ZEE & ZOE

Sang Mimpi

BRAK!

Aku menjeblak kasar pintu kayu itu.

“AKU PERLU GINJAL!” teriakku. “SEGERA!” tambahku panik.

“Kenapa anak kecil bisa ada di sini?” suara berlogat aneh menggaung hingga ke sudut, seakan tiap potong bangunan ini telah terbiasa dengannya.

Aku mendongak. Lelaki bertubuh tinggi muncul entah dari mana, begitu mendadak.

“Sudah kubilang kan?” bentakku kasar, “aku butuh ginjal, SEGERA!” titahku dengan napas tersengal.

Kukira ia akan langsung mengusirku akibat perilaku-sangat-tak-sopan yang kutunjukkan, namun ternyata ia hanya berkata dingin, “Wah, pelanggan kali ini rupanya tak sabaran ya… kau akan membayarnya dengan apa? Di sini tidak ada yang gratis, Nak,” pandangan matanya jelas-jelas meremehkanku.

Aku menelan ludah, suaraku mengecil tiba-tiba, “Aku tak punya uang.”

“Tepat dugaanku!” jawabnya sambil melangkah kembali menuju ke dalam tokonya, tak menganggap kehadiranku.

Memang aku tak membawa barang berharga apapun yang bisa dijual, tapi…

“Ambil saja tangan atau kakiku…” suaraku sehening bisikan namun menunjukkan tekadku dengan pasti. “Atau mataku… apapun yang kauinginkan. Kau butuh stok barang, kan?”

Apapun akan kulakukan, apapun akan kuberikan, apapun akan kukorbankan, hanya demi menyelamatkannya!

“Baiklah,” lelaki itu berbalik badan, memandangku dengan penuh ketertarikan, mungkin ia sedang menimbang-nimbang bagian tubuh mana yang akan ia ambil sebagai imbalan. ”Panggil saja aku Pemilik Toko.”

Ia memanduku ke dalam. Tokonya sangat mewah dan apik, berbeda dengan apa yang kubayangkan tentang toko yang melayani jual-beli organ tubuh: lampu gantung kristal menyala benderang, karpet tebal melapisi lantai, rak-rak berukir dimana tersusun rapi toples dan botol tempat mengawetkan barang dagangan.

Ia berhenti tepat di depan rak berlabel “GINJAL” yang mengilap. Kira-kira ada 500 wadah berjajar di rak besar itu. “Silakan pilih sendiri ginjal yang kauingin. Pojok kanan atas adalah yang kualitasnya paling bagus, terus berurutan hingga pojok kiri bawah. Tentu saja harganya berbeda.”

“Aku hanya ingin ginjal tertentu,” jelasku, “ginjal kakakku.”

Pemilik Toko menatapku penasaran, “Akan kucari. Kauyakin ginjalnya dijual ke sini?”

Aku mengangguk, “Aku menguping pembicaraan ‘mereka’ dan langsung mencari-cari informasi tentang toko ini.”

Ia mengangguk-angguk paham, “Pasti sulit sekali menemukan toko ini.”

“Aku hanya perlu waktu 2 hari sampai aku tahu cara ke sini,” jelasku singkat, sedikit bangga dengan kemampuanku.

Kali ini Pemilik Toko tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Tidak kusangka kaubisa menemukan tokoku dalam waktu sesingkat itu… aku kagum sekaligus kesal! Padahal tokoku ini sudah disegel khusus dengan berbagai sihir kuno, Nak.”

“Jangan memanggilku dengan ‘Nak’,” ketusku. “Tak usah basa-basi, cepat carikan ginjal kakakku, namanya Zee Waindl.”

Ia meneliti tiap sudut rak ginjal hingga akhirnya berkata, “Sepertinya ginjalnya masuk golongan tak bernama, bisa kauberitahu lebih detil tentang kapan ginjalnya diambil, oleh organisasi apa, dari negara mana, apapun yang kauingat!”

Tak perlu susah-susah mengingat, ‘mereka’ tak akan pernah kulupakan!!!

