Berikut adalah ulasan singkat untuk cerpen:

Labirin – karya Aphrodite

Lelembut – karya Ewing

Masa Lalu Alpha dan Beta – karya Panah Hujan

Midrelty – karya Billy Phoenix

Mimpi yang di Dalamnya Kemampuan Berpedangku Diuji – karya Alfare

Moka si Mobil Jelaga – karya Yuniar K

Mongku & Barnabas – karya Rickman Roedavan

Nanami: Flower of Destiny – karya Anggra T

Negeri Impian Aira – karya Mia Wawa

Ortriks – karya Pearl

Pedang dan Kapak – karya Andry Chang

Penyelamat Terakhir – karya Aben

Labirin – karya Aphrodite

Villam:

Kisah tentang seorang pahlawan yang menemukan bahwa dirinya ternyata hanyalah tokoh rekaan dalam sebuah cerita. Menurut saya, mestinya cerita bisa bisa dimulai lebih awal, tunjukkan dulu pada pembaca secara lebih jauh seperti apa sosok Beltharin. Buat dia jadi lebih hidup melalui interaksi dengan majikannya, secara wajar, baru kemudian masuk ke adegan pembunuhan raja. Jadi pada saat dia sadar siapa dirinya sebenarnya, mungkin efeknya bisa terasa lebih mengagetkan buat pembaca. Tentu saja tidak perlu panjang-panjang, dan konsekuensi buat mengakomodir itu maka beberapa narasi kejadian-kejadian selanjutnya—yang memang agak terlalu datar—bisa dibuat lebih ringkas dan tajam. Di luar itu, saya suka dengan temanya yang cukup unik, dan saya rasa bagian penutupnya bisa dibuat lebih mengejutkan, jika saja Aphrodite bisa menemukan paragraf-paragraf penutup dan satu kalimat penutup yang lebih pas. Kalau ada kesempatan, coba Aphrodite permak lagi di sana-sini. Atau, coba dibuat dari sudut pandang orang pertama. Ya, sebagai bahan perbandingan dan pembelajaran. Karena, serius, sebenarnya saya tertarik dengan ide cerita ini, dan saya berharap bisa membaca dalam bentuknya yang lebih baik.

Dian:

Story within a story! Cerita berbingkai yang bagus, benang merah antar cerita terasa, penggambaran dunianya bagus. Efek yang timbul setiap kali sebuah dunia ‘berakhir’ juga bagus. Yang tersisa hanya pertanyaan kenapa pintu ajaib bisa ada di sana, karena kelihatannya bukan Beltharin yang menyebabkan benda itu muncul.

Bonmedo:

Interesting universe and plot. Some improvements in the dialogue are needed to make the story more alive. The current version of dialogue within the story often sounds forced, and unnatural.

Lelembut – karya Ewing

Villam:

Kisah tentang si Mbah yang mempertanyakan hidupnya (setelah 100 tahun?!) dan bertanya pada Lelembut (pilihan yang aneh dari kacamata orang modern). Ini bagus juga, dan saya sangat menghargai aspek lokalitasnya. Dan jarang-jarang pula ada cerita fantasi yang mengambil sudut pandang orang sepuh, hahahah… (saya masih penasaran bagaimanapun, bagaimana sebenarnya mereka memandang wanita cantik dan seksualitas. Apakah memang sama dengan sudut pandang laki-laki muda? Hehe…). Walaupun menurut saya pemakaian basa jawanya rada kebanyakan (kebetulan saya paham sedikit basa jawa jadi saya cukup bisa menikmati, tapi buat mereka yang tidak mengerti pastinya tidak akan repot-repot mencoba membaca semua basa jawa itu), tetapi itu bagus juga buat membangun suasana dan karakter tokoh lelembutnya. Pesan di cerita ini bisa saya mengerti, mereka berada di dunia itu tidak untuk menghakimi mana yang benar dan mana yang salah (terlepas dari apakah ini benar atau salah), dan saya juga cukup suka penutupnya.

