa sebagian besar anggota Elvenlith Army setuju untuk melawan secara politik, tidak hanya secara kekuatan. Untuk itulah dibutuhkan seorang pemimpin yang cerdas dan kuat. Rabbit menyarankan beberapa nama dari Elvenlith Army, tapi Dragon bilang Arrow sudah menemukan orang yang lebih kuat.

Rabbit jadi penasaran.

###

Malam itu malam minggu ketiga. Bulan sudah lebih berani, ia menampilkan seluruh tubuhnya yang telanjang, seolah menggoda semua orang yang melihatnya.

“Lihat, Rabbit!”

Rabbit segera melihat ke luar jendela yang ditunjuk Dragon. Seorang laki-laki berjas tengah menggendong seorang gadis berwajah malas sembari melompat dari atap rumah satu ke rumah lain. “Dia orangnya. Dia anak kuat yang dikatakan Arrow.”

Rabbit terus menatap laki-laki itu dengan lekat. Dia memang memancarkan aura magis yang kuat, sih.

“Namanya Christian. Saat ini ia menjadi pelayan salah seorang tokoh kerajaan di desa ini. Ia anak yang memiliki kemampuan sihir yang hebat, tapi ia masih kalah cerdas dari raja yang sekarang,” Dragon meneguk tehnya. “Tapi jangan khawatir, ia punya cara. Ia akan mencari dan berkolaborasi dengan orang yang cerdas dari dunia lain—dunia manusia biasa, dan sepertinya gadis itu adalah orang cerdas itu.”

Rabbit berpikir, padahal mendapat ide untuk berkolaborasi daripada mencari orang yang kuat dan pintar itu saja sudah cukup cerdas.

“Sepertinya mereka bisa dipercaya untuk menjadi tokoh utama kita…”

Tiba-tiba Dragon mengalihkan pembicaraan. “Kau tahu, Rabbit, aku mendapat tugas untuk mengubah Minicri.”

“Aku tahu, aku lihat di dokumenmu,” ujar Rabbit, menatap irisan lemon yang mengapung di tehnya. “Yang aku tidak mengerti itu mengubahnya jadi apa.”

“Kau tahu kan, Minicri itu makhluk yang mirip pygmy. Bedanya, kecerdasan mereka luar biasa, bahkan jauh melebihi raja sekarang. Mereka juga memiliki intuisi yang hebat, sehingga mereka bisa menemukan harta tersembunyi atau tambang dalam waktu singkat. Tapi, mereka hanya hidup selama dua hari.”

Rabbit mengangkat kepalanya dan memandang Dragon. “…Iya. Lalu?”

“Raja ingin memanfaatkan mereka. Selama ini hidup para Minicri adalah seperti ini: hari pertama untuk diajari berbicara, dan hari kedua untuk bersosialisasi dengan orang lain serta membuat kenangan. Raja menyuruhku meneliti mereka dan membuat mereka hidup lebih lama.”

Rabbit tidak bisa berkomentar. Ia tidak begitu mengerti di mana masalahnya, jadi ia hanya meneguk tehnya.

“Kasihan, kan? Mereka yang seharusnya hidup sebentar tapi senang malah harus hidup lama dan tersiksa,” kata Dragon.

“..Oh.. Iya, sih..”

“Semoga aku tidak pernah berhasil. Mereka punya hidup mereka sendiri, dan aku—juga siapa saja, tidak perlu mencampurinya terlalu jauh.”

Untuk saat itu saja, selama beberapa detik, Dragon terlihat sangat bijak.

###

Malam minggu keempat. Bulan menutup tubuhnya perlahan, seolah sudah puas menunjukkan keindahan tubuhnya.

“Bagaimana tentang Christian?”

“Dia sudah masuk kerajaan, dan belum ada orang yang tahu hubungannya dengan Elvenlith Army. Kemajuan mereka bagus, kok, sebab gadis dari dunia lain itu benar-benar cerdas,” jawab Dragon sambil menghabiskan cake strawberry yang dimakannya.

Dalam dua minggu, Christian dan gadis itu sudah bisa menyusup dan mendapat pangkat di kerajaan… Mereka memang kombinasi yang hebat.

Dragon berjalan pelan ke sebuah pintu. Ia membuka pintu kayu itu dengan tidak sabar. Tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan, “Lihat Crystalline-ku ini! Cantik, kan?”

Mata Rabbit hampir membelalak saat melihat apa yang ditunjukkan Dragon. Seonggok tulang belulang manusia, sepertinya perempuan, yang dipakaikan gaun yang indah, tapi sudah compang-camping. Rambut tulang belulang itu sudah banyak yang rontok dan menguning, begitu juga dengan tulang belulangnya. Ketika tengkoraknya meleset dan hampir terjatuh, Rabbit menjerit pelan karena mengira tengkoraknya bergerak sendiri.

