THE JACKALS

Fallen Angel

11 Agustus 2011

Bayang-bayang malam kembali menyelimuti kota Paris. Malam yang terasa semakin tergesa-gesa meninggalkan kota di tengah musim panas yang mencapai puncaknya. Dan jika hari sudah malam seperti ini, berarti sudah waktunya bagi mereka untuk memulai pekerjaan mereka. Mereka yang diberi nama oleh para politikus sebagai International Bureau of Layden Investigation Service. Nama yang panjang dan tak berguna, karena para anggota mereka umumnya menyebut diri dan rekan kerja dengan sebutan yang lebih sederhana; The Jackals.

The Jackals memiliki tugas utama untuk memburu dan juga menyelidiki makhluk-makhluk supernatural yang sepuluh tahun belakangan ini mulai muncul mendadak dan menyerang manusia. Tidak ada yang tahu secara pasti dari mana makhluk-makhluk ini datang, mereka seolah muncul begitu saja ketika matahari sudah tenggelam dan mulai menyerang manusia bagaikan serigala kelaparan. Awalnya muncul di Timur Jauh, bahaya monster ini mulai menyebar ke seluruh dunia.

Kemunculan layden ini juga diiringi satu fenomena aneh lain, kemunculan mnusia-manusia yang memiliki kekutana supernatural yang mirip dengan para Layden. Mereka juga hampir sama misteriusnya dengan para Layden, dan tidak lebih ramah. Beberapa manusia yang mendapat kekuatan misterius ini menjadi kehilangan akal dan menggunakan kekuatannya untuk berbuat kejahatan atau meneror penduduk lainnya.

Untungnya tidak semua manusia ini memiliki kecenderungan merusak. Beberapa yang berniat baik atau masih bisa dikendalikan segera dikumpulkan dalam satu organisasi khusus untuk orang-orang berkekuatan supernatural ini. Organisasi inilah cikal bakal dari organisasi The Jackals.

Sekarang ini, di kota Paris ini, The Jackals berniat melatih salah satu anggota mereka yang paling baru. Jackal ini masih sangat hijau, baru saja lulus dari pelatihan dasar, dan masih belum memiliki pengalaman bertarung sama sekali. Tapi, tentu saja, dia tidak sendirian. Seorang Jackal yang lebih senior menemaninya dalam perburuan pertamanya di malam kota Paris. Malam singkat yang akan segera menjadi panjang.

Si Jackal junior itu jelas sekali terlihat gugup di balik jaket merahnya. Ia berkali-kali menelan ludah dan tangannya gemetar pelan di dalam sakunya. Jackal yang lebih senior, seorang wanita berambut pendek, menghampirinya dan menepuk bahunya dari belakang.

“Jangan terlalu gugup begitu.” Katanya. “Santai saja, dan lakukan seperti dalam latihan selama ini. Kau pasti bisa mengatasinya.”

Si junior mengangguk. Ia memang merasa lebih tenang karena ada seniornya disini, walau dalam hati ia sedikit merasa tidak enak kenapa dia yang laki-laki harus dilindungi oleh wanita.

“Aku tahu.” Jawab si junior. “Aku cuma… entah kenapa aku jadi sedikit terlalu gugup.”

Seniornya tersenyum. “Kita semua begitu dalam tugas pertama kita. Aku juga dulu sama gugupnya denganmu, bahkan mungkin lebih parah lagi. Aku sempat menangis waktu layden pertama muncul.”

Si junior tidak tahu apakah kalimatnya yang terakhir itu dimaksudkan untuk menyemangati atau menyindir. Ia memutuskan untuk duduk sebentar di bangku taman tempat mereka berdua bersiaga dan menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk mengurangi rasa gugup.

Tapi sekedar untuk melewatkan waktu, ia memutuskan untuk bertanya. “Apa benar Jackal yang lebih senior bisa merasakan kedatangan layden?”

Seniornya tampak antusias ditanya seperti itu. Ia langsung duduk di bangku persis di balik juniornya. “Ya, itu benar. Ketua bilang itu ada hubungannya dengan jumlah layden yang kita bunuh, tapi semakin lama kau akan semakin bisa merasakan kedatangan mereka dari jauh.”