Dian:

Cultural Fantasy. Menarik, mengambil tema yang bertebaran di budaya kita sendiri. Sebetulnya cerita ini bagus, filosofis, hanya saja bahasa Jawa yang digunakan sudah sampai ke tahap berlebihan, walaupun kemudian memang diterjemahkan secara halus. Satu hal lagi yang mengganggu, aktivitas lintas-spesies yang terjadi di dalam cerita diulas berlebihan dengan filter kalimat yang lumayan tipis, yang sebenarnya bagian ini tidak mempengaruhi inti cerita secara signifikan. Segmentasi yang terjadi karena dua hal di atas secara otomatis akan mengurangi range pembaca—baik dari segi usia maupun selera.

Bonmedo:

The only problem I have with this story is the Javanese language that I think is wayyy to much for someone that doesn’t speak javanese, which need to be fixed if this is going to be published. The vulgarity, I still consider ‘OK’, as it is still hidden behind the use of poetic language and fit with the story line which is actually tend to shy away from the vulgarity itself. I found the topic brought up in this story is quite unique and would certainly invite some fans. Its Indonesiana, which some would like and is a refreshing fantasy idea for the country, and the sex if explored correctly can sell without actually getting the book banned.

Masa Lalu Alpha dan Beta – karya Panah Hujan

Villam:

Kisah tentang dunia yang menjelang (atau sudah) hancur. Saya butuh dua kali membaca untuk bisa paham, terutama di bagian sepertiga akhir. Panah Hujan punya ide melimpah di kepalanya, tinggal sekarang bagaimana caranya menyampaikan itu semua sehingga cerita bisa dipahami dengan sekali jalan. Untuk sebuah cerpen, mungkin tidak perlu semua ide, tetapi cukup beberapa hal tertentu saja yang disampaikan, yang paling penting. Jadi menurut saya, ada ketidaksesuaian antara awal, tengah, dan penutup cerita dalam hal fokus dan pesan inti yang ingin disampaikan. Misalnya, jika cerita coba ditutup dengan hubungan emosional antara kedua tokoh utama dan orangtuanya, maka mestinya di awal atau tengah cerita hubungan itu jugalah yang lebih digali. Sebaliknya, jika di awal dijelaskan tentang dunia yang kacau, di akhir perlu penutup yang setara kuatnya, mungkin kesimpulan tentang akhir dunia yang sebenarnya, dalam pandangan sang tokoh. Demikian pula, kenapa cerita ini dibuat punya dua tokoh utama dan bukannya satu, sebaiknya dijelaskan karena di awal terlihat bahwa ini sepertinya hanya cerita tentang satu tokoh, yaitu ‘aku’. Kelihatannya hanya dia sendiri yang penting, si kembar hanyalah pendamping. Jika Beta sudah cukup, kenapa perlu ada Alpha, atau sebaliknya. Dengan menggali hal-hal semacam ini, mungkin cerita bisa terasa lebih personal, hidup dan pesan utamanya terjelaskan. Tentu saja, konsekuensinya harus ada bagian cerita yang dipotong, mungkin di bagian detil penjelasan tentang berbagai latar kejadian di dunia. Dan tentu saja pula, ini hanya jika Panah Hujan ingin membuat ceritanya lebih emosional.

Dian:

Terlalu banyak cerita latar. Kenapa nggak straight to the story dan keluarkan informasi-informasi yang relevan dengan cerita? Dan di bagian mereka rapat banyak dialog yang tidak diketahui milik siapa. Hal-hal seperti ini, cenderung membuat pembaca skip dan lebih buruk lagi, malas melanjutkan membaca.

Bonmedo:

Smart, and nicely written. But I found it really difficult to grasp. The universe is too confusing, and it is difficult for me to blend myself into the story.

