Berikut adalah ulasan singkat untuk cerpen:

Perjalanan: Ekstremis, Seniman, Tuhan – karya Smith61

Q’s – karya 145

Rahasia Fiona – karya Nebunedzar

Roan’s Journey – karya Maximus

Roh Hijau – karya Franci

Sabtu, 4 April – karya Eve Shi

Sang Pelukis – karya Fredrik Nael

Sebuah Harapan Seorang Gadis Mungil – karya Yuni Batue

Selera Ganesha – karya Dewi Putri Kirana

Sepakbola 2189 – karya Qeeya Aulia

Si Ipin – karya Puput Happy

Silence – karya JAP

Perjalanan: Ekstremis, Seniman, Tuhan – karya Smith61

Villam:

Kisah perjalanan hidup Si Seniman DNA yang lalu menjadi God (Terus terang saya tidak terlalu suka dengan sebutan ‘God’ atau istilah-istilah basa inggris lainnya, jika memang tidak penting-penting amat. Kepalang basah, kenapa gak sebut saja sebagai ‘Tuhan’? Lalu ‘Materi Hitam’ dan ‘Tuhan Hitam’. Kedengaran lebih bagus buat telinga saya). Ide ceritanya betul-betul aneh, apalagi ketika sampai di bagian menjelang akhir, tentang latar belakang bahwa dia sebelumnya adalah penulis. Hahah…. Jadi saya memang kagum dengan imajinasi Smith yang bisa sampai jauh ke mana-mana. Salut untuk itu. Hanya saja dari segi penulisan dan penceritaan, memang masih banyak yang perlu diperbaiki. Mulai dari bagaimana merangkai kalimat dan paragraf secara lebih baik (bagaimana memisahkan atau menggabungkannya secara benar supaya tidak salah makna), sampai bagaimana membuat ceritanya lebih mengalir, yang berarti perlu penambahan jembatan antar peristiwa di satu sisi, dan pengurangan adegan yang (mungkin) tidak perlu di sisi lain (seperti adegan perangnya, yang barangkali bisa disingkat dan cukup diceritakan pokok-pokok sebab akibatnya saja).

Dian:

Sebentar … ini settingnya di mana, ya? Seniman DNA itu manusia? Umbra, manusia jugakah? Apa hubungan mereka dengan Forum Semesta? Kenapa tiba-tiba ada di ruang operasi? Apakah God yang menciptakan Seniman DNA dan Umbra? Smith61, alinea pertama di dalam sebuah cerita adalah salah satu bagian yang sangat penting. Di situ pembaca akan menentukan dia mau lanjut baca atau nggak. So, we have only one chance to convince them that our story is worth to read. Lure them. Bind them. And in case of foreign terms you put in the story, never ask them to run to Google.  You’re the one who has to tell them J.

Bonmedo:

Interesting Plot and Universe. But I am having such a hard time understanding some of the logic. I do understand that this is fantasy bordering to Science Fiction. But it doesn’t really give me enough solid scientific nor fantasy explanation to properly explain some of the things that happen here. Especially confuse on the dark matter thingy, why the main character have to kill his wife and child. Also the use of the word ‘God’ might be better to be substituted with ‘Tuhan’, but this could be just a matter of taste. Too much combination of Bahasa – non Bahasa language in this story somehow make this story – for me – rather hard to enjoy. Hence only 3 in the language.

Q’s – karya 145

Villam:

Kisah seorang pemburu jin dan penyihir. Cerita dimulai dengan pembukaan yang bagus, kemudian diikuti dengan penjelasan tentang Quiscart yang menarik—tetapi ada juga deskripsi detil semacam tinggi 165 cm yang tidak terlalu saya sukai—lalu dilanjutkan dengan adegan dialog basa-basi dengan pemilik losmen, kucing dan gadis penjual, dan akhirnya selipan memaksa di tengah-tengah berupa narasi tentang kota dan dewanya. Perjalanan dilanjutkan ke Istana Camar, dan bertemu musuh yang ternyata adalah … orang itu. Bertarung, di sela pertarungan ada penjelasan lagi tentang kemampuan Quiscart yang bisa begini begitu, sebelum akhirnya misi terselesaikan. Untuk cerita pendek perburuan semacam ini temponya agak terlalu lambat, dan terlalu banyak basa-basi dialog dari awal sampai setengah cerita. Dan khusus untuk kisah perburuan jin atau makhluk jahat, sayangnya tidak ada pesan lain yang bisa direnungkan di akhir cerita. Endingnya malah berbuah keheranan dari saya: ‘wajarkah bocah yang baru ditinggal ibunya ngomong begitu?’. Jadi, secara keseluruhan, mungkin dengan segala dialog ringannya, dan dengan pengenalan banyak tokohnya, bisa jadi ini nanti lebih cocok jika dikembangkan sebagai awal sebuah cerita panjang.

