TRIDALRY

A.I. Musthafa

“Waktunya semakin tipis. Karena kini hanya tinggal sedikit energi Ainvey yang tersisa. Kami harus segera pergi dari dunia ini, atau Tridalry yang akan pergi. Itulah alasan mengapa aku menugaskanmu. Dan jangan gunakan kekuatan Airsith sebelum kau melenyapkan setidaknya delapan kota besar. Lalu selesaikan dan lengkapilah dengan darahmu, tapi pastikan kekuatan Nansyarmu tidak aktif, untuk benar-benar mengakhiri semuanya!”

”Maksudmu, untuk mengakhiri zaman para Namsaryan?”

”Untuk memulai zaman para manusia, di dunia ini.”

*****

Kerlap-kerlip bintang semakin meredup. Kegelapan malam semakin membiru, lalu menguning. Benang merah fajar mulai tampak di sepanjang cakrawala timur di balik pegunungan. Hari yang baru telah datang.

”Lima belas tahun sudah berlalu. Perang besar yang berkobar hanya karena nafsu segelintir golongan telah membawa bencana bagi seluruh dunia. Selama itu para Namsaryan harus hidup dalam kekhawatiran dan ketakutan, kecuali mereka yang hidup di tempat ini, Eycalistrum.” Seorang pria, ditemani dua orang temannya serta hawa udara fajar yang dingin tengah berdiri di atas sebuah bukit. Bukit berumput hijau itu terletak di utara barisan Pegunungan Hazaira, di selatan teluk serta kota besar Eycalistreum. Di lereng timurnya mengalir sungai Lahzairi yang mengalir dari hutan dengan nama yang sama.

”Kota ini sangat besar, dan konon katanya kota ini dilindungi oleh kekuatan para dewa.” Seorang perempuan mengomentari perkataan pria tadi yang berdiri di serong kanannya.

”Selain itu, kota ini cukup terkenal sebagai Kota Benteng, dengan lima lapis dinding pertahanannya serta puluhan menara jaga. Siapa pun pasti berpikir ulang sebelum merencanakan penyerangan terhadap kota ini.” Pria lainnya yang berdiri di kanan sang perempuan juga ikut bicara.

”Eycalistreum, misi terakhir kita. Di sanalah tugas kita berakhir.” Pria pertama yang bernama Azraliel itu tak bisa menoleh sedikit pun dari kota itu. Ia bahkan hampir tak bisa berkedip dalam memandangnya. Ia merasakan adanya sedikit perasaan rindu. Ingin sekali rasanya ia berjalan kembali melalui gerbang raksasanya lima kali sebelum menyaksikan dahsyatnya pemandangan dalam kota tempat kelahirannya. Tapi tampaknya yang dirasakannya bukan hanya rindu. Ia merasa dipanggil. Ia merasa diharapkan dan dimintai pertolongan oleh sesuatu yang besar di dalam sana. Perasaan itu semakin kuat ketika ia menatap menara Tridalry, tiga menara raksasa kembar baru yang berdiri kokoh di pusat kota.

”Lima belas tahun perang berkecamuk, tapi penduduk kota ini sama sekali tidak terlibat dengan satu pun pertempuran. Apa menurutmu, mereka tetap pantas, … mati?” Sang perempuan berjalan mendekati Azraliel dan berdiri di sebelahnya.

Tatapannya masih tak berubah sedikit pun. Azraliel hanya diam, hanyut dalam perasaanya. Lalu ia menutup matanya, diiringi dengan sebuah tarikan nafas dalam. Dan hampir bersamaan dengan hembusan nafasnya, ia menggeleng. ”Memang tidak, Lyarin. Tapi korban sebenarnya dari perang ini bukanlah kita bangsa Namsaryan. Jika dibiarkan, sebenarnya perang ini akan berakhir suatu saat nanti. Hanya saja saat itu, semuanya sudah sangat terlambat. Ia tidak akan bertahan sampai waktu itu tiba. Dan untuk menyelamatkannya, ia yang jauh lebih tidak pantas mati, tugas kita ini tetap harus diselesaikan!”

”Memang siapa yang kau maksud itu?” Lyarin justru menjadi lebih penasaran.

Sekali lagi Azraliel tidak langsung menjawab. Sepertinya ia kurang begitu berniat untuk membicarakan yang satu ini. ”Dunia ini.” Jawabnya singkat, yang kemudian melahirkan pertanyaan baru di benak Lyarin. Karena memang hanya dirinya yang diberitahu cukup banyak tentang apa Tridalry yang sebenarnya.

