THE BULLY

Chardonnay

“Roda telah berputar, selamatkanlah diri kalian”

“Sudah kubilang, ‘kan, kalau mau lewat area ini harus pakai tas Chanel!” Grace berkata dengan sinis, sambil bergidik jijik memandangi tas lusuh Iris, atau mungkin keseluruhan pakaian yang Iris pakai, tidak tahu.

Iris hanya bisa tertunduk malu, sambil meremat-remat cangkingan tasnya. Lolita dan Cherry sebagai kaki-tangan setia Grace sedari tadi cekikikan tak karuan.

“Ha Ha Ha! Kenapa, sih, di sekolah kita masih aja ada anak culun? Lihat rambutnya, kembalilah ke peternakanmu, dear, di sini tidak menerima cowgirl berkepang!” umbar Lolita sembari memutari tubuh Iris.

Grace mengikuti gerakan Lolita itu, ia bergerak ke belakang punggung Iris dan mendorong tubuh ringkih gadis itu. Iris yang sedari tadi menunduk, tersentak kaget, badannya ambruk ke depan, setengah ambruk tepatnya, yang membuat kepalanya hampir terkena ujung kursi di mana Cherry duduk.

“Aihh, jauhkan barang lusuhmu itu dari Louboutins baru ku!” teriak Cherry sambil mengangkat kakinya cepat menghindari tubuh Iris.

“Ouch!”

Kriiingg….

)()()()(

“Channelion?”

“Hadir.”

“Brody?”

“Hadir.”

“LeTeuer?”

Hening.

“Iris LeTeuer?”

Knock….knock….

“Masuk.”

Seorang gadis sambil menundukkan kepala membuka pintu.

“Iris? 5 menit.” Maksudnya ‘Iris, kau terlambat 5 menit’.

Gadis itu berjalan menuju kursi kosong di belakang. Masih menunduk, ia duduk, mengelap kacamatanya, dan mengeluarkan beberapa buku, serta sebuah pena.

Mrs. Gretchen menarik napas, lalu menghembuskannya, melanjutkan mengabsen murid lainnya.

“Psst..kau kenapa?”

Iris akhirnya mendongak, menoleh ke arah datangnya bisikan itu.

“Aku tidak apa, Gray.”

Ia membalas bisikan itu dengan pelan dan tak lupa senyum getir menghiasi wajahnya yang muram.

“Aku tidak melihat ‘aku tidak apa’ dari wajah itu, yang ada hanyalah ekspresi ‘aku sungguh kesal’ yang ku lihat.”

Gray berbisik lagi.

Kali ini Iris hanya tersenyum, lalu menulis sesuatu pada secarik kertas. Kertas itu kemudian ia remas-remas, ia melirik ke arah Mrs. Gretchen. Mrs. Gretchen terlihat sedang membaca nama yang harus ia panggil berikutnya di dalam daftar murid. Setelah memastikan nenek sihir itu tidak memerhatikan gerak-geriknya, ia melempar remasan kertas itu ke arah Gray.

‘Grace the Queen’ tertulis pada kertas itu.

“Dia lagi?”

“Yeah.”

“Sudah kuduga.”

Gray mengeraskan suaranya, tapi masih dalam tahap berbisik.

God! Gray, Mrs. Gretchen bisa mendengarmu.

Sorry, tapi kau tidak bisa seperti ini terus, Iris.”

Gray kembali mengecilkan suaranya, ia sempat melirik Mrs. Gretchen, kalau-kalau ia memang mendengar ‘bisik-teriakan’nya tadi.

“Aku tahu, aku juga sudah tidak tahan dengan semua ini, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, setidaknya sampai detik ini. Kau tahu, aku bisa saja pindah ke sekolah lain dari dulu. Atau malah sama sekali tidak daftar ke sekolah brengsek ini.”

“Ya, aku mengerti keadaanmu, tapi…seseorang harus menghentikan anjing-anjing liar itu.”

Ia menatap ke depan sambil meremas sekuat tenaga kertas yang tadi diberikan Iris.