Dian:

I was IN the story! Penggambarannya bagus banget, plot dan twist-nya juga ‘kepegang’. Tertipu dengan kebaikan Bertha, dan ini berarti penulisnya berhasil, hehe … Endingnya juga bagus. Cuma kurang polesan adrenalin di battle-nya.

Bonmedo:

Strong Universe, Easy to follow, Reader Gripping, and nice use of language with rather natural and believable dialogue. The author also seems to pay attention to detail, and take time to explain things that might raise question of doubt. BUT, the end of the plot … Whyyy … it started so well, but then the author give an anticlimax ending, which why I only gave a 3 for the plot.

Rahasia Fiona – karya Nebunedzar

Villam:

Kisah tentang Fiona yang datang ke London untuk mencari Edmund. Cerita dimulai dengan deskripsi kota yang di sini disebut sebagai London, lalu Fiona pergi ke pub, di mana di sana ada sepasang pemusik keliling yang sedang manggung dengan harpa dan biola, dan mereka kemudian berteman. Hmm… saran saya, dalam bercerita sebaiknya Nebunedzar bukan hanya sekadar memberitahu pada pembaca segala hal atau kejadian secara kronologis begini dan begitu. Yang lebih penting adalah bagaimana memilih hal atau kejadian yang memang benar-benar penting untuk diceritakan, juga mengetahui motif setiap tokoh kenapa dia bertindak dan juga sebab akibat dari setiap kejadiannya, kemudian bagaimana membuatnya menjadi lebih hidup sehingga seluruh kejadian tersebut seolah benar-benar terjadi di depan kita. Saya sendiri juga masih harus banyak belajar kok, jadi mari kita sama-sama belajar.

Dian:

Sorry, can’t get the point of this story. She was coming for Edmund but this guy seemed gone with the wind, leaving her trapped in the middle of lame singers, thief boy, and strange dream. The universe was described quite good but the plot was the real problem.

Bonmedo:

Still need lots of work in all aspects. As for this competition, first of all, I don’t see enough fantasy element to call this one a fantasy story. Lots of work need to be done on the language. Lots of unnecessary sentences and explanation that can be trimmed still. As for the plot, I found it a bit confusing. It could be from the way the author convey its story and its dialogue, but could also be the plot seems to be all over the place and doesn’t seems to have a strong main plot.

Roan’s Journey – karya Maximus

Villam:

Dilatarbelakangi oleh kisah Tuhan yang bosan mengurusi manusia lagi, kemudian membuang buku takdir, pena ketentuan dan tinta kejadian ke tiga sudut penjuru dunia. Terus terang, saya masih belum mengerti, kalau Tuhan sudah malas, kenapa gak disimpan aja ya benda-benda itu di gudang? Toh terbukti manusia di dunia itu kemudian bisa berjalan sendiri tanpa takdir. Mereka hidup sendiri, mati sendiri, tanpa perlu benda-benda itu. Kenapa Tuhan merasa harus memberikan itu pada manusia? Kalau Tuhan malas, kenapa dia harus peduli pada manusia? Menarik, cerita ini sebenarnya punya ide yang menarik, kalau saja idenya bisa digali lebih dalam, dan juga ceritanya dibawakan secara lebih baik. Cerita berjalan tersendat-sendat karena potongan-potongan peristiwanya tidak dirangkai dengan baik. Karena judulnya adalah Roan’s Journey, saya berharap ini memang benar-benar cerita yang dibawakan dari sudut pandang Roan. Saran saya, awali cerita lebih ke belakang saat Roan mulai mendapatkan artefak pertamanya, dalami karakternya, lalu ceritakan dengan mengalir tanpa terpotong-potong, buang adegan dan dialog basa-basinya, dan beri penekanan pada hal yang benar-benar penting saat Roan bertemu dengan karakter-karakter lainnya. Oya, fokus pada Roan, yang artinya sebaiknya tidak perlu ada adegan Tuhan membuang benda-bendanya di depan itu (kan ini katanya dongeng, ya dinarasikan atau didialogkan saja sebagai dongeng). Lain kasus jika inti ceritanya adalah memang tentang Tuhan (atau Fere). Kalau mau begini, ya penutupnya harus diceritakan dari sisi Tuhan (atau Fere) juga. Lihat reaksi mereka setelah benda-benda itu dibuang ke dunia lain (dunia siapa ya?).

