UNDER THE GREENWOOD TREE

Restya

Aku pertama kali melihatmu di sana, di bawah hamparan hijau sebuah pohon besar nan elok yang berada pi pinggir desa tempat aku tinggal.

Saat itu, aku sedang mencari tanaman-tanaman herbal untuk membuat ramuan obat-obatan yang dipesan oleh seorang tabib di desaku. Dia penyembuh tersohor di desaku, dan aku bekerja padanya sebagai pengumpul bahan mentah.

Hari sangatlah terik ketika aku beranjak keluar dari rumahku. Tapi aku tak peduli. Aku tetap berjalan ke ujung desa menuju hutan. Angin lembut bertiup pelan melambai-lambaikan rambut hazel bergelombang milikku saat aku telah sampai di perbatasan antara desa dan hutan. Sambil bersenandung, aku melangkah masuk ke dalam hutan dengan sedikit lompatan-lompatan kecil di sela-selanya.

Begitu sampai di dalam hutan, aku segera mancari-cri tanaman-tanaman herbal yang dipesan oleh sang tabib. Kupetik satu per satu tanaman-tanaman yang tidak aku ketahui namanya—tapi aku tahu khasiatnya—dan segera aku masukkan ke dalam keranjangku. Aku juga sempat memetik beberapa buah jamur dari dalam tanah dekat dengan akar-akar pohon yang menembus keluar dari permukaan tanah. Aku tahu kalau jamur tidak diperlukan oleh sang tabib, tapi aku tahu, aku memerlukannya untuk memasak makan malam nanti.

Tak butuh waktu lama untuk aku menyadari kalau keranjangku sudah sangat penuh oleh tanaman-tanaman serta jamur-jamur. Dan saat itu juga, aku memutuskan untuk segera pulang ke rumah karena tanpa aku sadari hari juga sudah mulai sore. Waktu berlalu cepat sekali saat aku begitu sibuk dengan urusanku.

Aku pun kembali berjalan ke tepi hutan sambil kembali bersenandung. Sampai tiba-tiba saja, telingaku menangkap adanya suara lain bergema lembut di telingaku. Aku tidak tahu suara itu berasal dari apa—aku sama sekali tidak tahu. Yang aku tahu, suara yang tengah mengalun lembut itu sangatlah indah dan enak didengar.

Aku pun tergoda untuk mencari tahu asal suara merdu tersebut. Kususuri kembali tempat aku tadi sempat mengumpulkan tanaman herbal dan kembali mendengarkan dengan seksama. Kini suaranya terdengar makin jelas, menandakan bahwa asal suara itu tidaklah jauh dari tempatku berada sekarang.

Sebenarnya, aku tidak pernah masuk lebih jauh kedalam hutan seperti yang tengah aku lakukan sekarang ini. Para penduduk desa bilang, hutan adalah tempat yang berbahaya. Tidak ada yang tahu hal apa yang akan kita temukan di dalam lebatnya hutan. Ya, memang tidak ada yang tahu. Sama seperti aku yang tidak tahu bisa menemukanmu di tempat yang bernama hutan.

Suara lembut itu kini kian mengeras, dan aku telah sadar bahwa kini pepohonan yang tadinya begitu rapat kini mulai melenggang. Di depanku, sebuah bukit kecil menjulang di ruang kosong yang tak tertutupi lebatnya pepohonan. Di sana—di atas bukit itu—menjulang tinggi sebuah pohon besar nan kokoh dengan dahan-dahannya yang besar dan kuat menjuntai ke segala arah. Sebuah anak sungai kecil nampak mengalir di pinggir bukit itu untuk kemudian terus mengalir ke bawah entah kemana.

Oh, tempat ini begitu indah!

Aku menyesal kenapa tidak dari dulu aku menemukan tempat menakjubkan ini! Padahal surga kecil ini tidak begitu jauh dari tempat aku biasa mengumpulkan tanaman herbal!

Selama beberapa detik aku termangu karena takjub sebelum akhirnya kesadaran kembali menarikku keluar. Aku pun kembali mengingat tujuan utamaku sehingga aku bisa sampai di tempat ini.

Aku sedang mencari alunan suara merdu itu!

