TEMMORA (BUAH POHON DOA)

Elbintang

Pada awalnya sebuah biji dari pohon do’a yang menetap di hati menjadi harapan. Menjelma pertama kali dari harapan adalah kata-kata yang menghadirkan ruang, memisahkan kesenyapan, menggantungi langit dengan bintang-bintang, memancang gunung-gunung sebagai pasak dan akhirnya menghamparkan bumi yang sudah jadi.

Sebelum dihamparkannya bumi, kata-kata yang dari harapan itu  menjadikan air membelah dua, asin dan tawar, menciptakan mimpi-mimpi dan daratan, serta makhluk-makhluk yang tak terlihat dan kegelapan.

Bermulanya sekali adalah harapan. Dan semuanya tercipta.

Dalam satu ketika tanpa jeda, harapan mencipta segala macam binatang dan tanaman. Begitu juga cara manusia diciptakan, juga dewa-dewa dan jurang-jurang. Rumput-rumput yang mengikat tanah dan sungai-sungai yang membuatkan batasan-batasan. Lalu begitu semuanya siap, harapan memberikannya pada Godem Lak untuk dijaga.

Namun, seperti usia dunia yang sudah sangat tua, banyak hal yang terjadi. Seperti kelahirannya takdir, munculnya keinginan dan ambisi, hadirnya api, angin dan kehidupan juga bertambah usianya para kisah-kisah.

Begitu pun, buah dari pohon do’a terus bertahan di sana. Karena ia disabdakan  kekal. Ia bertahan bahkan setelah peristiwa usai, mimpi-mimpi menjadi debu dan manusia lenyap. Kecuali itu, beberapa orang mungkin akan berkata-kata lagi dengan harapan. Jika saat itu tiba, seringkali harapan mencipta ulang keberadaan.

Godem Lak si Tuan Pencipta selalu mempercayai hal itu. Maka setelah ia bertemu dengan yang terceraikan dari takdir. Ia tahu saatnya untuk bersiap siaga.

***

Mora berlari dengan sepenuh upaya yang ia punya. Tak sempat menggunakan alas kaki, tapaknya merasakan aspal yang panas membara dibakar matahari. Hari ini, entah apa alasannya Godem Lak, si Tuan Pencipta, menggeserkan letak matahari menjadi lebih dekat dari biasanya. Saat cakrawala jingga baru saja terang benderang, di segala penjuru orang-orang sudah mengeluh pusing, pingsan bahkan sekarat. Mora menjadi sangat sibuk. Ia bertugas untuk membawa pesan dari setiap orang ke rumah-rumah penyembuh. Para penyembuh juga sangat sibuk hingga tidak jarang bukannya berterima kasih, mereka malah membentak-bentak Mora begitu mendapatkan pesan “segera datang” atau ”mendesak”.

“Tidak bisa lebih cepat lagi,” keluh Mora begitu mendengar dentang jam besar berbunyi. Ia sudah melakukan pekerjaan lebih dari setengah hari dan masih ada satu pesan yang belum ia sampaikan. Pesan penting untuk alamat yang penting. Lebih penting dari itu, ia harus keluar dari ruas jalan besar ini sebelum orang-orang tumpah. Dentang jam besar itu menandakan waktu kegembiraan yang berpusat di jalan besar.

Bagaimana pun orang-orang harus menikmati kesenangan sebelum Godem Lak benar-benar menjadi gila dan menghadirkan masa-masa suram yang panjang. Mora terkejut dengan  pikiran yang baru saja melintas di benaknya. Tidak baik menginginkan keadaan menjadi lebih buruk dari seperti sekarang ini bagi Godem Lak, tegurnya mencela diri sendiri.