“Seperti apa rasanya? Maksudku, rasanya bisa merasakan kedatangan mereka?”

“Seperti apa ya?” Ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya, berfikir. “Mungkin seperti mendengar suara nada panggil ponselmu yang disembunyikan dalam selimut dari jarak jauh.”

“Hah?” Si junior mengernyitkan alis. “Perumpaan macam apa itu?”

“Aku juga tidak bisa mengatakannya secara past, sih. Rasanya sulit dijelaskan. Yang jelas, aku tahu kalau akan ada Layden yang muncul di kota ini.”

“Kau bisa merasakannya sampai ke seluruh kota?” Si junior terkesan tak percaya.

“Yap.” Yang ditanya mengangguk. “Karena itu, selain kau dan aku hanya ada satu tim lain yang menjaga kota ini. Dua tim saja cukup untuk menjaga seluruh kota.”

“Begitu.” Ia menghela nafas, lalu akhirnya bangkit dari tempat duduknya. “Kalau begitu, kita tidak perlu khawatir akan ada layden yang menyerang mendadak, kan? Aku mau beli minuman dulu sambil menunggu. Kau mau kubelikan minuman apa?”

“Aah… coca cola zero.” Jawabnya santai. “Jangan lama-lama, ya. Kau tidak lupa lencanamu, kan?”

“Iya, aku bawa.” Jawab si junior sambil menunjukkan sebuah lencana dengan lambang anjing berkepala dua. Lambang organisasi Jackal.

Ia berjalan menghampiri vending machine yang dipajang sedikit jauh di sisi luar taman, lalu membeli coca cola zero pesanan seniornya dan 7up untuk dirinya sendiri. Setelah mengambil kedua minuman kaleng itu, ia menengadah menatap langit untuk sesaat.

Malam yang indah dan cerah. Batinnya. Rasanya akan lebih menyenangkan kalau layden-layden itu tidak muncul malam ini.

Doa yang mustahil dikabulkan, dia tahu. Layden selalu muncul tiap malam, walau dimana akan muncul tak seorangpun yang tahu. Ancaman dan teror mereka membuat suasana malam hari terasa seperti kegiatan wisata di tengah kebun binatang, dimana seluruh kandang binatang buasnya tak berjeruji. Ia menghela nafas sesaat dan berniat untuk kembali ke tempat dia dan seniornya berjaga, tapi belum sempat dia melakukannya ponselnya mendadak berbunyi.

Lucille. Nama seniornya itu tertera di layar. Ia langsung mengangkatnya.

“Ya?”

“Ke stasiun bawah tanah St. Rosemary sekarang!” Perintahnya terdengar tegas dan jelas. “Layden muncul!”

Perintah itu tak perlu diulangi dua kali. Si junior langsung memasukkan dua minuman kaleng itu ke saku jaketnya dan bergegas mengejar seniornya. Pintu menuju stasiun bawah tanah itu terletak tidak terlalu jauh dari taman, tidak akan makan waktu lama baginya untuk sampai kesana.

Dan ketika ia berlari menuruni tangga, barisan orang-orang yang melewati papan penunjuk rute kereta itu kelihatannya masih belum sadar akan apa yang terjadi. Si junior berlari melewati suami istri yang bersenda-gurau, pekerja kantoran yang sedang membaca korannya, dan ketika ia sampai di depan loket penjualan karcis, barulah terdengar suara sirine dari pengeras suara di ujung tembok. Disusul dengan berubahnya papan elektronik penunjuk jalur yang kini mengeluarkan dua tulisan; Bahaya Layden.

Kontan saja barisan yang sedetik lalu masih terlihat damai, langsung kocar-kacir berlarian dengan panik. Beberapa petugas keamanan stasiun langsung mengarahkan para penduduk agar tidak sampai terjadi keributan yang tak terkendali, atau malah korban jiwa akibat kepanikan massa. Dalam arus orang-orang yang berlarian ke luar stasiun ini, jaket merahnya terlihat mencolok melawan arus.