Oh, tapi tunggu. Kenapa suara lembut itu berhenti mengalun? Kemana suara itu pergi?

“Maaf, nona muda. Tapi kalau boleh kutahu, apa yang tengah kau lakukan di tempat ini?” tanya sebuah suara yang berasal dari arah bukit—membuatku terlonjak kaget dari lamunanku.

“Siapa di sana?!” seruku panik sambil segera bersiap-siap untuk berlari menjauh.

“Tidak perlu takut, nona. Aku tidak akan melukaimu atau yang lainnya. Aku hanya penasaran apa yang tengah dilakukan wanita secantik dirimu di tengah hutan seperti ini?” ujar suara itu lagi yang kini telah menampilkan sosok aslinya.

Di atas bukit tersebut, berdiri seorang pemuda berwajah ramah yang tengah menatapku dengan sebuah senyum lembut terpahat pada wajahnya. Rambutnya panjang, berwarna perak menjutai hingga mencapai punggungnya. Bagaikan cermin, rambut peraknya itu nampak mamantulkan cahaya matahari ke arah pepohonan. Kulitnya putih bersih, dan terkesan kaku sama seperti layaknya boneka porselen yang rapuh. Bola matanya yang berwarna biru terang itu pun menatapku dengan pancaran hangat.

Seperti tersihir, aku segera menjawab pertanyaan pemuda itu, “Namaku Nea, tuan. Nea Prillina. Tadinya aku hendak pulang ke rumah setelah selesai mengumpulkan bahan-bahan untuk meramu obat-obatan. Tapi kemudian aku mendengar alunan musik yang sungguh indah yang tidak pernah kudengar sebelumnya seumur hidupku. Maka dari itu aku tergoda untuk mencari asal suara itu. Gara-gara itu aku malah sampai di tempat ini. Maaf kalau aku menganggumu karena kedatanganku.” Mendengar penjelasanku barusan, pemuda itu malah tertawa.

Ya, kau menertawaiku yang dengan mudahnya mau berkomunikasi dengan orang asing. Aku tahu, menurutmu aku pasti begitu bodoh, iya kan?

“Aku tidak tahu kau itu begitu berani atau nekat. Tapi, berkomunikasi dengan orang asing sangatlah berbahaya, Nea.” Ujar pemuda itu sambil tetap tertawa sementara aku yang kebingungan masih tetap terdiam di tempatnya.

“Ah, maafkan aku karena sudah menertawakanmu.” Katanya akhirnya sambil berhenti tertawa, “Namaku Arthe Deislan. Panggil saja aku Arthe. Aku hanyalah seoarang pengembara yang kebetulan melewati tempat ini. Aku sama sekali tidak mempunyai niat untuk menganggu. Aku hanya sedang beristirahat.” Ujarnya sambil melemparkan senyuman lembutnya ke arahku.

Tak berapa lama, sebuah benda aneh dan asing dikeluarkannya dari balik punggungnya, kemudian ia pun kembali duduk di bawah rindangnya pohon besar di atas bukit tersebut, “Mungkin yang tadi sempat kau dengar adalah alunan suara Lute milikku nona.” Ujarnya sambil memainkan benda yang ia sebut Lute itu, “Sebagai ungkapan terima kasihku karena kau telah memuji permainan Lute-ku, akan kumainkan satu buah lagu untukmu, Nea.” Alunan indah yang tadi sempat menghilang pun kini kembali menggema lembut di telingaku.

“Kemarilah, Nea. Mendekatlah. Dengarkan lagu ini lebih jelas.” Ujarnya lagi sementara tanpa berpikir aku pun menuruti kata-katanya.

Aku menuruti kata-katamu.

***

Entah kenapa selama dua minggu ini aku selalu kembali pergi menuju hutan.

Tidak, aku sama sekali tidak berniat untuk kembali mencari dan mengumpulkan tanaman herbal. Ada alasan lain yang membuatku ingin sekali pergi ke bukit di tengah hutan itu. Mungkin, aku ingin melihat keindahan tempat ajaib itu sekali lagi? Atau mungkin aku mau mendengarkan alunan musik lembut dari Arthe?