*

“AAAAAAAA!!!!” kudengar jeritan kakak kembarku di antara sosok-sosok yang mengelilinginya.

“Mungkin obat biusnya kurang?” tanya yang perempuan.

“KALIAN APAKAN ZEE???” teriakku.

“Dosisnya sesuai dengan di buku kok!” balas pemuda yang paling tinggi, ia yang menculik kami ke sini tadi pagi. Sibuk dengan pisau bedah dan pinset di kedua tangannya, suaraku hanya dianggap angin lalu olehnya.

Lagi, suara kesakitan kakak bergaung di ruang itu. Menyayatku.

“Berarti yang diajarin di kampus belum tentu bener dong?” tanya sesosok pemuda lainnya yang sedang mengatur lampu untuk penerangan tambahan. Ia baru saja bergabung dengan dua orang lainnya sekitar sejam lalu.

“BERHENTI! JANGAN SAKITIN ZEE!!!!” aku memberontak hebat, memperkuat usahaku melepas ikatan.

“Makanya, kan sudah kubilang kalau ingin jadi dokter hebat harus banyak praktik!” balas pemuda yang pertama. “Tolong ambil baskom dong,” pintanya pada si perempuan sementara tangannya sendiri masih merogoh-rogoh bagian dalam tubuh kakakku.

“Eh? Udah selesai? Ginjalnya udah kamu ambil satu?”

“KEREEEEEN…!” puji temannya yang lain ketika pemuda itu mengangkat gumpalan merah dari dalam tubuh kakakku ke dalam sebuah baskom yang sudah disterilkan.

“Taruh di meja di samping si adik!” pintanya sambil melepas masker, menyeringai padaku yang hanya mampu menangis akibat marah sekaligus ketakutan.

Dan aku muntah hebat ketika gumpalan merah dalam baskom itu masuk dalam pandanganku.

“Ujian minggu depan tentang operasi ginjal bakal sukses nih!” ujar si perempuan.

Ya, mereka adalah mahasiswa kedokteran universitas ternama di kota ini. Dan mereka menggunakan anak-anak jalanan―seperti kami―sebagai bahan praktikum ilegalnya.

“Iya dong, kita udah praktik, bendanya ada di depan mata pula!”

Lalu mereka bertiga tergelak lepas, berpikiran akan dapat nilai sempurna berkat pengorbanan kakak.

Setelah itu aku tak lagi mendengar apapun, hanya desah napas putus-putus kakak dan laju cepat degup jantungku.

*

“Zee!!!” panggilku ketika ia tampak makin kepayahan akibat rasa sakit yang diperolehnya dari pembedahan kemarin.

Mereka tidak lagi mengikat kami dengan mengira kami tak akan sanggup kabur. Mereka pun pergi kuliah seperti tak terjadi apa-apa setelah memastikan ruangan ini dikunci.

Aku takut, rasanya Zee sudah tak bisa merasakan apapun selain rasa sakitnya. “Zee, ngomong dong… jangan diem aja…” harapku sia-sia sambil berlutut di samping ranjangnya, memerhatikan wajah dengan mata yang tak lagi menatapku itu.

Tak ada kata yang keluar darinya sejak kemarin, hanya erang kesakitan yang terus bergaung di telingaku.

Perlahan kuraih tangannya, menyentuhnya dengan sangat hati-hati seolah ia akan pecah berantakan jika kusentuh sembarangan. Tangan Zee panas sekali.

“Zoe…” kudengar Zee berbisik.

Ia menyebut namaku. Ia memanggilku.

Aku menghela napas lega mengetahui Zee masih mengenaliku.

Kueratkan genggaman tanganku walau panas tinggi Zee rasanya membakar telapak tanganku, “Aku di sini, Zee, kau nggak apa-apa kan?”

“Zoe?” sebutnya lagi, “sakiiiit… Zoe…” tambahnya sambil memegang bagian perut bawahnya.