Midrelty – karya Billy Phoenix

Villam:

Kisah tentang dunia mimpi Midrelty. Awal membaca saya kesal dengan banyaknya salah ketik dan kesalahan EYD mendasar dalam penulisan kata ‘di’, ‘ke’ dan lain-lain. Saya juga bingung membayangkan latar dunianya, dan sebenarnya ini bercerita tentang apa, sehingga saya pun lalu menyalahkan cara Billy dalam memotong-motong adegannya yang bikin bingung. Namun begitu sampai di pertengahan cerita saya mulai sedikit mengerti, alasan kenapa cerita ini disajikan dengan cara begitu. Ternyata ceritanya punya sesuatu yang menarik juga, dan beberapa ketidaklogisan okelah bisa diterima—dengan asumsi bahwa dalam mimpi memang diperbolehkan absurd. Walaupun tetap, belum begitu jelas alasan kenapa si orang tua bersedia untuk bercerita panjang lebar di depan sekelompok anak, dan kemudian cincinnya pun ditemukan di tempat yang sama. Ada takdir yang bermain? Okelah. Jadi pada akhirnya saran utama saya pada Billy ya cukup ini saja: lain waktu sempatkanlah melakukan editing cermat minimal dua atau tiga kali, memperbaiki berbagai kesalahan tulis atau ketiknya, sebelum mengirimkan suatu naskah ke redaksi.

Dian:

Universe-nya tidak begitu jelas. Tadinya kupikir itu medieval, tapi tiba-tiba ada channel TV. Dan setelah dibaca sampai akhir, plot-nya pun tidak begitu jelas. Sedikit saran, kalau mau menyatukan mitos dan dunia modern, coba baca serial Percy Jackson.

Kenapa harus ada segmen pemisah? Antara cerita Orion dan dunia nyata bisa disatukan, kok, apalagi penggalan-penggalan scene di dalam cerita Orion.

Just a few logic misses: menurutku, agak aneh kalau sekelompok anak yang menangis ketakutan karena bertemu orang asing langsung mau duduk manis mengelilingi orang tersebut hanya dalam hitungan menit. Biasanya mereka justru menghindar, dan mungkin mau setelah dibujuk dengan benda–mainan atau makanan, misalnya. Kalau hanya diimingi cerita, rasanya bujukannya akan memakan waktu lebih lama. Lalu alasan apa yang membuat Orion menceritakan kisahnya pada anak-anak yang tidak dikenal?

IMHO, tidak perlu pakai italic dalam dialog bertanda kutip.

Bonmedo:

Interesting ideas, but the execution is still kinda rough. The universe is still kinda hard to graps, especially with the changes of situation that happen often. The ending, though I understand that the author tries to make it unpredictable and is supposed to be a ‘wow’ twist, but the logic is not easily captured in the story, hence it lost its impact somehow.

Mimpi yang di Dalamnya Kemampuan Berpedangku Diuji – karya Alfare

Villam:

Kisah ‘aku’ yang ingin mengubah masa lalu, dan masuk dunia lain untuk menghadapi Bhoul, sang banteng atau sapi jahat. Terlepas dari beberapa salah ketik (yang—payah!—belum juga dibenerin Alfare walaupun udah ngasih naskah versi revisi!), saya suka cerita ini, karena terasa sangat jujur. Pertama, karena Alfare mengambil latar dunia yang dulu pernah saya jalani juga, jadi kurang lebih saya tahu semua rasa yang diceritakan di cerita ini. Kedua, karena emosi tokohnya, cukup menunjukkan bahwa dia memang jenis orang kalut yang terpinggirkan (walaupun kepikiran juga, nih orang kayaknya depresinya terlalu berlebihan). Ketiga, karena penggunaan media dunia mimpi, yang walaupun bisa jadi klise namun dalam seramnya terasa menarik dan lucu juga (boneka sapi buat hadiah!). Keempat, endingnya, I love it, mengena buat saya. Sedangkan beberapa hal yang mungkin jadi kelemahan, ada di beberapa hal yang dijelaskan terlalu panjang lebar di beberapa tempat yang rasanya agak kurang pas, misalnya saat tiba-tiba bercerita tentang Dodi saat pertama kali masuk dunia mimpi. Itu saja.