Kau pasti tahu alasannya. Aku kembali ke hutan karena ingin bertemu denganmu. Bukan hanya sekedar mendengar permainan Lute-mu.

Kali ini aku pergi ke hutan dengan dandanan agak rapi, tidak seperti biasanya. Bahkan adikku yang masih berumur sepuluh tahun bertanya padaku kenapa aku terlihat lebih cantik dari biasanya, kenapa aku berdandan hanya untuk pergi ke hutan yang tidak ada apa-apa. Mendengar pertanyaan adikku itu aku hanya terkikik pelan.

Entah hanya perasaanku atau bukan, tapi aku merasa ada hal yang lain yang akan terjadi hari ini. Rasa was-was yang aneh mulai menjalar perlahan dalam diriku. Para penduduk bilang, akhir-akhir ini ada hal-hal aneh terjadi di dalam hutan. Misalnya saja, ada diantara mereka pernah melihat sesosok makhluk—menyerupai manusia—sedang menggerogoti seekor singa gunung yang sebenarnya sangat tidak mungkin bisa ditemukan di sekitar desaku. Ada juga yang bilang kalau mereka pernah mendengar bunyi-bunyian aneh yang menyeramkan. Bahkan terkadang ada suara teriakan atau geraman dari para hewan yang sepertinya tengah ketakutan.

Tapi sungguh, aku sama sekali tak peduli dengan hal-hal seperti itu. Malah, tanpa aku sadari, ternyata aku sudah sampai di dalam hutan. Kakiku melangkah tanpa bisa dikontrol lagi. Ia mencari tujuannya sendiri, padahal otakku sama sekali belum memberikan perintah padanya.

Tak berapa lama alunan musik merdu kembali terdengar di telingaku. Membawaku semakin terhanyut ke dalam lebatnya hutan hingga sampai ke bukit kecil yang berada di jantung hutan.

Di sana—di bawah pohon besar tersebut—Arthe kembali memainkan Lute-nya, alat musik yang memiliki enam senar untuk dimainkan. Cara memainkannya adalah dipetik dan menurutku bermain Lute tidak semudah kelihatannya. Kemarin, Arthe menawarkan untuk mengajariku bermain Lute yang tentu saja kubalas dengan semangat menggebu.

Tapi begitu aku yang mencoba bermain, entah kenapa suara yang keluar dari Lute milik Arthe selalu saja sumbang dan malah terkesan menyeramkan. Sejak saat itu aku pun memutuskan untuk tidak kembali mencoba belajar Lute. Aku hanya akan menjadi penggemar setia dari permainan Lute menakjubkan Arthe.

Arthe yang sepertinya sadar akan kehadiranku segera menghentikan permainan Lute miliknya dan menoleh ke arahku, “Nea! Kemarilah cepat! Aku sudah menunggumu dari tadi!” serunya sambil tersenyum sehingga menampilkan sederet gigi putihnya—entah kenapa di antara deretan gigi-gigi Arthe, gigi taringnya terlihat lebih mencolok.

Tanpa ragu lagi aku menerima ajakannya tersebut dan segera mendaki bukit lalu duduk manis tepat di sebelahnya. Begitu aku sampai di sebelahnya, wangi mint segar segera menampar kesadaranku. Aku sangat menyukai aroma tubuhnya! Wangi mint yang dingin dan menyejukkan terasa sangat menyegarkan penciumanku.

“Arthe, bisakah kau memainkan sebuah lagu untukku?” tanyaku antusias padanya. Arthe pun membalas pertanyaanku dengan senym ramah.

“Tentu saja Nea, kau mau aku memainkan lagu apa?” ia balas bertanya yang segera kujawab dengan keras, “Mainkan lagu yang kemarin!”

“Greenwood? Haha… Aku heran kenapa kau begitu menyukai lagu itum Nea.” Ujarnya sambil tertawa sementara tangannya sedang bersiap-siap untuk mulai bermain.

Bukannya menjawab pertanyaannya aku malah tersenyum riang ke arahnya sementara dapat kurasakan kalau rona kemerahan mulai muncul di kedua pipiku.

Seandainya Arthe bisa membaca pikiranku, aku yakin ia pasti akan tahu apa yang membuat aku begitu menyukai lagu Greenwood tersebut.

