THE FRATERNITY

Violet Teresa

“Kabar?” kata suara berat dan dalam.

Dua sosok pria berjalan tergesa-gesa sepanjang koridor panjang yang dipenuhi ornamen-ornamen dan obor-obor yang diletakkan di sepanjang dindingnya, menimbulkan siluet gelap yang berkibar-kibar dan bermain-main di sepanjang lantai yang dilapisi karpet usang.

“Tidak ada yang lebih bagus. Keberuntungan berpihak pada kita.” Sahut pria yang lebih pendek.

Pria dengan suara berat dan dalam itu menyeringai. Cahaya obor samar-samar menerangi sosoknya yang tinggi besar. Mereka melangkah dengan langkah-langkah cepat, menuju gerbang kayu besar dan kuno di ujung koridor dengan lambang heptagram; bintang bersudut tujuh di pintunya.

Dua sosok pria itu sampai di pintu besar. Diterangi cahaya sepasang obor yang diletakkan di samping lengkungan daun pintu, gurat-gurat kelelahan tampak begitu nyata di wajah pria yang lebih mungil dan pendek. Dia membetulkan letak kacamatanya dengan satu tangannya, mengamati heptagram besar yang terukir di daun pintu dan mulai melafalkan kata-kata yang terukir di sepanjang sisi heptagram. Bahasa Umbrian kuno, bahasa yang dianggap sudah punah sekarang ini.

Tepat ketika sosok pria mungil itu selesai mengucapkan kata terakhir, heptagram itu mulai meleleh, semakin lebar dan menyebar ke seluruh bagian pintu kayu itu, menampakkan sebuah ruangan bundar besar dengan langit-langit tinggi yang ada di baliknya. Mereka melangkah masuk ke dalam ruangan berlantai batu itu. Daun pintu yang tadi meleleh kini telah mulai tumbuh kembali, sepadat sebelumnya.

“Kalian terlambat.” Kata suara dingin yang tinggi, agak angkuh dan berwibawa. Sosok pria kurus berkulit pucat duduk bersandar di salah satu kursi bersandaran tinggi berlengan dan berukir, menyipit memandang dua sosok pria yang baru masuk yang sekarang telah berpencar, tergesa-gesa menduduki kursi masing-masing.

Ruangan bundar berlantai batu diterangi puluhan cahaya lilin-lilin kecil yang ada di kandeliar besar yang digantungkan. Rantai-rantai keemasan kandeliar besar itu menjuntai sepanjang langit-langit hingga ke tengah ruangan. Dinding di sepanjang ruangan dipenuhi tujuh buah pintu-pintu kayu besar dengan jarak yang sama. Ada tujuh meja-meja besar dan panjang yang disusun melingkar di tengah ruangan. Di masing-masing kursi berlengan di belakang meja itu duduk enam sosok pria yang berbeda. Hanya ada satu bangku yang kosong. Di antara ruang kosong yang luas di tengah-tengah lingkaran yang terbentuk oleh meja, terukir sebuah ornamen kuno klasik yang sangat besar pada lantai batu. Ornamen itu adalah ornamen yang sama yang terukir pada daun pintu. Sebuah heptagram besar bersegi tujuh. Di tengah-tengah heptagram dilukiskan gambar bumi dikelilingi orbit enam cincin yang berbeda warna, masing-masing menembus sudut heptagram.

“Kabar baru apa, Gavin? Kuharap tidak mengecewakan kali ini…” kata pria berkulit pucat. Pertemuan telah dimulai. Mereka rupanya memang tidak menunggu orang ketujuh. Keempat wajah yang sama ingin tahunya kini mengalihkan perhatian sepenuhnya pada pria bertubuh mungil barusan yang duduk berseberangan langsung dengan pria berkulit pucat.

“Well…. Soal Logan masih belum bisa diketahui…  “

“Pengkhianat brengsek itu!” lengkingan suara tinggi yang tajam memotong kata-kata pria mungil tadi. Sosok yang duduk semeja jaraknya dari pria berkulit pucat itu kini menampakkan amarah yang tidak bisa dibendungnya. Samar-samar urat nadi keunguan tampak di dahinya yang botak.

“Tenangkan dirimu, Dough” kata pria berkulit pucat acuh tak acuh. “Lanjutkan, Gavin.”

