WAJAH SHEIRA

Aki

Mata Roan tidak bisa lepas dari gadis yang sudah lama ia sukai. Helda namanya, gadis dari Desa Rotendawn yang bertubuh tinggi dengan rambut ikal menggemaskan. Matanya berwarna cokelat gelap dan tampak ramah. Gadis muda yang bekerja sebagai pelayan itu selalu sibuk mondar-mandir di dalam sebuah rumah makan tempat Roan berkunjung, pergi ke tiap sudut ruangan sambil membawa nampan berisi pesanan para pelanggan.

Rumah makan Hound’s tempat Helda bekerja memang menjadi tempat favorit Roan belakangan ini. Bukan karena masakannya yang enak atau tempatnya yang nyaman, tapi karena ia bisa puas memandangi Helda dengan kedua matanya yang kebiruan. Datang ke Hound’s dan duduk di meja paling pojok dekat jendela adalah rutinitas Roan sebulan terakhir ini. Sambil memakan sup, meminum cokelat panas dan menghirup aroma masakan menggiurkan yang memenuhi tiap sudut Hound’s, Roan bisa menikmati wajah Helda dari kejauhan.

Pagi ini, Roan mengajak seorang sahabat dekatnya bernama Aggy untuk datang ke Hound’s dan duduk di meja paling pojok yang menjadi tempat favoritnya. Roan memang ingin memberitahu Aggy tentang Helda, sekaligus meminta nasehat bagaimana caranya agar gadis manis itu bisa tertarik padanya, karena sampai saat ini Helda tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia terpesona oleh ketampanan yang Roan miliki. Walau bermaksud untuk membicarakan Helda, tapi Roan malah lebih banyak melamun sejak tiba di Hound’s dan membiarkan Aggy melahap makanannya sendiri.

“Hei, kau belum menyentuh daging bakarmu?” tanya Aggy, sahabat Roan yang bertubuh gemuk itu tergiur menatap sepiring daging bakar pedas di hadapan Roan.

“Aku tidak lapar,” Roan menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya pada Helda yang kali ini tengah menghidangkan segelas minuman hangat pada salah satu pelanggan.

“Bukankah kau yang tadi mengajakku ke sini?” Aggy bertanya heran walau sebenarnya ia sangat senang dengan jawaban Roan. Itu artinya ia bisa merebut daging bakar milik sahabatnya itu.

Roan tidak berbicara apa-apa lagi. Ia seolah lupa dengan keberadaan Aggy yang kini tanpa sungkan-sungkan langsung menarik sepiring daging bakar dari hadapan Roan dan melahapnya pelan-pelan, menikmati sensasi pedas yang ia rasakan pada setiap potongannya.

“Hmm…” Aggy menggumam panjang. “Makanan ini benar-benar lezat.”

Roan tidak menghiraukan ucapan Aggy, pemuda itu terus melamun sambil mengikuti sosok Helda dengan matanya. Selama beberapa saat, Aggy terlihat begitu menikmati makanan gratisnya, tapi saat daging bakar itu tinggal setengah, Aggy pun baru menyadari ada yang tidak beres dengan Roan.

Aggy memperhatikan pemuda 20 tahun yang bertubuh tegap dengan rambut lurus itu. Roan memang sudah bengong sejak mereka tiba di rumah makan Hound’s yang terkenal ini. Diam-diam, Aggy pun mengikuti arah mata Roan, pandangannya pun langsung tertuju pada Helda, gadis manis bercelemek biru yang selalu tersenyum melayani pelanggan Hound’s.

“Jadi itu alasanmu mengajakku ke Hound’s, ya?” tanya Aggy.

“Hah?” Roan akhirnya melirik ke arah Aggy yang mulutnya sudah penuh dengan bercak saus tomat.

“Kau ingin agar aku bisa menemanimu untuk memandangi pelayan itu sampai puas?”

“Dia punya nama,” kata Roan. “Helda.”

“Oh, Helda? Nama yang bagus,” kata Aggy.