“Sudahlah, aq nggak mau cari masalah,”  jawab Iris yang sekaligus bermaksud menyudahi bisik-bisik mereka. Mrs. Gretchen ternyata sudah selesai mengabsen.

“Ada apa dengan Precisy, Brody?”

Pertanyaan ini membuat Gray tersadar dari lamunannya.

“Psst…Gray, Mrs. Gretchen menanyakanmu tentang Roth.”

“Ha? Roth? Memang kenapa dengan dia?”

Iris hanya menggoyangkan kepalanya untuk mengisyaratkan Gray supaya melihat ke arah Mrs. Gretchen.

“Maaf,  ma’am. Memangnya kenapa dengan Roth?”

“Ku pikir kau yang harus menjawab pertanyaan itu.”

Ms. Gretchen lalu meletakkan tumpukan buku ke atas meja yang biasanya di duduki Roth. Karena itu, Gray pun sadar bahwa Roth tidak masuk hari itu.

“Oh! Err…maaf, saya…tidak tahu..”

Well, kelas akan berlanjut dengan atau tanpa bocah itu. Mohon buka buku kalian halaman 11. Ferguson, tolong baca paragraf pertama.”

Iris melempar Gray dengan segumpal kertas.

“Ada apa dengan Roth?”

“Aku tidak tahu, ini baru pertama kalinya ia tidak masuk sekolah selama kami berteman.”

“Wow, benarkah?”

Gray tidak menjawab. Entah kenapa pikirannya menjadi kacau. Melihat gelagat itu, Iris tidak meneruskan perbincangan mereka

)()()()(

“Aku tidak tahu,” jawab Iris saat Gray menanyainya apakah ia pernah berbuat sesuatu yang membuat Grace dan gundik-gundiknya tidak senang terhadapnya, ketika mereka sedang makan siang di kantin.

“Aku hanya ingat mereka sering mengata-ngataiku dengan…apa, ya? Chenel, c-chan, sesuatu yang berhubungan dengan tas?”

“Chanel maksudmu?”

“Ya, Chanel, whatever,

“Kau tahu, mungkin orang sepertimu ini memang tidak cocok masuk Chance High School.”

“ Oh, please, bahkan kau?”

Beberapa saat Gray memandang ke TV kantin yang sedang menayangkan sebuah berita tentang ‘Manusia Api’ yang menghancurkan beberapa bagian kota.

“Hei, lihat itu, Manusia Api? Ku kira hanya ada dalam dongeng.”

“Gray, topikmu melenceng.”

“Sori, tadi sampai di mana…oh,ya, bukan begitu, maksudku…saat kau memasukki salah satu High School ternama di Dallas ini, kau harus, ya…merubah sesuatu.”

“Seperti ini?” tanya Iris sambil mengibaskan kedua kepangnya.

“Atau ini?” lanjutnya sambil menarik sedikit bajunya.

“Y-yeah…”

“…dan membiarkanku menjadi salah satu dari kawanan si jalang Grace..? No Way!”

“Oh, c’mon, Iris, kau hanya merubah gayamu, itu saja.”

Iris baru saja ingin membuka mulut untuk mengatakan ‘pokoknya tetap tidak’, tetapi sebelum kata-kata itu terlontar dari bibirnya yang berkilau lipgloss dari The Body Shop , Mrs. Rai mendatangi meja mereka.

“Ku rasa kau telah meninggalkan puding ini di atas…,” sebelum ia melanjutkan kata-katanya, ia melihat Iris dengan mengangkat satu alisnya.

“…toilet,” lanjutnya sambil menunjukkan semangkuk kecil puding, yang dilihat dari warnanya seperti rasa mangga, atau mungkin jeruk. Tapi sebenarnya, yang menjadi masalah bukan rasa apa puding itu, tapi Iris tidak pernah merasa meninggalkan apapun, apalagi puding, dan tempat ditemukannya puding itu yang membuat dua bocah itu tercengang, toilet.

Gray memecah suasana aneh itu dengan tawanya yang khas, hidungnya kembang-kempis mengikuti tawanya.

“Iris, Iris, kau terkena sindrom apa, sampai harus makan puding sembunyi-sembunyi?”

