Berikut adalah ulasan singkat untuk cerpen:

Sindrom Anzu: Nama Terlarang di Angkasa – karya Calvin Michel Sidjaja

Sky of Dawn – karya Noirciel

Speak of The Devil: The Bait – karya F.A. Purawan

Tea Time – karya Serasoshiny

Temmora (Buah Pohon Doa) – karya Elbintang

The Bully – karya Chardonnay

The Fraternity – karya Violet Teresa

The Jackals – karya Fallen Angel

Tridalry – karya A.I. Musthafa

Under the Greenwood Tree – karya Restya

Wajah Sheira – karya Aki

Yumegatari – karya Szero

Zee & Zoe – karya Sang Mimpi

5 Black Castles – karya Yonika

Sindrom Anzu: Nama Terlarang di Angkasa – karya Calvin Michel Sidjaja

Villam:

Kisah tentang orang-orang yang menjadi gila karena mengira kehilangan nama mereka. Ada banyak pemikiran dan ide menggelitik di dalam cerita ini, tentang tuhan, mitologi dan etimologi (sebenarnya arah dialog di awal itu kurang wajar sih, kenapa tadinya bicara kegilaan kemudian jadi melenceng bicara panjang lebar soal asal muasal nama). Temanya menarik, tetapi di sisi penceritaan sepertinya saya kurang berhasil masuk ke dalam emosi tokoh-tokohnya. Sebabnya, pertama karena soal sudut pandang cerita yang berpindah-pindah, dan kedua karena sepertinya sampai akhir Calvin justru terus merahasiakan pada saya selaku pembaca hal-hal yang sebenarnya sudah dilihat atau dirasakan oleh para tokohnya itu. Jadi sudut pandangnya itu terasa tanggung, membuat saya bertanya apakah ini memang benar-benar cerita para tokoh-tokohnya itu? Ya, mereka melihat sesuatu yang menakutkan di atas sana, tetapi apa? Nama terlarang apa? Kenapa saya tidak diijinkan untuk ikut tahu itu apa sebenarnya? Atau sebagai pembaca saya memang harus mengira-ngira dan menyimpulkan sendiri? Atau memang saya saja yang gagal mengerti? Bagaimanapun, di luar itu, saya terkesan dengan pemikiran dan pastinya riset-riset yang dilakukan oleh Calvin.

Dian:

Bicara tentang tuhan, ciri tulisan Calvin, kali ini tuhannya terkait mimpi. Ending sebenarnya bisa ditebak, tapi diolah dengan baik sehingga terasa ‘enak’. Tentang teknik penulisan, no comment. Calvin is already good.

Bonmedo:

Unique theme, nicely structure plot and written in beautiful language.  The author also shows that he has a solid background of his universe and stating them quite clearly in his writing. The basic theory become so believable, despite that it is true or not. The only thing is I do question to marketability of this type of writing as this type of writing is still consider heavy and difficult to graps for most basic readers in Indonesia.

Sky of Dawn – karya Noirciel

Villam:

Kisah unik dalam dunia manusia dan elf tentang penyembuhan dan—ironisnya—penyiksaan sekaligus. Benar-benar kocak! Beberapa kali saya tertawa. Gaya berceritanya ringan untuk tema yang biasanya dibawakan dengan serius, dan itu jadi kelebihan cerita ini. Mengalir, saya enak membacanya dari awal sampai menjelang akhir. Tetapi di akhir itulah saya tertegun, lho kok cerita berakhir begitu saja dengan sangat menggantung ya? Bukannya ending menggantung tidak diperbolehkan. Open ending dalam cerita sah-sah saja kok, tetapi tetap butuh minimal ada sebuah klimaks, atau solusi terhadap beberapa masalah atau isu utama yang dibuat di depan, dan juga kesimpulan atau penutup yang lebih kuat daripada sekadar ‘merepotkan dan gila, tapi tidak salah’. Sayang, kalau buat saya cerita mengasyikkan ini justru kehilangan gigitannya—yang tadinya kencang di awal—di tempat yang justru paling penting. Tetapi, jika ini hendak dijadikan awal dari sebuah cerita yang lebih panjang, ya, saya sangat mendukung. Bisa bagus nanti. Gayanya sudah oke.