“Memang,” Roan tersenyum tipis saat melihat senyum yang sama di bibir Helda.

“Dan kau menyukai gadis itu, kan?” Aggy langsung menebak, membuat pipi Roan memerah dan tidak mengatakan apapun saking gugupnya. “Ya, ya, wajahmu sudah memberi tahuku,” Aggy lalu terkekeh geli sambil kembali melahap daging bakar milik Roan.

“Tapi aku punya masalah,” kata Roan.

“Sekarang aku semakin tahu kenapa kau mengajakku ke sini,” ujar Aggy sambil memotong sebagian daging dengan pisau makannya. “Kau hanya membutuhkanku jika punya masalah.”

“Hei, itu tidak benar!” sergah Roan, menoleh ke arah Aggy sambil mengerenyitkan dahi.

“Hahaha, iya..iya..aku hanya becanda, kawan,” kata Aggy geli. “Lalu apa masalahmu?”

“Kau benar, aku menyukai Helda,” kata Roan.

“Dari sudut manapun, hal itu bukanlah suatu masalah,” sahut Aggy sambil terus memakan daging bakar sepotong demi sepotong.

“Memang bukan itu masalahnya,” kata Roan pelan.

Tak lama kemudian, Helda melewati meja pojok tempat Roan dan Aggy duduk. Gadis itu membawa nampan berisi sepiring masakan dengan aroma yang begitu menggiurkan. Wanginya ternyata sampai ke hidung Aggy, pemuda itu pun tersenyum tipis sambil memejamkan matanya, menikmati sekilas aroma harum yang menggoda. Berbeda dengan Aggy, Roan malah terlihat lesu dan akhirnya menunduk setelah Helda agak menjauh.

“Kau lihat, kan?” tanya Roan dengan nada hambar. “Ia bahkan tidak melirikku saat lewat.”

“Maaf, tidak lihat,” sahut Aggy sambil memotong-motong daging bakar di hadapannya. “Aku terlalu sibuk dengan wangi masakan yang Helda bawa.”

“Intinya, Helda tidak tertarik padaku,” ujar Roan dengan nada tak sabar. Aggy yang sibuk mengunyah daging bakar, menoleh ke arah Roan dengan raut wajah heran.

“Bagaimana kau tahu?” tanya Aggy.

“Dia kan baru saja lewat, dia bahkan sama sekali tidak melihatku,” kata Roan.

“Kurasa dia harus konsentrasi pada nampan yang dia bawa,” ujar Aggy dengan lagak berpikir. “Mungkin karena itu dia tidak mau mengalihkan perhatiannya padamu.”

“Bukan hanya itu. Kami juga sempat beberapa kali mengobrol, tapi tampaknya dia biasa-biasa saja,” kata Roan lesu, ia menunduk menatap meja kayu seolah ada wajah Helda di sana.

Aggy meletakkan garpu dan pisaunya lalu sambil terus mengunyah daging, ia mengerenyit ke arah Roan.

“Maksudmu, cintamu bertepuk sebelah tangan?” tanya Aggy.

“Iya, kelihatannya begitu.”

Aggy mengangguk-angguk pelan, mengerti apa yang sedang dialami sahabat dekatnya itu.

“Mungkin kau butuh bantuan,” Aggy menggumam dengan mulut yang masih penuh daging.

“Kau bisa membantuku?” Roan menatap Aggy penuh harap, tapi sahabatnya malah menggeleng. Pemuda bertubuh tambun itu buru-buru menelan makanannya lalu minum segelas air jeruk yang sudah ia pesan sejak tadi.

“Tidak, aku tidak bisa,” kata Aggy. “Aku bukan seorang dukun cinta yang bisa menyatukan kau dan Helda dengan tiba-tiba.”

Mendengar perkataan Aggy, Roan kembali lesu. Pemuda itu benar-benar seperti anak kecil menginginkan sebuah mainan yang mustahil didapatkan.

“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanya Roan dengan suara pelan. “Aku sudah mencoba mendekati Helda, tapi tidak pernah berhasil.”