Oh, iya… Arrow dan seniornya yang lain memang pernah bilang bahwa Dragon memiliki seorang sahabat perempuan yang sangat disayanginya. Sahabat itu tewas dalam peperangan yang dialami Faires Thallia sepuluh tahun lalu, dan sejak saat itu Dragon mengalami shock berat. Entah bagaimana, ia bisa mendapatkan tubuh sahabatnya dan mengawetkannya. Tapi Rabbit tidak menyangka ‘tubuh’ perempuan itu berwujud tengkorak…

“Kenapa diam, Rabbit?” Dragon mencium dahi Crystalline. Sambil setengah tertawa, ia melanjutkan, “Jangan bilang kau jatuh cinta pada sahabatku Crystalline!”

Satu hal yang aneh dari Dragon: ia selalu saja bilang, ‘sahabatku Crystalline,’ tapi ia melakukan hal-hal mencurigakan seperti mencium punggung tangan atau dahi tengkorak Crystalline, seolah mereka adalah sepasang kekasih.

“Ah, bukan apa-apa,” jawabnya sambil memperhatikan Dragon yang mencium dahi Crystalline dengan lembut. Hampir mengerikan, tapi di saat seperti ini, tatapannya terlihat sedih.  Rabbit jadi ingin menghiburnya. “Tapi Crystalline memang cantik.”

“Benar, kan? Tapi semua orang kerajaan dan orang desa yang datang ke sini selalu takut padanya. Mereka bahkan memintaku membuangnya! Ya ampun.. Aku tidak habis pikir, deh. Aku selalu mendandaninya dengan yang terbaik, kok.”

Rabbit tidak bisa berkomentar apa-apa. Orang-orang kerajaan Faires Thallia—orang-orang yang menjadi atasan organisasi mereka—itu memang bukan orang-orang yang akan mudah memakluminya. Mereka tidak pernah peduli, mereka hanya mempekerjakan Dragon dan yang lain, dan Dragon dan yang lain tidak punya pilihan lain kecuali menurutinya.

Dragon tegar dan kuat. Pada posisinya yang sulit itu, ia masih bisa tersenyum dan mempertahankan pekerjaannya, bahkan membuat kemajuan bagi Elvenlith Army.

Tapi saat Dragon menatap Crystalline, ia terlihat sangat kesepian…

Di saat seperti inilah Rabbit harus menemaninya.

“Dragon tidak perlu khawatir,” ujar Rabbit seraya bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Crystalline. “Mereka tidak punya hak untuk mengusir Crystalline. Walaupun mereka adalah atasan kita, mereka tetap tidak bisa mencampuri urusan pribadi kita, kan?”

Dragon yang sudah kembali ke kursinya pun memandang Rabbit dengan terkejut. Perlahan fokus matanya berpindah ke bawah, dan—eh, apakah itu senyuman? Rabbit jadi bangga bisa jadi sahabat yang baik.

“Lagipula, menurutku Crystalline lebih cantik dari perempuan mana pun.”

Rabbit menunduk dan mencium dahi Crystalline. Di luar dugaan, tengkorak itu tidak berbau busuk. Mungkin Dragon memang merawatnya dengan baik. Mungkin juga ia mencuci—‘memandikan’?—Crystalline setiap hari.. Bau Crystalline seperti strawberry, sih. Rabbit menjilat bibir secara refleks. Eh, rasanya kok juga strawberry?

“Dragon, kau memandikan Crystalline dengan sabun strawberry? Atau memberinya parfum?” tanya Rabbit, menoleh ke arah atasannya dengan penasaran.

“Eh? Tidak, kok. Ya ampun, masa aku memandikan Crystalline? Dia perempuan dan aku laki-laki, lho!” jawab Dragon sambil memakan sepotong strawberry cake lagi.

..sambil memakan sepotong strawberry cake lagi..

“Ya ampun,” Rabbit menjerit pelan. Untung Dragon tidak mendengarnya.

###

Malam minggu kelima, atau pertama di bulan selanjutnya. Bulan membuka lagi sedikit bagian pakaiannya.

“Tidak bisa, aku tidak bisa seperti ini,” keluh Dragon.  Ia duduk bersandar di sofa, posisinya agak merosot, seolah ia mencoba untuk berbaring. Tangan kanannya diangkat menutupi matanya. Ia terlihat sedih dan kesal. “Aku terus mencoba, tapi Minicri-Minicri itu—mereka semua malah—ma—mati lebih cepat gara-gara ramuanku.”

Rabbit memandangnya dengan cemas. Tidak biasanya Dragon menunjukkan sikap seperti itu. Dragon adalah orang yang riang dan selalu tertawa, tapi malam itu…

“Dragon—”

“Kemarin aku memang berkata kalau aku tidak ingin berhasil. Tapi bukan ini yang kumaksud. Aku tidak ingin mengulang-ulang kesalahanku. Aku tidak ingin menjadi ilmuwan yang kejam, yang hanya bisa membunuh orang yang tak bersalah. Aku ingin menghentikan proyek gila ini, tapi apa yang bisa kulakukan? Aku hanya seorang bawahan!”

Rabbit mengurungkan niatnya untuk bicara. Seberapapun inginnya ia untuk menghibur Dragon, ia tidak bisa langsung menghiburnya di saat seperti ini. Ia harus memberi Dragon waktu untuk menenangkan diri.

