Berikut adalah ulasan singkat untuk cerpen:

Blood of Two Brothers – karya Makkie

Bocah Serigala dan Isyarat-Isyarat Api – karya Jaladara

Boxinite – karya Mailindra

Christal, Tulisan Cermin, dan Saphire – karya Feni NS

Codename: Thanatos – karya Ivan Z

Dear Bloody Homeland – karya Amarillo Heinz

Deceptive Problems from Science Town – karya Laniefay

Di Depan Gerbang Caruban – karya Barlianto A.W

Dongeng Si Kaya (Cerita Rakyat Pulau Angan) – karya Yin

Drama Terhebat Yang Pernah Ada – karya Tyas Palar

Dream Jumper – karya Herjuno

Dunia Yang Kutinggalkan – karya Katib An-Nafi

Blood of Two Brothers – karya Makkie

Villam:

Kisah pertempuran dua saudara. Ini satu lagi kisah duel yang disajikan tanpa set-up situasi terlebih dulu. Seru memang, dan pertempurannya pun penuh dengan detil fantasi. Tapi saran saya untuk setiap penulis yang ingin membuat cerita tentang pertempuran, biasanya adalah: buat pembaca mengenali tokoh utamanya dulu di awal, pada motifnya, pada apa yang diperjuangkan dan apa yang diyakini, pada apa yang dipertaruhkan dan apa yang ditakutkan, sebelum melempar pembaca masuk ke dalam pertempuran yang berpanjang-panjang. Cara klasik, tapi selalu terbukti benar untuk membuat pembaca lebih dekat pada tokohnya, sehingga ceritanya tidak hanya terasa sebagai cerita tarung semata. Di sini Makkie menggunakan pendekatan yang berbeda, latar kenapa mereka berkelahi dibuka sedikit demi sedikit di sela-sela perkelahian. Tentu saja itu adalah pilihan pengarang, namun yang terasa kurang pas buat saya adalah alasan ‘kebenaran’ yang terus didengung-dengungkan dari awal sampai akhir itu—sehingga terasa agak bertele-tele—sebenarnya saya yakin sesuatu yang gampang untuk diucapkan secara lugas di awal (kalau mau XAI tinggal ngomong di awal alasan dia memberontak, tidak perlu mengulang-ngulang soal ‘kebenaran’ sampai berkali-kali), dan tidak perlu sampai membuat kedua saudara itu bertarung sampai sebegitu panjang untuk menemukan jawaban dari ‘kebenaran’ itu. Terlepas dari itu, saya suka bagian penutupnya saat Qi akhirnya menantang dewa. Adegan yang bisa dibuat lebih menarik lagi.

Dian:

It took me three times to read this story but I still can’t get inside it. The reason and the story behind it was too blur.

Bonmedo:

Though I can get the universe quite clearly, but I found the plot is lacking. The story is too focus to the fighting scene, while the writer can actually omit some of those to focus more on the story line. It seems to me that this story is designed for much larger story as it doesn’t seems complete as a 3000 words story.

Bocah Serigala dan Isyarat-Isyarat Api – karya Jaladara

Villam:

Kisah tentang kehidupan sebuah suku di suatu tempat di suatu masa (kita bisa langsung membayangkannya sebagai suku Indian) dan bagaimana mereka menanggapi tanda-tanda alam. Dengan narasinya sungguh Jaladara telah membuat saya terhanyut. Gambaran dunianya tergambar baik di benak saya. Ceritanya sendiri sederhana, dan mudah dimengerti. Artinya pesan cerita ini sebenarnya sudah tersampaikan dengan cukup baik. Jadi saya tak punya keluhan. Di sini saya hanya akan mengajukan ide, yang mungkin nanti bisa membuat ceritanya jadi lebih menegangkan alias mendatangkan kepenasaran dan tidak terasa terlalu datar, yaitu dengan cara melibatkan si Bocah Serigala masuk dan terlibat lebih jauh di dalam cerita. Caranya, setiap kejadian dan tanda-tanda alam disampaikan melalui persepsi si bocah. Biarkan pembaca tahu apa yang dirasakan, dipikirkan atau dikatakan si bocah saat mendengar si dukun berbicara, saat tanda-tanda alam datang, saat kepala suku memutuskan, dan juga saat ia dipilih jadi persembahan. Jadi rasa takut, khawatir atau yang lainnya lebih terasa oleh pembaca, dan semuanya berasal dari persepsi sang bocah. Dengan cara itu mudah-mudahan tokoh Bocah Serigala ini nanti bisa menjadi lebih hidup, meninggalkan kesan, dan benar-benar menjadi pusat cerita.