Dian:

Hoo … God’s wannabe. Menarik. Well-written. But u know, this story will be even more interesting WITHOUT the prologue. Toh kisah Tuhan bete dan Fere si malaikat disinggung di tulisan selanjutnya. Masalahnya, karena sudah diceritakan di prolog, tidak ada kejutan dan misteri lagi. Sayang, kan. Dan endingnya ‘nyaris’, sedikiiittt lagi. Kurang ‘klik’. Coba tambahin satu kalimat pamungkas, pasti lebih bagus!

Bonmedo:

Serious logic flaw from the very beginning, which later hurt the universe the author trying to create. ‘Penciptaan’ is that mean God is re-creating the world again? If that so, how come human already made mistake prior to the world being created? Other logic flaw, if so many wants the 3 items, and the plan of the wizard, roan and friends is no longer secret, its a bit odd that nothing is being done to prevent the 3 from coming to the final destination. On the universe aspect, at the very beginning, author mention something of ‘Atomic Bomb’ which placed the universe on a modern concept. But then the story run using medieval background which a bit confusing considering the readers already being lead on a totally different concept of world and surrounding.

Roh Hijau – karya Franci

Villam:

Kisah tentang roh pohon yang jatuh cinta pada manusia. Dengan gaya penceritaan dan tokoh-tokoh yang unik, saya benar-benar dibuat terhanyut dengan cerita romantik ini, dan penasaran pada apa yang akan terjadi di akhir cerita (kira-kira happy ending atau sad ending ya? Sad ending kelihatannya bakalan lebih menghentak, tapi kayaknya sih penulisnya bukan penggemar jenis yang ini. heheh…). Memang ada beberapa salah ketik dan salah penulisan tanda baca, tetapi okelah, itu tidak terlalu mengganggu, karena saya sudah telanjur suka dengan perubahan-perubahan emosi si roh hijau yang ada di cerita ini, pada narasi maupun dialognya (awalnya genit, kemudian merana. Hahah…). Memang, sempat timbul pertanyaan, kenapa gaya narasi si tokoh cowok harus dibuat sama dengan gaya narasi si roh pohon (dengan asumsi penulisnya sengaja bergaya paragraf-paragraf pendek seperti ini). Cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama, jadi apa tidak sebaiknya dibuat sedikit pembeda, supaya … ya supaya berbeda, untuk menunjukkan perbedaan karakter (dan wujud) mereka. Dan juga memudahkan pembaca buat membedakan sih. Tetapi ya mungkin memang seperti itu jugalah gaya bicara si cowok. Toh itu bukan masalah, yang ini pun sudah membuat saya suka.

Dian:

Suka penggambaran perasaan Mya. Cinta terlarang, hehehe … Teknik penulisan oke, tapi logikanya agak terganggu sedikit di sini: bagaimana cara roh pohon membunuh dirinya sendiri?

Bonmedo:

Unique, beautiful, and an interesting way to tell a story. This way of story telling might not be for everyone (hence I only put 3 on the marketability), but for sure I like it. The universe is strong, the characterisation are strong (though can be further strengthen if the author use fewer characters–remove 1 or 2 minor characters–and strengthen the one being use). Strong plot as it builts up to the end, but I am not really fond of the ending. It probably suit better if the story ended up with a tragedy.

Sabtu, 4 April – karya Eve Shi

Villam:

Kisah lain lagi tentang pembasmi monster atau makhluk dari dunia lain. Mengambil latar lokal di sebuah SMU yang ternyata menjadi pusat turunnya para monster setiap dua puluh lima tahun sekali (tidak dijelaskan lebih jauh kenapa dua puluh lima), cerita ini dibawakan dengan gaya ringan yang cukup menarik. Para pembasmi monsternya adalah tiga orang siswa, yang mewarisi kekuatan secara turun temurun (ide yang mengingatkan saya pada novel ‘Garuda 5’nya FA Pur). Saya suka gaya cerita ini, sayangnya ini cerita yang tidak sepenuhnya selesai. Masih banyak pertanyaan penting yang tidak terjawab, salah satunya yang terkait dengan judul cerita ini: kenapa monster-monster itu muncul di bulan April. Sebenarnya pertanyaan tersebut dibiarkan menggantung bisa saja dalam sebuah cerpen, namun tetap setidaknya harus ada jawaban atau kesimpulan tertentu yang diambil oleh tokohnya terkait dengan isu utama dalam cerita. Tampaknya, ini memang lebih dirancang sebagai awal dari sebuah cerita panjang. Kalau begitu, teruskanlah, Eve. Saya suka gayanya kok.

