Berikut adalah ulasan singkat untuk cerpen:

ABEL-7 – karya Someonefromthesky

Anak Lelaki dan Si Pengubah Wujud – karya Juunishi Master

Anastasia – karya Alcyon

Annunaki! – karya Ken

Appolyon – karya George D. Farmer

Ariman – karya Wyka

Arrakis – karya Fenny Wong

Artemis dan Gudang Harta Rahasia Piraeus – karya Kirzo

Athene: Aku Tak Perlu Kembali Lagi – karya Adil Albanny

Balada Seorang Terata – karya Ubr

Bangkitnya Pedang Salamander – karya Nekoman

Batraz & Deseltra – karya Blood Raven

ABEL-7 – karya Someonefromthesky

Villam:

Kisah di tahun 2230 saat manusia bertempur melawan robot. Cerita ditulis dengan narasi yang rapi, dan diawali dengan penjelasan situasi yang cukup bagus sebagai pembuka (biasanya saya tidak terlalu suka membaca cerita yang diawali eksposisi panjang tentang latar dunia, tapi di sini kelihatannya tidak masalah), lalu ditutup dengan satu kalimat penutup yang tajam. Akhir yang menggantung, tapi buat saya bagus. Secara keseluruhan saya suka ceritanya, dan suka juga dengan pesan perdamaian dan persahabatan antar bangsa yang disampaikan dalam cerita ini. Di sisi lain, rasanya segala macam teknologi tempur yang dipakai di sini lebih cocok sebagai teknologi abad ke-21 dibandingkan dengan teknologi abad ke-23. Jadi pesannya bagus, tapi untuk sebuah cerita futuristik, masih terasa kurang futuris.

Dian:

Hooo … ini menarik. Manusia yang belajar kemanusiaan dari robot. Dan mungkin memang harus ada musuh universal untuk ras manusia supaya mereka berhenti saling menembak *ngelirik para alien yang mungkin bisa membantu*. Eniweiiii … Someonefromthesky (panjang amat namamu >.<), sebetulnya tumpukan info di depan yg sebenernya bisa dieliminasi tanpa mengubah plot, tuh. Kita nggak perlu informasi sebanyak itu kok. Sejarah ABEL nggak perlu semuanya ikutan, pun peristiwa yang membuat kondisi Yerusalem di cerita ini nggak perlu diurai sedetil itu. Pick the most important ones, sebar di dialog dan alinea dan jangan terlalu numpuk. Terakhir, endingnya nggak rela, niiiihh … nanggung banget *hiks*

Bonmedo:

Interesting story, logic and plot. Though the language being used by the author can still be trimmed and fixed in many ways. It is now sounds too formal in some of the sentences which hinder me from really entering the story and becoming one with the story. The characterisation of the main character also need to be strenghten more.

Anak Lelaki dan Si Pengubah Wujud – karya Juunishi Master

Villam:

Kisah seorang anak lelaki yang pergi bersama Si Pengubah Wujud untuk berburu, mencari tumbuhan penyembuh penyakit. Ya, karena dijelaskan sebagai pembuka cerita, sebagai tujuan perjalanan, saya kira itulah yang akan menjadi misi utama cerita ini. Ternyata tidak, cerita kemudian lebih banyak bergerak pada konflik antara si anak dan si lelaki dewasa—yang jujur saya katakan, permasalahan keduanya memang bagus dan karakter mereka kelihatan menarik (terutama Si Pengubah Wujud). Setelah adegan hampir mati di pinggir tebing, cerita ditutup dengan adegan perbincangan saat makan malam, berdamai, dan selesai. Masalah penyakit sebagai isu utama yang diungkap di awal tidak diselesaikan, bahkan tidak pula disinggung di akhir. Ya, saya tahu, ada keterbatasan ruang untuk bercerita banyak, tapi saya percaya mestinya ada satu cara, misalnya satu peristiwa epik di antara mereka, di mana semua masalah bisa diselesaikan sekaligus, dan juga tanpa perlu dialog terlalu banyak di akhir cerita. Keluarkan setannya di tebing, bangun ketegangan, hancurkan bersama-sama, dapatkan obatnya, dan tarik kesimpulan, misalnya. Tapi ya, menurut saya itu hanya sedikit kekurangan cerita ini. Sementara kelebihannya, selain konfliknya tadi, ada pada narasi dan deskripsi yang bagus di sepanjang cerita, yang jelas namun tidak berlebihan.