Lagu itulah yang membawaku bertemu denganmu. Jika tak ada lagu itu, maka selamanya aku tak akan pernah bisa menemukanmu. Kau Arthe—kau yang berlindung di bawah teduhnya pohon Greenwood.

Dan alunan lembut dari Lute milik Arte  pun kembali mengalun, membawaku terus masuk dan masuk ke dalam alam bawah sadarku, hingga akhirnya aku terlelap di pundaknya yang kokoh.

Sungguh, itu adalah hal paling indah yang pernah aku rasakan selama hampir setengah abad umurku, Arthe… Perasaan tenang dan nyaman itu, aku sungguh merindukannya.

***

Hari sudah gelap saat Arthe tiba-tiba membangunkanku. Wajahnya panik, pucat pasi. Dari jauh nampak begitu banyak kobaran-kobaran api yang berjalan semakin mendekat, entah apa yang tengah terjadi.

“Nea, cepatlah pergi dari sini, keadaan semakin memburuk!” seru Arthe yang sebenarnya lebih tepat jika dikatakan sebagai sebuah bisikan lembut di telingaku.

“Ada apa Arthe?!” kataku panik sambil langsung bangkit berdiri.

“Kau tidak akan punya cukup waktu untuk lari, Nea. Bersembunyilah!” bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah kembali berseru sambil segera mendorong tubuhku menjauh darinya. Begitu mendengar seruannya itu, entah kenapa secara otomatis tubuhku bergerak sendiri untuk segera mencari perlindugan.

Tanpa menunggu waktu lama, tiba-tiba saja kobaran-kobaran api itu telah berada tepat di depan Arthe. Mereka semua berkerumun, mengelilingi Arthe hingga tak ada celah lagi baginya untuk kabur. Mereka adalah para penduduk desa. Wajah mereka merah karena marah. Beberapa membawa senjata tajam di tangannya dan sebagian besar dari mereka memegang obor di tangan mereka. Rupanya itulah yang kulihat nampak seperti kobaran api.

Dari kerumunan tersebut tiba-tiba si tabib muncul dengan membawa sebotol air di tangan kanannya sementara tangan kirinya mengenggam erat obor panas yang berkobar liar, “Kau—Moordenaar! Bangsa terkutuk dari utara! Apa yang kau lakukan di sini?! Kau mata-mata bangsamu, bukan? Kau datang untuk mengancurkan desa kami!” serunya lantang seperti sengaja memprovokasi kerumunan tersebut untuk bertindak brutal.

Aku terkesiap mendengar seruan sang tabib. Arthe, yang selama ini kukenal dengan baik sebagai seorang pengembara yang baik serta pemberani adalah seorang bangsa Moordenaar? Bangsa kanibal dari bumi utara? Bangsa yang memandang pembunuhan keji dan pembantaian adalah hiburan? Bangsa yang orang-orangnya adalah para pemakan manusia yang haus darah?

Tidak mungkin kan? Tidak mungkin Arthe salah satu dari mereka! Tidak mungkin Arthe seorang Moordenaar!

Dari tempat persembunyianku di balik semak-semak aku bisa melihat sosok Arthe yang terpaku pada tempatnya. Tidak ada ketakutan dalam raut wajahnya padahal kerumunan orang yang marah itu kapan saja siap untuk menikamnya dengan senjata-senjata yang mereka bawa.

Dan kini, sebuah senyum kosong muncul perlahan dari bibir tipis Arthe. Sebuah senyum dingin yang diiringi tatapan tajam dari kedua bola mata birunya, “Ya, aku memang seorang Moordenaar.” Katanya mengakui, “Ayahku adalah Zerha Deislan, pemimpin para Moordenaar.”

Begitu mendengar nama ‘Zerha’ disebut-sebut, beberapa orang penduduk terlihat mulai gentar. Perlahan-lahan mereka pun mundur ke belakang sementara sang tabib yang melihat hal tersebut menjadi geram.

“Jangan kalian berani-berani bernjak dari tempat kalian! Apa kalian mau desa yang kita cintai ini hancur lebur di tangan para Moordenaar terkutuk seperti makhluk yang ada di hadapan kalian sekaran ini?!” serunya, “Aku yakin ia hanya seorang diri. Kita tidak perlu takut!”