“Oh, Gray, aku bahkan tidak tahu itu puding, maksudku…,” jawabnya sambil menoleh ke arah Gray, tapi sedetik kemudian ia menatap Mrs. Rai lagi, “…kenapa kau bisa mengatakan itu pudingku?”

“Ku pikir kau sudah berjaga-jaga kalau hal ini akan terjadi…,” lagi-lagi koki kantin itu membuat jeda pada kata-katanya, dan kali ini ia mengeluarkan apa yang membuat mulut Iris menganga begitu lebar, “….dengan memberi label bertuliskan namamu.”

Well, terima atau tidak, ini, aku sudah terlambat 5 menit untuk mengangkat sup kacang merah.”

Mrs. Rai mengakhiri percakapan mereka dengan menaruh puding aneh berwarna kuning itu di atas meja.

“ Jadi…”

No idea.”

Iris memandang puding kuning itu dengan tatapan ‘no ide’ nya, menyentuhnya berulang-ulang dengan jari telunjuknya, mungkin ia mengira ada makhluk hidup kecil yang kalau disentuh-sentuh seperti yang ia lakukan, akan bergerak, seperti di film alien yang mungkin pernah ia tonton waktu umur  5 tahun.

Well…,” Iris mengambil puding itu, dan membuka penutupnya, “…setidaknya untuk mengetahui apa sebenarnya yang disebut puding ini, kita harus merasakannya.”

Iris sudah bersiap melahap satu sendok kecil puding yang ternyata rasa mangga, dari baunya, tentu. Gray hanya melihat sohibnya itu sekilas, tersenyum, lalu kembali melanjutkan makan siangnya yang tadi sempat tertunda.

“Hmmm, enak juga.”

Gray tidak menghiraukannya, ia tetap makan, sambil sesekali mengecek PSP-nya. Ternyata ia sedang browsing.

“Kau tahu, tadi sempat ku pikir puding ini adalah bagian dari rencana jahat si Grace.”

Gray membuka pembicaraan lain sambil mencoba memotong seonggok daging.

“Oh, aku malah tidak kepikiran. Lagipula, si jelek itu alergi warna kuning.”

Gray tertawa.

“Wh…?”

What the..’ itulah yang mau ia katakan tapi sebelum kata-kata itu benar-benar keluar, ia kaget melihat apa yang ada di depannya, yang membuatnya jatuh ke belakang kursinya.

“Hey, hey, kau kenapa, Gray?”

Iris bingung. Gray semakin bingung, dan ketakutan, tentu saja.

“Iris…. kau dimana?”

“Tentu saja, aku di sini.”

Iris bangkit dari tempat duduknya, melihat Gray yang bingung melihat ke segala arah.

“Kau kenapa sih?”

“Aku….tentu saja mencarimu!”

“Aku di sini. Li….,” ia melihat, bukan, tidak melihat apapun. Tidak ada tangan yang memegang sendok dan mangkuk puding, tapi kedua benda itu tetap melayang, seperti memang ada yang memegang. Tidak ada badan, tidak ada apapun.

“ARGH!!”

)()()()(

“Aku tidak tahu kalau sebuah puding bisa membuat kita tak kasat mata,” kata Gray sambil menatap kosong ke depan, saat mereka duduk di bangku taman. Setelah makan siang yang penuh kejutan tadi, Ia terlihat masih terguncang. Tubuh Iris sudah kelihatan lagi. Sepertinya, untuk menghentikan efek itu harus minum air banyak-banyak. Iris melakukan itu dengan asumsi bahwa ia telah keracunan puding, walaupun tanda-tanda keracunan normal, seperti sakit perut, atau mual tidak dialaminya tadi.

“Apakah aku akan baik-baik saja?”

Iris bertanya dengan napas sedikit tersengal-sengal, dan tatapannya tak kalah kosong.

“Tidak tahu.”

“Sebaiknya kita harus kembali ke kelas, anggap semua ini tidak pernah terjadi, Oke?”