“Ta, tapi… aku nggak tau harus apa…” gagapku. Aku panik. Sekujur tubuhku gemetar merasakan betapa sakitnya Zee saat ini. “Aku bakal panggil mereka supaya mereka merawatmu, Zee! Tunggu sebentar, ya!”

Belum sempat kulepas genggaman tanganku, Zee sudah bicara lagi, “Jangan… aku takut… sen..dirian di si..ni…” air mata menetes perlahan, penuh sirat takut, “Nggak mau… di..ting..gal… nggak mau…” permohonannya begitu nyata, tatapannya begitu jelas, suaranya begitu bergetar, membuatku tak sampai hati beranjak selangkah pun dari sampingnya.

“Nggak bakal,” janjiku. “Aku nggak bakal ninggalin kamu, Zee! Aku janji!” imbuhku tersenyum.

Kugenggam kedua tangannya lebih erat, tak akan kulepas, sampai kapanpun. Dan detik setelah janjiku terucap, Zee tersenyum kecil.

“Zee, ayo kabur!” ujarku sambil menggendong tubuh lemah kakakku di punggung lalu berlari ke pintu dan mulai mengutak-atiknya. Tanpa sepengetahuan Zee, aku pernah belajar membuka kunci dari anak jalanan lain yang berprofesi sebagai pencuri.

“Mereka nggak bakal kumaafkan!” ujarku sambil mengusap keras kedua mataku yang mulai basah. Luar ruangan begitu menyilaukan bagiku.

*

Aku berlari sekuat tenaga menuju tempat persembunyian kami. Wadah kaca berisi ginjal Zee kupeluk erat-erat di balik jaket lusuhku, tepat di atas lubang dimana seharusnya ginjalku berada. Ya, Pemilik Toko telah mengambil salah satu ginjalku sebagai bayaran dengan sihir sehingga tidak terasa sakit sama sekali. Bahkan ia menunjukkannya padaku sebelum ia memasukkannya ke dalam wadah, membuatku ragu apakah benar aku telah kehilangan ginjlaku.

“Zee!” panggilku sambil menyibakkan tirai sederhana yang menghalangi tempat persembunyian kami dari orang yang kebetulan lewat di sekitar situ.

Dengan cengiran yang tak dapat kutahan, kusibak tumpukan selimut itu, “Zee…! Bangun! Aku kenal orang yang bisa…” kata-kataku terputus.

Bercak darah berceceran di kain-kain itu dan bahkan sebagiannya menggumpal di pakaian lusuh Zee.

“Zee…?” bisikku memanggil kakakku satu-satunya, orang yang paling penting bagiku.

Tak ada jawaban, bahkan secuil gerakan jarinya pun tak kulihat.

Panik, kusentuh sosok di hadapanku, “Zee!!! Zee!!! Zee!!!”

Kudekatkan daun telingaku ke dada Zee dengan panik, mengecek apakah jantungnya masih berdetak atau tidak.

Lemah.

Suara detakannya begitu lemah.

Zee sekarat.

“Zee, aku kenal orang yang bisa mengembalikan ginjalmu ke dalam tubuhmu tanpa perlu dibedah!” ujarku sambil mengangkat tubuhnya perlahan.

Mendadak Zee muntah darah.

“ZEE!!!” aku makin panik.

Matanya membuka, dia batuk-batuk hebat, suaranya begitu menyakitkanku.

“Ja..ngan..” ucap Zee terbata-bata, “aku… ga bisa ber..gerak… sedikit..pun…”

Aku bersikeras, “Kugendong!”

Zee tersenyum kecil, “Nya..waku… bakal habis… di..jalan…” cengirnya.

“Aku bakal lari sekencangnya!”

Zee tak menjawab, hanya menggeleng lemah. Lalu ia mulai batuk-batuk lagi dan kusadari bagian perutnya juga mengeluarkan darah. Kusibakkan pakaiannya perlahan, “Zee, jahitannya… terbuka…” kengerianku makin menjadi begitu kulihat darah mengucur dan kulit yang terkoyak.