Dian:

Langsung suka sejak pertama baca.

Nice one! Karakter, cerita, mitos, kultur, dan dunianya bagus dan rapi. Well done! ^.^ (trying hard to get rid a stupid joke about of an Indian name Broken-*o*d*m-Made-in-China from mind)

Bonmedo:

Very nice universe, with background information on the culture and story of the world. The only thing is, the concept of Fantasi in this story is still a bit blur with the concept of shamanisme. That’s why I put only 3 on character & marketability and not a perfect score on the Universe, as some might not perceive this as a fantasi genre as yet.

Boxinite – karya Mailindra

Villam:

Kisah tentang olahraga tinju di tahun 3500 M. Ini cerita yang menarik, lucu dan cukup membuat saya terhibur. Saya suka bacanya. Mailindra pintar benar menampilkan detil-detil menarik dari olahraga tinju dan sisi-sisi gelap (dan lucu) di baliknya. Mungkin nanti yang perlu dipertimbangkan oleh Mailindra adalah waktu kejadiannya saja. Tahun 3500 M kayaknya terlalu jauh dan sulit untuk dibayangkan bakal seperti apa. Ya saya bisa percaya bahwa di tahun segitu ada bakal banyak ras-ras aneh, tapi kayaknya saya tidak yakin bahwa saat itu masih wajar membagi-bagi bangsa yang ada di bumi sebagai orang Indonesia, Jerman, Yahudi atau Thailand (kok gak ada yang Malaysia ya, kan lagi hot isunya. Hehe…). Saya gak yakin bangsa-bangsa itu masih ada, hahahah… (walaupun ya, saya harap Indonesia, Jakarta dan Bandung masih eksis sampai dua ribu tahun lagi). Mungkin bakal bisa lebih saya percayai jika kejadiannya ada di tahun 2500 M, yang tidak terlalu jauh. Siapa tahu, di tahun 2500 itu kita (keturunan kita) memang sudah bisa bertemu dengan segala macam ras aneh dari luar angkasa itu. Mau taruhan 1000 K-Energi? Hehe…

Dian:

Trey the healer. Profesi yang menarik, diceritakan dengan cara yang bagus pula. Sorry, Mailindra, satu-satunya kekurangan yang kutangkap dari ceritamu adalah, boxinite dan runtutan kejadian yang mengiringinya sangat mirip dengan apa yang terjadi  di tinju biasa, di dunia kita saat ini. Yang membedakan adalah setting, karakter dan ornamen fantasi yang disisipkan di dalamnya, walaupun ‘rasa’nya tidak terlalu signifikan. Sisanya, bagus J.

Bonmedo:

Love this. Especially the way the author use the language which eventhough not exactly EYD and combination of slang and various other language, it sounded fresh and make the story relaxing, often funny and easy to follow. The universe and characterisation also strong and end of the plot is unpredictable. The story itself is rather unique. Would like to comment more on the universe, the author has carefully thought off, in a smart way, of the world the story is being told. Especially love the way the author twist the universe between our current world and the outer world. Love this one.

Christal, Tulisan Cermin, dan Saphire – karya Feni NS

Villam:

Kisah seorang anak bernama Christal yang masuk ke dimensi lain bersama teman-temannya, dan di sana mereka bertempur melawan Peramal Jahat untuk menyelamatkan dunia lain tersebut. Mereka diberi senjata dan tiba-tiba mereka bisa menjadi jago bertempur (agak terlalu mudah tuh). Tema sederhana yang sebenarnya sudah umum dipakai di banyak kisah-kisah fantasi semacam Narnia. Walaupun begitu anak-anak dan remaja saya yakin pasti tetap bisa menikmati, terutama di bagian awal yang mengenai buku dan tulisan cermin itu, karena ceritanya memang ditulis dengan sangat rapi, hampir tak ada kesalahan dalam penulisan. Ya paling saran dari saya, jika cerita ini nanti mau lebih dikembangkan, perlu ditambah lebih banyak unsur kejutan (atau pembelokan arah cerita) dan hal-hal imajinatif lainnya, supaya ceritanya menjadi lebih unik.