Ia akhirnya berhenti di peron kereta nomor tujuh yang tadinya akan membawa penumpang ke distrik dalam kota. Seniornya, Lucille, juga sudah menunggu disana. Ia berdiri di sampingnya, mengikuti arah tatapannya yang terpaku pada terowongan jalur kereta di sebelah timur.

“Mereka akan muncul dari sana?”

“Ya.” Lucille menjawab. Wajahnya terlihat sangat serius sekarang ini. Aura biru gelap seolah terbentuk di sekitar kepalanya, menanti kedatangan lawannya.

Si junior menghela nafas. Ia membuka jaket merahnya dan membuangnya ke samping, menunjukkan baju putih lengan panjang yang dia pakai dibaliknya. Sama seperti seniornya, ia mengumpulkan auranya terlebih dahulu sebelum menyambut musuh. Tapi masalahnya, ia tidak bisa mengendalikan auranya. Rasa gugup dan tegang ikut bercampur menganggu konsentrasinya. Jantungnya yang berdetak luar biasa sama sekali tidak membantu mempermudah persoalan. Sial! Rasanya saat ini adalah saat terburuk untuk menjadi gugup.

Dan belum sempat ia mengendalikan kekuatannya, tubuhnya seolah ditabrak oleh aura dengan kekuatan luar biasa. Aura ini, nuansanya begitu berbeda dengan aura milik seniornya, atau pelatihnya yang lain di markas Jackal. Aura ini… entah bagaimana mengatakannya. Aura ini terasa dingin, kelam, tapi tidak seratus persen jahat. Rasanya seperti…

“Seperti aura binatang buas, kan?”

Suara Lucille sedikit mengagetkan pikirannya. Ia menoleh dan melihat seniornya itu sedang tersenyum lembut.

“Jangan gugup. Aku juga merasakan sesuatu yang seperti itu dulu. Tarik nafas pelan dan anggap saja ini seperti latihan-latihan yang sudah pernah kau lewati.”

Ia mengangguk. Sekarang, pikiran dan kekuatannya lebih mudah dikendalikan. Dan waktunya tidak bisa lebih baik lagi. Dari dalam terowongan dimana seharusnya kereta rel listrik melesat keluar, muncul tiga ekor Layden berwujud seperti capung raksasa dengan sabit belalang sembah sebagai tangan mereka. Dua dari mereka, yang berwarna merah terang, melesat menyerang Lucille, sementara yang lainnya menyerang si Jackal junior.

Si junior melompat mundur, mencoba mempertahankan jarak dengan penyerangnya. Lucille, sebaliknya, masih tetap berdiri tenang. Dari balik aura biru gelap yang melayang disekitar tubuhnya, mendadak muncul dua pasang pistol desert eagle yang segera memuntahkan pelurunya. Kedua layden itu menjerit marah dan terdorong mundur, tapi masih menolak untuk berhenti menyerang.

Sementara itu si junior tampak sibuk menghindari tebasan sabit yang terus mengincar bagian vitalnya. Ia mengelak, melompat, dan berlarian kesana kemari tanpa lelah seolah ada pegas tak terlihat di kakinya. Tapi ia tidak berniat untuk menghindar selamanya. Begitu dia mendarat di samping pilar yang menuju pintu keluar, ia langsung mengumpulkan kekuatan di tangan kanannya.

“Pusaka pembelah langit, jadilah bagian dari tubuhku.”

Perlahan-lahan, dari udara kosong, di tangan kanannya terbentuk sebuah senjata kecil. Sebuah keris pendek dengan bilah yang terukir huruf dan simbol-simbol aneh. Ia menggenggamnya erat, matanya menatap tajam pada layden yang menyerang membabi-buta itu, lalu ditebaskannya keris kecil itu membelah udara.

Seharusnya keris itu tidak bisa menyentuh lawannya. Masih tersisa jarak sekitar lima meter sebelum layden sasarannya masuk dalam jarak jangkauan keris, tapi tubuh layden itu sudah tergores seolah-olah tubuhnya benar-benar telah tersayat dalam jangkauannya.