“Kabar yang kubawa kali ini jauh lebih bagus dari yang kita harapkan….” sambung pria mungil, ada nada senang yang membahayakan dalam suaranya kini. “Mungkin ini akan mengejutkan kalian semua…. Akhirnya, dia menampakkan diri….” Dia menyeringai lebar sekarang. “Salah satu dari mereka…. Eleion….”

Sosok-sosok yang tersisa mulai bergairah sekarang, dengungan suara-suara seketika memenuhi ruangan. Mereka saling berbicara satu sama lain dengan antusias. Hanya sosok berkulit pucat yang tetap tenang. Dia memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak, mengatupkan jemari tangannya yang pucat, menatap tajam pria mungil tadi.

“Kuharap kau tidak salah kali ini, Gavin.” Katanya dingin.

“Tidak. Aku telah mengeceknya beberapa kali. Dan ini dari sumber yang bisa dipercaya, Seth.”

Pria berkulit pucat masih menatap tajam Gavin yang kini tengah menikmati eurofia yang telah ditimbulkannya.

“Bagaimana bisa tiba-tiba… setelah sekian lamanya?” tanya pria besar berkulit gelap yang tadi masuk bersama-sama Gavin. Dia kelihatan benar-benar senang sekarang.

“Well, aku punya beberapa teori, Lex… Tapi kurasa kita harus berterima kasih pada kesalahan yang dibuat oleh Logan kali ini…”

“Pengkhianat itu? Cih….” Cibir Dough, wajahnya menampakkan kejijikan yang terang-terangan ditunjukkannya.

“Jangan-jangan itu akibat dari Opuslible?” suara rendah kali ini berasal dari sosok pria gemuk yang duduk satu meja di sisi lain pria berkulit pucat.

“Dugaanku juga demikian….” Gavin tertawa. “Si bodoh itu, kali ini benar-benar ceroboh rupanya….”

Seluruh ruangan dipenuhi aura kesenangan dan kekeh tawa licik.

Pria gemuk yang duduk satu meja dari Seth juga tertawa. Sejak pertemuan dimulai, tidak sekalipun dia berhenti memegang-megang patung-patung kecil tanah liat yang tersebar di mejanya. Patung-patung itu kurang lebih setinggi lima senti. Menampakkan ukiran berbagai manusia, tumbuhan dan hewan. Pria gemuk itu menikmati kesenangannya memindah-mindahkan patung-patung itu seperti seorang anak kecil. Wajahnya kekanak-kanakan, tetapi matanya berkilat berbahaya. Sepertinya kegiatannya ini tidak mengganggu sisa anggota persaudaraan yang lain, kecuali satu sosok berwajah lancip yang duduk di sebelah Gavin.

Sejak pertemuan dimulai, pria berwajah lancip selalu memandang pria gemuk itu dengan pandangan tidak suka bercampur merendahkan yang jelas-jelas menampakkan keinginan untuk menyingkirkan semua mainan yang mengganggu itu.

“Bisakah kau berhenti melakukan itu, Dimitri?” akhirnya dia berbicara. Nada suaranya benar-benar angkuh, datar, tenang dan dingin. Sosok gemuk yang baru disebut namanya berhenti sejenak dari kesibukannya. Ruangan tiba-tiba hening. Semua perhatian tertuju pada kedua sosok itu sekarang, menunggu apa yang akan terjadi kemudian. Dimitri mengerling pada lawannya. Tiba-tiba senyumnya yang licik mengembang, menambah kerut-kerut samar pada wajahnya yang bulat. Suaranya yang rendah menampakkan keramahan yang dibuat-buat.

“Oho, Travis… kukira kau tidak akan merasa terganggu denganku kalau saja kau tidak menghabiskan waktumu untuk memelihara kecemburuanmu terhadapku…. Ck..ck..ck… sayang sekali….”

Kilatan cahaya merah disertai suara ledakan yang memekakkan telinga memecah ruangan secara tiba-tiba. Bola-bola api hijau, gelombang pasir bercampur tanah langsung memblok kilat merah yang muncul. Tiga sosok seketika berdiri seketika, masing-masing dalam posisi menyerang sementara  sisa yang lain memilih mundur dari perseteruan dan menikmatinya.

“Hentikan, Travis.” kata Seth tajam. Dari tangannya meluncur bola-bola api hijau yang barusan memblok kilat merah yang dikeluarkan Travis.