Mereka bangkit berdiri, berjalan seperti zombie, menuju ke koridor. Mereka terlihat konyol. Untungnya-dan sayangnya, itu tidak berlangsung lama karena baru saja mereka berpisah, karena kelas yang diambil jam itu berbeda, Iris sudah ditunggu oleh Grace dan kawan-kawan yang sudah bertengger di depannya kurang dari satu meter.

“Wow, rupanya si fashion disaster sedang berkeliaran di koridor, ya,” kata Grace dengan dada dibusung-busungkan, maksudnya ingin menghalangi langkah Iris. Iris terbangun dari lamunannya, dan pastinya kaget, karena ia hampir saja menubruk buah dada Grace yang terlalu busung.

“S-sori, aku tidak melihat kalian…,” jawab Iris, mulai meremat-remat cangkingan tasnya, gugup.

“Oh, tidak apa-apa, Iris.”

Lolita memotong perkataan Iris. Ia menyentuh dagu Iris.

“Cher, coba kau lihat di tasmu, apakah ada yang bisa kita berikan pada teman kita ini?”

“Coba kulihat….,” Cherry mengaduk-aduk tasnya, menemukan sesuatu yang membuatnya menyeringai seperti serigala lapar, “….yeah, permen karet ini cocok buat jepitan barumu.”

“A-apa maksudmu?”

“Apa maksudku? Pegangi dia Lolita. Ini, Grace, kau juga ingin memberinya hadiah, bukan?”

Grace mengambil sebuah permen karet dari tangan Cherry, dan mengunyahnya sebentar , kemudian mengeluarkannya lagi ke tangannya. Cherry juga demikian. Mereka sudah bersiap-siap menempelkan permen karet setengah dikunyah itu ke rambut coklat Iris. Iris hanya bisa memejamkan mata, ia tidak bisa berkutik karena Lolita mencengkeramnya dengan erat. Dan…menempelah permen-permen itu ke rambut Lolita.

Tiga gadis itu terdiam sejenak, disusul jeritan mengerikan dari Lolita.

“KYAAAAAAAAA! KALIAN APAKAN RAMBUTKU?”

“S-s-sori, Lol, seharusnya Iris, tapi…”

Iris menjadi tak kasat mata lagi, dan kabar baiknya efek itu terjadi di saat yang tepat. Kesempatan itu tidak disia-siakannya begitu saja. Ia menyikut perut Lolita, untuk melepaskan cengkramannya.

“OUCH, brengsek kalian!”

“Hei, kau tidak perlu sekasar itu!”

“Ya, kalau salah satu kalian juga tidak memukul perutku!”

“Siapa yang….DAMN!”

Iris menendang bokong Grace, dan memeloroti roknya hingga terlihat celana dalamnya yang bermotif polkadot. Ia juga menjambak rambut Cherry dan Lolita, kemudian mengadu kepala mereka seperti kambing.

“ARGH!”

Dahi Lolita sedikit berdarah.

“Ayo, pergi dari sini, jangan-jangan ada hantu disini!”

Iris tertawa cekikikan melihat ia telah menang kali ini. Iris melihat kedua telapak tangannya, lalu mengepalkannya sambil memandang lurus ke depan. Ia tersenyum.

)()()()(

“Kau menendang bokong Grace? No way!” seru Gray, dan dia tertawa.

Rupanya Iris tidak tahan untuk tidak pamer pada Gray, bagaimana ia berhasil membuat trio fashionista gila itu benjol-benjol tak karuan.

“Hahaha! Dan kau tidak melihat bagaimana aku menjambak rambut Lolita dan Cherry,” timpal Iris sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.

“Roth pasti sangat senang mendengar ini.”

“Apakah kita hampir sampai?”

“Nanti kita turun dari bus ini di depan mini-market itu.”

Mereka berdua hendak mengunjungi Roth, sekedar untuk mengecek apakah Roth baik-baik saja. Ini perlu dilakukan karena, seperti yang pernah diberitahu Gray, ini yang pertama kalinya Roth tidak masuk sekolah selama mereka menjadi sahabat. Setelah turun di depan mini-market, ­mereka segera berjalan menyusuri sebuah jalan setapak yang ada di sebelahnya. Tidak sampai 100M, sampailah mereka di rumah Roth. Tidak terlalu mewah, juga tidak sederhana, dan berdiri kokoh. Tidak ada satu pun rumah yang menjadi tetangga rumah Roth. Ini keinginan orang tua Roth, untuk tinggal ditempat yang tenang dan sepi.