Jackal junior melanjutkan tindakannya. Ia menebaskan keris itu membelah udara kosong, dan layden itu tergores sebagai akibatnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Goresan-goresan kecil yang dangkal tapi terasa sangat menyebalkan terus bermunculan di tubuh kurus sang layden. Terlihat sekali ia sangat kesal dan marah oleh serangan-serangan itu tapi tidak bisa bergerak mendekat untuk menyerang balik.

Dan layden itu meraung marah, menjerit mengeluarkan suara lengkingan tinggi yang menggetarkan bangku kecil di samping si junior, sekaligus mengacaukan ritme serangannya. Kesempatan kecil ini langsung dimanfaatkan sang layden, sebelum ia bahkan menutup mulutnya lidah panjangnya tiba-tiba melesat keluar, bagaikan lemparan tali laso yang begitu mendadak diarahkan untuk menjerat leher si junior. Sasarannya tentu tidak menduga lidah merah panjang itu akan bisa menjulur dengan begitu mendadak. Ia tidak sempat menghindar ketika akhirnya lidah lengket itu menjerat lehernya.

Sang layden perlahan-lahan menyeretnya menuju mulutnya yang terbuka lebar. Si junior berusaha sebisa mungkin untuk tidak terseret. Keris di tangannya perlahan-lahan meredup, seperti bayangan yang akan menghilang, akibat konsentrasinya yang terpecah. Ia menebaskan keris itu sekali lagi, tapi luka yang dihasilkan tidak sedalam yang dibuatnya tadi. Monster itu menariknya sedemikian kuat, ia tidak memiliki kesempatan bahkan untuk mengkonsentrasikan kekuatannya membentuk senjata baru.

Sial! Baru menghadapi layden seperti ini saja ia sudah kewalahan seperti ini. Memalukan!

“Edo, awas!”

Suara Lucille! Senior wanitanya itu melompat memantul pada salah satu pilar dan membuka telapak tangannya ke arah layden yang menjerat leher Edo. Setengah detik berikutnya, senapan laras panjang tipe Dragunov SR1 terbentuk di atas tangan mungilnya. Senapan itu menyalak, memutuskan lidah menjijikkan sang layden, dan membebaskan Edo dari cekikan yang menyiksa. Lucille mendarat dengan sempurna di lantai.

Layden itu merintih kesakitan dalam suara lengkingan yang tidak jauh berbeda dengan suaranya tadi. Edo menganggap ini suatu kesempatan dan menggunakannya untuk merapal mantra sekali lagi.

“Kalung besi pengikat bumi.” Tangan kanannya mulai dipenuhi aura merah. “Rantai siluman api!”

Dalam seketika tiga buah rantai panjang berselimut api melesat dari tangan kanannya dan mencambuk tubuh sang layden. Layden itu terpental, menghantam kios penjual koran, dan menabrak dinding di baliknya sedemikian keras sebagian dinding itu sampai runtuh menimpa tubuhnya. Suara rintihan dan siluet ekornya yang menggeliat masih terlihat diantara debu puing-puing. Kelihatannya dia masih hidup.

“KYYAAA!!!”

Itu Lucille! Salah satu layden berhasil menggigit kakinya dan melemparkannya ke vending machine terdekat. Mesin penjual minuman itu melesak dan Lucille terbatuk-batuk mengeluarkan darah di depannya. Celaka. Dia dalam bahaya!

Edo dengan segera melupakan lawannya dan langsung berlari menolong seniornya. Ia melompat tinggi hingga nyaris menyentuh langit-langit dan mengumpulkan kekuatannya sekali lagi dalam satu ucapan mantra.

“Tunduklah kalian jahanam dalam kuasa Ratu Lautan!”

Perlahan-lahan aura tubuhnya mulai membentuk tombak biru panjang diatas kepalanya. Ia meraih senjata itu dengan kedua tangan dan melesat turun mngincar kepala salah satu layden. Ia menusukkan tombaknya kuat-kuat, tapi sang layden sempat menghindar pada detik terakhir. Tombaknya menghantam bagian belakang leher layden itu dan menjatuhkannya dengan keras ke lantai, tapi masih tidak cukup kuat untuk langsung membunuhnya.