Dian:

I think I have said something like this before on a forum: rasanya seperti sedang menonton Naruto yang bertempur habis-habisan melawan Sasuke, lalu setelah beberapa gebukan scene pindah ke masa lalu Sasuke yang indah bersama kakaknya, pindah lagi ke battle mereka, saling mencerca, lalu scene flashback lagi ke kenangan Naruto di awal pertemuannya dengan Sasuke, balik lagi ke battle, dan seterusnya. Continuous distraction. And this is quite annoying. Alfare biasanya membuat tulisan yang membuatku iri. Tapi kali ini aku bingung karena tidak bisa mendapat inti cerita yang sebenarnya–apa hubungan kehidupan kuliah Rinto dengan ‘mimpi’, atau apa perubahan yang dialami Rinto setelah mengalami ‘mimpi’ tersebut? What’s the point of this story?

Bonmedo:

Need lots of improvement. The plot doesn’t seem to be focus and tend to be all over the place. This probably what make the universe also rather blur and the story is not very enjoyable to follow.

Moka si Mobil Jelaga – karya Yuniar K

Villam:

Kisah tentang Moka, si mobil tua. Apa lagi? Mau tahu seperti apa saya saat membaca cerita ini? Tersenyum-senyum sendiri, senang bercampur sedih, melihat polah tingkah ketiga mobil: Moka, Wanda dan Roki, yang hitam putihnya kadang membuat mereka seperti bawang merah dan bawang putih. Senang, sesenang saat saya menonton film Toy Story 3 atau Cars. Menjelang akhir sebenarnya sudah mulai tertebak ujung ceritanya mau dibawa kemana, tapi itu tidak jadi masalah besar. Jadi rekomendasi saya, baca ini, Teman-teman. Ini cerita fantasi untuk anak-anak yang sederhana, namun menyentuh. Terima kasih, Yuniar, saya jadi teringat mobil tua yang saya jual lebih dari setahun yang lalu. Apa kabarnya dia ya …

Dian:

This story is simple, but yet powerful. Walaupun sederhana, Yuniar sudah menguasai teknik2 penulisan dengan baik. Dan sebagai cerita anak, Moka si Mobil Jelaga sudah berhasil menyampaikan pesan moralnya.

Bonmedo:

Simple but powerful. Easily understood, clear universe, nice and unpredictable plot, with nice educational theme and leaving me with such a nice feeling after reading it. Easily marketable to almost any segment of readers, young and old. The only thing is the author can still work the use of language in his sentences in order to make this story more powerful, but smoothing it and fine tune it to make it more fresh and current.

Mongku & Barnabas – karya Rickman Roedavan

Villam:

Kisah tentang si monyet dan si bajing melawan penyihir jahat. Ceritanya mengalir, walaupun agak tersendat kala di tengah-tengah Rickman menyelipkan narasi tentang kondisi negeri dongengnya. Benar-benar perlukah semua latar dunia itu? Jika memang semuanya penting, saya percaya mestinya ada cara yang lebih baik buat memasukkan penjelasan tentang negeri itu secara lebih bagus ke dalam cerita, dengan lebih mengalir. Ringan, kocak (sampai ke penutupnya) dan penggambaran karakter Mongku, Barnabas dan Sindel yang menarik juga jadi kelebihan cerita ini. Jadi, selain soal penjelasan dunianya tadi, menurut saya tinggal perlu perbaikan-perbaikan dalam hal salah ketik atau penempatan tanda baca.

Dian:

Monyet dan bajing terbang yang lucu! Sayangnya ada semacam prolog yg mengganggu di tengah cerita, padahal tidak berpengaruh signifikan ke kisah petualangan dua sahabat ini. Secara keseluruhan walaupun temanya klise, cerita ini ditulis dengan baik dan menghibur J

Bonmedo:

The story line is a bit forced. Lots of unnecessary sentences in the story that can be crop to make the story that is simple more powerful. Also reduce the number of names (character and items). They are too much for a story this short, and tend to make the reader confused.