Aggy tidak menjawab, pemuda gemuk itu tampak berpikir sejenak sambil memainkan garpu dan pisau kecil di tangannya.

“Hm, sepertinya aku punya sebuah informasi yang mungkin berguna,” kata Aggy setelah beberapa saat.

“Apa?” tanya Roan, mendongak menatap Aggy dengan wajah penuh harap.

“Kurasa bisa membantumu.”

“Siapa? Kau?”

“Sudah kubilang aku tidak bisa!” ujar Aggy dengan nada tak sabar. “Tapi seseorang… mungkin bisa.”

“Siapa maksudmu?” Roan semakin penasaran. “Aku benar-benar butuh bantuan. Aku ingin Helda tertarik padaku.”

Aggy mengelap mulutnya yang belepotan dengan lap putih lalu menatap Roan dengan tampang serius.

“Ini menyangkut mitos kuno yang hanya diketahui oleh beberapa orang,” ucap Aggy.

“Mitos?” Roan agak bingung dengan ucapan Aggy.

“Kau tahu mitos putri duyung?” tanya Aggy. Roan mengerenyitkan dahi sambil menggelengkan kepala. “Aku pernah dengar soal mitos ini dari ibuku.”

“Apa hubungannya denganku?” tanya Roan, pemuda itu tampak semakin bingung. Aggy langsung mengibaskan tangannya untuk menyuruh Roan diam dan mendengarkan ceritanya.

“Putri duyung itu makhluk yang penuh misteri, penuh magis dan pesonanya bisa membuat matamu tak berkedip.”

“Aku belum mengerti,” Roan menyahut lagi. “Apa hubu…”

“Menurut mitos di Rotendawn,” Aggy langsung memotong ucapan Roan dengan nada tak sabar. “Kalau kita bisa melihat wajah mereka, kita bisa mengatakan satu permintaan yang akan mereka penuhi.”

Roan bengong beberapa saat setelah mendengar ucapan Aggy yang menurutnya agak tidak masuk akal. Ia belum pernah mendengar mitos seperti itu sebelumnya.

“Kau tidak sedang bercanda, kan?” tanya Roan dengan nada curiga.

“Lihat wajahku,” kata Aggy. “Apa aku kelihatan sedang bercanda?”

“Entahlah,” jawab Roan sambil melihat ke arah Helda yang kini sibuk mengepel lantai rumah makan Hound’s.

“Aku tidak tahu apakah mitos itu benar atau tidak,” kata Aggy. “Tapi yang jelas, putri duyung itu benar-benar ada. Tidak ada salahnya kau mencoba menemui salah satu dari mereka dan meminta pertolongannya, siapa tahu mereka benar-benar bisa mengabulkan permintaanmu.”

Roan bertopang dagu dengan mata yang tak mau beranjak dari sosok gadis impiannya. Keramaian dan segala wangi masakan di Hound’s sama sekali tidak mengalihkan perhatian Roan.

“Yeah, mungkin aku perlu mencoba,” ujar Roan dengan suara yang sangat pelan.

“Tapi kata ibu, eh…maksudku kata mitos yang disampaikan oleh ibuku…” Aggy bergumam sambil meraih pisau dan garpu yang ia letakkan beberapa saat lalu. “Kita akan bernasib buruk kalau bisa bertemu dengan putri duyung itu.”

Roan mengerenyitkan dahi untuk kesekian kalinya. Ia menoleh dan menatap ke arah Aggy yang kembali antusias melahap daging bakar miliknya.

“Bukankah kau tadi bilang kita bisa mengajukan satu permintaan? Berarti itu nasib baik, kan?” tanya Roan dengan nada bingung.

“Entahlah, aku tidak tahu,” ujar Aggy. “Aku hanya menyampaikan apa yang aku dengar dari ibuku.”

“Memangnya nasib buruk apa yang bisa menimpa kita?” tanya Roan.

“Aku belum pernah bertemu apalagi melihat wajah putri duyung,” kata Aggy. “Jadi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu.”