Zee tersenyum pahit, “Iya, aku… tahu… dan itu sakit… Zoe…” dan air matanya mulai menetes. Awalnya hanya isak perlahan, namun kelamaan berubah menjadi tangis keras. Belum pernah kulihat Zee menangis sekeras ini dan belum pernah kulihat ia selemah ini.

Selama ini ia adalah kakakku yang selalu kuat, di saat sesulit apapun.

“Saaakiiit… Zoe…” keluhnya lagi, membuatku juga merasa sakit. “Takuuutt…” tangisannya menghancurkanku.

“Jangan takut, ada aku! Aku pasti melindungimu!” ujarku sambil menggenggam kedua tangannya, walau kutahu pasti kata-kataku itu bualan belaka. Aku tak mungkin bisa melindunginya dari rasa sakit dan kengerian. Aku pun makin menderita begitu menyadari betapa tak bergunanya aku bagi saudara kembarku.

Di tengah tangisannya, aku mengajaknya mengingat hal yang menyenangkan, “Inget kucing yang kaupungut, Zee? Kau sangat sayang dia, sampai dibawa kemana-mana!”

Berhasil, Zee tersenyum kecil, “Aku suka banget sama dia…”

“Sampai akhirnya kamu memutuskan untuk memberikannya pada teman kita di kota sebelum ini…” susulku, terus berusaha membuatnya lupa akan rasa sakitnya.

“Iya, soalnya kita nggak bakal bisa merawatnya…” Zee mempererat genggamannya.

“Jadi kangen teman-teman kita di sana, ya?” kurasakan tubuhnya mendingin dengan ganjil.

“Iya, jadi ingin balik ke kota-kota yang dulu pernah kita kunjungi ya… banyak teman-teman kita di sana…” tambahnya dengan suara lemah. “Eh, Zoe… padahal kan kita nggak tau siapa di antara kita yang lahir duluan…” lalu ia tertawa.

“Iya, tapi kau selalu memaksa jadi kakak!” balasku tertawa ringan. Genggamannya melemah, suaranya melemah.

“Tapi kau selalu nolak manggil aku ‘Kakak’…” ujarnya kecewa. Ia tak lagi menangis, namun air matanya tetap menetes perlahan, membasahi tangan kami berdua.

“Jadi, kau mau memintaku manggil ‘Kakak’ sekarang?” aku terus berusaha tersenyum dan menghiburnya. Matanya sudah tak lagi memandangku, kosong dan menggelap.

Namun ia tersenyum, mengangguk. Aku mengalah, “Iya deh, Kakak,” panggilku yang membuatnya tersenyum sangat lebar, tampak sangat bahagia. Aku jadi menyesal, kalau saja aku memanggilnya ‘kakak’ sejak dulu, ia pasti akan lebih sering tersenyum seperti ini.

“Zoe, gelap… aku nggak bisa liat apapun…” tambahnya disusul senyuman hangat, “tapi aku masih bisa ngerasain tanganmu! Aku jadi tetep tenang… soalnya aku tau kamu di sini, di sampingku…”

Aku menangis dalam diam, “Iya, kan aku udah janji nggak bakal ninggalin kamu…” kurasakan ia melepas satu tangannya dan meraba-raba udara kosong.

“Begini jadi terasa hangat…” ujarnya begitu tangannya mencapai pundakku dan merangkulnya. Tubuhnya gemetar akibat dingin yang hanya dirasakannya sekaligus kengerian menjadi-jadi walau tak ia ungkapkan padaku.

Aku terdiam, tangisku makin deras walau sekeras apapun aku berusaha menahannya.

“Zoe nangis ya?” tanyanya dari balik pundakku. Spontan kututup mulutku demi menahan jerit tangis namun isaknya tak mau hilang hingga membuat tubuhku gemetar.

“Tuh kan, beneran nangis…” balas Zee lagi, “aku jadi pengen nangis juga kan…”

Dan tangisku meledak sementara Zee menepuk-nepuk punggungku.