Nanami: Flower of Destiny – karya Anggra T

Villam:

Kisah tentang ‘si kucing liar’. Cerita dimulai dengan adegan menarik, walaupun banyak kata-kata mubazir di paragraf-paragraf awal, dan adegannya sendiri juga bisa lebih diringkas. Kemudian cerita mengalir dengan lancar, walaupun beberapa kali saya terganggu dengan penggunaan istilah game macam elixir atau assassin—istilah baru semacam dandula malah lebih menarik buat saya. Ada beberapa hal yang belum begitu jelas. Misal, motif. Di depan disebut ‘entah kenapa’ Alec merasa Nanami bukan gadis biasa, sehingga gadis itu lalu dipelihara. Menurut saya ‘entah kenapa’ itu adalah alasan lemah (yang sebaiknya tidak dipakai), seolah-olah Anggra tidak punya alasan kuat buat meyakinkan pembaca bahwa tindakan itu bisa diterima. Juga belum jelas alasan kuat kenapa Nanami kemudian pergi dari rumah begitu saja, tanpa sedikit pun ada konflik di dalam hatinya, seolah-olah dia benar-benar seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Juga saya masih belum paham bagian mana yang membuat Vladimir terlihat kharismatis (tidak perlulah dia dikatakan kharismatis. Biar pembaca yang menilai sendiri apakah dia kharismatis atau tidak lewat gaya dan ucapannya), dan saya terkejut ketika kemudian dia kalah begitu mudah di ujung. Jadi, ya, walaupun adegan-adegan tarung shilettonya seru dan menarik, saya rasa penutupnya itu agak terlalu mudah atau disederhanakan. Terus pakai bantuan ayah buat menghabisi musuh? Ah, menurut saya si Alec malah jadi kelihatan lemah alih-alih jagoan ataupun pandai. Padahal tidak ada salahnya kok membuat Alec beraksi dan menjadi hero. Perlu penutup yang lebih tajam. Semestinya bisa dibuat lebih seru dan emosional, tetapi tanpa harus berpanjang-panjang juga. Mungkin dengan mengorbankan satu atau dua adegan, atau beberapa detil, untuk mendapatkan adegan puncak yang lebih bagus.

Dian:

Endingnya cute. Bagus, I like this. Misteri-nya terasa. Kekurangannya cuma sedikit miss di logika–apa yg dilakukan Nanami sampai jatuh di hutan, kenapa Alec ke hutan sendirian padahal dia some-kind-of important person, dan kenapa Nanami bisa tiba-tiba secepat itu shifting heart dari vladimir yg tadinya sangat dikaguminya ke alec yg baru dikenalnya–padahal vladimir pun pernah menyelamatkannya.

Bonmedo:

Strong everything, but … This is not a fantasy story. A fiction … but not enough fantasy element to make it a fantasy story. That’s why low score on Universe, Plot and Character. The marketability should be high, but not so if I am going to buy this thinking that this is a fantasy story.

Negeri Impian Aira – karya Mia Wawa

Villam:

Satu lagi kisah fantasi anak, kali ini tentang seorang anak yang kesal karena selalu diejek temannya. Suatu malam ia bertemu kucing putih, melihat bintang jatuh, membuat permintaan dan berpindahlah ia ke negeri impian yang indah. Satu hasutan dari si kucing putih tidak cukup, di sana ia dihasut lagi oleh musuh dari si kucing. Aira menjadi sadar dan ia pun berdamai dengan teman yang di dunia nyata selalu mengejeknya. Cerita lalu ditutup dengan kejutan kecil. Menurut saya, walaupun formula plotnya biasa, beberapa ide kecil yang terkandung dalam cerita ini cukup menarik, dan pesan moralnya bagus (dan yang terakhir ini yang paling penting dalam sebuah cerita anak). Tinggal bagaimana penyampaiannya, supaya cerita bisa terasa lebih seru dan menegangkan serta tidak terlalu monoton. Ada banyak cara: pengaturan panjang pendek paragraf, penekanan pada hal-hal yang penting, pemberian emosi lebih banyak di sana sini, pembuatan dialog yang lebih lugas, karakterisasi yang lebih jelas dan berbeda satu sama lain, dan lain-lain. Mudah-mudahan dengan begitu ceritanya nanti jadi lebih menarik.