”Langit timur sudah sepenuhnya bercahaya, tidak lama lagi matahari terbit.” Pria kedua dari tiga sekawan itu juga berjalan ke samping Azraliel. ”Saatnya telah tiba.”

Setelah memejamkan mata beberapa saat, akhirnya Azraliel berhasil menoleh ke timur. ”Kau benar, Gamnaron. Matahari akan terbit tapi zaman Namsaryan justru akan tenggelam. Hari ini, eh … ” Azraliel merasakan sesuatu, sebuah energi yang bergerak dan menari-nari di sekelilingnya.

”Seseorang berusaha memanggilmu.” Kata Lyarin.

”Aku tahu, seseorang dari Eycalistreum.” Kini pandangan Azraliel kembali mengarah ke kota. Dan setelah beberapa saat berkonsentrasi, ia lalu tahu bahwa kekuatan itu bersumber dari seseorang yang ksaat ini berdiri di puncak salah satu menara Tridalry. ”Bicaralah!”

”Jadi, kaulah Sang Pembantai itu?” Tiba-tiba muncul sebuah suara tua yang bersumber agak jauh di depan Azraliel. Suara itu merupakan kiriman dari sumber sesungguhnya yang sudah terlacak sebelumnya..

”Aku menolak dipanggil Sang Pembantai, jika kau tidak keberatan.” Balas Azraliel datar.

”Lalu sebaiknya kau kupanggil apa? Sayangnya, dari apa yang telah kau lakukan, tak ada nama lain yang pantas.”

Azraliel baru bicara beberapa detik kemudian. ”Engkau sudah tahu siapa aku, dan sekarang aku juga sudah tahu siapa dirimu. Panggillah dengan apa yang sudah engkau tahu, dan engkau kenal.”

”Aku berpikir tidak, kau yang kutahu tidaklah seperti ini. Aku rasa kau tidak pantas atas panggilan itu.” Nada suara itu terdengar naik.

”Baiklah, jika memang itu keputusanmu. Tapi sejauh yang kutahu, engkau masih pantas untuk panggilan yang hanya kuberikan pada seorang saja di dunia ini, Ayah.” Ada sedikit jeda sebelum Azraliel kembali bicara. ”Aku datang karena tugasku, yang …”

”Kau menyebut kebrutalanmu itu, tugas?” Terdengar adanya penekanan pada kata terakhir.

”Karena memang begitulah kenyataannya, itu bukan ideku. Sama seperti para prajurit Namsaryan yang harus berperang karena tugas dari atasan mereka.”

”Aku sudah berpikir bahwa tindakan dan alasan mereka sudah sangat bodoh, tapi tak kusangka ada yang lebih bodoh lagi. Dan aku tidak mau peduli darimana kau dapatkan kekuatan itu, yang seharusnya sudah kau gunakan untuk hal yang lebih baik. Eycalistreum akan tetap berdiri!” Suara ayah Azraliel sekarang memperlihatkan adanya gejolak emosi.

”Eycalistreum memang akan tetap berdiri. Tugasku sudah hampir selesai, dan kini sudah tidak lagi berkaitan dengan kehancuran. Sekarang aku hanya perlu menyentuh menara Tridaly, itu saja!”

”Omong kosong, memang apa kaitannya dengan perbuatanmu itu? Aku sudah memutuskan, kau tidak akan memasuki kota ini!” Keras dan tegas suara itu sekarang.

Merasa bahwa ayahnya tengah emosi, Azraliel tidak langsung berbicara. Sekarang ia berpikir, menyusun kata-kata untuk menceritakan tugasnya itu. ”Tak apa, Ayah. Aku akan masuk dengan tangan dan kekuatanku sendiri, dan aku akan langsung menuju menara Tridalry.”

Lyarin terlihat sedikit terkejut, dan ikut berkomentar, ”Tapi bukankah Eycalistreum memiliki gelembung pelindung Halvain?”

Ayah Azraliel diam, sepertinya ia menunggu anaknya bicara. Azraliel sendiri sebenarnya juga sudah tahu tentang Halvain, gelembung pelindung transparan yang akan mencegah makhluk apa pun memasuki Eycalistreum dari udara. Tapi bukan hanya itu yang ia tahu, ada sebuah rahasia lain yang ia dan ayahnya ketahui, dan ia mencoba agar ayahnya mengakuinya sendiri. ”Sekarang Ayah, kekuatanmu sudah tidak sebanding denganku. Jika tak ada hal lain yang akan engkau lakukan, aku akan bisa merobeknya dengan mudah.”