Setelah beberapa jam dalam keheningan, Rabbit membuka suaranya. “Tidak apa-apa, Dragon. Kau bukan membunuh mereka karena kau ingin, kan? Memang situasinya yang rumit. Kau tidak bersalah…”

“Tapi tetap aku yang membunuh mereka, kan?!” Dragon menyalak marah.

Rabbit terlihat sedikit ragu, tapi tetap meneruskan kalimatnya. “Jangan khawatir. Situasi ini akan segera berakhir. Kita hanya perlu percaya pada Christian dan gadis itu…”

“…Maaf.”

“Eh? Kenapa? Kau tidak bersalah, kok…”

“Bukan, maksudku maaf padamu. Aku lebih tua enam tahun darimu, tapi malah kau yang melindungiku seperti ini…”

Kadang Rabbit merasa aneh pada Dragon yang terlalu mempermasalahkan itu. Yang namanya sahabat itu memang harus melindungi satu sama lain kan?

###

“Rabbit,” panggil Dragon pada suatu sore yang damai. Tidak, meskipun dibilang damai, sebenarnya sedang terjadi peperangan di Faires Thallia. Christian dan gadis dunia manusia itu sedang berjuang melawan raja yang sudah menampakkan wujud aslinya yang jahat, tetapi Dragon dan Rabbit malah duduk-duduk di beranda rumah Dragon. Apa boleh buat, mereka memang tidak bisa bertarung.

“Ya?” jawab Rabbit, pandangannya tetap pada hutan dan desa yang sepi. Meskipun Rabbit membawa cangkir berisi teh, itu bukan acara minum teh, karena acara minum teh mereka dilakukan pada jam 9 malam.

“Kalau aku pergi… Kalau aku mati nanti, tolong jaga Crystalline, ya?”

Jantung Rabbit serasa copot mendengarnya.

“Jangan mengatakan hal begitu!” ujar Rabbit, memaksakan tawa. Ia berusaha untuk tidak memikirkan hal itu, meskipun ia tahu suatu saat nanti pasti hal itu terjadi. Tapi hal itu seharusnya masih jauh, kan? Setidaknya, ia tidak ingin memikirkannya sekarang.

“Aku serius. Jaga dirimu baik-baik, ya.”

“…Tadi katanya jaga Crystalline?” tanya Rabbit heran. Apa atasannya sudah mulai pikun karena banyak pikiran…

“Iya, dua-duanya sama saja,” kata Dragon. Wajah seriusnya berubah menjadi senyum yang hangat. “Bagiku, sekarang Rabbit sama pentingnya dengan Crystalline-ku yang cantik.”

Rabbit ingin protes karena masalah ‘pergi’ itu, tapi entah mengapa rasanya sulit.

###

Malam minggu keenam. Rabbit tidak sempat memperhatikan bulan karena ia tengah menghadapi situasi yang sulit.

Dragon duduk di atas sofa dengan posisi yang terlihat tidak nyaman. Wajahnya terlihat sakit. Ia tidak menangis, tapi wajahnya merah. Nafasnya tidak teratur. Sangat tidak teratur, sampai ia terlihat seperti sesak nafas..

Tunggu. Jangan-jangan..

“Dragon..? Kau tidak apa-apa?” panggil Rabbit dengan cemas. Ada yang tidak beres dengan Dragon. Apalagi akhir-akhir ini kondisi tubuhnya semakin melemah, sampai ia memperbolehkan Rabbit tinggal di rumahnya.

Yang ditanya tidak menjawab. Tubuhnya malah bergetar dan mengejang kuat. Ia berjuang untuk membuka matanya dan memandang Rabbit. Senyum lemahnya tersungging.

“Dragon—”

Rabbit beranjak dari kursinya dan berlari mendekati Dragon, tapi sudah terlambat. Langkah Rabbit pun terhenti sejenak, sebelum akhirnya dilanjutkan dengan pelan. Ia berdiri di samping Dragon yang sudah tak bergerak. Diamatinya atasannya itu.

Wajahnya pucat, tapi tenang. Rabbit tidak perlu menutupkan matanya karena matanya memang sudah tertutup. Peluh yang membasahi tubuhnya terlihat bersinar ketika membiaskan cahaya bulan yang lembut mengelusnya. Senyumnya masih belum hilang.

Sampai tadi pagi, wajah ini masih menunjukkan semangat tinggi…

“Rabbit, Dragon, kita menang! Aku berhasil mengalahkan raja yang ternyata adalah setan yang menyamar dan—” Christian yang baru saja masuk mendobrak pintu langsung terdiam saat melihat Dragon tergolek lemas. Wajahnya seperti sedang tidur, tapi cahaya di dalamnya telah pergi jauh.

Sampai tadi pagi, wajah ini masih tersenyum riang pada Rabbit…

“Selamat tinggal,” bisik Rabbit tepat di depan telinga Dragon. “Mimpi yang indah, Dragon…”

Iklan