Dian:

Negeri impiannya bagus, tapi menurutku cerita ini agak terlalu berat untuk dicerna anak-anak. Bukan tema atau plotnya, tapi gaya penceritaannya. Dan rasanya sulit membayangkan Moza akan berubah karena Aira berkelana di dunia mimpi. Why can’t Aira approach her in reality and solve their problems?

Bonmedo:

Nicely done. Could make a very good children story. Unpreditable plot, though the story sounded cliché in the beginning and mid, which cause problem when the reader doesn’t want to continue reading. A bit more twist in the middle of the story would make this one great.

Ortriks – karya Pearl

Villam:

Kisah romantis (yang sebenarnya berpotensi juga jadi tragis, kalau mau penutupnya terasa lebih mengejutkan. Hehe…) antara Delta yang bertemu dengan teman dunia mayanya bernama Zeta, dan keduanya ternyata adalah keturunan Ortriks, si gugus bintang. Ceritanya mengalir, walaupun ada beberapa kali perpindahan sudut pandang tetapi saya masih bisa mengikutinya dengan lancar. Karena dilihat dari banyak sudut pandang, jadinya memang tidak ada yang dirahasiakan dalam cerita, dan pembaca tidak dibuat penasaran bertanya-tanya kenapa begini kenapa begitu. Ide tentang dunia Ortriks dan Kaio juga cukup menarik, walaupun saya jadi kepikiran, kalau Delta dan Zeta ini adalah keturunan Ortriks maka mestinya orangtua-orangtua mereka juga. Lalu apa yang membuat keduanya berbeda dibanding yang lain? Apapun, ini sungguh dongeng yang romantis (walaupun tetap, pikir saya, kenapa gak coba dibikin lebih tragis. Heheh…).

Dian:

Menurutku, ya, perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:

Batas scene. Lazimnya, perpindahan scene ditandai dengan lambang, titik tiga, atau apa pun yang membedakannya dengan alinea berikutnya. Soalnya pembaca yang tidak tahu suka bingung ketika ceritanya tiba-tiba melompat-lompat.

Logika fiksi fantasi. Ini tidak sama dengan logika biasa, karena di dalam fiksi fantasi bertebaran hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat. Yang perlu kita lakukan adalah mencari alasan yang membuat ketidaklogisan itu diterima oleh pembaca, misalnya, kenapa keturunan benda langit bisa hidup sebagai manusia di zaman modern, lalu berubah menjadi benda langit. Transformasinya seperti apa? Di dalam ‘Otriks’ ini perlu dijelaskan karena settingnya dunia modern. Lain halnya dengan mitologi atau cerita rakyat, ‘feel’nya beda.

Kalau Delta dan Zeta keturunan Ortriks, berarti mereka bersaudara, dong? Apa jadinya bukan inses? Hehehe..

Bonmedo:

Interesting story, but the author might need more than just 3000 words to convey the message and get it right. The logic of why the two exist and separated though has been explained, but I don’t think is enough. The universe can still be deepened and the character need to be strengthen. Can also use a bit fine tuning on the use of the language during conversation as now it sounded too formal and rather odd/unnatural (both when the character was speaking in english and bahasa).

Pedang dan Kapak – karya Andry Chang

Villam:

Kisah tentang duel, antara (pemegang) pedang dan (pemegang) kapak, dari awal sampai akhir. Khas cerita silat atau fantasi pertempuran a la game atau anime. Dengan motif dendam dua (atau empat) pendekar bertarung, berniat tuntas sampai mati, seolah mereka tidak punya hal lain dalam hidup (dan kepala) mereka selain bertarung memperebutkan titel jawara. Lalu tiba-tiba di akhir, secara mengejutkan, pedang dan kapak itu memutuskan untuk berdamai, dan perdamaian itu menular sedemikian cepatnya, bahkan menjadi cinta. Hmm… kalau saja dunia kita bisa seindah itu. Ya bukannya tidak mungkin, tetapi secara logika sulit diterima, jika di dalam cerita sama sekali sebelumnya tidak ditunjukkan tanda-tanda awal bahwa kedua belah pihak bisa berdamai. Kejutan, tetapi kejutannya tidak kena. Oh ya, catatan juga tentang kalimat-kalimat pembukanya, saya sarankan agar tetap disesuaikan dengan aturan-aturan baku dalam penyusunan kalimat dan paragraf. Tidak perlu dipisah-pisah sehingga menjadi salah dalam bahasa dan makna.

