Sebenarnya juri sama sekali tidak punya kewajiban untuk menjelaskan kepada publik alasan kenapa mereka membuat keputusan atau pilihan, kenapa ini menang kenapa itu kalah dan sebagainya. Jadi di sini saya, Dian dan Boni membuat ulasan semata-mata untuk berbagi tentang apa yang kami rasakan dan kami lihat saat membaca cerpen-cerpen fantasi yang masuk menjadi peserta Fantasy Fiesta 2010, yang begitu variatif jenis dan temanya dan benar-benar jujur saya katakan seluruhnya mempunyai daya tarik dan semangat tersendiri. Pendapat kami bersifat sangat subyektif, dan mungkin akan berbeda dengan pendapat banyak orang. Juga, kami melihat dari sudut pandang atau sisi yang mungkin berbeda dengan orang lain, yang mana bahkan di antara ketiga juri pun terdapat perbedaan pandangan dan penilaian yang lumayan mencolok.

Dari sisi saya pribadi, karena saya seorang penulis, seringkali saya berbicara terlalu teknis, kadang seperti seorang tukang hitung sotoy yang sedang menyelidiki angka-angka meragukan (yang ini salah, yang itu salah, yang begono gak sesuai dengan kenyataan dan teori, dsb dsb dsb), lalu tergerak untuk memberikan saran yang sesuai dengan sedikit pengetahuan dan pengalaman yang saya punya. Tetapi seringkali pula saya hanya ingin menempatkan diri pada posisi pembaca, yang bebas berbicara apa adanya, walaupun mungkin itu kosong dan tidak berbobot sama sekali. Mungkin perasaan yang sama dialami juga oleh Dian dan Boni. Apapun, dari yang berisi maupun yang kosong ini, yang panjang maupun yang pendek, kami berharap tetap ada yang bisa dipelajari, dan semuanya bisa membantu sang penulis, kami sendiri, maupun orang lain yang ingin membuat karya-karya fantasi berikutnya supaya bisa lebih baik di masa datang.

Saya mengucapkan terima kasih kepada dua rekan saya, Dian dan Boni, yang telah bersama-sama menjadi penyelenggara dan ikut bermabuk ria menilai seluruh karya, juga kepada penerbit Adhika Pustaka yang telah bersedia menjadi sponsor dan ikut mempromosikan kegiatan ini sampai jauh ke mana-mana. Anda semua adalah orang-orang hebat yang penuh semangat dan visi. Dan pastinya, terima kasih kepada seluruh Teman-teman yang sudah ikut serta memeriahkan ajang Fantasy Fiesta 2010. 74 peserta adalah sungguh jumlah yang bukan main-main, jauh di atas perkiraan awal saya, sehingga terus terang sempat membuat saya terkejut dan ‘ngeri’. Ada begitu banyak semangat, gairah dan keberanian, juga harapan dan impian. Ada begitu banyak arti di sana.

Maju terus dunia fiksi fantasi Indonesia. Kita sudah bangun, kita sudah berkumpul, kita sudah saling kenal, kita sudah sama-sama berpesta karya, kita sudah saling mendukung dan memberi saran, dan kita jangan berhenti di sini.

Salam, dan terima kasih.

31 Agustus 2010

Villam, Dian & Bonmedo

Berikut adalah ulasan singkat untuk 10 cerpen terbaik Fantasy Fiesta 2010.