Dian:

Aaahhh gemesss … ceritanya bagus, settingnya unik, tapi endingnya kurang ‘klik’!  Kenapa si tokoh mau meninggalkan ibunya begitu saja, semudah itu, hanya  untuk seorang elf asing? Really, I’d like to know the rest of the story. It’s not finished yet.

Bonmedo:

Strong Universe with vivid fantasy element. Logic of magic has been explained quite clearly, as well as logic of the situation. The language … current though sometimes a bit too informal … which some would like but other would not. Perhaps tone down the informality of the language/dialogue a bit would make this story much better. As for the Plot … nice flowing plot, but I think the author can make a much better ending of this type of story by putting in some twist. The ending is just too plain in my opinion.

Speak of The Devil: The Bait – karya F.A. Purawan

Villam:

Kisah Baalruukh, yang pertama dari Yang-Empat, melawan para Daemon Hunters. Asli keren aksinya. Mangstab. Awalnya saya ragu bagaimana warna teknologi dalam cerita ini bisa dipadukan dengan hal magis semacam mantera Panghalimunan, tetapi ternyata cukup pas juga. Jadi yang mengganggu ya paling cuma pemakaian banyak kata asingnya—tampaknya dalam beberapa narasinya Baalruukh memang lebih suka berbahasa Inggris (ingat, ini sudut pandang orang pertama). Apa memang itu sudah kebiasaan si setan sehingga terlalu sulit baginya menemukan padanan kata untuk hunter, warrior, support, decoy, retreat, trigger dan lain-lain? hehehe…. Bisa jadi wajar juga sih, jika dalam obrolan sehari-hari dengan kaumnya Baalruukh sudah terbiasa menggunakan istilah-istilah tersebut (luar biasa, bahasa Inggris ternyata sudah menginvasi dunia Baalruukh pula), tapi tetap, gak ada salahnya juga memakai padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Eniwei para hunter ini memang kejam banget ya sampai mengorbankan seorang bocah kecil. Memang harus anak kecil ya umpannya? Hmm… bahkan film-film Hollywood yang paling sangar alias sadis pun amat jarang memperlihatkan peristiwa pembantaian anak kecil, dan mereka jelas punya alasan, para pembuat film itu tidak sampai hati. Tapi ya, sisi bagusnya adalah, akhirnya hal itu membuat Baalruukh terlihat sebagai pahlawan seperti halnya Hellboy, dan kontradiktif dengan para prajurit manusia itu, jadi pesan utama ceritanya kelihatan. Terakhir, saya suka dengan penutupnya. Bagus.

Dian:

Wow. I can’t find fatal miss in this story! Del-i-ci-ous!! Pencampuran bahasa Inggris dan budaya luar di dalamnya tidak terlalu masalah buatku, karena cerita itu terjadi entah kapan (kemungkinan di masa depan) dan bisa saja saat itu kedua hal itu sudah sedemikian terintegrasinya ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Things that made me like this story is the original-cultural-demons you put in it, the adrenalin rushing I felt from the first to the last, and the unpredictable ending you chose to ‘trick’ me.  Mangap, mangap dah gue baca ini. :p

Bonmedo:

Particularly love the language, the name of the mantra/magic that is fit perfectly with the universe, and Very Creative, unlike others that uses english name rather than creating their own. The character especially the main character is very strong – which is good, but the rest are so-so. It is understood though as it is difficult to make all characters powerful within 3000 words. But perhaps, the author can use less characters and concentrate on fewer characters and make them stronger? ie. use only 1 magister perhaps? Some of the fighting scene can also be remove and replaced it to some dialog or story which strengthen the other characters. One thing that I have problem with in this story is the Logic. Why in the world the main character risk his life for too long, while all the targets to be killed are there already and he has 2K armies to help him?