Godem Lak, si Tuan Pencipta adalah penjaga semesta saat ini. Ia sudah hidup ribuan purnama. Masih terlalu muda dibanding usia Godem Lak-Godem Lak sebelumnya, yang hidup ratusan hingga ribuan juta purnama. Hitungan yang tidak begitu tepat, hanya sekedar agar orang bisa membayangkan bagaimana ukuran tua dan muda bagi Godem Lak. Jika dibandingkan dengan dirinya yang baru berusia delapan purnama tentu tak terbayang sama sekali hidup selama itu.

Mora disibukkan dengan pikirannya, hingga kehilangan kesempatan untuk bergerak cepat dan ia terjebak di antara para pekerja yang keluar beristirahat dan murid-murid pelatihan yang memamerkan hasil kreasi mereka. Jalanan gaduh seketika!

Pekikan kegembiraan pertama berasal dari kreasi hujan permen limau yang segar. Disusul kemeriahan beberapa orang yang menaiki macam-macam benda – gayung, batang sapu, permadani, balon bahkan ada yang menjerat awan dan bintang- untuk ke langit menciduki sungai cokelat yang menggiurkan. Ianya melengkung tinggi di sana. Lalu gelak tawa anak-anak usia dua purnama yang meyoraki lomba adu cepat antara ikan yang menaiki angin dan burung yang berenang di air. Kesenangan bertambah saat pelangi mengeluarkan nada-nada merdu yang tepat dan berkelindan indah dengan semua kemeriahan. Benar-benar pesta.

Setiap hari selalu dengan pesta yang berbeda. Setiap masa dengan kegembiraan yang sama. Seperti tanda syukur. Pengulangan yang selalu terjadi tak membuat orang berpikir untuk mencari cara menghentikannya. Mungkin karena itu hidup lebih berarti bagi mereka, putus Mora capek meladeni pikirannya yang seolah hendak memberitahukan sesuatu yang tidak dapat diingatnya.

Mora berjalan cepat-cepat mencoba mengacuhkan semua gegap gempita yang terjadi. Kemudian ia melihat balon-balon dari air sabun itu. Kekehan geli, decakan gemas dan terganggu, serta kata-kata makian tumpang tindih keluar dari orang-orang yang ditempeli, disundul, dijilat dan digigit oleh balon yang berbentuk macam-macam binatang. Balon-balon itu ada yang segarang bebek, juga banyak yang bodoh dan lucu seperti singa, namun Mora benar-benar tidak ingin berurusan dengan mereka.

Dulu, pernah ia sengaja memecahkan balon anjing dan kucing yang menyundul kepalanya dan menggigit bahunya, namun sial, balon-balon yang pecah itu mengikutinya selama beberapa menit yang seperti selamanya. Menangis dan meraung-raung. Belum pernah ada lagi kejadian yang sememalukan itu terjadi sebelum atau bahkan sesudahnya.

Kemeriahan semakin menjadi. Mora mencari dan mencari. Begitu mata Mora mengingatnya, sebuah gang lebar yang jarang dilewati ada di sana, di sebelah kanan jalan, terbuka dan membebaskan. Gang yang suram dan berbau kematian. Bukan apa-apa. Hanya kesan yang dihasilkan dari praktek murid-murid pelatihan tingkat atas. Mereka kadang-kadang mencoba membuat mimipi-mimpi buruk atau menguatkan keinginan-keinginan dan ambisi di tempat ini. Tidak ada kematian yang sebenar-benarnya.

Sebelum belokan menuju gang itu, Mora melihat seorang murid pelatihan yang sedang mencoba kemampuan kreasinya membakar diri. Belum sempurna karena api kreasi anak itu hanya mampu menyelubungi sebagian dari tubuhnya.

”Ahhai Mora…aaah!”sapaan murid itu teralihkan oleh api buatannya yang tiba-tiba membesar sebagian. Mora melambatkan langkahnya. Warna kuning keemasan api itu dan semburat merah garang sungguh terlihat menakjubkan. Mora mendesah begitu teringat ia tidak boleh berlama-lama. Dengan meneguhkan hati ia kembali melangkahkan kakinya lebih cepat. Kali ini berlari. Dan…

”Bhhuaaa!…”Mora jatuh bergulingan ke dalam serupa jurang dari es yang ada di tengah-tengah jalan.

