YUMEGATARI

SZero

Sungguh pemandangan yang aneh. Seorang pria tengah berdiri di tepian gurun pasir yang dipenuhi batu karang, di belakangnya seorang gadis kecil memegang erat ujung mantel yang dipakai pria itu. Dihadapan mereka terbentang padang bunga yang begitu luas seolah ada pembatas dunia dimana mereka kini berpijak dan dunia yang ada dihadapan mereka. Sebuah jalan setapak yang berliku seakan membimbing mereka berdua ke arah sebuah rumah kecil di ujung horison. Langit pun tampak begitu berbeda, disatu sisi tampak langit merah kering yang tanpa belas kasihan, di sisi lain langit begitu biru, luas dan hangat.

Meskipun padang bunga yang begiu indah terhampar luas dihadapannya, pria itu tidak tampak senang maupun bahagia. Kecurigaan membanjiri pandangannya, rasa khawatir tertulis dengan jelas di wajahnya yang tampak kusam dan lelah. Ketika ia menoleh kebelakang, barisan batu karang kering dan pasir tampak menjadi pilihan yang lebih bijak dan menyenangkan daripada apa yang sedang ia hadapi saat ini. Tapi pria itu akhirnya tetap melangkahkan kakinya dengan berat hati kedalam jalan setapak padang bunga tersebut setelah melihat gadis kecilnya.

Dengan pandangan yang bersinar gadis kecil itu menyapu padang bunga itu, matanya mencoba menangkap setiap detil kecil yang ada dari keajaiban yang ada di depannya. Wajahnya begitu berseri-seri dan mulutnya terbuka lebar penuh kekaguman akan padang bunga yang ada dihadapannya. Perlahan gadis itu melepaskan pegangannya dan menghampiri padang bunga tersebut. Sungguh gadis kecil yang begitu bahagia dan polos.

Pria itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya menarik tangan gadis itu dan memasuki jalan setapak di hadapan mereka. Mereka sebenarnya tidak punya pilihan lain selain terus maju. Mereka harus melakukan sesuatu terhadap persediaan air yang menipis dan rasa lelah yang terus menggantungi mereka sejak memasuki gurun yang tak bertuan itu. Meskipun pria itu tampaknya masih mampu bertahan untuk beberapa lama lagi di ganasnya alam gurun, tapi tidak untuk gadis kecil yang tengah berjalan di sampingnya sembari sibuk melempar pandangannya ke setiap bunga mungil yang mereka lewati. Pria itu sadar, mereka tengah memasuki jebakan yang begitu manis hingga tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Pria itu melepas topi lebarnya dan menggunakannya untuk mengipasi wajahnya. Tubuhnya hanya ditutupi oleh mantel panjang yang tampak sudah berlubang di beberapa tempat dan celana panjang kulit yang tidak kalah kusamnya. Sepatu bot butut yang dia pakai pun tampak mulai berlubang. Tapi dibalik pakaian kusamnya itu tersimpan sebilah pedang bermata satu dan sebuah belati yang cukup panjang, dan dipunggungnya tersampir kantong kulit yang berisi persediaan makan dan minum mereka, yang beberapa hari lalu cukup berat, kini terlihat kosong.

Sementara gadis itu tampak berjalan riang dengan sepatu merah mungilnya sementara gaun pendek putihnya yang terbuat dari bahan yang ringan bergerak anggun diterpa angin sepoi-sepoi.  Tangan kiri gadis itu menahan topi bonnetnya agar tidak terbang tertiup angin, meskipun ia sudah menalikannya dengan kencang. Di lehernya tampak sebuah kalung kristal berwarna ungu yang berkilauan disinari oleh cahaya matahari. Sungguh seorang tuan puteri kecil bagi pria yang sedang menuntunnya.

Di tengah padang bunga itu mereka melihat seorang wanita tengah duduk dengan anggunnya di teras sebuah rumah kecil. Wanita itu dengan anggun mengangkat cangkir teh yang ada dihadapannya dan menhirup perlahan isinya, acara minum teh itu di temani pula dengan sepiring kecil scone manis dan beberapa potong bunga yang ditaruh disebuah vas bening. Wanita itu tampak menyadari kedatangan kedua orang tamunya dan melirik mereka dengan sudut matanya kemudian perlahan di menaruh kembali cangkirnya.