“Hei, ROTH!” teriak Gray saat sambil memegangi pagar kayu jati yang membatasi rumah Roth dengan jalan. Suasana menjadi sangat hening setelah teriakan itu, tetapi tidak lama kemudian pintu utama rumah tersebut terbuka. Munculah sebuah kepala yang tidak asing lagi bagi mereka.

“Oh, Roth, kami sungguh khawatir,” sambut Iris segera setelah melihat kepala Roth.

Raut muka Iris dan Gray yang lega seketika berubah menjadi bingung, karena wajah Roth benar-benar mengekspresikan perasaan ‘aku mau mati’.

“G-grace memeloroti celanaku di depan C-crystal,” cerita Roth saat mereka telah duduk di ruang teh keluarga Precisy. Ia sesenggukan menahan tangis.

“Grace benar-benar keterlaluan,” geram Iris, mengepalkan tangan kanannya.

“Lalu? Kau lari pulang? Kapan, sih, kejadiannya, kita sama sekali tidak mengetahui Grace berbuat begitu.

“Ku-kurasa setelah bel berbunyi, ku pikir aku sudah terlambat, dan saat sedang tergesa-gesa jalanku dihalangi Grace. Semuanya begitu cepat, aku melihat Crystal menertawaiku. Aku malu, aku tidak ingin kembali ke sekolah.”

Roth menceritakan semuanya sambil membuka sebuah mangkuk kecil berisi puding berwarna kuning. Iris tidak sengaja melihat pudding itu, dan langsung mengernyitkan dahinya.

“ROTH! Darimana kau dapat puding itu??” tanya Iris histeris.

“Oh, ini, tukang pos membawakannya ke rumahku. Katanya di bungkusnya ada label bertuliskan namaku…”

Belum selesai Roth bercerita, Iris sudah memotongnya.

“Namamu….?”

“Err, ya, kenapa? Ben dan Vivienne juga dapat.”

“Ben dan Vivienne??”

Ben, remaja penggila anime, dan Vivienne, gadis kutu buku yang nilainya selalu A+.

“Mereka sedang di atas, mengerjakan proyek kimia kami. Apa ada masalah?”

“Apakah ada sesuatu yang aneh terjadi pada diri kalian setelah makan puding itu?” tanya Gray menggantikan Iris menginterogasi Roth, karena ia juga terguncang mendengar Roth, Ben, dan Vivienne juga dapat puding yang sama dengan Iris.

“Ha? Ku rasa tidak. Rasanya enak, kalian mau coba?” sahut Roth sambil menyodorkan mangkuk puding itu pada Gray dan Iris. Roth sendiri sudah makan setengahnya.

“Ku rasa, pudingnya lain,” bisik Gray kepada Iris.

“Ku rasa begitu,” balas Iris. Ia memegang pelipis kanannya seperti orang pusing, dan secara tidak sengaja ia menyenggol sebuah vas kecil di atas meja kecil, di sebelah sofa tempat ia duduk.

Dan keajaiban lain terjadi, Roth secara refleks menjulurkan tangannya untuk menangkap vas tersebut, supaya tidak pecah. Tetapi, yang membuat mulut Iris dan Gray menganga lebar adalah Roth tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri, padahal jaraknya sekitar satu meter dari tempat jatuhnya vas.

“Wow, wow,” teriak Roth terkejut sendiri melihat apa yang telah ia lakukan.

Dalam waktu yang bersamaan mereka melihat Vivienne terbang dari atas, turun ke bawah, ke ruang teh, untuk kemudian mengambil minum di dapur. Belum lagi mereka melihat Ben turun melalui tangga, dengan tubuhnya  tertutup benda-benda yang kalau diperhatikan semua terbuat dari logam.

Invisible, elastic, levitable, magnetic….what the heck with this pudding?!” teriak Iris.