Dian:

Mengejutkan, cerita yang di awal datar emosi bisa terasa menyentuh di endingnya. Dialog-dialognya tidak membosankan, universe-nya dibangun dengan rapi, dan plot cerita yang sebetulnya saling berkaitan dijalin dengan bagus.

Bonmedo:

Good Universe, but  can be strengthen more. The description of the desease might help. The end of the conflict is a bit anticlimak in my opinion.

Anastasia – karya Alcyon

Villam:

Kisah Anastasia, yang harus memilih antara cinta dan tugas. Ya, tadinya saya pikir begitu. Kenyataannya kemudian ini juga berkembang menjadi ceritanya si Dave dan si Paul (namanya mengingatkan saya pada si gurita peramal; sisa-sisa kehebohan Piala Dunia. Hehe…). Maksudnya, saya akan lebih senang jika ceritanya tetap terfokus pada kisah sang gadis, dan sepenuhnya diceritakan melalui sudut pandang dia. Bagaimana dia memandang cintanya, tugasnya, dunianya, perangnya, mesin-mesin canggihnya, pengkhianatannya, orang-orang di sekitarnya, kehidupannya, dan akhirnya kematiannya. Cukup dari dia saja, dan cukup sampai kematiannya. Di cerita ini saya tidak terlalu tertarik dengan apa yang dipikirkan oleh Dave, Paul atau tokoh-tokoh lainnya, saat Anastasia masih hidup ataupun setelah dia mati. Saya lebih tertarik dengan bagaimana pandangan Anastasia terhadap mereka. Lain soal jika ini adalah bagian dari cerita panjang di mana Dave atau Paul menjadi tokoh utamanya. Masalah sudut pandang alias point of view (POV), menurut saya.

Dian:

Pembukaannya sudah bagus, walaupun masih ada yang perlu diperbaiki, tapi begitu kata ‘ponsel’ disebut, ‘rasa’-nya hilang. Maksudku gini … sejak awal kamu sudah membangun dunia yang menurutku sudah cukup solid, negara dan kota dengan nama asing, tapi ada benda yang sangat lekat dengan dunia nyata yang ternyata dipakai juga di sana. Padahal di bawahnya sudah ada Warbird, kenapa nggak sekalian buat alat komunikasi khas Eurel sekalian? Same goes to English words you put on the rest of the story. Dunianya jadi nanggung. Ada blank logika saat Dave berhasil menyusul Anastasia. Bagaimana caranya Dave melakukan itu, padahal Anastasia sudah pergi ketika ia masih tidur? Kalau Dave orang militer/ agen juga, mungkin bisa dimaklumi karena mungkin ia memanfaatkan fasilitas ‘kantor’nya. The problem is, Dave is a civilian. CMIIW, Anastasia is a spy agent–or sort of it, right? I believe she was suppose to be emotionless, though when it comes to love. She’s a bit too weakhearted for a spy agent. Or may be I shouldn’t watch Salt. My bad.

Bonmedo:

I am torned with this one. I do like the story, the plot, the language and I think the universe is quite clear. But I don’t see enough fantasy element to this story to be able to call it a fantasy story. Fiction … on the border of science fiction … but I don’t know whether I can solidly say that this is a fantasy story. Hence I give only low/average score on the universe, character, and marketability (considering this is supposed to be for fantasy reader market).