Zee, jangan tinggalin aku sendiri…” kata-kata yang tak pernah berhasil kulontarkan di tengah tangisku.

“Zoe, apa aku udah jadi kakak yang baik buatmu?”

Aku mengangguk keras, “IYA! Kamu kakak terbaik yang pernah kupunya, sampai kapanpun!”

Kurasakan Zee tersenyum di balik pundakku, “Makasih…”

Dan ia kaku, dingin, sunyi.

“HUWAAAAAAA….!!! ZEEEE…!!!”

*

Buka matamu.

Panggil namaku.

Bicaralah.

Tersenyum padaku.

Tertawa bersamaku.

Bepergian bersamaku.

Hiduplah, temani aku lagi.

Dan aku akan memanggilmu ‘kakak’…

*

“Tolong Zee!” ujarku memohon di depan pintu tokonya. Air mata masih mengalir deras di wajahku ketika perlahan kuturunkan tubuh Zee yang dibalut banyak sekali selimut. “Dia… dingin…” lirihku.

Pemilik Toko hanya memandangku dalam diam. “Ia sudah mati, kau sendiri tahu kan?”

Gigiku bergemeretak, kata-kata itu tabu bagiku. Tak ingin kudengar. Tak ingin kuketahui. Tak ingin kuterima.

“Ka, kau… pasti punya cara yang bisa… menyelamatkannya kan?” tanyaku, “kau bukan seorang pedagang organ tubuh biasa… aku tahu…” yakinku.

Ia tak berkomentar.

“Kumohon!” pintaku. “Apapun bayarannya!”

Ya, apapun bayarannya, bahkan nyawaku sekalipun.

Ia menghela napas, “Kau benar-benar anak yang nekat yah? Padahal kau takut, bukan?”

Aku takut, itu benar. Sangat takut. Walau demikian…

“Aku nggak bisa hidup kalau nggak ada Zee… kalau Cuma aku yang tersisa… nggak ada artinya…”

Tak ada apapun. Tak ada siapapun. Bahkan diriku sendiri pun tak ada.

“Tolong…” kudongakkan wajah, memohon padanya, “apapun yang kauinginkan, akan kupenuhi! Bahkan kalau kauperlu stok otak ataupun jantung, akan kuberikan!”

“Sebenarnya aku tak pernah ingin mencampuri urusan pelanggan-pelangganku… tapi sepertinya aku harus mengingatkanmu: apakah saudara kembarmu itu akan bahagia jika ia hidup namun ternyata kamu tidak ada di sampingnya?”

Aku terbelalak. Iya, kalau Zee pasti…

“Jangan-jangan nanti dia bakal datang lagi ke sini dan memintaku menghidupkanmu sambil bicara: akan kukorbankan apapun!” tambahnya.

Pemilik Toko memandangku kasihan, “Sudahlah, kalian sudah tak ditakdirkan untuk bersama lagi… pergilah. Aku tak bisa membantu apapun,” lalu mendadak ia memandang ke udara kosong di sampingku. “Kalau kau mau tahu, saudara kembarmu masih ada di sampingmu tuh,” gumamnya.

“Eh?” spontan aku menoleh ke kanan dan kiri. Tak ada apapun selain udara kosong.

“Kamu nggak bakal bisa lihat dia!” semburnya, “dia udah nggak lebih dari sekadar benda transparan.”

Walau cara bicaranya dingin dan terkesan tak peduli, lelaki berkacamata sebelah itu masih tetap memandang udara kosong di sampingku dengan saksama. “Haaaah…” ia menghela napas, “capek! Menggunakan kemampuan melihat arwah itu benar-benar menguras energi!” keluhnya.

“Kau bisa bicara dengannya?” tanyaku penasaran.

“Sayang sekali, aku hanya bisa melihat,” ia menggeleng. “Ikut aku!” imbuhnnya, aku mengikutinya dalam diam, menggendong jasad Zee di punggung.