Appolyon – karya George D. Farmer

Villam:

Kisah yang disajikan lewat catatan harian seseorang yang ditugaskan pergi ke suatu kota, tempat di mana satu per satu orang-orang menghilang. Sedikit pemikiran, dalam dunia modern kayaknya  lebih praktis menggunakan media rekam audio daripada catatan tulis (dan jika seandainya cerita keren ini nanti difilmkan jadi kayak ‘I am Legend’, misalnya—harus ini! Hayo cari produser! Hehehe—pastinya semua catatan ini juga dinarasikan oleh tokohnya secara lisan). Tetapi itu media resmi ya, kalau catatan pribadi sih sah-sah saja. Dan memang cerita jadi lebih dramatis jika memakai media diary. Ceritanya sendiri tajam, bikin penasaran, menegangkan, dengan ending yang bikin merinding. Selain karena ketegangan yang dibangun sedikit demi sedikit, saya juga suka dengan narasi sang tokoh mengenai tokoh-tokoh lain di dekatnya. Hal-hal kecil tentang mereka membuat orang-orang itu kelihatan hidup walaupun hanya dalam catatan. Sementara sang tokoh ‘aku’ sangat (atau mungkin terlalu ya?) dingin dalam mencatat segala peristiwa (mungkin menjelang akhir catatannya semestinya jadi lebih emosional dan kacau, semacam penulisan kata dan susunan kalimat yang mulai gak bener. Dan kepikiran juga, dia punya berapa pulpen ya? heheheh…). Beneran, saya tidak bisa komentar lebih banyak. Ini bagus. Saya suka, yang mungkin juga karena saya sudah terlalu lama tidak membaca cerita yang ditulis dengan gaya semacam ini.

Dian:

Pffyuuhh… Cerita ini ditulis dalam bentuk mirip jurnal yang ditulis oleh si tokoh utama. Rasanya seperti sedang main game horror, misterius dan menegangkan dari awal sampai ke akhir. Walaupun karakter2nya tidak digambarkan secara gamblang dan jelas, tapi cerita ini benar-benar memikat. Endingnya menggantung tapi diselesaikan dengan bagus.

Bonmedo:

Interesting Universe and Plot. I was intrique to continue reading to say the least. Nice use of language to keep the intensity of story. Somewhat confusing to begin with until I realise that this story is written in some sort of diary.

Bocah Serigala dan Isyarat-Isyarat Api – karya Jaladara

Villam:

Kisah tentang kehidupan sebuah suku di suatu tempat di suatu masa (kita bisa langsung membayangkannya sebagai suku Indian) dan bagaimana mereka menanggapi tanda-tanda alam. Dengan narasinya sungguh Jaladara telah membuat saya terhanyut. Gambaran dunianya tergambar baik di benak saya. Ceritanya sendiri sederhana, dan mudah dimengerti. Artinya pesan cerita ini sebenarnya sudah tersampaikan dengan cukup baik. Jadi saya tak punya keluhan. Di sini saya hanya akan mengajukan ide, yang mungkin nanti bisa membuat ceritanya jadi lebih menegangkan alias mendatangkan kepenasaran dan tidak terasa terlalu datar, yaitu dengan cara melibatkan si Bocah Serigala masuk dan terlibat lebih jauh di dalam cerita. Caranya, setiap kejadian dan tanda-tanda alam disampaikan melalui persepsi si bocah. Biarkan pembaca tahu apa yang dirasakan, dipikirkan atau dikatakan si bocah saat mendengar si dukun berbicara, saat tanda-tanda alam datang, saat kepala suku memutuskan, dan juga saat ia dipilih jadi persembahan. Jadi rasa takut, khawatir atau yang lainnya lebih terasa oleh pembaca, dan semuanya berasal dari persepsi sang bocah. Dengan cara itu mudah-mudahan tokoh Bocah Serigala ini nanti bisa menjadi lebih hidup, meninggalkan kesan, dan benar-benar menjadi pusat cerita.

Dian:

Langsung suka sejak pertama baca. Nice one! Karakter, cerita, mitos, kultur, dan dunianya bagus dan rapi. Well done! ^.^ (trying hard to get rid a stupid joke about of an Indian name Broken-*o*d*m-Made-in-China from mind)

Bonmedo:

Very nice universe, with background information on the culture and story of the world. The only thing is, the concept of Fantasi in this story is still a bit blur with the concept of shamanisme. That’s why I put only 3 on character & marketability and not a perfect score on the Universe, as some might not perceive this as a fantasi genre as yet.