”Ah Mora, aku tadi baru mau mengingatkan. Salahmu terus saja berlari,”tegur suara perempuan dari atas jurang.

”Ay Alina, menunggumu berhenti bermain dengan api bisa-bisa aku tidak lagi dipekerjakan,”jawab Mora takjub menyadari bagian tubuhnya tidak ada yang sakit.

”Bermain ya? Kalau kau menyebutnya begitu mungkin ada gunanya jika…”

”Lebih berguna dari itu, bisakah kau menolongku keluar dari sini?”potong Mora cepat.

Alina berdiam beberapa lama. Sedikit lebih lama dari perkiraan Mora. Lama. Mungkin gadis itu berniat meninggalkannya.

”Apa mereka sudah berhasil membuat salju betulan di bawah sana?”tanya gadis itu tiba-tiba setelah Mora hampir yakin gadis itu sudah pergi.

Mora menggelengkan kepalanya namun cepat-cepat menjawab begitu sadar bahwa mata Alina tidak bisa mencapai tubuhnya, ”Tidak. Mereka belum sehebat itu,”syukur Mora sambil meletakkan tangannya ke dinding jurang. Empat hari yang lalu, murid-murid pelatihan itu hanya mampu menggambar jalan yang seolah-olah jurang. Mora sama sekali tidak menyangka kalau hari ini mereka bisa membuat jurang es. Walau…hawanya masih sepanas jalan aspal.

Mora mendongakkan kepalanya, ”Oi Alina!”

“Sebentar! Diamlah di situ,”bentak Alina galak.

Dia memang cocok menjadi Alina Putri Petir

Dari bawah Mora muncul berkas sinar kuning muda. Makin lama makin menggelap dan berkas jingga berbaur masuk. Makhluk itu membungkus tubuh Mora dan membawanya ke atas dengan membentur dinding jurang beberapa kali. Tertusuk puncak tajam yang menonjol dan membuat tubuh Mora seolah di kocok ke atas dan ke bawah.

Begitu menjejak di tepi jurang Mora tak tahan untuk bertanya,”Apa tadi itu?”

Gadis berambut sebahu yang kini terlihat jabrik dan kusut dengan beberapa jumput rambutnya yang menegang ke atas menjawab dengan enggan.

”Apiku,”

Mora tertegun. Perlu usaha yang cukup keras agar ia berhasil menahan semburan tawanya keluar. Dibandingkan Alina, kejadian seumur hidup yang dilewati Mora tidak akan menjengkelkan melebihi ini. Api buatan Alina tidak panas. Sama sekali tidak.

”Terima kasih atas bantuannya, Alina. Sayangnya aku buru-buru. Kalau tidak, aku pasti mau saja melihatmu berlatih dengan api,”Mora melebarkan senyumnya.

”Sampai jumpa…!”Mora berlari melesat seperti sebelumnya.

“Temmora!”panggil Alina terdengar bingung. Mora berhenti dan menengok. Selembar kain kecil melayang ke arahnya.

”Ikat kepalamu jatuh!”

Ia ketahuan?

***

Tidak sampai limabelas menit kemudian, Mora tiba di depan rumah Bate Shasha dengan keringat meluas dimulai dari ketiak, dada, punggung hingga ke seluruh pakaiannya. Rumah Bate Shasha, penyembuh nomor satu, berdiri kokoh, terbuat dari kayu pohon besi yang kuat. Warnanya hijau muda menyakitkan mata. Terlebih di terik yang menyilaukan seperti hari ini. Pekarangannya luas dengan banyak macam pepohonan dan tumbuhan. Begitu kaki menginjak masuk, wangi bunga dan segarnya harum buah menyerbu hidung. Siapa saja, jarang ada yang bisa tahan untuk tidak memetik buah atau bunga di sana.