Secara ajaib, emosi para penduduk pun berhasil tersulut kembali. Dengan berang mereka mengacung-ngacungkan senjata mereka ke arah Arthe sementara sang tabib perlahan-lahan maju ke depan—mendekat ke arah Arthe. Di tangan sang tabib masih tergenggam sebotol air yang entah akan ia gunakan untuk apa.

“Menurut kabar yang kudengar, bangsa kalian mempunyai kelemahan terhadap suhu panas, bukan? Kulit keras kalian sudah terbiasa akan suhu dingin bumi utara sehingga kalian tak sanggup bila harus menerima panas, benar bukan?” ujar sang tabib sambil tersenyum sinis, “Di botol ini, terdapat intisari dari jamur ‘Keryh’ yang terkenal akan racunnya yang sangat mematikan. Racunnya yang panas bisa membunuhmu hanya dalam sekejap mata, Moordenaar.”

Tidak! Jamur itu… Jamur api! Apa yang akan terjadi jika Arthe terkena ramuan jamur api tersebut?! Aku harus melakukan sesuatu! Harus! Tapi apa?

“Aku tidak takut mati, tua bangka. Aku tidak merasa bersalah dalam hal apa pun.” Ujar Arthe datar.

“Kalau bukan kau, siapa lagi orang yang telah menghabisi hewan ternak kami?!” serusalah seorang dari mereka geram.

“Bukan aku yang melakukannya. Asal kaluan tahu, walau aku anak dari seorang pemimpin Moordenaar, aku tak pernah sekali pun memakan daging manusia atau membantai apa yang bukan milikku. Selama aku di sini aku hanya memakan hewan-hewan liar dalam hutan—tak lebih.”

Sang tabib terlihat semakin marah atas bantahan Arthe barusan. Tangannya yang tengah menggenggam botol berisi intisari jamur api terayun ke arah Arthe, seperti hendak menyiramnya. Melihat hal tersebut, secara reflek aku melompat keluar dari tempat persembunyianku dan segera berdiri tepat di depan Arthe—melindunginya.

CRAAASSHH!

Seluruh intisari dari jamur ‘Keryh’ dengan tepat membasuh sebagian wajahku membuat kulitku perlahan-lahan melepuh.

Panas.

Rasanya sungguh panas. Rasanya sungguh perih saat cairan api itu perlahan-lahan menuruni mata kiriku membuatku harus terpejam, “Jangan sekali-sekali kalian berani menganggu Arthe! Ia tidak bersalah!” seruku geram sambil menahan rasa sakit yang mulai menjalar.

“NEA!” sang tabib seperti tak percaya melihatku telah bodoh melindungi Arthe, “Kau… Pengkhianat desa! Kenapa kau melindunginya?!”

Lalu tanpa gentar aku membalas kata-katanya, “KARENA AKU MENCINTAINYA!”

Mendengar seruanku tersebut emosi seluruh penduduk desa seperti tersulut. Secara membabi buta mereka menyerang ke arahku dan Arthe secara bersamaan. Arthe yang dari tadi terperangah karena melihat tindakanku langsung buru-buru melindungiku. Dengan berani ia lawan para penduduk desa dengan tangan kosong.

Darah Arthe yang berwarna merah segar bercipratan kemana-mana saat parang milik salah satu penduduk desa berhasil merobek perutnya. Melihatnya aku hanya bisa berteriak-teriak histeris. Aku sudah tak mampu melakukan apa pun.

CLAAASSHH!

Kini sebuah pedang berhasil menghadiahi sebuah sayatan lebar pada dada Arthe. Darah segar kembali terciprat ke mana-mana diiringi dengan aroma mint segar yang biasa tercium dari tubuh Arthe.

Tenaga Arthe pun kian melemah, sepertinya ia sudah tak sanggup menahan amukan dari para penduduk desa yang masih membabi buta menyerang.

DUAAAR!

Tiba-tiba saja sebuah ledakan keras terdengar dari arah desa. Para penduduk desa yang terkejut segera menghentikan aktifitas brutalnya kemudian secara bersamaan menoleh ke arah desa yang kini telah dihiasi kobaran api raksasa.