”Menurutmu begitu? Memangnya apa kaitan kekuatanku dengan Halvain?” Terdengar adanya nada meremehkan kali ini, seolah sang ayah baru saja mendengar perkataan bodoh.

”Aku sudah tahu, Ayah. Dan engkau juga sudah mengetahuinya. Jujurlah!” Nada Azraliel mulai serius, dan terdengar membujuk.

Suasana hening untuk beberapa saat. Sepertinya ayah Azraliel sedang berpikir. ”Memangnya apa yang kau tahu?”

”Kupikir akan lebih baik jika Ayah mengakuinya.”

Lagi-lagi sang ayah tidak langsung menjawab, membiarkan suara-suara pagi untuk terdengar. ”Hmm, jadi sekarang kau merasa mengetahui segalanya? Sekarang aku penasaran siapa yang memberitahumu?”

”Aku tahu Ayah berniat baik dengan menyembunyikan rahasia ini, agar para Namsaryan di sini tidak panik. Tapi engkau tidak bisa menyembunyikannya selamanya, dan juga dariku saat ini.” Azraliel terus mencoba memancing ayahnya dengan serius dan tenang.

”Sudah bukan rahasia lagi, kekuatanku tidak akan cukup …”

”Katakan, Ayah! Dan kau akan lebih mengerti mengapa aku melakukan semua ini.” Dengan tegas, Azraliel memotong perkataan ayahnya. Bujukannya telah berubah menjadi sedikit paksaan. ”Aku menginginkan pengertianmu.” Paksaannya bukan paksaan perintah, tapi lebih seperti permohonan. Sebutir tetesan air mata bahkan mengalir karena begitu kuatnya permohonan itu.

”Aku …”

”Kumohon, Ayah!” Kata Azraliel dengan penuh harap.

”Para dewa telah pergi, semuanya. Mereka meninggalkanku begitu saja, dan membiarkan Halvain memudar seiring kepergian mereka. Ya, sekarang pelindung Halvain bersumber dari kekuatanku. Perang ini belum berakhir, kota ini masih membutuhkan mereka, tapi mereka sudah meninggalkan kita.” Kini suaranya terdengar berat, dan memelan.

Azraliel tak berani menambahi barang sedikit pun sekarang, meskipun ayahnya terdiam untuk sementara waktu.

”Sekarang aku ingat, mereka pergi karena aku. Mereka mengharapkanku untuk secara langsung menghentikan perang ini, tapi aku menolak. Mereka lalu mengatakan bahwa mereka akan mencari orang lain. Tapi sejak saat itu, mereka tak pernah kembali. Dan aku sadar, bahwa aku telah mengecewakan mereka. Aku telah mengecewakan para dewa yang telah berperan banyak demi bangsa kita.” Terdengar isak menyelingi perkataan sang ayah. Besar rasa penyesalan yang terdengar dari kata-katanya. ”Aku telah gagal.” Ayah Azraliel kini menangis.

”Tidak, Ayah. Ini semua bukan karena dirimu. Bahkan dewa yang mengutusku memujimu atas keberhasilanmu mengurus Eycalistreum hingga sekarang. Dan, ia juga meminta maaf atas kepergian yang tiba-tiba ini. Ini tidak ada kaitannya dengan dirimu.” Butiran air mata kedua menetes dari mata kiri Azraliel. Di sampingnya, Lyarin yang tergolong perempuan sensitif juga ikut terharu. ”Tridalry, Ayah. Dewa mengutusku untuk Tridalry. Jika kita tidak segera bertindak, ia akan mati.”

”Dunia menjadi lebih dingin, musim salju semakin panjang, kau benar.” Jawab sang ayah pelan.

Lyarin dan Gamnaron menjadi penasaran, siapa atau apa sebenarnya Tridalry itu. Tapi untuk saat ini, mereka berdua tidak berani menyela untuk bertanya.

Ayah Azraliel lalu berkata lagi, ”Tapi, bagaimana bisa?”

”Perang. Dalam perang, para Namsaryan banyak menggunakan kekuatan Nansyar mereka dan itu menghabiskan energi Ainvey. Para dewa juga membutuhkan energi itu, tapi karena jumlahnya sekarang terlalu sedikit, mereka semua pergi. Mereka pergi dengan cepat, agar masih ada cukup energi Ainvey yang bisa kugunakan selama aku melaksanakan tugasku. Kau sudah tahu tentang energi Ainvey, bukan?” Azraliel berusaha menegarkan kembali dirinya.