Dulu sekali, Mora pernah tergoda. Ia memetik buah yang bentuknya bulat sekepalan tangan. Warnanya merah jambu dengan semburat kuning-jingga. Isinya lembut dan wangi. Tidak begitu asam dan segar bukan main! Sayang, buah itu bukan untuk dimakan begitu saja. Itu salah satu obat atau racun tergantung cara meraciknya. Efek buah itu membuat Mora tuli dan tak kasat mata selama berminggu-minggu. Buah Spinya. Sepi dunianya. Mora tak tahan jika mengingat hal itu. Hal sebodoh itu.

“Temmora! Hentikan itu. Kau pikir sudah berumur ribuan tahun hingga pantas untuk berkeluh walau hanya dalam hati?”seruan lantang dari dalam rumah cukup membuat Mora menciut dan merasa usianya kembali ke tiga purnama dan pantas dimarahi dengan galak oleh nenek tua seperti Bate Shasha.

Mora melangkah masuk dengan cepat-cepat.

”Cuci kaki dan tanganmu! Lakukan jangan terburu-buru. Kau kira dunia ini dibikin dengan terburu-buru? Untuk apa berdesak-desakan dengan banyak orang atau jatuh ke dalam jurang jika semuanya tidak bisa ditangani dengan baik?”

Bate Shasha terlihat tidak pernah berubah sejak dulu sekali. Menurut orang-orang ia bisa saja tampil secantik anak muda usia sepuluh purnama. Bukan seperti tampilannya saat ini seperti perempuan di usianya. Perempuan yang sudah sangat tua. Tua sekali. Bahkan usia dunia lebih muda dari dirinya. Ia bertubuh kecil dan kadang terlihat seperti tembus pandang. Ia berbau kayu manis. Seperti sebuah kenangan.

“Makanlah dulu,”ujar Bate Shasha yang terdengar seperti perintah di telinga Mora.

”Tidak, terima kasih. Belum lapar,”

”Kau sudah menghabiskan tenagamu untuk menyimpan hal-hal yang harus disembunyikan. Belum lagi sepanjang hari kau mendesah panjang-panjang dan berkata-kata kecuali keluhan. Itu semua menghabiskan energi. Makanlah dulu. Kau sebenarnya lapar,”

”Tidak juga,”

Bate Shasha melepaskan tatapan tajam yang menegur. Ia menyodorkan sepiring kacang merah ke arah Mora. Kacang merah yang pipih penuh dimasak hingga pecah dan memperlihatkan dagingnya yang putih bak mutiara. Ianya disiram gulai hitam yang dibumbui wewangian daun-daun asam pedas. Di atasnya ada irisan hijau dan kuning yang menguarkan wangi jeruk manis. Kemudian Bate Shasha menyodorkan piring besar satu lagi berisi paha unta yang lebih besar dari paha Mora.

Mora ingin mengatakan tidak sekali lagi. Namun ia yakin pada akhirnya ia harus memakannya juga. Jadi, Mora merasa benar-benar kenyang.

Diawasi Bate Shasha yang seolah tidak ingin satu biji kacang merah luput dari suapan Mora, ia mengunyah pelan-pelan hingga piringnya licin. Ini seperti makan terakhir terpidana mati, pikir Mora. Bukan berarti ia pernah melihatnya, hanya pengetahuan itu ada di sana.

Pengetahuan itu ada bersamanya selalu. Mora membeku mendapati pengertian kalimat itu menyerapnya dalam kilasan peristiwa yang entah kapan.

Keinginan-keinginan yang membakar tumbuhan dan akar-akar batu hingga debu. Angkasa melemparkan bintang-bintang. Gunung-gunung menghantam lautan. Es-es mencair di bumi dan di langit. Api menghilang tergantikan kegelapan panas yang tak bersumber. Mimpi-mimpi kosong. Orang-orang bersimbah darah. Kehidupan menggila.