Boxinite – karya Mailindra

Villam:

Kisah tentang olahraga tinju di tahun 3500 M. Ini cerita yang menarik, lucu dan cukup membuat saya terhibur. Saya suka bacanya. Mailindra pintar benar menampilkan detil-detil menarik dari olahraga tinju dan sisi-sisi gelap (dan lucu) di baliknya. Mungkin nanti yang perlu dipertimbangkan oleh Mailindra adalah waktu kejadiannya saja. Tahun 3500 M kayaknya terlalu jauh dan sulit untuk dibayangkan bakal seperti apa. Ya saya bisa percaya bahwa di tahun segitu ada bakal banyak ras-ras aneh, tapi kayaknya saya tidak yakin bahwa saat itu masih wajar membagi-bagi bangsa yang ada di bumi sebagai orang Indonesia, Jerman, Yahudi atau Thailand (kok gak ada yang Malaysia ya, kan lagi hot isunya. Hehe…). Saya gak yakin bangsa-bangsa itu masih ada, hahahah… (walaupun ya, saya harap Indonesia, Jakarta dan Bandung masih eksis sampai dua ribu tahun lagi). Mungkin bakal bisa lebih saya percayai jika kejadiannya ada di tahun 2500 M, yang tidak terlalu jauh. Siapa tahu, di tahun 2500 itu kita (keturunan kita) memang sudah bisa bertemu dengan segala macam ras aneh dari luar angkasa itu. Mau taruhan 1000 K-Energi? Hehe…

Dian:

Trey the healer. Profesi yang menarik, diceritakan dengan cara yang bagus pula. Sorry, Mailindra, satu-satunya kekurangan yang kutangkap dari ceritamu adalah, boxinite dan runtutan kejadian yang mengiringinya sangat mirip dengan apa yang terjadi  di tinju biasa, di dunia kita saat ini. Yang membedakan adalah setting, karakter dan ornamen fantasi yang disisipkan di dalamnya, walaupun ‘rasa’nya tidak terlalu signifikan. Sisanya, bagus J.

Bonmedo:

Love this. Especially the way the author use the language which eventhough not exactly EYD and combination of slang and various other language, it sounded fresh and make the story relaxing, often funny and easy to follow. The universe and characterisation also strong and end of the plot is unpredictable. The story itself is rather unique. Would like to comment more on the universe, the author has carefully thought off, in a smart way, of the world the story is being told. Especially love the way the author twist the universe between our current world and the outer world. Love this one.

Hujan – karya D. Catcher

Villam:

Kisah tentang seorang bocah pencopet yang ditembak mati di jalanan, di samping ayahnya, lalu masuk ke kehidupan berikutnya. Di sana ia bertemu si Penjaga Toko (semacam penjaga pintu surga, mungkin), naga, lumba-lumba dan kemudian menandatangani (menyelesaikan) kontrak kehidupan yang dulu telah dibuatnya saat lahir (tapi pas si naga bilang ‘sah’ jadi kayak kawinan yak. Heheh…). Keren, saya sangat suka fantasinya. Ah, ini salah satu cerita yang sangat saya suka, dan mungkin tidak akan ragu saya masukkan di jajaran terbaik, jika saja D. Catcher memilih bercerita dengan cara yang lebih sederhana, yaitu menggunakan sudut pandang orang pertama alih-alih sudut pandang orang kedua. Dengan POV orang pertama (atau boleh juga POV orang ketiga), sebagai pembaca rasanya saya akan lebih nyaman dan lancar membaca ceritanya, tidak perlu harus sesekali berhenti dan berusaha menyesuaikan diri dengan POV orang kedua. Jujur, saat membaca setiap ketemu kata ‘kau’ saya selalu mengubah jadi ‘aku’, dan sungguh itu membuang energi. Jadi ada baiknya ya sekalian saja pakai ‘aku’, dan mungkin banyak pembaca akan setuju dengan saya. Cobalah alternatif ini, D. Catcher, dan bandingkan hasilnya. Btw, di akhir cerita kenapa si lumba-lumba bilang si ayah bunuh diri ya, kan sudah jelas dia ditembak juga kayak si bocah, dan makanya wajar pula dapat kontraknya, jadi kenapa di sana dipertanyakan? Hmm… rada bingung saya.