Dimitri sekarang tertawa senang, melihat upayanya memancing kemarahan Travis berhasil. Gelombang pasir dan tanah yang tadi dikeluarkannya sekarang berceceran di lantai batu di tengah-tengah mereka, membentuk lekuk-lekuk yang memperjelas ornamen timbul yang ditutupinya.

“Dan, kau, Dimitri. Berhenti memancing-mancing Travis.” Seth memandang tajam Dimitri. Tangannya bergerak-gerak, mengontrol bola-bola api hijau yang sekarang kembali ke arahnya. Dengan satu kibasan ringan, Seth menghilangkan bola-bola api itu seperti asap.

“Oke…oke…” kata Dimitri riang di sela-sela tawanya. “Kurasa pertemuan kita ini kelihatannya sudah tidak membosankan lagi.”  Dimitri perlahan duduk, mengontrol pasir dan tanah yang berceceran, dengan satu lambaian tangannya yang gemuk, pasir dan tanah itu hilang seperti baru saja disedot dengan penyedot debu raksasa super kuat.

Travis masih tidak mengalihkan pandangan penuh kebenciannya dari Dimitri, yang sekarang kembali sibuk dengan mainan-mainannya. Meskipun tubuhnya menegang menahan amarah, perlahan-lahan Travis duduk juga. Gerakannya anggun dan luwes, matanya mengawasi, tidak sedikitpun mengendurkan kewaspadaan.

Melihat kedua pihak yang berseteru sekarang sudah kembali duduk, Seth memposisikan dirinya untuk kembali duduk di kursi berlengan seperti semula. Sosok-sosok lain yang tersisa kelihatannya agak kecewa karena pertunjukan yang seru sepertinya tidak jadi berlanjut.

“Jadi, Opuslible benar-benar telah ditemukan, kalau begitu…” kata Seth, tenang dan menimbang-nimbang.

“Pengkhianat sialan itu pasti telah menemukan Opuslible dan menyembunyikannya di suatu tempat.” Geram Dough memukul meja keras-keras dengan kepalan tangannya.

“Menurutku juga demikian.” Sahut Lex ringan.

“Aku juga berpikiran sama dengan kalian. Tidak ada yang dapat mengungkap keberadaan Eleion selain Opuslible. Menurut perkiraanku, si tua bangka itu pasti tidak sengaja telah membuka portalnya. Aku bisa merasakan medan energinya berubah malam ini. Aku tahu sesuatu telah terjadi, dan sumber dalamku menguatkan bahwa kemunculan Eleion kali ini hampir dapat dipastikan, hanya saja aku belum mengetahui di mana dia telah menampakkan dirinya. Perubahan medan energi hanya terjadi saat portalnya sedang membuka, tapi tidak setelah portal itu terbuka. Aku tidak sempat mengetahui keberadaan makhluk itu.” Jelas Gavin.

“Sayang sekali kalau begitu.” Cibir suara angkuh Travis.

“Ck..ck..ck… Travis, paling tidak Gavin jauh lebih berguna kali ini daripada dirimu…..” ejek Dimitri.

Secepat kilat Travis kembali  menegakkan tubuhnya, matanya berkilat penuh kemarahan. Tangannya teracung, siap menyerang lagi, sebelum gelegar suara Seth menghentikan tindakannya.

“HEN-TI-KAN!” Seth telah berdiri dari kursinya, mengacungkan gerakan yang sama siaganya untuk mencegah serangan kedua diluncurkan.

Dimitri masih duduk, melambai dengan malas dan masih sibuk dengan mainan-mainannya.

“Dimitri. Tutup mulut besarmu itu.” Raung Seth, tidak sabar sekarang.

“Dan Kau, Travis, jangan pedulikan ocehannya.” Bentak Seth keras, mengawasi Travis tajam.

Kemarahan yang jauh lebih hebat dari yang tadi menggelegak dari dasar perut Travis, siap menyembur. Tangannya yang sekarang terkepal mengeluarkan percikan-percikan kilatan bunga api merah padam, setiap saat siap dihantamkan ke Dimitri. Dimitri tetap acuh, seakan-akan ancaman Travis hanyalah banyolan konyol yang tidak ada artinya baginya.

“Travis.” Seth berkata sekali lagi, suaranya ditekan penuh peringatan, pandangannya masih mengawasi Travis, waspada.