Annunaki! – karya Ken

Villam:

Kisah tentang siapa sebenarnya nenek moyang manusia di bumi berdasarkan mitologi Sumeria. Dari sisi tema dan riset terhadap mitologi, ini cukup menarik. Ada Amon dan Enki yang ternyata berasal dari ruang angkasa, lalu turun ke bumi, menciptakan manusia, dan memulai peradaban. Hanya saja, menurut saya, penceritaannya datar, tanpa konflik berarti, dan dialog-dialognya juga tidak terlalu membantu menghidupkan cerita. Buat saya, akan jadi lebih menarik sebagai sebuah cerita jika saja ceritanya fokus pada suatu peristiwa, atau ada pendalaman khusus pada tokoh dan sebab akibat kejadian-kejadian yang memang penting. Misal, di awal disebut mereka datang ke bumi karena mencari sumber daya, ya jelaskanlah lebih dalam kenapa mereka butuh itu, terutama emas. Jika alasan tersebut kuat, maka nanti bisa dimunculkan konflik dan alasan lebih dalam kenapa dan bagaimana caranya mereka menciptakan manusia, dan kenapa kemudian Enki sampai berani membantu manusia untuk memberontak. Dengan pendalaman-pendalaman seperti ini maka ceritanya tidak hanya berbicara tentang hal-hal yang ada di permukaan saja, sebatas yang biasa dituliskan di buku-buku sejarah atau mitologi. Dan barangkali dari penggalian-penggalian itu nanti bisa ketemu sebuah pesan yang benar-benar berarti.

Dian:

Ken, sebenarnya temanya menarik, tapi akan lebih menarik lagi kalau gaya penulisannya mengikuti pakem prosa biasa dan bukannya format drama. Kalau format drama, kita sulit bermain dengan diksi, ekspresi karakter dan deskripsi situasi. Kita coba, ya …

Selama lima puluh tahun hitungan waktu Bumi, kami bekerja dan melaporkan semua penemuan kami ke Draconian. Amon, pemimpin kami di Bumi, menerima informasi dari kami dalam rapat tahunan.

“Yang Mulia Amon, setelah berbagai pertimbangan dan pemikiran, saya ingin mengusulkan sesuatu untuk kemudahan kita dalam menjalankan pekerjaan di planet bumi ini,” kataku dalam rapat pertama kami. Semua kepala serta-merta menoleh ke arahku, dan ruangan menjadi sunyi.

Dari kursi utama Amon menjawab,  ”Anda punya usul apa, Enki? ”

Aku terdiam sesaat, menguatkan hati untuk mengucapkan usulanku. “Penciptakan mahluk yang memiliki inteligensi rendah dan tidak dapat berproduksi”

Seperti dugaanku, Amon terlihat terkejut mendengarnya. Rekan-rekanku mulai saling berbisik, tapi kemudian sunyi kembali setelah Amon mengangkat sebelah tangannya. “ Atas dasar apa kamu mengusulkan pembuatan mahluk tersebut?” tanyanya kemudian.

See? Beda, kan? 😉

Bonmedo:

I found flaws in the logic, one of the thing is the fact that there are man and woman in story. Why create 2 kinds, man and woman while the intention is just to create a machine which cannot reproduce? From there the plot and the universe goes down the hill.

Appolyon – karya George D. Farmer

Villam:

Kisah yang disajikan lewat catatan harian seseorang yang ditugaskan pergi ke suatu kota, tempat di mana satu per satu orang-orang menghilang. Sedikit pemikiran, dalam dunia modern kayaknya  lebih praktis menggunakan media rekam audio daripada catatan tulis (dan jika seandainya cerita keren ini nanti difilmkan jadi kayak ‘I am Legend’, misalnya—harus ini! Hayo cari produser! Hehehe—pastinya semua catatan ini juga dinarasikan oleh tokohnya secara lisan). Tetapi itu media resmi ya, kalau catatan pribadi sih sah-sah saja. Dan memang cerita jadi lebih dramatis jika memakai media diary. Ceritanya sendiri tajam, bikin penasaran, menegangkan, dengan ending yang bikin merinding. Selain karena ketegangan yang dibangun sedikit demi sedikit, saya juga suka dengan narasi sang tokoh mengenai tokoh-tokoh lain di dekatnya. Hal-hal kecil tentang mereka membuat orang-orang itu kelihatan hidup walaupun hanya dalam catatan. Sementara sang tokoh ‘aku’ sangat (atau mungkin terlalu ya?) dingin dalam mencatat segala peristiwa (mungkin menjelang akhir catatannya semestinya jadi lebih emosional dan kacau, semacam penulisan kata dan susunan kalimat yang mulai gak bener. Dan kepikiran juga, dia punya berapa pulpen ya? heheheh…). Beneran, saya tidak bisa komentar lebih banyak. Ini bagus. Saya suka, yang mungkin juga karena saya sudah terlalu lama tidak membaca cerita yang ditulis dengan gaya semacam ini.