Dian:

Pertama, adegan interupsi Ice-Wonder-thing terasa mematikan klimaks yang sedang dibangun, padahal tidak terlalu relevan dengan keseluruhan cerita. Yang kedua, masih kalimat-kalimat yang tidak efektif. Coba lihat contoh berikut:

Tapi, Christal sadar kalau dia sendiri yang meminta ke Miss Evelyn apalagi di hari libur seperti ini, Miss Evelyn bisa curiga. Karena itu, Christal akan meminta Cornelius sebagai tamengnya. Ia memanggil Cornelius untuk keluar dari lab Klub Sciencenya. Cornelius berjalan menuju Christal masih menggunakan jas lab kebanggaannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Cornelius.

Bisa dipersingkat menjadi:

Karena sadar kalau dia sendiri yang meminta di hari libur seperti ini  Miss Evelyn akan curiga, Christal akan memanfaatkan Cornelius sebagai tameng. Cornelius, yang keluar dari Lab Klub Science masih menggunakan jas lab kebanggaannya, bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini?”

Lebih suka yang mana? 😉

Ketiga, Logic blanks: kenapa harus buku fisika? Kenapa cornelius harus menanyakan nilai fisika christal? Kalau cermin itu ada di dalam buku, mestinya banyak org sebelum Christal bisa membuka dunia Saphire dan pergi ke sana (baca terbalik tidak terlalu sulit untuk ditebak), but why not? Lalu Christal dan kawan2 mendadak jago bertarung tanpa latihan?

And by the way, if my name is Cornelius and you call me Corny, you’ll regret  it. =))

Bonmedo:

An OK story. But it can use much improvement in many aspect. The universe is quite clear. Though the plot I consider to be too predictable. The use of language can also use trimming and some improvement to make it more enjoyable and reader gripping. The character probably is way too much for a short story, to they are becoming generic. I would consider focusing on 1-3 characters only and make them strong rather than having many characters but all looks a alike like this one.

Codename: Thanatos – karya Ivan Z

Villam:

Kisah perburuan makhluk bernama Abomination Prototype, si mantan manusia. Diceritakan dengan tempo yang cukup kencang, cerita ini seru. Dan penggunaan latar cerita lokalnya juga menjadi nilai tambah, walaupun akhirnya hanya nama Pak Deni yang berbau lokal; nama Thanatos, misalnya, tampaknya tetap kedengaran lebih menarik buat dipilih oleh Ivan sebagai judul cerita. Ada cukup banyak kesalahan penulisan tanda baca yang sebaiknya diperbaiki, selain itu tidak ada keluhan besar dari saya. Namun ada sedikit ketidakpuasan di akhir cerita. Tentang alasan kenapa Zero sampai begitu nekat membolongi tangan bosnya. Kegilaan yang saya rasa tidak cocok dengan watak yang ditunjukkannya selama cerita (Jika mau digambarkan ‘gila’, berarti butuh penggambaran lebih di awal yang memang menunjukkan kedekatan hubungan antara Zero dan Thanatos). Atau jika memang dia sadar, jika memang si Zero ini pintar, dia bisa melakukan tindakan yang lebih cerdik daripada itu. Kalau nembak bos sih (dan gak sampe mati, karena sampe mati mungkin malah jadinya lebih bagus dan dramatis) sama saja tindakan bunuh diri yang tolol, dan dengan mudah dia akan ditangkap, diperiksa, kemudian diketahui kalau dia menyimpan parasit, yang artinya kalimat penutup dalam cerita itu pun jadi tidak terlalu berarti.

Dian:

Operasi Cepat. Enak dibaca dan flashback-nya pas untuk memberi informasi seperlunya, tidak berlebihan mengingat cerita ini temponya cepat. Tapi sebenarnya kenapa sih mereka membuat eksperimen mengerikan itu? Hanya disebutkan senjata orang pertahanan, tapi apa tujuan mereka mengembangkan pasukan mutan yang ternyata terlalu kuat untuk dikendalikan? Thanatos yang terpilih menjadi AP dan keberadaannya dirahasiakan, okay, make sense. Yang nggak make sense buatku justru alasan Thanatos tiba-tiba minta dibunuh, padahal dia sempat melawan dan udah bikin dua makhluk segala. Apa dia jenuh, atau lelah dengan keadaan ata apa pun alasannya, kan bisa dikomunikasikan dengan Komandan berkat luka di leher? Terakhir, tolong bedakan penulisan pelor ‘peluru’ dan Pelor ‘nama julukan’. Agak mengganggu karena sering terbalik.