Dian:

Suka cerpen ini! Dan kaget ketika tahu-tahu udah selesai *pengen lagi mode on*. Awalnya kupikir ini cerpen horor, tapi rasa seramnya berkurang karena Zena yang terus menerus kehilangan fokus pikiran dari Anak Pandau ke makanan. Nggak jelek, kok. Dan betul, aq suka ini.

Bonmedo:

Love the universe and the logic is quite clearly explained. But the ending, doesn’t quite like it. Something on the plot need to be tweaked.

Sang Pelukis – karya Fredrik Nael

Villam:

Kisah seseorang yang mencoba melawan kekuasaan Orde dan menyelamatkan Sang Pelukis, demi menyelamatkan seluruh dunia, karena sebelumnya mendapat penglihatan tentang kehancuran dunia itu. Ia memanjatkan harapan, hanya untuk mendapat jawaban bahwa Sang Pelukis ternyata memilih menyelamatkan dirinya sendiri, dengan tetap menghancurkan dunia. Huh, ini kisah fantasi yang keren, dengan penutup yang tajam pula. Pilihan, tapi sekaligus juga takdir, dan pada akhirnya toh sang tokoh berharap juga pada Ladang Kebahagiaan, yang sebelumnya kelihatannya tidak ia percayai. Membaca cerita ini mesti perlahan-lahan, karena bagaimanapun, awal cerita memang terasa sedikit susah dicerna. Mungkin akan lebih baik jika Fred membuka cerita dengan secara lebih jelas dan sederhana, tambah sedikit deskripsi pada saat adegan kehilangan adik si tokoh itu, untuk memudahkan pembaca mendapatkan suasananya. Buat kehadiran (dan kematian) si adik itu benar-benar penting dalam cerita. Lalu singgung lagi tentang adiknya itu di penutup, misalnya si tokoh nanti berharap bisa bertemu lagi dengan adiknya di dunia selanjutnya. Juga mungkin bisa ditambahkan narasi atau deskripsi dunianya di tengah-tengah, yang bisa lebih menjelaskan alasan kenapa si tokoh nekat menantang si Komandan atau Orde. Apakah alasan penglihatan semata itu cukup? Dan siapa sebenarnya sang tokoh ini sehingga dia merasa bertanggungjawab? Represi seperti apa sih yang sebenarnya telah dilakukan oleh Orde, sehingga mereka benar-benar patut ditentang atau dilawan? Dengan sedikit tambahan di depan atau tengah mungkin ceritanya bisa lebih gampang dipahami, dan emosi sang tokoh juga bisa lebih terasa.

Dian:

A new concept of God, I suppose? It feels like this story doesn’t relate to anything that exists in the real world, except the gun. Sooo fantasy, with unpredictable twist at the end. This one’s very-very good.

Bonmedo:

Smart Plot (love it), Strong Universe, Nice use of language though a bit heavy. This type of story telling might be difficult to digest for majority of readers (especially the young ones), hence I only put 3 on the marketability.

Sebuah Harapan Seorang Gadis Mungil – karya Yuni Batue

Villam:

Kisah seorang gadis yang ingin melihat bintang saat hujan turun. Kalau ada hal yang bisa disebut paling fantasi di cerita ini, sudah pasti adalah sosok sang gadis, yang begitu aneh dibandingkan orang-orang kebanyakan, dalam hal pola pikirnya, tindak tanduknya, maupun keinginan-keinginannya, apalagi sama sekali tak ada penjelasan lebih jauh tentang siapa dia. Cantik, namun tanpa dilatarbelakangi cukup sebab akibat yang kuat atas setiap tindakan-tindakan yang diambil gadis itu, akhirnya memang membuat ini jadi cerita yang benar-benar mendekati dongeng, dan karenanya, menurut saya, ya sekalian saja mestinya dibuat jadi cerita dongeng sepenuhnya. Hadirkanlah sosok si bintang entah dari mana itu, tapi jangan hadirkan adegan dialog tentang KTP yang membuat rasa dongengnya jadi lenyap. Sedikit catatan lagi, nanti Yuni tolong sempatkan ya untuk cek lagi buku EYDnya, dan perbaiki beberapa kesalahan penulisan di cerita ini.