Dian:

Pffyuuhh… Cerita ini ditulis dalam bentuk mirip jurnal yang ditulis oleh si tokoh utama. Rasanya seperti sedang main game horror, misterius dan menegangkan dari awal sampai ke akhir. Walaupun karakter2nya tidak digambarkan secara gamblang dan jelas, tapi cerita ini benar-benar memikat. Endingnya menggantung tapi diselesaikan dengan bagus.

Bonmedo:

Interesting Universe and Plot. I was intrique to continue reading to say the least. Nice use of language to keep the intensity of story. Somewhat confusing to begin with until I realise that this story is written in some sort of diary.

Ariman – karya Wyka

Villam:

Kisah tentang monyet dan kodok dari galaksi lain yang datang ke bumi. Ini cerita fantasi anak yang aneh dan cukup menggelitik. Deskripsinya sederhana, di beberapa tempat butuh penggambaran lebih banyak supaya suasananya lebih jelas, tapi saya rasa secara keseluruhan cukup pas. Sementara temanya sendiri sudah umum dipakai, ada makhluk gemar perang dari galaksi lain yang turun ke bumi, hendak menginvasi, dan kemudian dipilihlah satu anak dari bumi untuk membantu makhluk baik melawan mereka. Jadi di sini yang bikin lucu dan menarik memang adalah sosok makhluk-makhluk itu yang mirip kera tarsius dan kodok, dan kenapa si Ariman butuh panci dari dapur (ada-ada ajah…). Ceritanya sendiri belum sepenuhnya selesai sebagai sebuah cerpen. Seperti Wyka bilang di akhir, ini baru awal dari sebuah petualangan.

Dian:

Kenapa-oh-kenapa-ceritanya-tidak-selesai? Apa karena pembatasan jumlah katanya terlalu sedikit? Rasanya tidak, karena di awal cerita banyak bagian yang sebenarnya bisa dipangkas dan langsung masuk aja ke cerita utama. Tidak mempengaruhi plot, kok, trust me. Berhubung ini cerita anak, bolong logika-nya terpaksa kulewat saja. Tapi kalau aja mau ditambal, pasti jadinya lebih bagus.

Bonmedo:

Like the opening very much. Can be a very good children story. But the middle and end tend to get boring. The plot though make sense, somehow doesn’t really move me. The creative interactivity between characters that keeps the story interesting in the beginning of the story, somehow lost when the author start to introduce the history that happens as the background of the story, hence the boredom strikes.

Arrakis – karya Fenny Wong

Villam:

Kisah seorang penari yang jatuh cinta pada seorang pangeran, dan di saat terakhir menyadari bahwa lelaki itu bukan orang yang selama ini diduganya. Plot yang sebenarnya tergolong biasa, tapi saya harus bilang, saya suka penyampaiannya. Fenny menulis dengan cantik, buat saya kalimatnya terasa mengalir indah, dan curhat dari si penari bisa saya rasakan dengan baik, heheh…. Deskripsinya tidak terlalu kental, mungkin memang bisa ditambahkan sedikit di beberapa tempat, tetapi sebenarnya buat saya sih sudah cukup, saya tidak butuh terlalu banyak deskripsi. Saya sudah cukup bisa berimajinasi tentang si penari, Tarf, Adler dan juga kapal-kapal bajak laut itu. Seringkali sebagai pembaca saya lebih suka diberi kebebasan sendiri buat berimajinasi daripada dicekoki banyak-banyak deskripsi. Dan saya juga suka kejutan di bagian akhirnya. Agak klise sih, tetapi bagus.

Dian:

Ok, romansnya bagus. Masalahnya ada beberapa logika yang bolong–seorang pangeran akan berjalan-jalan dengan identitas dirinya: pasukan pelindung, panji-panji, dan tentu orang yang mengabarkan kedatangannya secara resmi ke tempat yg dituju, dengan bukti resmi berupa surat atau apalah. Dengan protokoler berlapis ini bagaimana Turf bisa menyamar menjadi Alder? Dan Alder yang asli bertemu Turf dalam kondisi tanpa pengawal, padahal ia tahu Turf dalam kondisi mendendam padanya (walaupun akhirnya Turf melupakan dendam dan lebih memilih cinta)? Kenapa nggak ngirim assassin aja, sih, kalo cuma buat bunuh Turf? Toh si Turf keliaran di Algorab seminggu, ngaku jadi Alder, lagi. Nyarinya gampang.