Bonmedo:

It is not bad. But somehow the author fail to make me a believer or his universe. The idea of the story is also old and looks too much like residence evil and its genre, which make it generic. The characters are also quite generic and is rather difficult to distinguished one from another.

Dear Bloody Homeland – karya Amarillo Heinz

Villam:

Kisah epik tentang perjuangan kemerdekaan. Terus terang, awalnya saya bingung saat membaca kalimat-kalimat pembukanya yang diselang-seling antara yang italic dan yang tidak. Ini siapa yang lagi ngomong ya? Setelah dibaca ulang, barulah saya paham (tapi kayaknya saya berani menjamin, siapapun yang baru baca satu kali pasti pusing. Kenapa gak dibuat lebih simple aja?). Cerita dimulai dengan percakapan, yang pesannya bagus, tapi menurut saya mestinya dibuat lebih konsisten pada sudut pandang Aimar, jangan sampai terpeleset masuk ke kepala Sierra. Jadikan pembaca sebagai Aimar, merasakan kekesalan dan ketidakmengertiannya, dan bukan sebagai Sierra yang paham segala hal bijak ini dan itu. Kemudian cerita masuk ke pertempuran, begini dan begitu, sampai akhirnya selesai. Saya tidak ada masalah dengan panjang pendek atau detil tidaknya penggambaran sebuah pertempuran (saya gak butuh yang detil-detil amat), tapi menurut saya, sekali lagi, ada sedikit masalah di sudut pandang. Coba perhatikan beberapa narasinya. Pada saat adegan pertempuran, sebaiknya berceritalah dengan tetap memihak pada Aimar, pada ketakutan, kemarahan atau kehancuran yang dirasakannya, bukan pada kedigdayaan musuhnya yang seolah disampaikan dari sisi Marius, musuhnya yang pintar. Kalau kita mau bercerita tentang perjuangan Indonesia, ngapain juga kita bercerita dengan gaya memuja-muja pasukan elit Jepang atau Belanda? Terakhir, saya suka dengan kalimat paling akhir cerita ini, walaupun adegan penutup dibuka dengan adegan menangis Fremio yang agak berlebihan. Dan sepertinya saya akan lebih suka jika ceritanya pun ditutup dengan penggambaran kehancuran Aimar. Cerita ini dibuka dari sisi Aimar yang penuh keyakinan (atau berusaha meyakinkan diri), maka penutup yang sebanding kuatnya mestinya adalah dari sisi dia juga, yang akhirnya sadar dan melihat kekalahan dan kegagalan dirinya, sebelum dia rela untuk mati. Mungkin bisa terasa lebih menggigit nanti. Tentu saja, lain halnya jika Heinz ingin membuat cerita ini dari sudut pandang Sierra sang guru, atau Fremio.

Dian:

Reminds me to 300. Cerita di filmnya, maksudku, bukan Gerard Butlernya, hehehe.. But anyway, ide klise pun akan terasa berbeda kalau eksekusinya bagus. Di cerita ini, walaupun deskripsinya bagus, tapi terasa terburu-buru. Sayang, banyak kata terbuang di pembukaan. Seharusnya perangnya bisa digambarkan lebih detil dan lebih menegangkan.

Bonmedo:

Good way to bring the universe into the picture and the characterisation of the characters are OK. But I have problem with the plot. I don’t see much plot to this story. The biggest chunk of the story are the fighting scenes, which eventhough it is nicely written, it doesn’t give much surprises or add anything much to the plot. The ending with the 3rd wishes also I found it flat. I was expecting a much more grand, unpredictable ending, but I was somehow dissapointed.