Layden kedua datang dengan kedua sabitnya. Edo sempat menahannya dengan tombak panjangnya, walaupun akhirnya dia terdorong mundur akibat kekuatan sang layden. Layden itu melesat lagi, Edo dengan segera mengacungkan tombaknya. Tapi, sebelum keduanya sempat beradu senjata, kepala layden itu mendadak meledak disertai suara letusan kencang. Darah hitam pekat tercecer dimana-mana. Bau mesiu dengan segera tercium dari balik punggung Edo.

Selongsong peluru kosong terjatuh dengan keras di lantai. Lucille memberikan satu acungan jempol dan senyuman kecil berhias darah pada salah satu sudut bibirnya. Edo masih menatapnya terkejut.

“Terima kasih ya.” Kata gadis itu.

Edo mengangguk, membalas senyumnya, lalu merentangkan tangan kirinya. “Tujuh gapura lindungi kami dari segala mara bahaya.”

Dan tebasan sabit layden merah itu langsung ditahan oleh barisan tiang batu yang mendadak mencuat dari tanah. Layden itu menjerit kesal, lalu mencoba berkelit melesat masuk melalui sela-sela tiang. Edo membaca mantra lagi.

“Angin penghancur pusaka, jatuhkan semua lawan raksasa!”

Ia mengibaskan kedua tangannya seolah sedang mengayunkan kipas besar tak kasat mata. Hembusan angin bagaikan badai langsung menerbangkan sang layden hingga menabrak dinding stasiun di sisi jauh sekitar lima belas meter di belakangnya. Kepala monster itu langsung hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.

Lucille merapikan rambutnya yang sedikit terkoyak akibat angin badai Edo, sementara yang merapal mantra justru mulai limbung dan jatuh bersimpuh pada kedua tangan dan lututnya. Nafasnya memburu dan keringat dingin perlahan berjatuhan dari dahinya.

“Kau terlalu memaksakan diri.” Kata Lucille. Ia mencoba berdiri sambil bersandarkan pada vending machine yang rusak itu.

“Apa boleh buat, kan?” Edo membalas sambil berusaha mengatur nafasnya. “Mana bisa aku membiarkan seorang perempuan terluka karena melindungiku? Itu sama sekali tidak keren.”

Lucille tersenyum geli mendengar kalimat terakhir Edo itu. Ia merasa juniornya ini sudah cukup tangguh untuk menghadapi serangan layden, walau jelas ia masih kurang pengalaman. Dan dia lumayan imut untuk ukuran laki-laki. Tapi, tanpa disadari olehnya, seekor layden yang tadi dihadapi oleh junior yag dipujinya itu melesat menuju sisi tubuhnya dengan sangat kencang. Ia masih sempat merasakan kehadirannya pada saat-saat terakhir, tapi sudah terlambat. Ia sudah kehilangan waktu untuk menghindar.

CRAASHH!!

Darah hitam pekat menyembur ke segala arah, membasahi dinding, vending machine, dan wajah Edo yang untuk sedetik terlihat seolah kehabisan darah. Lucille juga tidak sempat menyadari apa yang terjadi, ketika layden yang menyerangnya tiba-tiba saja terpotong-potong menjadi tujuh bagian! Sisa-sisa tubuhnya berceceran ke segala tempat di lantai stasiun.

Baru dua detik setelahnya mereka berdua sadar apa yang baru saja terjadi. Ketika sosok seorang pria berambut pirang panjang menyarungkan katananya kembali kedalam sarungnya dengan perlahan, menimbulkan suara halus yang khas. Ia melepaskan genggamannya pada gagang katana berlambang anjing berkepala dua itu, lalu menatap Edo tajam. Edo tahu betul siapa orang yang menolong seniornya ini.

“Senior Raido?!” Nada terkejut tak bisa disembunyikan dari kalimatnya. Raido adalah orang yang melatihnya dasar-dasar bertarung di markas pusat organisasi.