Gemetar menahan amarah, perlahan-lahan akhirnya Travis duduk kembali. Kewibawaan Seth yang jauh lebih besar memaksanya untuk berhenti menuruti emosinya. Dimitri tampaknya tahu hal ini. Selama ada Seth di antara mereka, semuanya akan aman-aman saja. Tidak akan ada pertarungan fisik yang menegangkan.

Sosok-sosok yang lain sepertinya sudah terbiasa dengan hal seperti ini, bahkan mereka menunggu-nunggu pertarungan terbuka yang seru antara Travis dan Dimitri, untuk mengetahui batas kekuatan maksimal mereka.

“Kalian berdua, jaga sikap kalian.” Lanjut Seth. Dia kembali duduk di kursinya. Nada suaranya berwibawa, penuh ancaman. “Aku tidak menginginkan perseteruan di antara kelompok persaudaraan. Sebaiknya kalian camkan hal ini baik-baik.”

“Kau tidak bisa mengharapkan yang lebih baik dari mereka berdua, Seth.” Kekeh Dough. Disambung tawa yang lain.

Wajah Seth dan Travis menegang, tapi tidak berkomentar apa-apa. Dimitri mencuri pandang sejenak ke arah Travis, dan dia tersenyum samar di sudut mulutnya, tahu bahwa dia menang kali ini.

“Mengenai Opuslible itu dan Logan, tentu saja. Ada perkiraan di mana keduanya berada?” Lex bertanya ringan, kontras dengan jenis suaranya yang berat dan dalam.

Semua orang kembali terdiam. Jawaban yang sama sejak Logan melarikan diri dari persaudaraan. Nihil.

“Aku sudah melacaknya berkali-kali. Tapi hasilnya nol besar. Pengkhianat itu pintar bersembunyi juga rupanya.” Jawab Gavin.

“Jangan kuatir, Gavin. Dia akan muncul pada waktunya. Dia tidak akan bisa selamanya bersembunyi.” Sahut Dimitri pelan.

“Menurutmu apa Opuslible itu ada bersamanya?” Travis yang bertanya kali ini.

“Aku tidak yakin, Travis. Memang sepertinya iya. Tapi kurasa dia tidak terlalu bodoh untuk membiarkan Opuslible itu ada dalam genggamannya dengan resiko setiap saat dia bisa tertangkap.” Jawab Gavin lagi. Diikuti dengung persetujuan dari anggota yang lain.

“Dia pasti menyembunyikan atau memindahtangankannya.” Sahut Travis datar.

“Tidak ada orang dekat yang bisa dia percaya sepenuhnya, Travis. Kau tahu sendiri kalau dia tidak punya keluarga atau orang kepercayaan. Dia selalu berhati-hati dan bertindak sendirian.” Lex mengingatkan.

“Itu benar.” Sahut Dough cepat. “Kurasa dia pasti menyembunyikannya.”

“Tidak.” Kata Seth dingin.

Semua orang terdiam. Perhatian mereka teralih penuh ke arah Seth sekarang. “Aku mengenal benar siapa Logan.” Lanjutnya. “Dia tidak akan menyembunyikannya dengan dua kemungkinan besar sebagai akibat hasil pilihannya. Pertama, rahasia sebesar itu tidak akan disembunyikan secara sembarangan jika dia tahu suatu saat nanti pasti akan mudah ditemukan seseorang, baik kalau dia tertangkap maupun tidak. Kedua, dia tidak bodoh. Dia tahu kita semua akan berpikir kalau dia akan memilih untuk menyembunyikannya dengan dua perkiraan; resiko tertangkap dan satu sifat yang menjadi karakter utamanya, dia selalu bekerja sendiri. Kurasa dia telah mengambil keputusan yang sama sekali bertolak belakang dengan sifatnya dan perkiraan kita; Opuslible itu telah dipindahtangankan.”

Ruangan dipenuhi lagi dengan dengungan berbagai pendapat. Sepertinya mereka agak terkejut dengan analisa Seth yang tajam dan hampir dianggap benar kali ini.

“Jangan terlalu yakin dulu, Seth.” Kata Dimitri tenang, masih bermain-main dengan patung-patung tanah liatnya. “Dia bukan orang yang gampang percaya dengan orang lain.”