“Lalu di mana aku bisa menemukan mereka?” Roan bertanya lagi.

“Laut Rotenbay. Teruslah berjalan ke utara, kau akan sampai ke sana dalam waktu satu hari,” kata Aggy. “Menurut mitos, putri duyung hanya muncul saat hari masih gelap menjelang fajar.”

Roan mengangguk-angguk mengerti. Ia memang belum pernah ke Rotenbay, kabarnya ombak di laut itu sangat besar dan ganas hingga tak ada yang berani mendekati pantainya.

“Apa menurutmu aku benar-benar perlu mencari putri duyung itu?” tanya Roan.

“Apa kau sangat mencintai Helda?” Aggy balik bertanya.

“Iya.”

“Kuberi tahu kau sesuatu, sobat,” kata Aggy. “Mungkin menemui putri duyung akan bisa mengabulkan permintaanmu, bisa membuat Helda jatuh cinta padamu, tapi aku tidak menjamin kau bisa hidup bahagia setelahnya.”

“Jika Helda mencintaiku, aku sudah bahagia,” kata Roan mantap.

“Kalau begitu kau sudah tahu apa jawaban dari pertanyaanmu tadi,” sahut Aggy lalu menunduk dan menghabiskan daging bakar yang tinggal beberapa potong.

*

Matahari belum muncul mengguratkan benang keemasan di langit timur, tapi Roan sudah berdiri di atas sebuah batu besar menunggu sesosok putri duyung yang Aggy ceritakan. Kebiruan Laut Rotenbay belum nampak, masih hitam kelam menyeramkan.

Roan memicingkan mata mencoba menangkap garis ekuator dengan tatapan matanya. Ternyata kabar yang selama ini mampir di telinganya tidak terlalu benar. Ombak di laut ini memang selalu menderu dengan suara yang menyeramkan, tapi tidak terlalu besar hingga membuat orang ketakutan.

Batu yang Roan pijak penuh dengan lumut tebal, kalau Roan tak hati-hati melangkah ia bisa terperosok ke tepi laut yang penuh bebatuan. Pemuda itu berdiri diam, menatap hitamnya laut dengan hati berdebar. Roan sudah bertekad bulat akan melakukan apa saja untuk mendapatkan cinta Helda, gadis manis yang sudah lama memikat hatinya. Mungkin bertemu dengan putri duyung adalah jalan keluar yang tersisa. Entah hanya mitos atau legenda, Roan tidak peduli, yang ada di otaknya hanyalah ingin meminta bantuan putri duyung agar Helda bisa jatuh cinta padanya.

“…akan bernasib buruk kalau bisa bertemu dengan putri duyung…”

Kata-kata Aggy itu kembali terngiang di telinga Roan, tapi lagi-lagi ia mengabaikan ucapan sahabatnya itu. Ia tidak peduli, karena bagi Roan, satu-satunya hal buruk yang bisa terjadi padanya adalah tidak mendapatkan cinta Helda.

Sudah cukup lama Roan berdiri menunggu, kegelapan di ufuk timur pun mulai memudar dan berubah warna. Saat Roan hampir putus asa dan berpikir tidak akan bertemu dengan putri duyung, mendadak air laut di hadapan Roan beriak pelan. Pemuda itu tersentak dan jantungnya langsung berdegub kencang. Apakah itu putri duyung? Atau hanya ikan yang menggodanya?

Dari balik riak itu, sebuah sirip ekor ikan tiba-tiba muncul ke permukaan, membuat jantung Roan semakin tak karuan. Saat pemuda itu masih berpikir akan melihat seekor ikan, sesosok tubuh gadis muncul membelah air laut yang kelam. Kulit tubuhnya tampak putih bersinar lembut dan menerangi permukaan laut tempat ia muncul. Rambutnya yang panjang mengambang di perairan, tapi Roan tidak bisa melihat wajahnya karena makhluk itu membelakangi Roan.