Dian:

POV orang kedua yang kedua di FF *halah*. Sudut pandang yang satu ini jarang dipakai orang karena lebih sulit, jadinya buatku menarik. Dan yaps, ada miss di alinea kedua: kata batin si tokoh utama bercampur dengan alinea biasa. Umm … setelah dibaca sampai akhir ternyata POV orang kedua bercampur dengan POV orang ketiga. Kombinasi yang tidak lazim. I would avoid this, if I were you. Temanya unik, makhluk-makhluknya juga unik, dan dialognya oke. Masalah hanya di inkonsistensi POV. Bisa bermasalah bisa tidak, tergantung pembacanya. Tapi kalau villam baca, kemungkinan dia akan komentar soal ini, hehehe … *lirik vil sambil nyengir*. Sempat penasaran, ternyata gulungan kertas itu kontrak kehidupan, ya? Idenya bagus!  J

Bonmedo:

Nicely told story. Universe quite strong, and the language used is beautiful. A bit poetic, but still in the right amount to make it interesting and not boring. The story is quite easy to understand, though the plot I found it somewhat predictable with the exception of the dead father.

I Wake for Thousand Years – karya Kuro M

Villam:

Kisah tentang dia yang hidup seribu tahun, terlupa ingatan namun teringat rasa. Ini bagus, saya menikmati membacanya. Cerita mengalir lancar, rasa lembutnya terasa, keping ingatannya muncul sedikit demi sedikit, dan tokoh-tokohnya hidup dalam dialog dan narasi. Ada lumayan banyak kesalahan ketik dan penulisan tanda baca, dan saya kurang suka dengan penulisan tawa ‘hihihi hahaha’ para Nifalr, yang beneran tuh suara tawa mereka bunyinya garing seperti itu? Lalu agak heran kenapa Kanara tidak takut melihat taring sang tokoh (mungkin taringnya gak lancip-lancip amat kali yak), juga berpikir bahwa seharusnya adegan pembantaian dan tertusuknya si gadis bisa dibuat lebih emosional. Kemudian bagian penyesalan singkat di penutupnya saya rasa tidak sekuat kelembutan yang saya rasakan di awal dan pertengahan cerita, dan teriakan ‘Argh’ itu tidak terlalu membantu penggambarannya. Tetapi secara keseluruhan, ya, saya suka ini, terutama pada pembangunan ceritanya yang berupa interaksi tiga tokoh.

Dian:

Very neat! I like the way you play with words, I like the way you twist the story, I like the romance you grew in it (you should read this one, Miss Swan!). I luv it, Kuro! ^.^

Bonmedo:

Love it. Universe is easily grasp, Poetic language, with just the right amount to keep it moving and interesting. Touching plot and not predictable. Strong characterisation.

Kota Para Penjarah – karya Luz Balthasaar

Villam:

Kisah tentang kaum penjarah dalam perangnya yang menentukan melawan para Penyembah-Bintang. Cerita diawali dengan ‘pemanasan’ perang kedua saudara, yang penuh kegembiraan dan keyakinan. Jago, tanpa rasa takut dan tanpa rasa ragu, keduanya. Mereka bertemu dengan utusan musuh, membuat masalah dan membunuh, lalu bertempur, dan membantai habis. Menang meyakinkan. Seluruhnya ditulis dengan cermat, dan sepanjang cerita saya berkali-kali tertegun, kadang kagum dengan kepandaian Luz merangkai kalimat, tapi kadang pula kesal karena seringkali tersendat, belum paham apa yang sebenarnya dimaksud dalam kata atau kalimat itu jika belum membacanya dua atau tiga kali. Latar belakang perselisihan kedua belah pihak menarik, demikian pula sosok-sosok asli berupa hewan itu (saya belum terlalu ngerti tapinya, mereka pembenci manusia tapi kelihatan begitu nyaman tampil dalam sosok manusia. Apa mereka memang tidak bisa menerima–dan bangga dengan–kodrat mereka sebagai hewan ya?). Yang sedikit kurang buat saya, justru, dalam hal kejutan atau twist. Entah memang tidak ada (dan tidak dimaksudkan untuk ada), atau saya saja yang gagal merasakan. Contohnya, sejak awal para tokohnya yakin bakal menang, dan ya memang menang pada akhirnya, dengan mudah, tanpa sedikit pun tekanan atau ketegangan. Tidak ada sesuatu yang bisa bikin saya ragu akan kemungkinan hasil akhirnya nanti seperti apa hingga menimbulkan penasaran, sebelum ceritanya ditutup.

Dian:

I like the way this story ‘tells itself’. Pemilihan katanya bagus! Sayangnya, efek adrenalinnya kurang terasa. Mungkin karena sejak awal digambarkan para tokoh utama memiliki kemampuan luar biasa dan para penyembah bintang langsung kalah telak apa pun yang mereka lakukan, kemudian terbentuklah asumsi para-tokoh-utama-pasti-menang-sehebat-apa-pun musuhnya. The protagonists are just too perfect. Coba mereka sedikit lemah, ceritanya pasti lebih dinamis. Oh, by the way, bagaimana caranya menjarah sihir? Dan kenapa Amur mereka rebut, ya, padahal mereka akan lebih nyaman tinggal di hutan, dan bukannya di reruntuhan kota? And no, Luz. Don’t answer these on your comment. Put the answer ON your story J

Bonmedo:

Interesting use of language. Rather unique Characters and fantasy ideas. But … lacking in plot. Too much fighting and not enough story for my liking, hence low score in plot.

Moka si Mobil Jelaga – karya Yuniar K

Villam:

Kisah tentang Moka, si mobil tua. Apa lagi? Mau tahu seperti apa saya saat membaca cerita ini? Tersenyum-senyum sendiri, senang bercampur sedih, melihat polah tingkah ketiga mobil: Moka, Wanda dan Roki, yang hitam putihnya kadang membuat mereka seperti bawang merah dan bawang putih. Senang, sesenang saat saya menonton film Toy Story 3 atau Cars. Menjelang akhir sebenarnya sudah mulai tertebak ujung ceritanya mau dibawa kemana, tapi itu tidak jadi masalah besar. Jadi rekomendasi saya, baca ini, Teman-teman. Ini cerita fantasi untuk anak-anak yang sederhana, namun menyentuh. Terima kasih, Yuniar, saya jadi teringat mobil tua yang saya jual lebih dari setahun yang lalu. Apa kabarnya dia ya …

Dian:

This story is simple, but yet powerful. Walaupun sederhana, Yuniar sudah menguasai teknik2 penulisan dengan baik. Dan sebagai cerita anak, Moka si Mobil Jelaga sudah berhasil menyampaikan pesan moralnya.

Bonmedo:

Simple but powerful. Easily understood, clear universe, nice and unpredictable plot, with nice educational theme and leaving me with such a nice feeling after reading it. Easily marketable to almost any segment of readers, young and old. The only thing is the author can still work the use of language in his sentences in order to make this story more powerful, but smoothing it and fine tune it to make it more fresh and current.