Deceptive Problems from Science Town – karya Laniefay

Villam:

Kisah tentang seorang anak kelas 5 SD yang tinggal di sebuah kota bernama Science Town, dan berulang tahun. Ini bukan sepenuhnya cerita fantasi, karena sebenarnya jika semua nama dan istilah asing yang dipakai di cerita ini diganti dengan nama-nama biasa, ya jadilah cerita anak biasa (walaupun waktu pertama kali baca saya tertawa juga membaca nama-nama lucu itu, sekilas seperti parodi fantasi yang suka memakai nama-nama asing untuk benda atau hal yang sebenarnya biasa saja). Ceritanya sendiri sederhana, di awal ada penjelasan panjang lebar tentang diri si anak dan keluarganya, lalu di sekolah ada teman-temannya (ada pula musuhnya di sana), si anak ulang tahun dan dikerjain. Cerita ditutup dengan happy ending. Sedikit saran untuk Lanie sudah saya sampaikan langsung di blog Kastil Fantasi, terutama tentang terlalu banyaknya penggunaan tanda seru, dan lain-lain. Masih banyak kekurangan, jelas, tapi awal yang bagus kok buat Lanie karena sudah berani mengirimkan karyanya ke sebuah lomba untuk dibaca banyak orang.

Dian:

Lanie, seringkali di dalam cerita kita menggunakan istilah asing. Untuk memudahkan pembaca, kita bisa menggunakan catatan kaki (footnote) atau indeks (istilah lainnya glossarium, semacam kamus mini untuk ceritamu). Alasannya adalah, pembaca yang tadinya sedang membayangkan apa yang kamu tulis akan ‘tersandung’ di tanda kurung yang kamu buat untuk menjelaskan istilah asing tadi. Jadi singkirkan tanda kurung pengganggu itu dan pakai saja catatan kaki atau indeks tadi. Ada teknik lain untuk menerjemahkan tapi nanti saja kalau kosakatamu sudah banyak dan teknik menulismu sudah lebih baik.

Hal terpenting untuk membuat cerita adalah ada awal, tengah dan akhir yang saling berkaitan, kita sebut saja ini ‘benang cerita’. Adegan-adegan yang kurang penting tidak perlu ada di dalam ceritamu, fokus saja pada ‘benang cerita’, karena kalau terlalu banyak adegan nanti benangnya malah kusut. Contoh, adegan membeli buku dan ulang tahun sebenarnya tidak berkaitan langsung, jadi tidak perlu diikutsertakan. Fokus ke kejadian di sekolah saja. Jangan lupa perhatikan EYD, ya. Tanda baca cukup gunakan satu saja, tidak perlu rangkaian tanda seru di ujung kalimat. Rasanya seperti sedang nonton sinetron hehehe (semoga kamu bukan penggemar sinetron :p).

Satu lagi … untuk ukuran anak berumur 10 tahun menulis 3000 kata sudah bagus (terlepas dari apa yang kamu tulis, ya). Tapi menurutku lebih baik kamu mulai dengan menulis cerita yang bukan fantasi, karena cerita fantasi perlu pemahaman dan penerjemahan yang lebih dari cerita biasa. Terus berlatih, ya. J

Bonmedo:

First of all this story lacking fantasy element for me to be able to call this one a fantasy story. Using difficult names and changing terms like days and week in a story doesn’t automatically make a story a fantasy story. Another comment, the words translation which are contained within paranthesis (“…”) are bothersome, and doesn’t make the reading experience enjoyable. I would remove them and find other way to explain the difficult words. In fact, some of those difficult words that are being used in this story, I think is unnecessary. It just confuse the readers and make the story difficult to digest.

Di Depan Gerbang Caruban – karya Barlianto A.W

Villam:

Kisah tentang seorang raja yang bersama-sama dengan raja lain dan pasukannya pergi ke Caruban untuk menumpas pemberontakan, dan di depan gerbangnya kemudian dia memutuskan mundur karena takut menghadapi Pedang Tiga Belas Depa. Satu hal yang membuat saya suka cerita ini adalah karena saya seperti merasakan kisah-kisah epik Jepang atau Cina klasik (walaupun di sini menggunakan latar antah berantah), yang tidak terlalu banyak gembar-gembor menghadirkan adegan pertempuran heroik yang berpanjang-panjang, tetapi cukup singkat saja, dan lebih banyak fokus pada keraguan atau ketidaktahuan tokoh-tokohnya. Tokoh utamanya, sang raja, kelihatan manusiawi, bahkan mungkin terlihat naif dalam menilai orang dan situasi, bukan jagoan seperti biasanya cerita epik, dan buat saya itulah justru yang menjadi nilai lebih (apalagi jika sepanjang cerita narasi dari sang raja ini benar-benar bisa dibuat lebih konsisten kenaifannya. Buatlah secara filosofis, tapi filosofi dari sisi orang naif, bukankah itu bisa jadi sangat menarik dibandingkan dari sisi orang bijak yang tahu segala hal? Heheh…). Penutupnya pun—walaupun agak sedikit tersendat pada peralihan adegannya—terasa cukup pas buat saya, walaupun pesannya sebenarnya sederhana. Dan dalam cerita ini saya juga tidak perlu tahu banyak tentang latar si pedang, si orang pemakainya dan lain-lain. Sisakan legendanya, dan cukup jadikan dia orang tanpa nama. Jadi saran saya untuk Barlianto, selain yang di atas, ya paling adalah dicek lagi dari depan ceritanya, dan perbaiki beberapa kesalahan tulis atau inefisiensi kalimat yang ada.

Dian:

*speechless* This one definitely gets a ticket to my top ten! ^.^

Bonmedo:

It started nicely. The author was able to keep the story going and keep the reader interested. But then the plot fall flat right after Rang Guti return to his army after he talked with the owner of pedang 13 depa. The end also I think is anticlimax of the starting that has already been built quite nicely. Also some issue with Logic. Can we just shoot that man with an arrow and be done with it?

Dongeng Si Kaya (Cerita Rakyat Pulau Angan) – karya Yin

Villam:

Kisah tentang Si Tampan yang kemudian menjadi Si Kaya, yang dibawakan dalam gaya bahasa a la hikayat melayu jaman dahulu kala. Sudah pasti, gaya bahasa tersebutlah yang akan menjadi pokok perhatian setiap pembaca yang membaca cerita ini (dibanding ceritanya), yang menurut saya, sebenarnya bisa menjadi sangat bagus jika saja tidak digunakan berlebihan di banyak tempat. Artinya, ada cukup banyak kalimat yang saya suka, tetapi ada juga yang tidak karena saya merasa terlalu boros kata dan berpanjang-panjang. Ceritanya sendiri menarik seperti layaknya dongeng rakyat, dan saya juga suka pesan yang disampaikan di akhir cerita. Pesan yang pastinya pernah kita dengar entah saat kita kecil atau kala telah dewasa, tetapi seringkali terlupa.

Dian:

Cerita klasik! Quite a long time since the last time I see something like this! Sarat nasihat dan perumpamaan, dengan gaya penulisan khas masa lampau, dongeng ini cukup memikat.

Bonmedo:

It is actually a nice story. But the language … the author tries to be poetic I see … but it makes it hard for me to actually follow and enjoy the story. Perhaps with a more simplify and not so poetic language, this story would do great.

Drama Terhebat Yang Pernah Ada – karya Tyas Palar

Villam:

Kisah tentang para dewa yang menganggur dan kemudian membuat pertunjukan drama yang terhebat untuk mengisi waktu. Kocak, itu yang langsung terasa saat membaca cerita ini. Mengalir lancar, semua narasi, deskripsi maupun dialognya pas tanpa ada yang berlebihan. Di cerita ini yang paling menarik adalah karakter-karakternya, terutama saya paling suka Ares yang penggugup dan merana, dan Aphrodite, terutama saat dia berkata ‘si bego’. Sedikit saran saya mungkin adalah untuk di bagian penutup, yang kayaknya perlu diperjelas atau ditambahkan satu atau dua kalimat lagi. Karena, buat yang paham mengenai mitologi Yunani mungkin bisa lumayan mengerti maksudnya, namun buat yang belum paham, penutupnya itu pasti terasa membingungkan.

Dian:

*standing applause* Suka! ^.^ Boleh rikues endingnya, nggak? Mungkin yang lebih mengejutkan dari kalimat datar Apollo? Boleh, ya, Tyas? *ngarep*

Bonmedo:

I must compliment on the ideas, which is unique. That is why I give a 4 on the plot. But other than that, I am having trouble enjoying this story. First of all … way to many names for a short story. It is distracting, especially when I start to go back to the beginning of the story just to found out who play whom. The language being used also a bit too formal in my opinion for a story that is meant to be a comedy. It sounded that the author tries to make the dialog funny, but the use of language which is again, rather formal, failed it. The universe also not exactly clear. I only see characters and characters being put on blank paper. I failed to see the picture surrounding the story.