“Aku sudah memperkirakan hal itu.” Jawab Seth datar. Ruangan kembali hening, masing-masing berkonsentrasi pada hasil analisa yang akan disampaikan Seth. Ratusan cahaya lilin dari kandeliar yang tergantung di atas mereka memberikan bayang-bayang aneh pada perawakannya yang kurus, kulitnya yang pucat dan wajahnya yang tirus. Dia jadi kelihatan seperti mayat hidup yang tidak pernah tidur.

“Semakin sedikit pengetahuan yang diketahui akan semakin baik.” Lanjutnya.

“Apa maksudmu?” Dough yang bertubuh gempal mengernyitkan dahinya. Kerut-kerut tampak jelas di dahinya yang botak, memantulkan cahaya ratusan lilin kandeliar secara jelas dengan distorsi yang aneh.

“Dia memilih pemegang Opuslible secara acak.” Kata Seth pelan.

“Itu tidak mungkin!” potong Dough cepat.

“Kurasa kau salah, Seth. Logan tidak mungkin seceroboh itu.” Sela Dimitri tenang, melemahkan teori Seth barusan.

“Itu benar, Seth.” Sahut Gavin yang ikut berbicara kali ini.

“Tidak. Aku sudah berkali-kali berpikir. Semakin sedikit pemegang Opuslible tahu bahwa yang ada dalam genggamannya adalah rahasia yang luar biasa, Logan tidak perlu khawatir akan hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin terjadi.” Terang Seth lagi.

“Bagaimana bisa dia menentukan pemegang Opuslible secara acak?” tanya Lex tidak percaya. “Hal itu tidak mungkin benar-benar terjadi, Seth. Tidak mungkin!”

“Jangan lupa kalau Logan memiliki kemampuan untuk mengenali elemen paling dasar seorang manusia.” Seth memperingatkan.

“Rasanya hal itu juga perlu dipertimbangkan.” Kata Travis.

“Kalau hal itu benar, berarti kita berbicara mengenai seorang manusia biasa yang memegang rahasia kekuatan luar biasa tetapi sama sekali tidak tahu apa-apa tentangnya? Konyol sekali kelihatannya bagiku…” Dough terkekeh lagi.

“Menurutku Logan membagi Opuslible menjadi dua. Satunya disembunyikan dan satunya dipindahtangankan.” Kata Dimitri tiba-tiba.

“Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?” tanya Gavin.

“Logan adalah orang yang sangat berhati-hati. Tidak mungkin dia memberikan keseluruhan Opuslible begitu saja kepada orang yang belum dikenalnya, meskipun dia bisa melihat elemen dasar manusia itu. Lagipula, dengan hanya memegang sebagian Opuslible, semuanya akan jauh lebih aman, baik bagi manusia itu maupun bagi Logan sendiri. Setelah kupikir-pikir lagi, pasti bukan Logan yang membuka portalnya, tapi seseorang yang tidak tahu apa-apa tentangnya. Manusia itu pasti membukanya secara tidak sengaja. Itulah yang mengakibatkan perubahan medan energi. Kurasa manusia itu hanya memegang secuil bagian dari Opuslible namun cukup penting hingga dapat membuka portalnya. Karena bagiannya sangat kecil itulah kita bahkan tidak punya cukup waktu untuk bisa melacaknya, karena perubahan medan energi itu hilang secepat kemunculannya. Benar-benar pintar, si Logan ini.” Urai Dimitri datar. Tangannya masih sibuk memindah-mindahkan patung-patungnya.

Hening lagi. Masing-masing mencerna perkataan Dimitri barusan. Hasil analisa yang bahkan jauh lebih tajam dari analisa Seth tadi.

“Aku mengerti sekarang.” Kata Lex, memecah keheningan. “Secuil bagian itu memang cukup penting sepertinya, sehingga bahkan kalau kita bisa mendapatkan sebagian besar Opuslible dari tangan Logan, semuanya tidak akan berfungsi tanpa adanya bagian itu. Logan hanya perlu memberikan bagian kecil yang penting itu kepada orang yang dipilihnya karena hal itu jauh lebih mudah untuk menghindari kecurigaan daripada memberikan bagian besarnya. Namun juga seandainya nanti manusia itu menyadari bahwa yang dipegangnya adalah bagian dari Opuslible, dia juga tidak akan bisa berbuat apa-apa karena dia hanya manusia biasa, bukan seperti kita. Cerdik sekali.”