Suara ombak di kejauhan masih menderu, tapi air laut di sekitar putri duyung itu tampak tenang, hanya riak kecil yang menimbulkan bunyi-bunyi kecipak air berirama merdu. Roan seperti bermimpi, ia terus menatap sosok misterius itu sambil menebak-nebak dalam hati apakah yang ia lihat itu benar-benar putri duyung, mahkluk yang bisa mengabulkan satu permintaan yang akan ia ajukan.

“A-apakah kau putri duyung?” akhirnya Roan ingin meyakinkan dirinya. Bertanya dengan suara bergetar, hampir tak terdengar.

“Menurutmu?” putri duyung itu balik bertanya. Suaranya terdengar sangat halus dan terkesan manja. Ia menggerakkan kepalanya sedikit seolah menggoda Roan agar pemuda itu semakin penasaran untuk melihat wajahnya.

Roan mengerenyitkan dahi. Ia mencondongkan tubuhnya ke kiri, berusaha mencuri pandang ke arah wajah sang putri duyung. Tapi usaha Roan sia-sia, karena wajah yang ingin ia lihat tersamar oleh minimnya cahaya, apalagi rambut putri duyung itu sangat panjang dan menutupi sebagian wajahnya.

“Aku…” Roan ingin memperkenalkan dirinya. “Aku Roan dan…”

“Aku sudah tahu,” putri duyung itu memotong ucapan Roan. “Namaku Sheira.”

“Oh, Sheira,” Roan menelan ludah mendengar ucapan putri duyung itu. Ia merasakan sesuatu yang aneh sejak makhluk bernama Sheira itu muncul. “Aku…aku ingin  memohon sesuatu,” kata Roan terus terang.

“Untuk itu kau datang dan menunggu di atas batu?” tanya Sheira sambil terus membelakangi Roan, sedangkan sirip ekornya kadang muncul dan tenggelam di permukaan air. “Kau tahu apa syarat dan akibatnya?”

“Iya,” jawab Roan. “Eh, maksudku, aku tahu apa syaratnya. Karena itu aku ingin melihat wajahmu.”

“Hmm…” Sheira menggumam panjang. “Tapi aku yakin kau belum tahu apa akibatnya.”

“Sahabatku bilang, aku akan mendapat nasib buruk,” kata Roan. “Aku tidak peduli.”

“Benarkah?” Sheira kembali menggoyangkan kepalanya ke samping hingga pipinya sedikit terlihat oleh Roan.

Jantung Roan mendadak berdesir saat matanya terpaku menatap sebagian pipi kiri Sheira yang masih agak tertutup rambut. Pemuda itu tidak tahu kenapa jantungnya begitu kencang berdegub melihat hal itu.

“Aku…hanya ingin melihat wajahmu dan memohon sesuatu,” kata Roan mantap. “Itupun jika kau mengijinkan.”

“Tentu saja.”

Putri duyung bernama Sheira itu lalu terkikik geli hingga pundaknya tampak bergetar pelan. Deru ombak menenggelamkan suara tawa kecil Sheira. Roan masih menunggu dengan mata yang tak mau beralih dari pipi si putri duyung, ia berharap bisa melihat lebih dari hanya sekedar sebagian pipi.

Suara hati Roan tampaknya sampai ke telinga Sheira. Putri duyung itu lalu menoleh ke arah Roan pelan-pelan. Setelah tahu bahwa Sheira akan memperlihatkan wajahnya, Roan pun menyunggingkan senyum. Terbayang di otak pemuda itu bahwa tak lama lagi Helda akan jatuh cinta padanya.

Sheira sudah benar-benar menoleh sekarang. Roan tak perlu susah-susah membungkuk atau memiringkan tubuh untuk melihat wajah putri duyung itu. Tapi saat wajah Sheira sudah benar-benar bisa terlihat, mata Roan malah terbelalak. Ia tidak bisa mengucapkan apa-apa dan hanya terpaku diam di atas batu besar.