Wanita itu kemudian berdiri dan turun perlahan dari teras sembari melempar senyum ramah pada tamunya. Wanita itu tampak begitu cantik bagaikan sebuah bunga, apalagi dengan gaunnya yang berwarna putih dengan pola merah jambu dan mantel pendek berwarna hijau tua yang ia kenakan.  Dengan langkah kaki yang ringan ia menuruni tangga sembari mengibaskan rambut panjang bergelombang berwarna coklatnya. Tangannya terbuka lebar menyambut tamu-tamunya dengan ramah.

Meskipun mereka menerima sambutan yang ramah dari sang tuan rumah kedua tamunya tampak diam membatu. Pria itu menatap wanita yang tersenyum dihadapannya dengan tatapan dingin sementara tangan kanannya perlahan mendekati gagang pedang dibalik mantelnya. Sementara gadis kecil yang sedari tadi tampak ceria tampak bingung dan bimbang, ada sesuatu pada diri wanita itu yang menarik perhatiannya. Tapi pria yang disebelah gadis kecil hanya menarik gadis itu dan mendorongnya ke balik punggungnya.

Melihat reaksi kedua tamunya wanita itu menggelengkan kepalanya kemudian mengacungkan jari telunjuk kanannya kedepan. Setelah itu wanita itu berbisik pelan “Perlambang bunga. Taman bunga tanpa batas.” Dan menjentikan jarinya. Seketika semua bunga yang ada di padang bunga itu berubah menjadi bunga raksasa setinggi orang dewasa.  Bunga-bunga itu mengeluarkan aura pekat yang dapat membuat orang biasa terjatuh pingsan, dan itu yang terjadi pada si gadis kecil.

Si pria terkejut melihat gadis kecilnya terjatuh lemas dan tidak menyadari bahwa wanita itu berjalan mendekatinya, ketika tersadar wanita itu sudah ada di hadapannya si pria langsung menerima pukulan telak di wajah yang membuatnya terpental kebelakang. Tampaknya aura dari bunga-bunga itu malah membuat wanita itu bertambah kuat, karena tidak mungkin seorang wanita seperti dirinya mampu memukul pria dewasa hingga terpental.

Terkejut karena dirinya mampu dipukul hingga terpental seperti itu, si pria dengan panik mencoba berdiri. Setelah berdiri dia menyadari gadis kecilnya tengah diangkut oleh sulur-sulur bunga dan menaruhnya di kursi teras. Wanita yang tengah ia hadapi memberi tatapan, masih dengan senyuman, yang memberikan pesan bahwa ia tidak ingin melibatkan gadis kecil itu dalam pertempuran mereka berdua. Sembari mengelus pipinya yang baru saja kena pukul, pria itu mengangguk menandakan bahwa ia setuju dengan tindakan wanita itu.

Tanpa ragu Pria itu menarik pedangnya dengan tangan kanannya dan belati dengan tangan kirinya.  Dengan memantapkan tumpuan kakinya dan menajamkan semua inderanya pria itu menyempurnakan kuda-kuda bertarungnya. Dia membiarkan tubuhnya secara alami mengingat kembali semua pertarungan yang pernah dihadapinya di masa lampau, gerakan refleksnya menjadi semakin tajam tidak seperti tadi ketika ia lengah dan musuhnya berhasil mendaratkan satu pukulan telak di wajahnya. Kali ini dia sudah siap dan tidak akan segan-segan menebas musuhnya.

Melihat lawannya tampak siap sedia wanita itu mengulurkan telapak tangannya ke depan kemudian menggerakan jari telunjuknya, menggambar sebuah lingkaran sihir di udara. Setelah lingkaran itu selesai wanita itu kembali berbisik “Perlambang cahaya. Siraman cahaya bukit bunga matahari.” Dan kembali wanita itu menjentikan jarinya. Tapi kali ini muncul ratusan bahkan mungkin ribuan bola bercahaya yang kemudian melesat bagaikan peluru yang memburu musuh.