Bonmedo:

Nice story, but I fail to see this as a fantasy story. It is a fiction, but I don’t see enough fantasy element on it to be able to call this a fantasy story. Yes there are prince and pirate. But prince and pirate are part of history which is not a fantasy as well. Hence the low point on universe, plot and character.

Artemis dan Gudang Harta Rahasia Piraeus – karya Kirzo

Villam:

Kisah seorang pencuri yang masuk ke gudang harta orang kaya, lalu mencurilah dia. Tak ada kejutan berarti, semua berjalan sesuai rencana. Ceritanya sebenarnya cukup mengalir. Namun di depan, saya tidak terlalu suka dengan pendeskripsian diri si Artemis: rambutnya, matanya, bajunya dan lain-lain. Selain terasa rada narsis deskripsinya, sebagai pembaca, biarkan saya berimajinasi sendiri tentang sosok seorang tokoh, dan jika deskripsi-deskripsi tersebut gak penting-penting amat di dalam cerita, buat apa dijelaskan detil? Biarkan saja saya berimajinasi bahwa diri saya sendirilah yang sedang jadi pencuri. Lebih baik di awal ya fokus saja pada apa yang dilakukan oleh Artemis, pada tindakannya. Lebih asyik begitu buat saya. Sedikit catatan, saya tertarik dengan kristal pelahap cahayanya (kayaknya ini ide yang bagus), sayangnya saya belum bisa membayangkan seperti apa sebenarnya efeknya (nah justru di sini butuh lebih banyak deskripsi yang penting). Sedangkan mengenai Piraeus, buat saya dia benar-benar sosok yang sulit dipercaya. Jika Artemis saja tahu gunungan harta yang ada di dalam gudang itu bisa dipakai buat membangun kerajaan, kenapa si Piraeus begitu bodoh gak berpikir hal yang sama ya? Seolah-olah dia menyimpan semua harta itu di gudang memang untuk dicuri (Aneh memang orang-orang kaya macam begini, menyimpan harta tapi tidak untuk dinikmati. Ada banyak juga sih di negeri kita. Hahah…).

Dian:

Gemes. Ceritanya bagus dan aq udah kebawa tegang sampai tiba-tiba ketemu ending yang ‘oh tidak!’. Tema pencuri di cerita ini unik, ide untuk perlengkapan mencurinya pun oke. Deskripsinya pun bagus. Tapi kenapa-oh-kenapa Artemis mesti ketawa sendiri di ujung? Padahal menurutku pengalaman Artemis menembus keluar gudang harta Piraeus akan membuat cerita ini ‘berakhir dengan indah’.

Bonmedo:

The universe is quite clear, and like the nifty logic which the author has cleverly thought off about how to handle dark and light. What really lacking here is the plot. It drags on and after a while it gets boring and predictable. The ending also is an anticlimax that leave me sighing a bit disappointed.

Athene: Aku Tak Perlu Kembali Lagi – karya Adil Albanny

Villam:

Kisah tentang orang-orang di suatu negeri, yang memiliki agama dengan salah satu ciri khas mengorbankan nyawa satu orang untuk menghidupkan orang yang lain. Terus terang, ini benar-benar konsep yang mengejutkan dan membuat saya penasaran membaca terus dari awal sampai akhir, ingin tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Adil melalui konsep tersebut, dan apa yang bakal terjadi pada Athene sang tokoh utama. Sayangnya, saya tidak menemukan jawaban di akhir, karena ceritanya tidak selesai, atau ini seperti sebuah prolog cerita panjang yang dipaksakan untuk selesai. Gigitan cerita dan keasyikan langsung hilang begitu sudut pandang cerita dicabut dari sisi Athene dan dipindahkan ke tokoh-tokoh lainnya. Menyisakan kebingungan dan pertanyaan, sebenarnya pesan apa yang mau disampaikan di akhir cerita dari sebuah ‘kegilaan’ agama ini? Ini maunya jadi cerita tragedi atau apa? Gak mungkin cuma ‘semoga semuanya berjalan baik-baik saja’ seperti yang disebutkan di akhir cerita kan? Ya, sama sekali tidak selesai.