”Jadi, untuk menyelamatkan Tridalry, bangsa Namsaryan harus berakhir?” Perkataan ayah Azraliel masih pelan.

”Ya, tapi Eycalistreum akan selamat, ia akan tetap berdiri.”

”Baiklah.” Nada bicara sang ayah mulai normal kembali. ”Aku sudah tahu maksudmu. Tapi kita berdua punya tugas masing-masing.”

”Maksud Ayah?”

”Kau tidak perlu khawatir. Adalah benar perkataanmu, kekuatanmu sudah jauh melebihi kekuatanku. Dan sebagaimana dirimu yang bangga mati dalam tugasmu, aku pun akan senang mati dalam tugasku. Lakukanlah, Nak!” Suara sang ayah sudah berbeda sekarang, terdengar layaknya seorang ayah yang menasihati anaknya.

”Baiklah, Ayah!” Merasa sudah mendapat restu dari ayahnya, Azraliel merasa seluruh semangat dan kekuatannya telah berkumpul dalam dirinya, dan siap untuk berjuang bersamanya. Dan setelah ia yakin ayahnya telah mengakhiri pembicaraan kali ini, tanpa membuang lebih banyak waktu ia mengaktifkan kekuatan Nansyarnya. Seluruh lengannya mulai diselimuti pendaran ungu. Semkin lama, pendaran itu semakin tebal dan terang. Lalu ketika pakaian pada lengannya tak lagi terlihat, pendaran ungu itu menghilang dan meninggalkan lapisan logam pada lengan Azraliel. Kini Azraliel terlihat seperti mengenakan pelindung lengan serta sarung tangan logam berwarna perak dan berukiran abstrak. Pada beberapa bagian, terdapat garis-garis yang bercahaya ungu. Salah satu bagiannya adalah pada punggung tiap ruas jari.

Tanpa banyak berpikir, Gamnaron dan Lyarin mundur beberapa langkah dan langsung mengikuti. Lengan mereka juga dilapisi dengan lapisan logam perak yang hampir sama. Pada sisi luar kedua lengan Gamnaron keluar belati panjang yang bercahaya ungu pada bagian tajamnya. Sedangkan pada punggung pergelangan tangan Lyarin keluar beberapa tombak ungu yang bersilangan dengan tangannya. Tombak bercahaya itu lalu melengkung ke belakang, seperti busur.

Kekuatan istimewa mereka tidak hanya sampai di situ. Pada punggung mereka masing-masing, muncul tiga pasang pendaran berwarna ungu dan berbentuk seperti tongkat dengan ujung yang tajam. Posisi ketiga pasang pendaran yang biasa disebut Aryunai itu seperti sayap, atau lebih tepatnya tidak jauh di bawah bahu. Setiap kali para Namsaryan mengaktifkan kekuatan Nansyar mereka, Aryunai ungu ini selalu muncul.

Segera setelah mereka siap, titik cahaya muncul pada masing-masing Aryunai dan merambat dari pangkal menuju ujung dengan cepat. Dan tepat saat titik cahaya itu mencapai ujung Aryunai, pendaran panjang itu langsung berubah bentuk menjadi sayap, tapi masih berupa pendaran ungu. Sayap Lyarin serta Gamnaron menyerupai sayap elang, sedangkan sayap Azraliel lebih besar dan menyerupai sayap naga. Dan untuk saat ini, mereka bertiga terlihat memiliki tiga pasang sayap. Tapi ketika mereka mulai mengepakannya, ketiga pasang sayap itu bersatu dan membentuk sepasang sayap dengan pendaran ungu yang jauh lebih kuat.

Azraliel mengawali tugas terakhir mereka hari ini dengan sebuah kepakan dan lompatan yng dahsyat. Kedua temannya bahkan membutuhkan beberapa detik untuk menyusulnya di udara. Dari raut mukanya, terlihat bahwa Azraliel masih dalam kondisi sangat serius. Sejak mulai terbang, ia tak bisa mengalihkan pandangan dari tujuannya itu, menara Tridalry. Ia juga memutuskan untuk tutup mulut ketika kedua temannya membahas sesuatu. Ia hanya bicara ketika dirinya ditanya, dan itu pun hanya berupa penjelasan yang sekadarnya, atau bahkan tidak menjelaskan sama sekali. Pada akhirnya kedua temannya sepakat untuk tidak mengganggunya. Azraliel memang kadang menyebalkan, tapi beberapa peristiwa yang lalu membuat mereka yakin bahwa Azraliel adalah pemimpin yang baik.