“Kalian benar-benar membuatku jengkel, terlalu banyak permintaan tapi terlalu sedikit yang bisa kudapatkan!” lelaki itu memosisikan dirinya di balik meja kerjanya, sementara aku menempatkan diri dengan canggung di hadapannya.

Aku membalasnya penuh amarah, “Kan sudah kubilang ambil saja apapun yang kauingin dariku! Apa itu nggak cukup?”

Dia menggeleng, “Kau pikir mudah memasukkan kembali jiwa yang telah keluar dari tubuhnya? Dan lihat saja, tubuh saudaramu itu sudah tidak layak sebagai wadah jiwa! Sudah terlalu rusak.”

Aku menunduk memandang jasad Zee, “Jadi…”

“Karena jiwanya masih terhubung dengan tubuhnya, ia belum bisa disebut ‘mati’. Ia masih bisa dipaksa masuk lagi, tapi tidak ada jasad lain yang bisa jadi wadahnya. Sayang sekali…”

Aku memohon, “Apa kau tidak punya stok tubuh yang bisa dipakai untuk kakakku?”

“Bayarannya akan sangat mahal, ditambah biaya memasukkan jiwanya. Bahkan kalaupun kau merelakan semua anggota tubuhmu, tetap tidak sepadan bagiku.”

Aku menggigit bibir.

“Ada satu cara…” tambahnya sambil memandang udara kosong di sampingku. “Tubuhmu bisa digunakan untuknya.”

“Eh? Maksudmu?” aku balik bertanya.

“Yaaaah… itu kalau kalian berdua setuju, jadi aku akan memasukkan jiwa saudara kembarmu itu ke dalam tubuhmu,” sambungnya, “tapi risikonya juga besar, ada kemungkinan kamu yang bakal mati. Dan sekali gagal, cara ini tidak akan bisa diulang lagi.”

Aku bungkam.

“Sepertinya saudaramu tidak setuju,” ujarnya padaku sedangkan matanya tertancap pada satu titik udara di sebelahku, peluh mengalir di dahinya, ia tampak letih.

“Jadi maksudmu, di dalam tubuhku bakal ada jiwa Zee dan jiwaku sekaligus?”

Pemilik Toko mengangguk, “Iya, dan kalian secara ilmiah sudah tidak cocok lagi disebut ‘manusia’. Juga masih banyak risiko-risiko pasca-pemindahan seperti cacat tubuh karena tidak kuat menahan beban dua jiwa; pergantian kemunculan kalian di permukaan―bisa saja kau terus yang muncul sedangkan saudaramu hanya diam di dalam tanpa bisa keluar; hilang ingatan; dan lain-lainnya. Risiko yang pasti adalah berkurangnya waktu hidupmu hingga setengahnya karena tersedot kehadiran jiwa saudara kembarmu,” lalu ia berhenti, menatapku, “masih mau lanjut?”

“Nggak apa. Kita coba,” tukasku. Dan karena setelahnya lelaki itu memandang udara kosong di samping, aku langsung bicara lagi, “Karena yang akan dipakai adalah tubuhku, mestinya kau lebih menuruti keinginanku, Pak Pemilik Toko!”

Kali ini Pemilik Toko mengalihkan pandangannya padaku. “Sepertinya ia marah padamu.”

Aku bersikeras, “Bisa mulai sekarang? Semakin cepat semakin baik.”

Aku tidak ingin ditinggal, seharusnya kau yang paling paham perasaanku ini, Zee!

*

Rasanya begitu ganjil merasakan kehadiran Zee di dalam tubuhku.

“Rasanya aneh…” kudengar suara Zee bergaung di kepalaku. “Aku ada di dalam Zoe…”

“Emangnya kamu aja yang ngerasa aneh! Aku lebih parah tauk! Rasanya badanku jadi dua kali lipat lebih berat dari biasanya!” semburku walau sejujurnya aku sangat senang bisa ngobrol lagi sama Zee.

“Iya, iya, nanti aku bakal diet deh!” canda kakakku.