Dian:

Salah satu cerpen bagus dengan universe yang solid, tapi sayangnya ada beberapa kekurangan kecil.

Pertama, kalimat dalam satu alinea yang terlalu menumpuk. Sebenarnya bisa diurai dan disisipkan di dialog,  atau bagian2 berikutnya. Yang penting jangan menumpuk informasi terlalu banyak di satu tempat karena itu cenderung akan membuat pembaca cepat jenuh dan melompati bagian itu. Contoh, penjelasan tentang Cronzen. Kedua, emosi yang seharusnya muncul pada saat Athene disuruh jadi Nodea sampai ke bagian Scarlett datang dan bertemu ibunya, masih kurang. Bisa lebih dramatis kalau Scarlett langsung berlari, naik kuda, lalu menyusul ke tempat Raja Marshallum hanya untuk mendapati kalau ia sudah terlambat. Atau, adegan Armuchus mengamuk bisa dibuat detil, toh masih ada sisa limit kata 😉

Bonmedo:

The story has good universe, as well as plot and logic. The characterisation of the main character also strong. But somehow the way the author tell the story doesn’t really grip my attention. Could it be the language? How the author brought the story to live?

Balada Seorang Terata – karya Ubr

Villam:

Kisah tentang Daworth (Terata, nama yang cuma sebentar disebut di awal, itu nama keluarganya), si bajingan. Saya masih belum yakin alasan Ubr kenapa memilih judul Balada buat cerita ini. Tadinya saya pikir ini bakal jadi cerita sedih macam balada si miskin, ternyata tidak. Kalau mau dibikin lucu, kayaknya judul Balada Seorang Bajingan lebih asik. Kalau mau dibikin serius, kayaknya mendingan judulnya Daworth si Bajingan aja. Hahahah… terserah Ubr deh. Soal penceritaan dan penulisan, masih ada yang perlu diperbaiki. Karakter Daworth ini sebenarnya menarik, hanya saja penjelasan tentang latar belakang Daworth yang sampai belasan paragraf itu terlalu panjang. Mestinya bisa diringkas paling banyak mungkin lima paragraf, yang penting adalah bagaimana menghubungkan siapa itu Daworth, kenapa dia jadi bajingan dan kenapa dia bisa ada di Karlemenga, itu saja cukup. Tak perlu narasi terlalu panjang karena toh bajingannya si Daworth ini nanti bisa ditunjukkan langsung pada adegan berikutnya saat dia membunuh si pedagang, yang sebenarnya bisa jadi adegan yang menarik juga. Cerita ini unik bagaimanapun, karena jarang-jarang ada cerita yang mengambil tokoh utama orang yang benar-benar jahat.

Dian:

Ada banyak bagian dari cerpen ini yang bisa dipangkas, sehingga si cerpen bisa tampil lebih langsing tapi efisien. But if I were you, Ubr, I would pick one moment of Daworth’s life–the most interesting one–instead of telling the whole story. Informasi latar belakang bisa disisipkan dengan singkat-padat tapi informatif hanya dengan menggunakan satu scene saja, kok. 😉 Ah, satu hal … belajar sihir sendiri itu tidak mudah, lho. JK Rowling aja sampai bikinin Hogwarts untuk Harry Potter, sama dengan Trudi Canavan membuat Universitas Persekutuan Sihir Kyralia untuk tokohnya, Sonea. Jadi maaf, konsep cerita belajar-sendiri-sihirmu buatku tidak logis. Idealnya ada mentor yang mengajari, karena bakat saja tidak menjadikan seseorang tahu cara mengendalikan bakatnya J

Bonmedo:

Seems to me the author tries to put so many thing into the story, so that the story, especially the plot, doesn’t seems focus and it feels that it is all over the place. The use of sentences and language also fail to grip me as the reader to stay excited.