Pria yang menjadi sasaran ribuan “peluru” itu kemudian dengan cepat mengayunkan pedangnya di udara dan berkata “Perlambang ruang dan waktu. Tapak langkah sang pria suci di langit barat.” Kemudia tanpa ragu pria itu melompat tinggi dan mendarat di sebuah lingkaran sihir yang tiba-tiba muncul di tengah udara. Kemanapun pria itu berlari maupun melompat lingkaran sihir itu selalu mengikuti dibawah kakinya sehingga pria itu tampak terbang di udara.

Ketika pria itu menghindari semua serangan yang ditujukan padanya, ia melihat wanita yang dihadapinya melayang di tengah udara kosong ditemani beberapa lingkaran sihir kecil berbentuk seperti bunga. Sebuah nama terlintas dalam benaknya, sang Penyihir Bunga dari bukit mimpi dan khayalan, seorang penyihir yang tidak banyak diketahui orang tapi semua orang yang mengetahuinya tahu bahwa wanita itu adalah seorang yang sangat berbahaya. Begitu pula dengan sang wanita, Sang Pedang Pemburu Penyihir, itu adalah nama julukan yang diberikan pada pria yang ada dihadapannya. Julukan itu melintas dalam kepala wanita itu membuatnya tersenyum pahit. Kedua pihak yang berseteru sudah saling mengenal baik satu sama lain sehingga tidak ada lagi alasan untuk menahan diri.

Melihat lingkaran sihir kecil yang ada disekitar wanita itu mulai menembakan cahaya-cahaya yang mampu melubangi tubuhnya dengan mudah, pria itu mengacungkan pedangnya dan berbisik “Perlambang pedang. Tembok mata pisau yang tak pernah runtuh.” Kemudian tangan kanannya yang memegang pedang seperti memiliki pikirannya sendiri, bergerak amat cepat menangkis peluru dan membelah cahaya yang datang menghujani pria itu. Peluru dan cahaya yang di ditangkis oleh pria itu bertebaran  ke kedua sisi pria itu dan menghujam padang bunga dibawahnya dan membuat banyak ledakan yang menghancurkan wajah padang bunga itu.

Wanita itu tampak sedikit kesal melihat padang bunganya jadi berantakan seperti itu, kemudian dia tertawa kecil, tentu saja dia tahu pasti akan terjadi hal seperti ini dari awal. Wanita itu menghela nafas dan kembali mengacungkan jari telunjuknya ke udara dan berbisik “Perlambang bunga. Taman mimpi tanpa akhir dan tidur yang abadi”. Seketika bunga-bunga yang ada dibawah pria itu memanjang bagaikan sulur-sulur yang mengejar musuh.

Pria itu yang sedari tadi berdiri diam menangkis semua serangan dari depan kini harus melompat dan kembali mulai berlari dan berakrobat menghadapi serangan baru ini. Ketika pria itu sibuk melompat kesana-kemari dan akhirnya berhasil menebas beberapa sulur bunga  dia tidak sempat membuat gerakan menjauh untuk menghindari sang wanita yang mendekati dengan cepat dan menembakan cahaya dari jarak dekat. Pria itu dengan susah payah menangkis cahaya dengan belati dengan tangan kirinya, sementara wanita itu bersalto, bermanuver mencoba menyerang pria itu dari belakang. Dengan cepat pria itu berputar dan mengayunkan pedangnya, tapi wanita itu pun sudah mengantisipasi gerakan itu dan berputar ke arah lain. Tanpa disangka-sangka oleh pria itu tiba-tiba hak tebal dari sepatu wanita itu menghantam dahinya dengan amat keras ketika dia berbalik mencari musuhnya. Akibatnya pria itu meluncur dengan cepat ke arah tanah dan menghujam bumi dengan amat keras.