Sang Pelukis – karya Fredrik Nael

Villam:

Kisah seseorang yang mencoba melawan kekuasaan Orde dan menyelamatkan Sang Pelukis, demi menyelamatkan seluruh dunia, karena sebelumnya mendapat penglihatan tentang kehancuran dunia itu. Ia memanjatkan harapan, hanya untuk mendapat jawaban bahwa Sang Pelukis ternyata memilih menyelamatkan dirinya sendiri, dengan tetap menghancurkan dunia. Huh, ini kisah fantasi yang keren, dengan penutup yang tajam pula. Pilihan, tapi sekaligus juga takdir, dan pada akhirnya toh sang tokoh berharap juga pada Ladang Kebahagiaan, yang sebelumnya kelihatannya tidak ia percayai. Membaca cerita ini mesti perlahan-lahan, karena bagaimanapun, awal cerita memang terasa sedikit susah dicerna. Mungkin akan lebih baik jika Fred membuka cerita dengan secara lebih jelas dan sederhana, tambah sedikit deskripsi pada saat adegan kehilangan adik si tokoh itu, untuk memudahkan pembaca mendapatkan suasananya. Buat kehadiran (dan kematian) si adik itu benar-benar penting dalam cerita. Lalu singgung lagi tentang adiknya itu di penutup, misalnya si tokoh nanti berharap bisa bertemu lagi dengan adiknya di dunia selanjutnya. Juga mungkin bisa ditambahkan narasi atau deskripsi dunianya di tengah-tengah, yang bisa lebih menjelaskan alasan kenapa si tokoh nekat menantang si Komandan atau Orde. Apakah alasan penglihatan semata itu cukup? Dan siapa sebenarnya sang tokoh ini sehingga dia merasa bertanggungjawab? Represi seperti apa sih yang sebenarnya telah dilakukan oleh Orde, sehingga mereka benar-benar patut ditentang atau dilawan? Dengan sedikit tambahan di depan atau tengah mungkin ceritanya bisa lebih gampang dipahami, dan emosi sang tokoh juga bisa lebih terasa.

Dian:

A new concept of God, I suppose? It feels like this story doesn’t relate to anything that exists in the real world, except the gun. Sooo fantasy, with unpredictable twist at the end. This one’s very-very good.

Bonmedo:

Smart Plot (love it), Strong Universe, Nice use of language though a bit heavy. This type of story telling might be difficult to digest for majority of readers (especially the young ones), hence I only put 3 on the marketability.

Selera Ganesha – karya Dewi Putri Kirana

Villam:

Kisah tentang si pemakan koran yang lalu menjadi pemakan buku. I really love this weird story. Cerita dibawakan secara unik menggunakan sudut pandang orang kedua. Dulu sekali saya pernah bereksperimen memakai POV ini, dan menurut saya keuntungannya memang bisa menciptakan sedikit efek misteri dan jarak dengan pembaca jika dibandingkan sudut pandang orang pertama, namun sekaligus lebih personal jika dibandingkan dengan sudut pandang orang ketiga. Artinya pula, bisa jadi tidak semua cerita bakal cocok memakai POV orang kedua. Hanya cerita yang memang membutuhkan efek misteri dan jarak dengan tokohnya itu, seperti contohnya cerita ini. Nah, efek itu, jika mau, bisa dibuat lebih terasa jika setiap dialog yang diucapkan oleh tokoh ‘kau’ ini pun tetap dijelaskan melalui narasi, sementara orang lain di dekatnya tetap pakai dialog biasa. Tanda kutipnya dihilangkan, jadi pembaca tidak perlu ‘mendengar’ bagaimana dia bersuara dan mengucapkan dialognya. Dengan demikian sosok ‘kau’ ini bisa tetap terasa misterius dan berbeda, walaupun kerugiannya, mungkin kehangatan dialognya akan berkurang. Kalau mau, coba Dewi ubah dialog tersebut, dan bandingkan dengan yang ada sekarang, buat eksperimen. Tapi tidak pun tidak apa-apa, karena yang sekarang pun sudah sangat bagus. Teknis penulisan tidak ada masalah. Demikian juga penutupnya yang indah, saya suka.