Jantung Roan semakin berdegub, hatinya bergetar melihat kecantikan Sheira yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kecantikan yang lembut dan sulit untuk Roan jelaskan, yang ia tahu adalah bahwa ia ingin sekali memiliki wajah itu. Wajah yang oval dengan kulit bersinar halus, matanya biru dengan tatapan sedalam laut, bibir yang selalu menyunggingkan senyum manis itu pun mampu membuat Roan betah berlama-lama menikmati setiap keindahan yang ada.

“Jadi, apa keinginanmu?” tanya Sheira dengan suara merdunya, tapi Roan tidak bicara sedikitpun, ia tetap terpaku melihat wajah Sheira yang begitu mempesona hatinya.

Melihat kebengongan Roan, Sheira pun kembali tertawa pelan. Dengan gerakan yang menggoda, ia mengibaskan rambut indahnya lalu membalikkan badan hingga ia berhadap-hadapan dengan Roan yang masih membeku di atas batu besar berlumut.

“Aku tanya sekali lagi,” kata Sheira sambil menyisir rambut dengan jari-jari lentiknya yang bergerak halus. “Apa keinginanmu yang harus aku kabulkan?”

Roan seolah tuli. Ia sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Sheira sedikitpun. Pemuda itu seperti terhipnotis untuk terus menikmati kecantikan Sheira yang begitu indah. Senyum Sheira semakin melebar, ia tampak geli melihat Roan yang mematung dalam diam.

Sheira lalu menghela napas dan kembali menyelam ke dalam air laut perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian, kepalanya muncul lagi ke permukaan, melempar senyum pada Roan untuk terakhir kalinya lalu berenang meninggalkan pemuda itu tanpa berkata apa-apa lagi, semakin lama semakin jauh dan akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan.

Saat Sheira sudah tak ada di depan mata, Roan tersadar dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Ia seperti orang linglung, menoleh ke sana kemari mencari Sheira tapi tak ditemukannya putri duyung yang cantik itu.

Ada perasaan aneh di hati Roan. Pemuda itu tak ingat apa-apa lagi kecuali perjumpaannya dengan Sheira. Roan lalu berjalan menapaki bebatuan dengan mata yang tak mau lepas dari lautan, hingga akhirnya ia terjatuh ke tepi laut dan airnya menggenangi kaki Roan hingga lutut. Mata pemuda itu masih tak mau beralih ke arah lain, ia seperti tersihir untuk terus membayangkan Sheira yang memiliki kecantikan luar biasa.

“Krak!”

Roan yang masih terpana menatap laut tidak sadar bahwa kakinya baru saja menginjak sesuatu di bawah air. Roan menunduk, samar-samar dengan bantuan cahaya fajar yang mulai tiba, mata Roan melihat tumpukan tulang belulang di bawah air laut. Roan lalu mengabaikannya seolah itu bukanlah hal yang patut untuk dirisaukan. Ia mendongak menatap lautan dan kembali membentuk asa untuk bertemu dengan Sheira. Roan benar-benar tak sadar bahwa ia telah berdiri di atas tulang-tulang manusia, tulang dari orang-orang yang pernah jatuh cinta dan akhirnya setia menunggu putri duyung hadir untuk kedua kalinya.

Roan lalu duduk di sebuah batu agak besar, mematung dengan tatapan kosong ke arah Laut Rotenbay yang luas. Suara ombak-ombak kecil yang menabrak bebatuan sama sekali tak menyadarkan Roan. Ia terus terdiam, sedangkan hatinya bergejolak menahan rindu. Roan sudah benar-benar jatuh hati pada Sheira dan tak ada lagi nama Helda di otaknya.

Roan bertekad untuk tidak meninggalkan Rotenbay sedetik pun, ia akan terus duduk menanti. Pemuda itu ingin menunggu Sheira muncul kembali, sikap yang sama seperti pemuda-pemuda sebelumnya yang sekarang telah berubah menjadi tulang-belulang di bawah laut. Roan menunggu sebuah perjumpaan yang tidak akan pernah terjadi, karena Sheira tidak akan pernah kembali sampai Roan mati.

***

Iklan