Lalu rasa bersalah menghantam Mora bagai lemparan pisau menembus dada. Ia mencari nafas ke dalam paru-paru. Nafasnya seolah berubah menjadi besi panas. Membara. Cengkraman kuat seperti membuat luka menekan punggungnya hingga kibasan besar seperti awal badai membuatnya terhuyung ke belakang. Ia tersadar. Sayap berkilauan menampilkan semua warna mengembang di balik tubuhnya.

”Selamat datang Godem Lak baru,”

Entah sejak kapan, ruang tamu Bate Shasha dipenuhi beberapa orang yang tidak ingin ditemuinya dalam keadaan seperti ini.

Mereka tidak seharusnya melihatku begini, pikiran Mora memberontak.

“Harusnya bagaimana?”tanya nyaring yang memekakkan telinga itu berasal dari Bantha, Putra Kehidupan. Bocah cerdas berusia empat purnama.

Sudah kukatakan padamu sebelumnya. Mereka akan datang dan mendukungmu. Suara Godem Lak si Tuan Pencipta di beberapa purnama yang lalu seolah mengejeknya kini. Pengetahuan yang tak berguna!

“Aku bukan Godem Lak yang baru. Tidak untuk masa ini,”ucap Mora berusaha mengatasi rasa bersalahnya dengan lebih yakin.

Godem Lak yang baru akan memicu kegilaan pada Godem Lak yang lama. Kemudian energi penguasa lama itu menenggelamkan dunia dalam nestapa, hingga akhirnya Godem Lak yang baru memenangkannya.

“Jadi sayap berkilauan itu hanya hiasan kreasi yang sementara saja?”tanya Bantha dengan wajah polosnya.

“Atau kegilaan Tuan Pencipta hari ini yang menyeret langit lebih dekat hanya sakit biasa yang bisa disembuhkan Bate Shasha?”timpal tanya Nueja pemilik ribuan purnama mimpi-mimpi. Orang terkasih dan dikasihi Godem Lak.

“Atau bagaimana dengan kilauan perak rambutmu dan tatapan matamu yang bisa membuat semesta runtuh?”ujar Bate Shasha.

“Matanya yang mana?”tanya Bantha ngeri.

Sebelum Mora bersuara, lolongan yang sahut menyahut menghentikan semuanya, bahkan angin.

“Tidak mungkin!”seru Nueja kaget,”Ini belum lagi senja,”desisnya menatap Mora lekat-lekat.

“Kehidupan mulai meninggalkan Godem Lak si Tuan Pencipta,”ujar Bate Shasha terdengar sangat sedih.

“Bukan,”geleng Bantha,”Kehidupan menyingkir dari si Tuan Pencipta dan memilih di sisi Godem Lak,”ucapnya penuh keyakinan.

“Jangan begitu,”pinta Mora pada Bantha. Putra Kehidupan itu melengos. Hawa tidak enak membekap dada Mora. Perasaan kehilangan dan keinginan memberontak memeras hati hingga terasa sakit.

“Begitu bagaimana?”

“Begitu seperti pilihannya hanya antara kehidupanku atau kemusnahan Godem Lak si Tuan Pencipta. Begitu seperti setelah semua kekuatan untuk menjaga kehidupan manusia, kita tidak berdaya menjaga kehidupan kita sendiri. Kehidupan penguasa kita. Begitu seperti kita hanya bisa menjadi boneka bodoh oleh yang kita sebut takdir. Ia yang tak ada bedanya dengan kita”

Bate Shasha menganggukkan kepalanya,”Memang begitu tepatnya,”

Walaupun ingin sekali mengguncang orang-orang di depannya atau berteriak hingga putus urat lehernya, seperti sudah terlatih Mora hanya menggelengkan kepala membalas ucapan Bate Shasha, “Tidak akan. Bukan untuk itu aku dinamakan Temmora,”