Tea Time – karya Serasoshiny

Villam:

Kisah tentang Dragon, seorang profesor pembuat ramuan yang bekerja di kerajaan, tapi sebenarnya ingin memberontak. Kira-kira seperti itulah kesan yang saya tangkap di awal cerita. Cerita dibuka dengan adegan pertemuan dengan tokoh lain, lalu minum teh, membahas banyak hal. Lalu masuk ke bagian berikutnya, bahas yang lain lagi. Kemudian bagian berikutnya dan berikutnya. Ada begitu banyak dialog dan bagian, yang sebenarnya tidak masalah jika memang jelas arahnya. Di sini terus terang saya agak bingung menemukan keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Di awal satu hal terlihat penting, tapi di bagian selanjutnya ternyata membahas hal lain yang kelihatannya sama sekali tak berkaitan. Kemudian di akhir, secara mengejutkan tanpa penjelasan lebih banyak, ternyata sang tokoh mati. Hm, saya yakin cerita ini sebenarnya punya konsep dunia yang menarik, tapi di sini, beneran, saya bingung buat menyimpulkan pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan dalam cerita ini. Mungkin karena ini memang benar cerita lain dari cerita yang sebelumnya sudah ada.

Dian:

Lebih mirip jurnal harian seseorang. Tapi ya hanya itu. Terlalu banyak hal disebut tanpa ada benang merah yang tegas, yang memastikan sebenarnya apa inti ceritanya.

Bonmedo:

I am having a bit of problem following this story from end to beginning, which I think is due to the way the author put the plots that are scattered, lacking 1 solid story line.  I am losing focus of what is important in this story and becoming confused at the end. Would suggest the author to pick and focus on 1 solid plot and build the story around it. Avoid putting other stories and/or plot that is unrelevant to the main plot, especially for a short story like this.

Temmora (Buah Pohon Doa) – karya Elbintang

Villam:

Kisah fantasi memikat tentang para penjaga alam semesta. Satu kali baca, saya tidak paham inti dari gagasan besar yang ingin disampaikan cerita ini, selain keindahan dan keunikan dunianya. Dua kali baca, barulah saya lebih paham, dan sungguh, sebenarnya gagasan cerita cantik ini sederhana, dan dekat dengan setiap orang (Ini interpretasi saya, yang kalau ternyata salah, berarti mungkin saya sudah menjadi orang yang terlalu kompleks yang sudah sulit melihat sebuah gagasan sederhana—terlepas dari gaya bahasa penulisan kalimat-kalimatnya yang memang relatif rumit buat anak kecil). Dari sudut pandang manusia, ini adalah tentang harapan, impian atau cita-cita, yang pasti selalu tumbuh saat kita semua masih kanak-kanak, tapi kemudian tertutup oleh keinginan dan ambisi begitu kita dewasa. Dari sudut pandang para penjaga semesta, harapan itu dianggap sebagai biang keladi kekacauan dan kesedihan, apalagi karena dia tak bisa dikendalikan oleh takdir. Godem Lak Pencipta mengenali Temmora sebagai buah pohon doa harapan, yang sudah lama menghilang, sehingga arti namanya itu disembunyikan dari para staf penjaga alam semesta yang lain. Tekanan batin karena menyembunyikan identitas asli Temmora membuat Godem Lak Pencipta menjadi gila, padahal ia tergolong masih muda dibanding Godem Lak sebelumnya. Sayangnya kegilaan Godem Lak ditanggapi salah oleh para staf yang lain. Mereka mengira waktu sang Godem Lak memang sudah habis, dan bakal segera digantikan oleh Temmora yang mulai menampakkan ciri-ciri Godem Lak. Para staf tidak paham bahwa jika nanti Temmora jadi Godem Lak, dia mungkin bakal jadi Godem Lak yang berbeda, yang menyemaikan harapan, yang justru mereka takuti, dan karena itulah Temmora masih menyembunyikan arti namanya, sampai saatnya nanti benar-benar tiba. Itu interpretasi saya, sehingga akhirnya saya bisa menyimpulkan ini sebagai cerita fantasi yang indah. Ada kekurangan tentu saja, dalam hal penceritaan, yang membuat cerita ini mungkin jadi sulit dimengerti. Seperti saya sebut di awal, ada banyak kalimat yang semestinya bisa lebih disederhanakan. Buat segalanya jadi lebih sederhana selalu merupakan pendekatan yang paling baik. Lalu, pada akhir setiap scene, jangan ditutup dengan kalimat yang terlalu menggantung dan bikin pembaca malah jadi pusing. Contoh, tambahkan kalimat yang bisa jadi petunjuk tambahan setelah ‘ia tahu saatnya untuk bersiap siaga’, juga setelah ‘ia ketahuan?’, dan terutama setelah ‘… menunggu jawaban mora’, supaya penutupnya tidak lagi lemah seperti sekarang. Juga kenapa Godem Lak gila, apa yang sebenarnya dilihat Liana (informasi tentang rambut Temmora dipindahkan ke awal), penguatan karakter Bate shan yang pendapatnya berseberangan dengan Temmora, dan lain-lain. Ya, bikin misteri memang mengasyikkan, tapi kalau petunjuknya terlalu sulit, pembaca jadi gigit jari kan? Begitulah sedikit masukan dari saya, mudah-mudahan bisa membantu Elbintang.