Dian:

Be careful of what you wished for. You might get it someday. Bermimpi tentang seseorang yang tidak dikenal dan bertemu dengannya di dunia nyata mungkin saja terjadi *uhuk*curcol*uhuk*. Yunie, berlatih lagi, ya. Jangan lupa perhatikan EYD-nya. Ceritamu ini sudah baik, tapi menurutku bisa lebih baik lagi kalau kamu masukkan lebih banyak unsur fantasi di dalamnya J

Bonmedo:

The story does not have enough fantasy element for me to consider this as a fantasy story.

Selera Ganesha – karya Dewi Putri Kirana

Villam:

Kisah tentang si pemakan koran yang lalu menjadi pemakan buku. I really love this weird story. Cerita dibawakan secara unik menggunakan sudut pandang orang kedua. Dulu sekali saya pernah bereksperimen memakai POV ini, dan menurut saya keuntungannya memang bisa menciptakan sedikit efek misteri dan jarak dengan pembaca jika dibandingkan sudut pandang orang pertama, namun sekaligus lebih personal jika dibandingkan dengan sudut pandang orang ketiga. Artinya pula, bisa jadi tidak semua cerita bakal cocok memakai POV orang kedua. Hanya cerita yang memang membutuhkan efek misteri dan jarak dengan tokohnya itu, seperti contohnya cerita ini. Nah, efek itu, jika mau, bisa dibuat lebih terasa jika setiap dialog yang diucapkan oleh tokoh ‘kau’ ini pun tetap dijelaskan melalui narasi, sementara orang lain di dekatnya tetap pakai dialog biasa. Tanda kutipnya dihilangkan, jadi pembaca tidak perlu ‘mendengar’ bagaimana dia bersuara dan mengucapkan dialognya. Dengan demikian sosok ‘kau’ ini bisa tetap terasa misterius dan berbeda, walaupun kerugiannya, mungkin kehangatan dialognya akan berkurang. Kalau mau, coba Dewi ubah dialog tersebut, dan bandingkan dengan yang ada sekarang, buat eksperimen. Tapi tidak pun tidak apa-apa, karena yang sekarang pun sudah sangat bagus. Teknis penulisan tidak ada masalah. Demikian juga penutupnya yang indah, saya suka.

Dian:

POV orang kedua yang jarang dipakai, diramu dengan mulus dalam cerita yang unik; bagaimana si tokoh menahan hasratnya untuk memakan kertas, berusaha menyembunyikan kelainannya, dan betapa fiksi fantasi sangat merangsang selera makannya–perfectly written. Bagus bangetttt, walaupun judulnya kurang catchy. But anyway, ‘Ganesha’ yang sangat haus bacaan, isn’t remind us of ourselves, wormbooks? 😉

Bonmedo:

Unique story, told in a current language which make it easy to understand, sounds natural and enjoyable. Unique character, and interesting plot. Love it.

Sepakbola 2189 – karya Qeeya Aulia

Villam:

Kisah tentang seorang anak SMP yang gemar bermain bola, lalu bermimpi dan bermain bola di tahun 2189. Karena saya penggemar sepakbola, saya cukup tertarik membaca cerita ini, ingin tahu seperti apa imajinasi Qeeya tentang permainan bola di masa depan. Ternyata para pemain itu tidak lagi berlari dan menendang, melainkan hanya berdiri di lapangan sambil menggerak-gerakkan tangan, mengatur tenaga dalam untuk mengendalikan bola. Hahah… dasar, orang-orang masa depan memang semakin malas! Oke, saya suka idenya, dan saya merasakan semangat yang ada di cerita ini. Namun dalam hal penulisan masih banyak yang harus diperbaiki. Yang dasar-dasar saja dahulu, kalau bisa Qeeya ambil lagi buku EYDnya, lihat aturan-aturan penulisan tanda baca dan penulisan ‘di’ atau ‘ke’ yang ada di sana, dan nanti saat menulis cerita selanjutnya (atau merevisi cerita ini) tidak akan ada lagi kesalahan.