Ada kisah untuk Temmora. Nama yang tersimpan dalam mimpi-mimpi saat dunia masih sangat muda. Dia anak seisi dunia. Dengannya Godem Lak berumur panjang. Padanya kehidupan mengambil warna-warna. Lalu kisah-kisah itu bertemu keinginan dan ambisi, mereka bersekutu mencemburui Temmora. Kebahagiaan pelan-pelan lenyap. Duka nestapa kemalangan bertubi-tubi datang. Orang-orang saling berperang tak berkesudahan. Tak ada yang mampu menghentikan. Dunia manusia tersia-sia dan kehilangan arah. Untuk itu, takdir datang menawarkan dirinya pada Godem Lak. Ia menentukan batas-batas keinginan dan ambisi. Ia melakukan perjanjian dengan seisi dunia. Kecuali Temmora, takdir  tak bisa menyentuhnya.

“Si Tuan Pencipta menamaimu Temmora. Dan menyembunyikan arti nama itu hingga angin pun tak bisa mengenalinya,”Nueja menelengkan kepala. Ia menipiskan bibirnya seperti menggambar senyum di sana,”Bahkan si pemilik nama tak pernah tahu,”

Mora menyentuh kepalanya dengan kepalan tangan, “Hanya pada awalnya aku tak tahu,”kemudian Mora menepukkan kedua punggung tangannya tiga kali.

“Pesan untukmu Bate Shasha,”ucap Mora dengan khidmat.

Liukan asap putih keluar dari tangan Mora membentuk pesan yang hanya bisa di baca oleh Bate Shasha.

Perempuan tua itu mengernyitkan kening. Setiap orang yang berusaha mendengarkan pikirannya, mungkin tidak mendapatkan apa-apa. Orang kepercayaan Godem Lak si Tuan Pencipta, memang harus mempunyai kemampuan tinggi menyimpan pikiran. Bate Shasha adalah orang kepercayaan Godem Lak si Tuan Pencipta. Tapi, Mora juga memiliki kemampuan yang sama dengan Godem Lak, mungkin melebihinya. Jadi…

“Temmora! Bisakah kau tidak ikut membacanya keras-keras di dalam pikiranku?”tegur Bate Shasha membulatkan matanya ke arah Mora.

Mora tersenyum salah tingkah.

Lalu Bate Shasha menatap tajam-tajam setiap orang. Mereka bertiga.

“Si Tuan Pencipta memberitahu kesadarannya mulai menghilang. Kegilaan sebentar lagi dimulai,” lalu Bate Shasha mengungkapkan isi suratnya. Sesekali lewat pikirannya, sesekali lewat ucapannya. Bahwa si Tuan Pencipta menduga ada jalan lain untuk kehidupan dunia ini selain jalan yang selalu mereka tempuh. Ia akan menempuh jalan itu, jika ia bisa menemukan satu saja sekutu. Namun ia tidak menemukan sekutu itu sepanjang hidupnya. Jika jalan itu ditempuh Temmora, semoga seisi alam raya menjadi sekutunya. Seberat apapun itu.

“Apakah yang dimaksudkan itu harapan? Jalan yang akan mematikan keinginan dan ambisi serta memudarkan kehidupan. Buah dari pohon do’a yang terlupa. Ia yang dapat menundukkan takdir,”ucap Bantha keras-keras dengan satu nafas.

“Kau mengetahuinya dari mana?”tanya Nueja terkejut. Semesta yang mendengar ikut berguncang membuat Bate Shasha mengirimkan getaran penenang yang besar.

Bantha memindai loteng rumah Bate Shasha sebelum menjawab,”Dari manusia,”jawabnya rikuh.

“Mereka memang pintar tapi sering lupa,”ucap Bate Shasha tersenyum.