Dian:

Rasanya … kayak Wiro Sableng versi bule. Karakternya perempuan yang cantik tapi norak ( a hot chick, imitating a chicken? Please, deh) dan karakter laki-laki yang ganteng tapi gak kuat liat cewek cakep (langsung ceplas-ceplos begitu lihat annabelle), padahal dua2nya diceritakan sudah ditempa ilmu sedemikian rupa, apa nggak sekalian belajar pengendalian diri? Deskripsinya bagus, jelas dan gambaran pertempurannya mudah dibayangkan. Tapi alasan dari mereka bertarung sebenarnya apa? Karena kedua guru mereka (yg sebenarnya saling mencintai) bermusuhan, lalu dendamnya diwariskan? Enam kalimat pertama aja salah format, seharusnya jadi satu alinea. Tiga kalimat pertamanya secara struktur kata tidak lengkap. Terakhir, terlalu banyak kebetulan dalam cerita ini.

Bonmedo:

Nice fighting scene, nice use of language, but lacking story line. Hence the logic cannot be easily understood. The reason of why the 2 are fighting also unclear.

Penyelamat Terakhir – karya Aben

Villam:

Kisah tentang seorang anak yang selalu digebukin di awal, tetapi kemudian ternyata dia bisa berubah wujud jadi monster. Ada begitu banyak peristiwa yang ingin diceritakan, dan semua dipadatkan dalam satu cerita pendek. Ya, saya asumsikan ini adalah salah satu pengalaman bercerita pertama Aben. Jadi kalau nanti Aben memang ingin terus menulis cerita, hal penting pertama yang harus ditentukan adalah memilih peristiwa mana yang ingin diceritakan, dan dari sudut pandang mana. Tidak perlu semua A, B, C sampai D, tapi mungkin cukup C dan D, ditambah sedikit narasi tentang latar belakang tokoh atau ceritanya jika memang dibutuhkan. Sedikit catatan juga, awal cerita sebenarnya sudah cukup menarik tapi kemudian sebaiknya diselipkan sedikit narasi yang bisa menggambarkan latar dunia tempat kejadian berlangsung, supaya pembaca punya pijakan yang kuat saat membaca ceritanya. Kalau saya, tadinya saya pikir latarnya adalah dunia modern, di sela-sela jalanan ibu kota (heheheh…), ternyata kemudian ada pedang dan lain-lain. Okay, selamat menulis terus, Aben. Semoga cerita-cerita berikutnya jadi semakin bagus.

Dian:

Ada beberapa ‘logic blanks’ seperti: kenapa keluarga Yokee dengan mudah menerima Kilta-si anak asing berjuluk Anak Setan–di rumahnya selama berhari-hari, diajari pula, tapi pada akhirnya mereka berniat menghabisi Kilta? Aben, ceritamu ini sebetulnya lebih cocok untuk dibuat novel, karena terlalu banyak kisah yang dipadatkan. Sebagai akibatnya,  rasanya seperti diburu-buru. Perasaan tokohnya belum terasa, kejadiannya juga tidak terdeskripsikan dengan sempurna. Untuk cerpen, coba ambil salah satu saja dari kisah hidup Kilta, lalu buat tulisan yang temponya pelan supaya pembaca bisa mengikuti dengan mudah. Untuk permulaan, skill menulismu sudah lumayan J

Bonmedo:

Problems with logic ini many places. I.e how the boy become so expert in fighting in such a short period of time. And another: how he just blindly trusted his dad (that he believed to be dying and in a form that he never know before). The universe also becoming unclear as the author tried to tell story of so many different scene and places in such a short story.

Iklan