Dian:

El, diksimu keren seperti biasanya. Permasalahannya adalah, ceritamu ini punya segmentasi yang tidak luas; hanya mereka yang gemar bermain dengan perumpamaan dan ambiguitas yang bisa memahaminya. Dan permainan emosinya tidak begitu terasa. Biasanya hal seperti ini berguna untuk mengikat pembaca ;).

Bonmedo:

I am not sure what it is …. But this story just simply very difficult to digest. Tried to read it 2-3 more times but at the end I keep only getting collection of beautiful words and sentences that is hard to understand. I ended up confused, with no clear picture of the universe, plot and even the characters of the story. My suggestion would be to simplify the language and to focus more on delivering the story rather than being highly poetic.

The Bully – karya Chardonnay

Villam:

Mengambil latar dunia sekolah barat (yang kalau mau sebenarnya semua nama-nama barat itu bisa saja dipindahkan dengan mudah menjadi latar lokal), ini adalah kisah tentang seorang anak yang selalu ditindas teman-temannya di sekolah, lalu memakan puding ajaib entah dari mana asalnya, jadi punya kekuatan super, kemudian mengajak teman-teman tertindasnya untuk melawan, balas dendam dan akhirnya menjadi … superhero. Okay, ini cerita ringan yang mungkin cocok bagi para penggemar cerita remaja, dengan sedikit bumbu fantasi. Temanya bisa dipahami dengan mudah, namun terus terang saya kaget ketika di akhir cerita kemudian berubah jadi cerita superhero, dengan munculnya Manusia Api secara tiba-tiba entah dari mana itu, tanpa ada bau-bau sebelumnya di awal cerita bahwa ceritanya bakal berbelok kemari. Ya, kaget saya.

Dian:

Kalau saja ini kontes teenlit (gaya terjemahan), mungkin cerpen ini punya kans besar. Sayangnya di fantasy fiesta unsur fantasi harusnya lebih menonjol, dan sekali lagi sayangnya di cerpen ini justru sebaliknya. Kekuatan yang berasal dari puding misterius adalah lubang besar pada logika–kenapa tidak ada penjelasan apa sebabnya mereka jadi ‘the chosen ones’ dan dari mana puding super itu berasal. Mekanisme kekuatan mereka pun perlu digali lebih dalam, karena toh harus ada penjelasan bagaimana Ben dengan kekuatan magnetisnya bisa menyeberang jalan dengan aman, mengingat semua mobil terbuat dari logam.

Bonmedo:

Fun, refreshing and written nicely and feels current. But has some issue with logic ie. Who sent the pudding? How the pudding turns the kid into superheroes? Another problem I have is it seems that the plot of this story is too big already for a short story of 3000 words. This story seems to be unfinished. In fact it seems to me that this story is only a beginning chapter of much longer story.

The Fraternity – karya Violet Teresa

Villam:

Kisah yang isinya sepenuhnya pembicaraan (dan perdebatan) beberapa orang dalam satu ruangan membahas suatu pengkhianatan. Ini bukan cerpen (yang selesai), jadi dalam kesempatan ini saya tidak akan berkomentar banyak. Hanya sedikit catatan, jika nantinya ini ternyata adalah sebuah pembuka cerita panjang, ini terlalu lambat, dan agak bertele-tele. Dan sebaiknya jangan terlalu memaksa pembaca untuk menginvestasikan energinya dengan berusaha mengingat-ingat siapa yang bersuara dalam, siapa yang pendek, siapa yang dingin, siapa yang berwajah lancip atau siapa yang gemuk. Tetapkan sudut pandang bercerita secara jelas dan konsisten, lalu sebutkan saja langsung setiap nama tokohnya seawal mungkin, toh mereka semua sudah saling mengenal satu sama lain, jadi buatlah pembaca juga merasa seperti itu. Buatlah menjadi lebih sederhana.