Sementara Azraliel tetap fokus pada menara, Gamnaron dan Lyarin memandang ke bawah menikmati pemandangan kota terhebat di dunia, Eycalistreum dari atas. Berdiri di atas bukit yang luas tapi pendek, kota ini menutupi hampir sepertiga dari seluruh daratan datar yang dikelilingi pengunungan dan lautan. Mengkuti bentuk bukit tempat pondasinya tertanam, kota ini berbentuk lingkaran. Lima lapisan dinding pertahanan raksasa berbaris rapi di sepanjang punggung bukit yang agak landai dan tidak terlalu luas. Di bagian puncak yang datar dan luar biasa lebar inilah kota yang sebenarnya ini berada. Dan tepat di pusat kota, terlihatlah menara Tridalry yang menjulang sangat tinggi, jauh lebih tinggi dan besar dari menara manapun di kota.

”Pasukan penunggang naga sudah bergerak.” Kata Lyarin.

”Penunggang phoenix juga!” Sahut Gamnaron.

Kali ini Azraliel menoleh ke bawah, tapi tidak lama. ”Tidak usah dipikirkan. Tugas kita sekarang sederhana, mereka tidak akan mengganggu sedikit pun.”

”Tapi untuk ukuran kota pecinta damai, pasukan mereka banyak juga.” Komentar Gamnaron sambil tetap memandang ke seluruh sudut kota.

Tak lama berselang, barisan dinding pertahanan kota sudah berada tepat di bawah ketiga Namsaryan itu. Kini, mereka sudah memasuki wilayah udara Eycalistreum dan sudah lebih dari separuh perjalanan menuju menara.

”Lebih tinggi, teman-teman!” Azraliel mengepakkan sayapnya lebih kuat dan melaju menuju awan. Ia lalu diikuti kedua temannya.

Setelah perjalanan yang cukup nyaman, mereka akhirnya tiba juga di atas pusat kota. Jauh dari atas, bangunan tujuan mereka yang terlihat gelap dan kokoh itu seperti tiga titik besar di antara titik-titik kecil yang mengelilinginya. Terlihat juga beberapa kumpulan titik-titik yang bergerak dengan rapi dan bersamaan. Tidak terlihat jelas benda apa itu, tapi mereka menduga titik-titik bergerak itu adalah pasukan terbang Eycalistreum yang sudah siaga.

Azraliel memandang kedua temannya yang lalu membalas menoleh ke arahnya. Dari raut wajah mereka, ia bisa merasakan bahwa bukan persiapan lagi yang mereka perlukan, melainkan perintah. Ia lalu mengarahkan kembali pandangannya ke bawah, untuk segera memulai gerakannya yang berikutnya.

”Aku yang akan merobek pelindung Halvain. Lalu kita masuk bersama-sama.” Azraliel segera menyiapkan cakarnya.

”Saatnya untuk mati.” Balas Gamnaron sementara Lyarin hanya membalas dengan anggukan pelan.

Sayap Azraliel lalu berubah berpendar biru, menandakan bahwa ia sedang mempersiapkan kekuatan yang sangat besar. Debu-debu dan partikel biru terlempar dan menyebar dari sayapnya ketika ia berteriak keras dan mengubah seluruh garis ungu di lengannya menjadi berpendar biru juga. Lalu, dari garis pada tiap punggung jemarinya keluar belati biru yang sangat panjang. Posisi belati itu sejajar dengan ruas jari tempat keluarnya dan berupa pendaran biru, yang dapat dengan mudah dihilangkan atau dimunculkan kembali oleh Azraliel sesuka hatinya. Kedua temannya yang biasanya juga mempersiapkan kekuatan masing-masing hanya menyaksikan dirinya, karena kali ini tak ada lagi kehancuran yang harus mereka buat.