Begitu sadar akan adanya bahaya yang muncul di desa, berbondong-bondong mereka semua berlari kembali ke arah desa, begitu juga sang tabib. Mereka semua pergi, menyisakan hanya aku dan Arthe yang sama-sama terluka.

Aku bangkit berdiri sambil perlahan-lahan mendekat ke arah Arthe. Kupapah tubuhnya yang bersimbah darah mendekat ke pohon Greenwood kemudian kusandarkan pada batangnya yang kuat.

Napas Arthe tampak tersengal-sengal sementara darah tak kunjung berhenti keluar dari tubuhnya yang semakin melemah, “Sepertinya pasukan yang diperintah ayahku telah datang ke desa ini.” Katanya dengan suara berat sambil tersenyum pahit ke arahku, “Padahal aku sudah berusaha mencegah kedatangan mereka. Aku tak ingin melihatmu, keluargamu, serta seluruh penduduk desa yang kau cintai terbunuh. Aku gagal, Nea. Aku bahkan tak mampu melindungimu.” Katanya lirih.

Aku menggeleng cepat, “Tidak Arthe, tidak. Ini bukan salahmu. Aku yakin kau sudah berusaha semampumu—baru saja aku menyaksikan kegigihanmu.” Tanpa bisa kutahan bulir-bulir air mata mulai menetes turun dari bola mataku. Air mata yang mengalir tepat di atas lukaku membuatnya kian terasa perih.

“Wajahmu, Nea. Wajahmu jadi rusak. Dan akulah penyebabnya.” Katanya sambil mengusap perlahan wajahku yang kini telah rusak, “Wajahmu yang cantik jelita….”

Kemudian, kata-katanya terpotong. Matanya yang tajam terlihat balas menatapku dalam-dalam, “Aku juga mencintaimu, Nea….” katanya susah payah, “Pergilah, pergilah dari tempat ini, jangan pernah kembali ke desa—kau tidak akan selamat.” Kemudian ia mendorong-dorong tubuhku agar aku pergi dari hadapannya.

“Tapi kenapa, Arthe? Kenapa?!” seruku tak terima.

“Para prajurit ayahku akan segera mendatangi tempat ini, cepatlah pergi—cepat!” teriaknya geram sementara dengan berat aku segera berlari menjauh. Meninggalkan Arthe serta desaku yang perlahan-lahan runtuh.

***

Sudah dua puluh tahun berlalu sejak kejadian mengenaskan itu menimpa hidupku. Dalam pelarianku itu, aku bertemu dengan para penduduk desa yang berhasil melarikan diri. Di antara mereka terdapat adikku—satu-satunya anggota keluargaku yang berhasil selamat. Kami semua pergi mengungsi jauh ke sebuah kota yang berada di timur desa dan menetap di sana semenjak penyerangan tersebut.

Ya, sudah dua puluh tahun berlalu sejak kejadian itu, sampai secara tiba-tiba aku mengumpulkan keberanianku untuk kembali ke desa lamaku yang telah menjadi puing. Aku berjalan perlahan mengitari desa mengingat-ingat kembali semua kenangan yang ada—walau sekarang sepertinya sudah sangat sulit karena ingatanku sudah mulai kabur.

Tanpa kusadari kini aku telah sampai di perbatasan antara desa dan hutan. Angin kemudian bertiup dengan lembut hingga mengibarkan rambut hazelku yang sudah memutih dengan gerakan nan anggun.

Tanpa ragu aku segera masuk ke dalam hutan dan membiarkan ingatanku yang samar menuntunku ke tempat di mana aku pertama kali bertemu dengan orang yang kucintai—Arthe Deislan.

Tapi tiba-tiba saja dari telingaku terdengar alunan lembut yang terbawa angin—membuatku seakan ingin terlelap dalam tidur.

Ini Lute! Aku sangat yakin kalau suara ini adalah bunyi Lute milik Arthe!

Dan lagu yang sedang menggeme di telingaku adalah….

“Under The Greenwood Tree” kataku tak percaya sambil segera  berjalan tertatih ke asal suara tersebut.

***

Iklan