Dian:

POV orang kedua yang jarang dipakai, diramu dengan mulus dalam cerita yang unik; bagaimana si tokoh menahan hasratnya untuk memakan kertas, berusaha menyembunyikan kelainannya, dan betapa fiksi fantasi sangat merangsang selera makannya–perfectly written. Bagus bangetttt, walaupun judulnya kurang catchy. But anyway, ‘Ganesha’ yang sangat haus bacaan, isn’t remind us of ourselves, wormbooks? 😉

Bonmedo:

Unique story, told in a current language which make it easy to understand, sounds natural and enjoyable. Unique character, and interesting plot. Love it.

Speak of The Devil: The Bait – karya F.A. Purawan

Villam:

Kisah Baalruukh, yang pertama dari Yang-Empat, melawan para Daemon Hunters. Asli keren aksinya. Mangstab. Awalnya saya ragu bagaimana warna teknologi dalam cerita ini bisa dipadukan dengan hal magis semacam mantera Panghalimunan, tetapi ternyata cukup pas juga. Jadi yang mengganggu ya paling cuma pemakaian banyak kata asingnya—tampaknya dalam beberapa narasinya Baalruukh memang lebih suka berbahasa Inggris (ingat, ini sudut pandang orang pertama). Apa memang itu sudah kebiasaan si setan sehingga terlalu sulit baginya menemukan padanan kata untuk hunter, warrior, support, decoy, retreat, trigger dan lain-lain? hehehe…. Bisa jadi wajar juga sih, jika dalam obrolan sehari-hari dengan kaumnya Baalruukh sudah terbiasa menggunakan istilah-istilah tersebut (luar biasa, bahasa Inggris ternyata sudah menginvasi dunia Baalruukh pula), tapi tetap, gak ada salahnya juga memakai padanan katanya dalam bahasa Indonesia, demi para pembaca lokal. Eniwei para hunter ini memang kejam banget ya sampai mengorbankan seorang bocah kecil. Memang harus anak kecil ya umpannya? Hmm… bahkan film-film Hollywood yang paling sangar alias sadis pun amat jarang memperlihatkan peristiwa pembantaian anak kecil, dan mereka jelas punya alasan, para pembuat film itu tidak sampai hati. Tapi ya, sisi bagusnya adalah, akhirnya hal itu membuat Baalruukh terlihat sebagai pahlawan seperti halnya Hellboy, dan kontradiktif dengan para prajurit manusia itu, jadi pesan utama ceritanya kelihatan. Terakhir, saya suka dengan penutupnya. Bagus.

Dian:

Wow. I can’t find fatal miss in this story! Del-i-ci-ous!! Pencampuran bahasa Inggris dan budaya luar di dalamnya tidak terlalu masalah buatku, karena cerita itu terjadi entah kapan (kemungkinan di masa depan) dan bisa saja saat itu kedua hal itu sudah sedemikian terintegrasinya ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Things that made me like this story is the original-cultural-demons you put in it, the adrenalin rushing I felt from the first to the last, and the unpredictable ending you chose to ‘trick’ me.  Mangap, mangap dah gue baca ini. :p

Bonmedo:

Particularly love the language, the name of the mantra/magic that is fit perfectly with the universe, and Very Creative, unlike others that uses english name rather than creating their own. The character especially the main character is very strong – which is good, but the rest are so-so. It is understood though as it is difficult to make all characters powerful within 3000 words. But perhaps, the author can use less characters and concentrate on fewer characters and make them stronger? ie. use only 1 magister perhaps? Some of the fighting scene can also be remove and replaced it to some dialog or story which strengthen the other characters. One thing that I have problem with in this story is the Logic. Why in the world the main character risk his life for too long, while all the targets to be killed are there already and he has 2K armies to help him?

Iklan