—–

Pria itu terhentak bangun dari tidurnya. Ia merasakan kelembutan rumput di telapak tangannya dan hembusan angin yang harum dan hangat di wajahnya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, tampak bingung dengan apa yang sudah terjadi. Kemudian tertangkap oleh sudut matanya dua buah ember besar berisi air dan batang kayu yang biasa digunakan untuk memanggul kedua ember tersebut. Terdengar olehnya sayup-sayup suara air bergemercik di kejauhan, sebuah sungai memasuki pandangannya ketika ia melihat ke kejauhan di depannya. Ah rupanya ia tertidur di padang rumput sebelah sungai ketika sedang mengambil air dari sungai.

Pria itu kemudian berdiri dan memanggul kedua ember yang ada di dekatnya dan mulai menapaki jalan kecil yang berada tidak jauh dari situ. Wajahnya tampak masih bingung dengan mimpinya yang tadi, tapi ia menggelengkan kepalanya dan menghilangkan pikiran-pikiran tidak jelas yang menggantungi kepalanya. Jalan kecil itu dipasangi dengan batu-batu kecil agar tidak licin ketika hujan turun dan terkadang ada pohon besar yang cukup rindang di sisinya agar pejalan kaki bisa berteduh dari sengatan sinar matahari. Jalan kecil ini menuju ke sebuah rumah kecil yang tampak berdiri di sebuah bukit di ujung horison.

Akhirnya sampailah sang pria di rumah yang ada di ujung jalan tersebut. Rumah kecil satu tingkat yang terbuat dari kayu yang di cat putih. Tampak dua buah kursi di terasnya yang luas dan sebuah meja kecil lengkap dengan vas bunga yang terisi dengan tatanan bunga yang indah di atasnya. Terlihat pakaian yang tengah di jemur di sebelah kiri rumah tersebut dan taman bunga di sebelah kanannya. Benar-benar pemandangan yang menarik karena rumah ini satu-satunya yang berdiri di daerah ini.

Di taman bunga terlihat seorang wanita muda tengah memunggungi sang pria, sedang mengurusi bunga, wanita itu mengenakan kemeja putih tanpa lengan dengan rok panjang bermotif kotak-kotak merah dan putih, dan sebuah celemek panjang menutupi bagian depan tubuhnya. Dari topi lebarnya menjuntai rambutnya yang panjang dan berwarna coklat. Tubuhnya yang mungil tampak sedang berjongkok menyirami bunga-bunga yang ada di taman. Sesekali tangannya bergerak memindahkan rambutnya yang terjatuh kedepan ke belakang telinga. Di jemari kirinya tampak sebuah cincin emas yang berkilauan di terpa oleh sinar matahari. Ah mungkinkah wanita ini…

Wanita itu berbalik menyadari kedatangan sang pria dan berjalan menghampirinya. Ia menaruh penyiram tanamannya dan berjalan sembari mengelap tangannya ke celemek kemudian mengeluarkan sebuah saputangan kecil. Ia mengelap peluh di wajah sang pria dengan telaten dan penuh kasih sayang kemudian ia tampak mengucapkan salam dan berbicara sesuatu sembari menunjuk ke arah kursi yang ada di teras lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah yang riang.

Pria itu membawa kedua embernya kebelakang rumah dimana disana terdapat sebuah tong besar dan memasukan air dari ember kedalamnya. Kemudian ia berjalan kembali ke arah depan rumah dan duduk di kursi yang ada di teras. Sembari duduk santai ia menatap ke arah langit, dipicingkan matanya ketika melihat terangnya langit, sembari merenung. Ia sama sekali tidak ingat wajah dari wanita baik hati tadi. Baginya tampak buram wajah wanita itu, sama sekali tidak ada bagian dari wajahnya yang bisa ia ingat. Siapa wanita itu? Kenapa pria itu merasa sangat nyaman berada di dekatnya?

Wanita itu kembali datang ke teras sembari membawa dua buah cangkir dan satu poci berisi teh beserta beberapa potong scone buatannya sendiri dan meletakannya di atas meja. Wanita itu kemudian mengisi kedua cangkir teh dan menyajikannya satu ke hadapan sang pria. Perlahan sang pria bisa mengingat wajah dari wanita yang ada dihadapannya itu, terlihat olehnya senyum simpatik mengembang di wajahnya. Kemudian dengan perlahan wanita itu mendekati sang pria dan menyentuh wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya sembari mendekatkan wajahnya.