Yang dipanggil tidak segera menjawab. Ia masih menatap marah kepada Edo yang belum bisa mengangkat tubuhnya dari tanah. Seorang gadis kecil, mungkin umurnya tidak lebih dari sepuluh tahun, berlari keluar dari balik salah satu pilar dan menghampiri Lucille yang terluka cukup parah.

“Sherry?” Seru Edo terkejut. “Kau juga ada di sini?”

“Memang kau pikir aku datang kesini dengan siapa, bodoh?” Kalimat pelan, namun begitu dingin, itu meluncur begitu saja dari bibir Raido. Ia berjalan menghampiri Edo, membiarkan Sherry mengobati luka-luka Lucille. “Aku tadinya datang cuma untuk mengawasi, tapi tidak kusangka kau benar-benar menyedihkan.”

Edo jelas tidak terima dikatai seperti itu. “Apa maksudmu dengan menyedihkan?! Kalau kau tidak sadar, aku menyelamatkan senior Lucille hari ini.”

“Dan juga hampir membunuhnya.” Ia menunjuk Edo dengan sarung pedangnya. “Kau benar-benar tidak berguna. Melesat menolong rekan begitu tiba-tiba sampai melupakan mangsa yang tadinya kau lawan, lalu setelah itu kau menghabiskan seluruh tenagamu dalam satu serangan cuma agar kau terlihat keren? Apa yang selama ini kuajarkan tidak pernah menembus otak kecilmu? Memalukan!”

Edo menggeram marah. Ia ingin menemukan kata atau kalimat yang tepat untuk membalas semua kalimat mantan gurunya ini. Tapi otaknya kosong, lidahnya tidak bisa menemukan kalimat yang tepat. Seperti biasa, gurunya ini selalu bisa menemukan tindakannya yang salah dan mengejeknya habis-habisan.

Merasa puas menceramahi Edo, pandangannya kini mengarah pada Lucille. “Kau sudah tidak apa-apa, Lucille?”

Lucille mengangguk. “Ya. Seperti biasa, kemampuan menyembuhkan Sherry memang nomer satu, tapi apa kau tidak terlalu keras pada Edo. Bagaimanapun, inikan pertarungan pertamanya.”

“Itu bukan alasan yang cukup untuk membuatnya hampir membunuhmu.”

Lucille terdiam, ia memutuskan untuk tidak melawan orang satu ini.

“Sudah selesai.” Kata Sherry. “Kita bisa kembali, Raido.”

Raido mengangguk paham, walau wajahnya masih tetap terlihat sedingin biasanya. “Kau bisa laporkan ini ke kantor pusat sesukamu, Lucille.” Katanya sambil berjalan menjauh. Sherry segera menghampiri dan menggandeng tangannya. “Hanya saja, saranku, jangan terlalu bergantung pada pemula itu. Seperti yang sudah pernah kubilang, keputusan meluluskannya terlalu tergesa-gesa.”

Edo rasanya ingin melompat dan menebas orang itu dari belakang saja. Tapi Raido tetap berjalan santai, mengacuhkan Edo, bahkan ketika aura sihir Sherry perlahan-lahan membungkus mereka berdua dan membawa keduanya menghilang. Pergi menuju lokasi patroli mereka yang seharusnya.

Lucille menghampiri juniornya dan menepuk bahunya perlahan. “Tidak usah terlalu dimasukin hati, deh. Kau sendiri tahu kan bagaimana sifatnya orang satu itu.”

“Iya. Tapi tetap saja menyebalkan.” Edo berjalan ke tempat jaket merahnya tergeletak. “Selama aku mengenalnya, aku tidak pernah ingat dia mengatakan satu pun hal baik padaku.”

Lucille mengeluarkan suara tawa datar. Mencoba menghiburnya. “Sudahlah, daripada ngomongin dia, lebih baik kamu sekarang memberitahu petugas stasiun. Biar aku yang membuat laporan ke kantor pusat.”

“Iya, baiklah. Tapi sebelum itu.” Edo meraih ke dalam saku jaketnya. “Ini, coca colamu.”

cerita ini dapat dilihat juga di:

Goodreads

Iklan