“Tepat.” Sahut Dimitri senang. “Dan kalau perkiraanku benar,” dia mengangkat salah satu patung tanah liat yang berbentuk manusia sedang duduk berpikir, “menemukan manusia ini akan memberikan dua keuntungan sekaligus bagi kita; mendapatkan Opuslible dan memancing Logan keluar dari sarangnya.” Dengan satu jentikan pelan dan lembut, patung kecil itu melebur menjadi bulir-bulir partikel seukuran pasir dan kemudian hilang tanpa jejak.

“Analisamu selalu tajam, Dimitri.”ujar Gavin terkesima.

“Yang aku tidak mengerti, bagaimana bisa portal itu terbuka begitu saja?” tanya Dough cepat.

“Untuk hal itu aku masih belum mengerti bagaimana caranya, Dough.”jawab Dimitri. Hening sebentar. ”Kecuali….” Lanjut Dimitri perlahan, matanya berkilat tajam di bawah bayang-bayang cahaya lilin-lilin yang tergantung pada kandeliar raksasa di atas mereka.

“Kecuali apa, Dimitri?” kata Dough, nadanya memaksa, ekspresinya menunjukkan campuran rasa ingin tahu dan penasaran apakah yang ada di pikiran Dimitri saat ini sama dengan yang ada di dalam pikirannya sekilas tadi.

“Kecuali memang Eleion itu yang menginginkan portalnya terbuka.” Lanjut Dimitri perlahan.

Sunyi. Tampaknya kesimpulan Dimitri kali ini sama benarnya dengan analisanya yang tadi.

“Itu juga yang barusan kupikirkan.” Sahut Dough bersemangat, dia terkekeh pelan sekarang.

“Menurutku, sepertinya juga begitu.” Seth menimpali, datar.

“Benar-benar tidak bisa dimengerti Eleion ini….” Lex menggelengkan kepalanya sembari tertawa.” Tiba-tiba saja setelah sekian lamanya….”

“Jadi kalau begitu, mendapatkan manusia ini akan menambahkan satu keuntungan lagi bagi kita, eh?” sela Gavin, turut senang.

Atmosfir ruangan berubah menggairahkan sekarang.

“Jadi menurutmu, makhluk ini bersama manusia itu?” tanya Travis heran.

“Kemungkinan besar memang demikian. Benar,kan?” Gavin mengedarkan pandangan berkeliling pada yang lain sambil mengangguk pelan, yakin kalau yang lain pasti sependapat dengannya.

“Kurasa memang begitu, Travis.” Sahut Seth ringan. Sosok-sosok yang duduk di kursi berlengan tinggi yang lain ikut mengangguk-angguk dan menggumamkan tanda setuju.

“Nah, beres kalau begitu!” Dough menyeringai lebar. “Kita tinggal memburu manusia ini, benar kan?”

“Benar.” Kata Dimitri diikuti tawa senang yang lain.

“Benar-benar tidak disangka, ya kan? Takdir berpihak penuh pada kita kali ini….” Jawab Gavin.

“Memburu manusia ini jauh lebih mudah dibandingkan menemukan Logan brengsek itu.” Dough menimpali, senang.

“Logan pasti tidak menyangka sebelumnya kalau perkembangan keadaannya akan menjadi seperti ini.” Ujar Lex di sela-sela tawanya.

Ruangan disapu eurofia yang sama menyenangkannya dengan yang tadi. Bahkan Travis dan Seth yang lebih banyak diam atau berbicara penuh pertimbangan pun tidak bisa menyembunyikan kesenangannya kali ini.

“Nah, sudah diputuskan kalau begitu.” Sela Dimitri ringan. Dia sekarang mengangkat patung-patung itu dengan ayunan jemari tangannya secara luwes di udara kosong, seperti mengontrol boneka mainan dengan benang-benang yang tak kasat mata. “Pekerjaan kita selanjutnya adalah menemukan manusia ini dan segala yang lain akan sama mudahnya seperti menjentikkan jemari.” Dengan satu jentikan keras dari jemari tangannya, patung-patung yang tadinya melayang-layang ringan di udara jatuh menubruk meja dan hancur berantakan, seperti baru saja ada gunting yang tiba-tiba memotong benang-benang tak kelihatan yang tadinya menopang patung-patung itu.

Iklan