Pria itu memejamkan matanya dan terasa olehnya sensasi yang telah lama tidak ia rasakan. Perlahan ia merasakan sensasi lembut dan hangat di bibirnya disertai dengan sedikit rasa manis di ujungnya. Ketika ia membuka matanya terlihatlah olehnya wajah yang selama ini dikenalnya, wajah yang senyumnya selalu memberikan kehangatan dan semangat baginya. Wajah sang Penyihir Bunga.

Perlahan dunia yang ada dihadapannya seakan runtuh dan sang pria jatuh dalam kegelapan, perlahan sembari membakar wajah wanita yang ia tinggalkan jauh di dalam pikiran dan lubuk hatinya. Ia mengerti semua ini hanya mimpi dan ilusi. Ilusi yang tercipta dari kenangan dan hasratnya yang terdalam. Sebuah kebohongan yang terlalu manis untuk menjadi kenyataan, sebuah tragedi dan ironi yang terlalu sakit untuk diungkap.

—–

Pria itu membuka matanya dan mulai melihat kenyataan disekelilingnya. Dirinya tengah terkapar di tengah-tengah padang bunga yang begitu luas, dan perlahan rasa sakit di tubuhnya mulai menjalar dan membuatnya mengernyitkan wajahnya. Ia mencoba bangun tapi beberapa sulur dan akar tanaman menghalanginya untuk bangun. Kemudian dia menggerakan pergelangan tangan kirinya yang memegang belati dan memotong beberapa akar di tangan kirinya dan memaksa tangannya lepas dari lilitan sulur tanaman. Sekilas ia menatap cincin emas kusam di jari manis kirinya dan tersenyum pahit.

Akhirnya setelah beberapa saat bergumul, pria itu akhirnya berhasil berdiri tegap kembali dan ia melempar pandangannya ke arah teras. Disana sang wanita tengah membelai gadis kesayangannya yang masih tidak sadarkan diri. Menyadari pria yang telah dijatuhkan oleh dirinya telah bangkit, wanita itu membalik dan menghadapinya, masih dengan senyumnya yang tak pernah berubah.

Pria itu ingin membalas senyumannya tapi apa daya wajahnya tak mampu tersenyum, hanya mata yang sedih yang bisa ia lontarkan pada wanita itu. Tanpa basa-basi pria itu mengacungkan pedang di tangan kanannya dan berbisik “Perlambang pedang. Pisau pengantar pesan dewa, seribu langkah dalam satu kedipan mata.” Sebuah lingkaran sihir besar muncul dihadapan pria itu, kemudian ia berputar cepat dan melempar belatinya sekuat tenaga ke arah sang wanita yang tengah tersenyum.

Beberapa sulur bunga langsung melindungi wanita itu hingga belati yang melesat ke arahnya hanya sedikit memotong rambutnya saja. Kemudian wanita itu melesat ke arah sang pria sembari menembakan cahaya-cahaya dan sulur-sulur tanaman. Pria itu dengan cekatan menghindari semua serangan itu, termasuk satu tendangan keras yang berhasil ia tahan dengan susah payah dengan sisi pedangnya. Padang bunga itu pun kembali menjadi arena pertempuran.

Kedua pihak yang tengah berseteru saling mengeluarkan serangan terbaiknya. Entah dendam apa yang mereka pendam satu sama lain, setiap serangan mereka begitu mematikan dan memang dimaksudkan untuk menyelesaikan pertarungan itu secepat mungkin. Tiap serangan dipenuhi dengan berbagai emosi yang saling tumpang tindih satu sama lainnya, serangan yang mereka lancarkan tidak hanya menggunakan senjata dan sihir tapi dengan perasaan dan emosi. Tapi apakah mungkin dari sekian banyak emosi dan perasaan yang tercurah yang sebenarnya terpendam bukanlah dendam maupun amarah, tapi seusatu yang lebih sederhana, sesuatu yang terlalu menyakitkan bagi mereka berdua untuk menunjukannya.