Bangkitnya Pedang Salamander – karya Nekoman

Villam:

Kisah tentang seorang budak yang dilempar ke lubang mayat (saya belum mengerti buat apa bikin lubang mayat di dekat markas. Sudah jelas bau, dan pastinya menyebarkan penyakit), dan beruntung menemukan pedang sakti yang sebelumnya beruntung pula karena tidak dikenali kemampuannya dan dibuang oleh si raja bodoh. Dengan pedang tersebut si budak mendatangi markas raja (dengan relatif mudah) dan mengalahkannya. Di akhir ia ditawari jadi raja baru, dan (mungkin) dapat gadisnya. Okay, itu formula fantasi sederhana yang kayaknya sudah ada bahkan sejak sebelum adanya kisah Conan the Barbarian. Tidak masalah sih, dan tetap sah-sah saja sebagai sebuah ide cerita. Jadi saran saya akhirnya lebih ke penulisan saja. Tolong nanti—supaya pembaca bisa lebih nyaman—jika sempat Nekoman bisa membaca ulang lagi ceritanya, dan memperbaiki berbagai kesalahan penulisan tanda bacanya. Tidak sulit.

Dian:

Fantasi komedi, akhirnya. Lumayan untuk senyum dikulum. Ceritanya ringan, sebetulnya klise, tapi terasa segar berkat kehadiran si salamander. Masih ada beberapa kalimat yang nggak nyambung, perlu diedit lagi.

Bonmedo:

The beginning was good. Catchy and keep me interested with good and vivid description of the dungeon and its surrounding. But then the plot seems to be forced, and some logic seems to be sacrificied, i.e, the rebels who suddenly coming out of nowhere to defeat the king, and how easily the boy defeat the king. Also found some problems with typo and use of languages.

Batraz & Deseltra – karya Blood Raven

Villam:

Kisah tentang para arkeolog atau pemburu harta karun peninggalan para leluhur. Cerita dimulai dari masuknya kedua arkeolog ke rumah makan, berkenalan dengan si cewek Alvina, besoknya pergi ke penggalian, ketemu saingan atau musuh, masuk ke situs, menemukan rahasia, ketemu musuh lagi di dalam, dan situsnya pun runtuh. Ya, tipikal plot cerita-cerita petualangan mencari harta leluhur peninggalan dunia masa lampau semacam Indiana Jones atau The Mummy. Untuk cerita semacam ini, apalagi sebagai cerita tulis dan bukan film, saya percaya seharusnya ada beberapa hal unik supaya ceritanya bisa jadi lebih berbeda, misalnya dengan menggunakan sudut pandang Alvina sebagai pencerita (yang jika dia punya latar belakang tertentu pastinya bakal jadi menarik), lalu terkait dengan sosok Alvina ini, munculkan alasan kenapa di cerita ini harus memakai dua tokoh utama arkeolog. Memangnya satu arkeolog tidak cukup? Kalau mau dibikin dua tokoh, ya gambarkanlah peran dan fungsi masing-masing secara lebih tajam, juga perbedaan sosok dan karakter yang lebih kentara antara keduanya (kalau perlu bertolak belakang). Dan catatan juga, kayaknya terlalu kebetulan bahwa Alvina yang baru ketemu di awal, lalu jadi pemandu, ternyata kemudian juga pintar membuka kunci. Sungguh beruntunglah Batraz & Deseltra ini.

Dian:

Agak bingung waktu selesai baca. Sebetulnya nggak ada yang salah dengan cerpen ini. Karakterisasinya oke, plotnya oke, deskripsinya juga oke, cuma kok nggak banyak jejak yang tertinggal di benak, ya? Afterglow-nya itu nggak terlalu kuat, bahkan setelah baca dua kali. Mungkin perlu tambahan sesuatu yang benar-benar unik, sedikit saja, untuk memperkuat cerpen ini.

Bonmedo:

Strong Universe. Simple but interesting plot, not predictable. Especially notice that the author tries hard to keep the story logical ie. The telekinesis and how the bad guy was surprised when the gem which was not attached to anything could cause an earthquake. I would’ve given 5 to logic, but then the appearance of the giant wing creatures bother me … logic wise… the author failed to explain this appearance.



Iklan