Dian:

Bagus di deskripsi. Tapi terasa biasa aja, even waktu konfliknya keluar–penyebab dua org ini gak akur nggak diketahui, tau2 aja berantem. Mereka siapa, dan apa yang mereka kejar serta tujuannya apa, tidak diketahui. Cerita ini sepertinya bagian dari satu novel besar, yang seharusnya kalau mau diikutsertakan bukan bagian ini yang dipilih. At least pick a part has beginning, process and ending on it.

Bonmedo:

The plot is too big for a short story of 3000 words, which made this story doesn’t seems to be completed. This story is easily a small piece of a much bigger saga. Lots of things left unfinished and unexplain, which made me question the universe, logic as well as characteristic of each characters and even items.

The Jackals – karya Fallen Angel

Villam:

Satu lagi kisah tentang para pemburu makhluk dari dunia lain. Tampaknya cerita-cerita tentang ghost buster, monster slayer atau daemon hunter tetap jadi trend yak. Di sini ceritanya adalah tentang pertarungan antara dua orang—junior dan senior Jackals yang entah apa alasannya saya tidak paham kenapa mereka berdua tidak disebutkan saja namanya langsung sejak awal cerita—melawan monster layden, di stasiun kota (di Paris yak, bukan di Jakarta), di waktu malam. Ya, lumayan seru, ada darah, ada raungan, ada kejadian hampir mati, ada saling menolong, dan juga ada mantera—yang sampai sekarang saya juga tidak mengerti kenapa di berbagai cerita fantasi yang namanya jurus sihir atau silat harus diteriakkan pula namanya saat hendak dilepaskan (barangkali karena: yak iyalah, namanya aja mantera, kekuatannya itu ada kalau diucapkan. Hehe…). Penutupnya, ternyata butuh bantuan dari orang yang lebih jago buat membantai si layden. Tanggung. Saya tidak puas, kenapa harus muncul orang lain di cerita hanya demi menunjukkan bahwa si junior sedang dalam proses belajar. Tadinya saya berharap ini adalah benar-benar cerita antara si cowok dan si cewek. Kasihlah porsi buat keduanya, jangan rampas panggung mereka. Yeah, barangkali sedikit permintaan untuk memenuhi jiwa romantis saya: ‘dunia milik kita berdua’. Silakan bilang klise, tapi kalau buat saya tidak ada yang salah kok dengan pola begitu. Dan juga supaya cola yang disebut di akhir itu benar-benar terasa nilainya buat mereka berdua, bukan sekadar penutup basa-basi.

Dian:

Kerisnya keren! ^.^ Battle-nya bagus, walau terganggu sedikit di bagian pembacaan mantera-nya yang agak berbau jurus silat Indonesia, hehehe… soalnya settingnya di Paris, sih, walaupun tak satu pun kata dalam bahasa perancis yang muncul. Nggak apa-apa sih. Cuma kalau ada, akan lebih meyakinkan. *tangan teracung* Tanya dong, kenapa sih nama si Junior baru muncul di halaman keempat? Pasalnya, identitas tokoh itu penting, dan nama adalah hal paling dasar dari karakterisasi. Tahan plot dan twist, tapi jangan info setting dan identitas karakter 😉

Bonmedo:

Clearly defined universe. Nice use of language in description and dialogue. But the story lacking story line. Not saying that there isn’t any, but I see that more than half of the story consist only of hack and slash scene. The characterisation is quite strong to begin with, but adding additional characters that are not properly introduced very late in a short story like this, somehow ruin it.

Tridalry – karya A.I. Musthafa

Villam:

Kisah tentang ras Namsaryan yang harus menghancurkan diri mereka (dan seluruh dunia) sehingga nanti bisa muncul ras manusia baru yang lebih baik. Kira-kira itu inti gagasan cerita ini yang bisa saya tangkap, dan itu tidak mudah saya dapatkan karena saya harus membaca ceritanya dua kali. Ini ide cerita yang menarik, tapi saya rasa Musthafa harus menemukan plot atau urut-urutan cerita yang lebih baik sehingga semua gagasan itu bisa tersampaikan dengan baik pula ke pembaca. Saran saya, daripada berpanjang-panjang dengan dialog, ada baiknya bagian pembuka dibuat dengan lebih mengentak. Misalnya, tunjukkan bagaimana Azraliel menghancurkan satu kota lain sebelum dia pergi ke Eycalistreum. Dari sekilas adegan awal itu pembaca bakal bisa mendapatkan sedikit (petunjuk) gambaran apa yang sebenarnya terjadi dan siapa sebenarnya kaum Namsaryan ini. Jadi pada saat mereka hendak menghancurkan kota terakhir tidak perlu semua hal dijabarkan dalam dialog, tapi cukup yang penting dan emosional saja yang menyangkut hubungan Azraliel dan ayahnya. Adegan penutupnya pun, yang berupa pertempuran dan kehancuran, jadinya juga tak perlu lagi berpanjang-panjang, cukup dengan penutup yang mengentak dan emosional saja, dari sudut pandang Azraliel, apa yang dipikirkannya tentang Namsaryan, Tridalry dan manusia. Ya, itu saran dari saya. Satu cerpen cukup kok buat menceritakan itu semua, asalkan urut-urutan adegan dan pembukaan setiap informasinya pas.

Dian:

AL, cobalah untuk menyertakan penjelasan setiap kali istilah asing muncul, secepatnya. Setidaknya, catatan kaki. Jangan biarkan pembaca tersesat dalam kebingungan, mana yang nama orang dan mana yang nama tempat atau benda atau ilmu atau whatsoever, hehe .. Oh, dan satu hal lagi yang patut untuk dicoba, menyebarkan informasi atau deskripsi yang tadinya dimampatkan di satu alinea dengan populasi kalimat yang terlalu padat. 😉

Bonmedo:

One thing that make this story difficult to enjoy is: too many difficult words being used from the very start with little explanation of what they are until middle part of the story.

Under the Greenwood Tree – karya Restya

Villam:

Kisah cinta antara seorang gadis dengan pemuda bangsa Moordenaar, yang kabarnya kanibal. Sebenarnya ceritanya cukup mengalir, walaupun di banyak tempat narasinya bisa dibuat lebih lugas dengan memangkas kata-kata yang mubazir. Keheranan lalu muncul, karena saya rasa keberadaan si pemuda itu di hutan tidak mempunyai alasan yang cukup kuat. Jika dia adalah bangsa Moordenaar yang dimusuhi orang-orang dan lalu bersembunyi di hutan, kenapa dia meniup lute yang bisa memancing orang untuk datang? Sebaliknya, jika sesuai alasan dia bahwa dia ada di sana untuk mencegah orang-orang bangsanya supaya tidak menyerang desa, kenapa juga dia menghabiskan waktu di hutan untuk meniup lute? Ya sudah pasti misinya itu bakal gagal karena dia memang tidak berusaha apa-apa selain meniup lute. Jadi saya yakin cerita ini bisa dibuat lebih bagus jika pertanyaan-pertanyaan di atas itu dijelaskan alasan-alasannya. Dan juga, supaya pembaca paham bahwa ini adalah cerita yang menggunakan metode flashback, ada baiknya dibuat lebih sederhana, yaitu cukup dengan membuka cerita dengan kalimat seperti ini: ‘Aku pertama kali melihatmu di sana, dua puluh tahun yang lalu’. Beres masalah, dari awal pembaca langsung tahu bahwa ini adalah flashback.

Dian:

I enjoyed reading this story until all of sudden it fast forwarded to twenty years ahead. Hiks. Rasanya endingnya diburu-buru, dan apa yang sebenarnya terjadi para Arthe di rentang waktu tersebut masih misteri.  Mungkin memang dia yang meniup lute di akhir cerita, tapi bisa jadi bukan–however, I like this part.

Bonmedo:

Nicely written. The plot is quite simple, but is unpredictable and have a lovely ending. The universe also has been described quite nicely and easy to imagine.