Akhirnya sang pria memutuskan untuk mempertaruhkan segalanya dengan satu serangan, sehingga ia berkonsentrasi menghimpun serangan dan mulai memperhitungkan jaraknya berdiri dengan sasarannya. Kedua tangannya menggengam erat pedangnya, kemudian pria itu berkata dengan suara yang jelas “Perlambang pedang. Tiga langkah Sang Dewa menuju Nirwana.” Sang wanita pun mengacungkan jarinya dan mulai berbisik. Tapi ia berubah pikiran dan akhirnya menghentikan bisikannya dan menghela nafas sembari  tersenyum pasrah.

Andai sang pria melihat wajah wanita itu saat ini mungkin dia akan mengehentikan serangannya, sayangnya itu tidak terjadi. Pria itu tidak sempat melihat wajah wanita yang akan ia serang, sehingga hasil serangannya sudah pasti. Tiga kali ledakan terjadi di padang bunga itu. Yang pertama beberapa langkah di hadapan sang wanita, kedua di tempat wanita itu berdiri dan yang ketiga beberapa langkah dibelakangnya.

Padang bunga itu pun ternoda. Ternoda oleh percikan darah dan tetesan air mata. Kemudian terdengar olehku seseorang memanggil namaku.

“Mia, Mia… Ethelmia!”

Aku pun terbangun dari mimpiku. Hal pertama yang kulihat adalah wajah sahabatku yang berwajah bundar. Rambutnya yang dipotong pendek menjuntai ketika ia membungkuk untuk mebangunkanku dari tidurku.

“Erhm… Marianne, ada apa? Apakah kita sudah sampai?”

“Oh Ethelmia kau menangis dan mengerang dalam tidurmu, kupikir kau mengalami mimpi buruk jadi kubangunkan.”

“Ah Marianne kau ini selalu bersikap terlalu baik kepadaku. Aku tidak apa-apa sayang, hanya baru saja melihat mimpi yang begitu menyedihkan.”

“Miaa kita ini sudah bersahabat dari sejak kapan coba, tidak ada yang namanya sikap yang terlalu baik dalam hubungan kita berdua bukan. Jadi mimpi seperti apa yang kau lihat Mia?”

“Mimpi tentang dua orang yang saling mencintai harus menyakiti satu sama lain. Padahal mereka sudah memiliki seorang buah hati yang begitu manis. Sayang perasaan mereka dibayangi oleh hasrat dan nafsu duniawi sehingga mereka lupa akan apa yang sebenarnya mereka cari.”

“Ah pantas kau tampak lelah. Oh iya rasanya aku menyimpan beberapa butir jeruk di koperku, itu akan membuatmu segar dan ceria kembali.”

Marianne sahabatku benar-benar orang yang lurus dan baik hati, walaupun ia tidak bisa menghilangkan makanan dari pikirannya hingga wajahnya nampak bulat bak bulan. Tapi itulah yang membuatnya begitu manis dan menawan, betapa aku sangat menyayangi dirinya yang mungil itu.

Aku mengalihkan padanganku dari sahabatku dan mulai menatap keluar dari jendela kompartemen kereta api yang kami tumpangi. Sebuah padang bunga di antara perbukitan memasuki pandanganku. Ah jadi ini asal muasal dari mimpiku.

“Setiap tempat di dunia menjadi saksi bisu dari kejadian di masa lampau, sekarang ataupun dari kejadian yang tidak dapat terlihat tapi ada disitu. Kami para Storytellerlah yang mengumpulkan cerita tersebut dan menceritakannya kembali agar semua orang bisa mengambil hikmahnya. Cerita itu bisa berasal dari mana saja, padang bunga, sebuah rumah atau bahkan dari tempat anda membaca kisah ini”

“Mia, kau bicara dengan siapa?”

“Ah tidak hanya bicara sendiri.” Aku pun tersenyum

cerita ini dapat dilihat juga di:

Video Games Indonesia

Iklan