Dream Jumper – karya Herjuno

Villam:

Kisah tentang para pengubah mimpi, dan tim antiterornya. Ya, mimpi memang sumber cerita yang tidak habis-habisnya—saya sendiri juga punya ketertarikan khusus membuat cerita-cerita tentang mimpi—walaupun seringkali pada akhirnya formulanya mirip-mirip. Menurut saya Herjuno sudah menghadirkan adegan awal yang cukup menarik, tetapi kemudian penjelasan tentang mimpi yang terlalu teknis terasa sedikit mengganggu, dan saya juga agak kurang nyaman dengan panggilan singkat ‘Bri’ atau ‘Fi’ dalam dialognya. Dialog itu juga mestinya bisa dibuat lebih tajam dan lugas a la dialog antar prajurit. Lalu, saya belum paham kenapa orang-orang modern ini percaya pada para dewa penjaga mimpi bernama-nama yunani, juga alasan kenapa akhirnya cerita ditutup dengan sangat menggantung seperti itu, tidak jelas apakah hidup atau mati. Untuk prolog atau awal cerita panjang, ending yang seperti itu bisa jadi bagus, buat bikin orang penasaran, tetapi dalam cerpen, terpaksa saya bilang tidak. Kelebihannya, cerita ini cukup mengalir, saya bisa lancar membaca ini dari awal sampai akhir, dan tampaknya memang punya potensi bagus buat dijadikan cerita panjang.

Dian:

Ceritanya mengalir, risetnya juga bagus. Tapi blank di logika: bagaimana teknik masuk  ke mimpi orang lain– teknologi seperti apa yg memungkinkan mesin dan komputer berinteraksi dengan mimpi manusia? Lalu apa motif para sentinel ini menjaga mimpi orang lain, apa ini semacam proyek kemanusiaan? Apa untungnya bagi mereka? Dan terakhir, endingnya yang ‘kurang tegas’.

Bonmedo:

Strong Universe, Love the idea, but the execution of plot is lacking. The story just doesn’t seem to be complete. The ending is rather confusing. Another part that is lacking is the use of language that is often inconsistent. Some of the english word the author are using can easily be replaced by Bahasa to increase consistency. Also found quite lots of typos which force me to put low mark on the language.

Dunia Yang Kutinggalkan – karya Katib An-Nafi

Villam:

Kisah anak miskin yang kabur dari bapaknya yang pemabuk, mencoba mengambil buah mangga, lalu terjatuh dan ia masuk ke dunia lain. Ini lebih mirip kisah spiritual daripada kisah fantasi. Apapun itu, saya cukup bisa menikmatinya dari awal sampai menjelang akhir, pada perjalanannya di dunia lain itu, yang cukup mencekam, dan sementara ini berusaha tidak mempedulikan berbagai kesalahan penulisan titik atau komanya (kalau sempat, tolong nanti Katib cek lagi buku EYDnya dan perbaiki naskahnya). Sayangnya, bagian penutupnya rasanya ‘enggak banget’. Kelebihan satu paragraf. Menurut saya, tidak perlulah ia dibuat menjadi hidup lagi, karena jadi tidak terasa ‘nendang’. Hehe…

Dian:

Spiritual journey, it is. Kebanyakan cerita tentang mati suri biasanya berkisar di perjalanan melihat akhirat, neraka, orang-orang yang disiksa, malaikat. Yang ini beda. Terpikir sih, dengan kondisinya yang terdampar di pulau aneh, sebenarnya si tokoh ‘mati’ dalam kondisi baik atau tidak, ya? Oh, satu hal yang ingin kutanyakan, apa yang terjadi dengan si Bapak ketika si tokoh bertemu dengannya di depan rumah? Kok menghilang?

Bonmedo:

The story is nicely told. But, I wouldn’t consider this as aa fantasy story. It is fiction, bordering to religious type of story, but it doesnot have enough fantasy element to be consider as a fantasy story in my opinion. Hence only 3s on many of the marking criteria.

Iklan