“Gimana caranya jiwa diet, Zee? Emangnya kamu tau?” balasku nyengir. Kemudian aku merasakan Zee terbahak di dalam diriku.

“Sayang banget kita nggak bisa saling liat ya, Zoe…”

Aku mengiyakan, “Habis, mau gimana lagi… Kita udah beruntung pemindahannya sukses.”

Pak Pemilik Toko yang sejak selesai pemindahan hanya duduk di kursinya, berbicara, “Aneh melihat kamu bicara dengan diri sendiri, Zoe, Zee…” suaranya terdengar lelah.

“Makasih, Pak,” ujarku sepenuh hati.

“Iya, kami sangat berterima kasih pada Anda, Pemilik Toko,” tambah Zee. “Tampaknya Anda sangat lelah, apa lebih baik kami biarkan Anda istirahat sejenak baru nanti kita bicarakan lagi soal bayarannya?”

Pemilik Toko menarik selembar sapu tangan dari kantung dalam jasnya dan mulai mengusap peluh-peluh di wajahnya yang kelelahan. “Tidak perlu, sekarang saja kukatakan,” ia memulai.

Kami berdua kontan terdiam, takut sekaligus penasaran dengan apa yang harus kami korbankan.

“Pertama, jasad Zee akan kusita dan kuperjual-belikan di tokoku.”

Aku menggigit bibir, tetap tidak bisa merelakan tubuh kakakku diambilnya.

“Tidak apa, silakan,” suara Zee mengalun dari bibirku sebelum aku sempat menolaknya mentah-mentah.

“Ginjal Zee yang telah dibeli Zoe akan kuambil. Selain itu, ginjal Zoe yang pernah ia berikan sebagai bayaran pun tidak akan kukembalikan.”

Kami mengangguk.

“Ginjal yang tersisa di tubuh Zee akan kupindahkan ke tubuh kalian. Tentu saja setelah kuperbaiki sedikit menggunakan teknologi dicampur sihir, tubuhnya sudah terlalu lama mati soalnya.” Kemudian ia melanjutkan, “Yang paling penting…”

Yang kami dengar sejak tadi hanya bayaran-bayaran ‘murah’, kali ini pasti yang paling berat.

“Kalian akan bekerja untukku.”

Mendengar kalimat yang tak terduga itu membuat kami hanya bisa melongo tak percaya.

“Kenapa malah diberikan pekerjaan?” tanyaku.

“Bayaran yang Anda ingin bukannya sesuatu yang harus kami korbankan?” tambah Zee.

Dengan santai Pemilik Toko menjelaskan alasannya, “Kalian tahu kan bahwa aku tidak bisa berkomunikasi dengan arwah, padahal arwah juga pelangganku.” Ia melanjutkan, “Selama ini aku sering menolak permintaan dari arwah karena pekerjaan mereka biasanya berat untukku, lagipula aku selalu rugi karena tak bisa bernegosiasi dengan mereka. Jadi, aku ingin kalianlah yang melaksanakan pekerjaan dengan para arwah. Intinya, aku hanya memanfaatkan kalian.”

“Aku bisa melihat mereka,” ujar Zee tiba-tiba. “Sepertinya kemampuanku ini efek samping kematian yang kurasakan ya?” ia menunjuk pintu toko.

Pemilik Toko mengangguk mengiyakan. “Aku tahu Zee kini bisa melihat arwah tanpa perlu menggunakan banyak energi sepertiku. Jadi… bagaimana?”

Zee menjawab lebih dulu, “Oke.”

“Aku sih terserah Zee aja…” susulku.

“Bagus, kalau begitu kalian mulai kerja hari ini, tampaknya sudah ada pelanggan arwah yang menunggu. Kau melihatnya kan, Zee?”

Kami mengangguk sambil menghampiri pintu toko.

*

“Zee…” panggilku, “jangan pernah ninggalin aku lagi ya…”

Kurasakan Zee tersenyum lembut, “Mulai sekarang kita jadi bener-bener nggak terpisahkan, kan, Zoe?”

Iklan