Roth mencoba anggota tubuh geraknya yang lain. Ia memanjangkan kakinya sampai ke langit-langit sambil terus menyerukan ‘wow’.

Gray yang sedari tadi melihat ‘kekuatan super’ teman-temannya tertawa puas.

“Bukankah ini hebat? Kalian bisa membalas apa yang mereka perbuat terhadap kalian!”

“Mereka maksudmu Grace dan kawan-kawan?”

“Ya, dan anak lainnya yang suka menertawakan kacamata Vivienne, atau cowok-cowok basket yang suka memasukkan kepala Ben ke dalam toilet! Ayolah, kalian ingin membalas mereka, bukan?”

Iris mulai mengerti maksud Gray. Ia tersenyum. Gray memang benar, dengan kekuatan ini, mereka, Iris, Roth, Vivienne, dan Ben, anak-anak kuper, tidak lagi mudah untuk dikerjai seenaknya. Dan itu terbukti keesokan harinya di sekolah, Ben berhasil menampar habis-habisan muka Matt, anak dari klub basket yang pernah memasukkan kecoak di tasnya, dengan beberapa nampan logam di kantin saat jam makan siang. Tidak kalah seru, Vivienne berhasil membuat pingsan Cherry karena menakut-nakutinya dengan menyelimutkan dirinya dengan kain putih dan terbang ke sana kemari. Cherry mengira itu hantu. Dan Roth, ia berhasil menjegal Grace dengan kaki super panjangnya saat hendak turun dari tangga, yang membuatnya jatuh dan membuat mukanya mendarat di sebuah ember yang berisi cairan pembersih lantai, dan sampai sekarang Grace masih menggaruk-garuk wajahnya karena gatal bukan main. Iris juga sangat puas menjambak rambut Lolita saat ia sedang sendirian di kamar mandi, karena memang ia tidak bisa melihat Iris yang berada di belakangnya, bersiap menjambak rambut model-shampoo-nya itu. Ini semua hanya sebagian kecil dari aksi mereka hari itu. Mereka benar-benar puas. Walaupun begitu, mereka sedikit merasa bersalah, mereka jadi terlihat sedikit jahat, sama seperti orang-orang yang dulu pernah menyakiti mereka.

“Entah kenapa aku merasa bersalah,” kata Roth saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.

“Untuk apa? Kita hanya membalas apa yang pernah mereka lakukan pada kita!” timpal Vivienne agak tidak setuju dengan pernyataan Roth.

“Roth benar, kita jadi terlihat sama jahatnya dengan mereka,” sambung Iris.

Terlihat Ben hanya mengangguk-anggukan kepala, ia setuju pada Iris.

Gray yang juga ikut dalam perjalanan mereka itu hanya tersenyum.

“Menurutku, kalian adalah superhero. Bertindaklah layaknya mereka.

Roth menyeringai, Ben dan Iris juga. Vivienne hanya mengangkat bahu.

“Bagaimana kalau kita menamai diri kita The Bullied?” tanya Iris.

The Bullied? No way!” tegas Vivienne.

“Kami kira kau tidak setuju dengan ide superhero,” goda Ben.

“Ganti itu dengan The Bully, maka aku akan ikut!”

Iris, Ben, dan Roth saling berpandangan, lalu mereka semua tertawa.

Ternyata, belum satu hari The Bully dibentuk, mereka sudah dihadapkan dengan tantangan besar. Baru saja mereka turun dari bus, mereka melihat sesosok makhluk yang dijuluki Manusia Api ,yang sedang santer diberitakan di TV, dalam jarak kurang dari 500M, sedang membakar beberapa toko dan sebuah kantor kepemerintahan, serta sebuah kantor pos.

Oh. My. God!”

Orang-orang terlihat berlarian menyelamatkan diri. Suasana daerah itu kacau-balau dan reruntuhan bangunan yang terbakar berserakan di mana-mana.

“Apakah ini akan menjadi debut The Bully?”

Ku rasa begitu.”

Mereka saling berpandangan dan tersenyum, lalu dengan segera mereka berlari sambil menunjukkan kekuatan masing-masing, menerjang si Manusia Api.

Iklan