Telah siap, Azraliel terlihat seperti Namsaryan bersayap dengan cakar yang panjangnya berkali-kali panjang tubuhnya. Keempat belati biru pada dua ibu jarinya sengaja ia hilangkan karena tak dibutuhkan. Dengan bermodalkan sebanyak dua puluh empat bilah cakar biru di kedua tangannya, ia terbang turun dan mencoba memperkirakan letak pelindung Halvain yang transparan itu. Dan tak lama setelahnya, ia terlihat mencakar udara di depannya yang lalu bercahaya hijau dan menampilkan bentuk sobekan. Satu cakaran lagi dilakukannya, dan terbentuklah beberapa lubang cukup besar yang dikelilingi cahaya hijau. ”Ayo!”

Diikuti kedua temannya, Azraliel terjun bebas menuju menara Tridalry. Meskipun dengan kecepatan tinggi, akan tetap memakan waktu cukup lama karena ketinggian yang jauh. Kali ini Azraliel terlihat lebih santai. Ia yang biasanya sangat terfokus dan tidak sempat memperhatikan sekitar, kini bisa menoleh. Dilihatnya lubang pada Halvain yang baru saja dibuatnya sudah mulai menutup kembali, ia juga sempat melihat matahari yang sudah naik cukup tinggi dengan cahayanya yang kekuningan, ia juga bahkan sempat menengok kedua temannya yang kini justru terlihat lebih serius.

Masih dalam keadaan terjun berkecepatan tinggi, Azraliel menyempatkan bicara. ”Ini mungkin kata-kata terakhirku, teman. Jika ada yang ingin kalian katakan padaku, inilah saatnya.”

Gamnaron dan Lyarin membalas pandangan Azraliel. Beberapa saat yang lalu mereka memiliki pertanyaan yang sangat ingin mereka sampaikan, tapi kali ini entah mengapa rasanya pikiran-pikiran tentang hal itu menghilang begitu saja.

”Eh, aku hanya ingin mengatakan, aku senang diutus bersama kalian.” Lyarin akhirnya bicara dengan pelan.

”Aku juga.” Kata Gamnaron kemudian.

Mendengar jawaban mereka berdua, Azraliel tersenyum, lalu ia kembali mengalihkan pandangannya menuju Tridalry. Di saat-saat terakhir ini, ia justru terlihat tenang. ”Ya.” Ia mengangguk. ”Aku juga ingin mengatakan, sampai jumpa, teman-teman. Setelah kematianku, aku harap kalianlah yang pertama kutemui, dan juga Ayah.”

Tiga titik kecil yang melesat ke bawah, tidak lama lagi akan berhadapan dengan satu titik kecil lainnya yang diikuti puluhan titik coklat dan merah yang melaju ke atas. Agak jauh di atas tiga menara gelap itu mereka akan bertemu, dan mungkin akan mengadakan sedikit pertempuran kecil. Tapi tampaknya ketiga Namsaryan terpilih itu sudah bosan dengan pertarungan. Hanya beberapa saat sebelum mereka dapat saling bertatapan dengan para pasukan terbang Eycalistreum, mereka menggandakan kecepatan, meninggalkan gelombang kejut serta jejak debu ungu kebiruan di belakang mereka. Dan tepat saat masing-masing mereka mencapai puncak Tridalry, cahaya hijau menerangi menara itu dan merambat ke seluruh bagian. Cahaya itu lalu menguat, dan menghasilkan tiang cahaya hijau yang menjulang sampai ke awan.

Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan dari salah satu menara di kota. Dari menara ini terlihatlah beberapa titik kecil yang terkena tiang cahaya itu ikut bercahaya hijau dan berhenti melesat ke bawah, sementara yang lainnya tetap jatuh bebas. Jalan-jalan, rerumputan, dan tanah-tanah di Eycalistreum mulai bercahaya hijau. Dan tiba-tiba muncullah kabut hijau besar yang memancar dari tiang cahaya di menara Tridalry ke segala arah. Kabut inilah hal terakhir yang para Namsaryan penduduk Eycalistreum dan juga penduduk dunia lihat. Begitu tersentuh, nyawa mereka tercabut dan kekuatan Nansyar mereka diambil lalu terbang dan dikunci dalam menara Tridalry.

Nyawa penduduk Eycalistreum yang sama sekali tidak terlibat kekacauan akan dihidupkan kembali. Tapi bukan sebagai Namsaryan, melainkan sebagai manusia biasa. Dan mulai saat ini Tridalry aman, karena sedahsyat apapun kehancuran yang manusia lakukan, mereka tidak akan bisa mengancam nyawa Tridalry sedikit pun. Beberapa legenda juga diturunkan, untuk menemai kehidupan manusia.

cerita ini dapat dilihat juga di:

Kemudian

Facebook

Iklan