Wajah Sheira – karya Aki

Villam:

Kisah tentang seorang pemuda yang jatuh cinta pada gadis pelayan, tapi terlalu penakut untuk bicara, dan lalu coba menemui putri duyung untuk membantunya. Cukup menarik. Ceritanya mengalir lancar, narasi dan dialognya ringan dan enak dibaca. Hanya saja ini memang benar-benar cerita dongeng di mana beberapa alasan dan tingkah laku tokoh-tokohnya memang tampak tidak wajar seperti biasanya orang-orang di dunia nyata. Misalnya, bagaimana bisa dan seberapa besar sih sebenarnya Roan jatuh hati pada si gadis pelayan, sehingga ia begitu berani menerima tawaran temannya untuk menemui putri duyung padahal sudah diwanti-wanti kalau ia bakal mendapat nasib buruk, seolah-olah Roan memang tidak memiliki hidup yang lain di luar sana. Jadi, kalau saja si Roan ini digambarkan punya kehidupan yang wajar terlebih dulu, sebelum ia membuat keputusan-keputusan, sehingga ia tahu apa yang harus ia tinggalkan atau ia pertaruhkan, mungkin ceritanya bakal lebih menarik lagi, dan tak hanya menjadi kisah cinta khas dongeng semata.

Dian:

Apakah chicklit atau teenlit atau romans biasa boleh disebut sebagai ‘fiksi fantasi’ hanya dengan mengganti nama tokoh dan tempat dengan nama yang tidak lazim di dunia nyata? Sayang sekali cerita ini lebih fokus pada obrolan di rumah makan, instead of menggali lebih banyak tentang mitologi putri duyungnya. Sheira jadi terasa seperti figuran numpang lewat, padahal sebetulnya dengan lebih fokus ke Sheira, cerita bisa lebih dinamis.

Bonmedo:

Nicely setup plot and universe. The characterisation also quite strong, but the sentences can use some trimming to make them more effective.

Yumegatari – karya Szero

Villam:

Kisah tentang … mmm … mimpi. Semua orang pernah bermimpi, jadi saya yakin pasti tahu jawaban dari pertanyaan sederhana ini: saat anda bermimpi, pernahkah anda tidak menjadi diri anda sendiri dan tidak mengalaminya dari sudut pandang orang pertama? Pernahkah anda bermimpi, seaneh apapun itu, yang di dalamnya tidak ada diri anda (atau ada, tapi tidak pada sudut pandang orang pertama), dan anda melihat mimpi tersebut seolah-olah sedang menonton film di yang isinya hanya ada orang-orang lain (atau menonton diri anda sendiri) sedang melakukan sesuatu di depan sana? Saya yakin jawabannya tidak pernah. Mimpi adalah sebuah pengalaman personal. Pengalaman merasakan langsung, bukan sekadar menonton orang lain sedang melakukan sesuatu. Sehingga jika di dalam cerita ini ada sebuah mimpi yang diceritakan dalam sudut pandang omniscient (serba tahu) dan bukannya limited (terbatas) dari seorang tokoh, sebagai pembaca saya tidak akan pernah bisa percaya bahwa itu adalah mimpi, betapapun di akhir cerita kemudian itu disebut sebagai mimpi. Jadi saran saya untuk Szero di cerita ini sederhana saja, jika itu adalah mimpi, ceritakanlah melalui sudut pandang limited (terbatas) dari seorang tokoh—boleh first person POV, boleh pula third person limited POV. Buat narasi yang personal, jelaskan semua hal dan situasi melalui sudut pandang, persepsi dan pendapat tokoh POV tersebut. Dengan cara itu, mimpinya jadi bisa dipercaya, dan narasi panjangnya pun mudah-mudahan tidak lagi terasa membosankan.

Dian:

Sesuai judulnya, cerita ini tentang mimpi.  Deskripsinya mantap. Tapi ketika Mia terbangun, kisah si penyihir bunga tadi terasa ‘kurang penuh’, masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan–siapa gadis kecil itu, kenapa si pria dan si wanita harus bertempur, kenapa si pria dan gadis kecil menyeberang dari gurun ke padang bunga? Buatku cerita ini belum selesai. Oh iya. Nama jurusnya unik, walau rada ribet. Kalo kesrimpet nyebut, jurusnya keluar gak? :p

Bonmedo:

Strong universe, a bit too much fighting scene for me, but not bad since the plot still there and still being kept captivating. One thing that can be improve is the characterisation of the 2 main characters, the man and the lady. Perhaps if the fighting scene is lessened and in its place the author put some character’s charaterisation stories i.e. a flashback of when they were still married, or perhaps something that shows emotion toward each other and the daughter more, this story could be enhanced considerably.