Mengumpulkan harapan dari orang-orang. Mendorong manusia percaya akan harapan. Sambil membiarkan mereka mengalami kesedihan dan kemalangan yang tak ada hentinya. Itu mungkin seperti membawa manusia pada zaman kegelapan.

Mendengar itu mata Bantha bersinar dengan tegas,”Itu jalan yang sulit, tapi kehidupan pantas melakukannya,

“Jadi kau percaya padaku?”seru Mora menahan dirinya untuk melonjak girang. Mudahnya ia mendapatkan satu sekutu.

“Aku selalu percaya padamu. Walau sempat ragu karena kau menyimpan rahasia dalam pikiranmu hingga rambutmu memutih,”ujar Bantha merengut

“Ini rambut Godem Lak!”tegur Mora setengah hati.

“Aku tahu,”

“Karena Liana melihatnya hari ini maka kekuatan Godem Lak milikku menguat,”

“Aku tahu,”

“Eh. Jadi Liana tahu tentang aku?”tanya Mora terkejut

Bantha mencondongkan tubuhnya ke arah Mora. Usia mereka terpaut beberapa purnama,” Dia itu pengawal setia si Tuan Pencipta. Aku harus berulang-ulang menjamin bahwa jika kau benar-benar adalah Godem Lak yang baru, kau tidak akan membunuh Godem Lak si Tuan Pencipta,”

“Tidak akan.”tegas Mora sedikit tersinggung.

“Untuk jalan yang kau tempuh, kau harus memasung kekuatanmu,”ucap Bate Shasha hampir-hampir tak terdengar. Namun alam raya yang mendengar kembali berguncang.

“Itu memang diperlukan,”

“Lalu dengan namaku, Temmora, buah pohon do’a marilah tetapkan hati kalian untuk menanggung kekacauan yang diperbuat  Godem Lak si Tuan Pencipta,”ujar Mora dengan sungguh-sungguh, “Kita akan menyemaikan harapan agar Godem Lak si Tuan Pencipta tetap menjaga dunia hingga batas akhir yang sebenarnya, hingga damai menjemputnya menemui Gagasan Yang Tertinggi. Harapan yang terucap dari setiap hati dan lidah semua makhluk. Harapan yang akan mematahkan kutukan takdir,”

“Aku mungkin terlalu bebal jika tidak mempercayai hal itu sekarang,”sambung sang pemilik ribuan purnama mimpi-mimpi dengan yakin,”Mimpi-mimpi akan menghadirkan kembali nama yang sudah lama hilang. Mereka akan merajut kenestapaan menjadi harapan dan semangat,”

“Kehidupan di beberapa tempat mungkin akan hancur. Tapi di belahan lain selalu ada tunas muda yang muncul. Itulah harapan,”ujar Bantha mengepalkan tangannya ke atas dengan semangat.

Bate Shasha tersenyum. Mora melihat setitik air mata di sana. Temmora!

Bantha menarik celana Mora dengan tiba-tiba.

“Temmora, apa arti namamu hingga harus disembunyikan oleh Godem Lak si Tuan Pencipta?”

Terdengar desah nafas panjang dari Nueja dan Bate Shasha. Sepertinya merasa terpedaya mengagumi kecerdasan yang tadi diperlihatkan Bantha Putra Kehidupan.

Di luar Mora mulai merasakan kegilaan yang mengendap-ngendap di sekitar Godem Lak. Seperti keteguhan yang mulai berdengung di telinga setiap orang. Mora tidak bisa memaksakan jalan yang ditempuhnya untuk menjadi jalan satu-satunya yang mereka percayai. Tapi ia yakin pada harapan.

Jika saatnya nanti, semoga harapan mencipta ulang keberadaan.

Angin membawa ucapan itu hingga ke setiap buaian.

Sedang Bantha melipat tangannya di depan dada, menunggu jawaban Mora.

Iklan