Dian:

Gak nyangka nemu cerpen tentang sepakbola di FF 2010! Deskripsi sepakbola-tenaga-dalamnya udah oke tuh. Cuma, di beberapa bagian informasi terlalu padat dalam satu alinea, termasuk rombongan kalimat tanya yang menurutku overdosis. Coba disebar biar nggak bikin pembaca cepat penat, ya. J Cuma penasaran … kipernya tetap ada di depan gawang dan latihan fisik, ya? Kalau iya, berarti cuma kiper yang badannya kekar, dong? Hwah. Berarti tahun 2189 jangan berharap nemu pemain macho semodel Fabregas, dong?  Aaarrgghhh … tidaaaakkkk!  *hiks*

Bonmedo:

The conversation where Setyo was explaining how the soccer work doesn’t make sense logically. It is OK if he was explaining it that way to someone that he knows doesn’t know how to play soccer at all, but not to an old friend who he knows have played soccer for long. The plot also doesnt have much story to tell. Author should try to add more conflict and story line to the plot.

Si Ipin – karya Puput Happy

Villam:

Kisah mengenai ponsel yang bisa bicara. Ide yang cukup menarik, sayang sampai akhir cerita tidak dijelaskan lebih jauh kenapa ponsel itu bisa bicara, kenapa ada di dalam rumah, siapa orang yang mau mengambilnya lagi dan lain-lain. Penjelasan tentang itu dari sang ayah juga tidak dibuka seperti apa. Walaupun begitu, ada pesan-pesan dan ajaran, sehingga ceritanya menjadi cukup bagus sebagai cerita anak-anak. Tetapi sedikit saran dari saya, ada baiknya nanti Puput mengecek kembali buku EYDnya, supaya pada pengerjaan naskah-naskah selanjutnya tidak salah dalam menempatkan koma di akhir sebuah kalimat dialog.

Dian:

Menulis cerita anak itu susah-susah gampang. Dunia mereka penuh fantasi dan mestinya nggak susah menulis cerita fantasi untuk mereka. Tapi berhubung kamu udah terlanjur masuk ke Fantasy Fiesta (hehehe 😀 ) jadi sekalian aja kukasih tahu, ya. Lebih bagus kalau kamu buat cerita yang memang ada inti ceritanya, bukan hanya sekedar benda aneh bin ajaib mampir di kehidupan si tokoh untuk kemudian menghilang lagi dengan cara yang sama misteriusnya. Pengalaman bersama si benda sehingga ada perubahan pada si tokoh, misalnya. Buat cerita yang  punya arti dan meninggalkan jejak di pembaca J.

Bonmedo:

This story need more story line. The plot is too simple and the conclussion is weak. Still not clear what exactly is the HP and who was the previous owner of the HP. The language is OK, current though sometimes a bit cliché, which I figure this could also be due to the plot that is too plain.

Silence – karya JAP

Villam:

Kisah naga yang telah ribuan tahun hidup dalam kebosanan dan membuat Kontrak dengan manusia untuk kembali berperang, mungkin melawan kaumnya sendiri, para naga. Saya suka dengan narasi, deskripsi ataupun dialognya, pada pendapat-pendapat sang naga tentang manusia, walaupun penggambaran kesunyian di awal cerita belum bisa saya tangkap dengan baik, dan juga saat kesunyian itu menghilang di akhir, mungkin karena saya belum paham sebenarnya si naga ini sedang ada di mana. Kalau memang benar-benar dia ada di tempat yang jauh dan sepi, kenapa juga bisa ada manusia yang sampai kesasar ke tempat itu ya? Bagaimanapun, ini material yang bagus sebagai awal sebuah cerita panjang, namun sebagai sebuah cerita pendek sebenarnya saya berharap ada satu dua kejutan dan penutup yang lebih tajam. Saya pikir mungkin bakal lebih menarik jika di akhir ternyata si manusia berkhianat dan malah mencoba membunuh sang naga, bahwa ternyata di awal tadi ia hanya berpura-pura (itu bisa menjelaskan kenapa si manusia bisa ada di tempat itu), hahah… Atau bisa juga digali konflik di sisi yang lain, pada keputusan si naga untuk melawan kaumnya sendiri, untuk menambahkan alasan kuat kenapa dia mau bikin kontrak selain untuk lepas dari kesunyian.

Dian:

*nangis* Huaaaa … kenapa cerita sebagus ini mesti berakhir seperti itu? Tersiksa karena penasaran, nih! JAP, plis, selesaikan ceritamu dong. Udah keren banget, kelemahannya cuma di ending yang nggantung.

Bonmedo:

Good universe, good use of language-the dialogue sounds natural and reader gripping. But the plot is too big for 3000 words and the story doesn’t seem to be complete.

Iklan