Zee & Zoe – karya Sang Mimpi

Villam:

Kisah tentang dua saudara kembar, yang satunya sekarat karena telah diambil ginjalnya. Saya tidak tahu bagaimana dan seperti apa rasanya diambil ginjal, tetapi entah kenapa saya ikut ngilu saat membaca cerita ini, dan itu berarti, saya rasa, mungkin cerita ini memang cukup berhasil dalam membuat penggambaran kejadiannya. Sedikit catatan, saya tidak paham kenapa si Zoe harus membawa-bawa ginjalnya ke tempat persembunyian Zee padahal nantinya toh akan dibawa lagi ke Pemilik Toko. Dan dari segi teknis saya juga tidak terlalu suka dengan penulisan huruf kapital, tanda seru, atau titik-titiknya yang terlalu berlebihan. Namun di luar itu, saya suka dengan ide ceritanya, dan suka juga dengan karakter si Pemilik Toko yang menarik. Endingnya terbuka (walaupun kalimat penutupnya kurang menggigit), dan cocok jika nanti mau dilanjutkan jadi cerita panjang.

Dian:

Miris baca adegan pembedahannya. Deskripsinya terlalu baik, sepertinya, hehehe … Senang  Zee dan Zoe bisa bahagia di akhir. Tetap bersama, punya pekerjaan pula. Tapi kalau menurutku, kisah mereka setelah bersatu lebih menarik untuk dijadikan cerita, lho. Lebih terasa hawa fantasinya. Bagaimana mereka menangani arwah, mungkin terlibat pertarungan dengan si arwah, atau justru menolong si arwah dari iblis yang mengejar … *mikir* sepertinya menarik, nih. 😉

Bonmedo:

Interesting, unique twist and plot. Nice captivating language and emotion bringer but still current with dialogue that feels natural and real. Love this one.

5 Black Castles – karya Yonika

Villam:

Kisah tentang negeri lima menara (jadi inget sebuah judul novel) atau lima istana. Ini bukan cerpen, jadi di sini saya tidak akan berkomentar banyak. Hanya saja kalau ini nanti mau dijadikan cerita panjang, saya rasa ada satu hal penting yang sebaiknya diperhatikan, yaitu soal latar dunia. Di awal saya pikir Yonika akan membuat ini jadi semacam cerita fiksi ilmiah, dengan segala teori macam-macam. Ternyata kemudian sama sekali tidak, dan cerita lebih berkembang ke arah cerita fantasi biasa, dengan plot mengumpulkan anak-anak penyelamat dari berbagai istana, untuk melawan satu kaum jahat. Logika perubahan bumi sampai kemudian menghasilkan makhluk semacam elf atau vampire sangat sulit diterima oleh nalar, jika ini mau dibuat jadi cerita fiksi ilmiah. Dan saya juga tidak melihat seluruh sejarah perubahan bumi itu sebagai suatu hal yang signifikan mempengaruhi cerita. Jadi, kalau buat saya, saya akan lebih nyaman jika membaca ini semata-mata sebagai cerita fantasi, yang tidak perlu penjelasan berbagai macam soal latar dunia yang seolah-olah ilmiah itu. Mendingan cabut saja semua sejarah perubahan bumi itu, dan buat sejarah yang memang benar-benar baru dalam sebuah dunia antah berantah. Dengan demikian saya tidak perlu mulai membaca cerita dengan sebuah ketidakpercayaan, dan bisa langsung saja menikmati petualangan Levana dan teman-temannya dalam sebuah dunia fantasi yang unik.

Dian:

I have made something like this, so please allow me to pay more attention on this story.

Dari semua sub-genre fiksi fantasi, sci-fi adalah yang paling berat (at least for me). Alasannya adalah, kita harus bisa memadukan ilmu pengetahuan ke dalam plot cerita sedemikian rupa, sehingga logikanya bisa diterima dan tidak menimbulkan pertanyaan, argumentasi atau pendapat yang bertentangan. Dan ini tidak gampang, lha wong risetnya aja udah abis-abisan, masih ditambah harus mikirin plot yang njelimet. Tapi permasalahannya, logika di sci-fi kadarnya jauuuh lebih besar daripada sub-genre lain, so be very careful. Kita ambil contoh, ya.

Perubahan Matahari yang semakin mengembang ini menyebabkan evolusi Bumi terhadap Matahari menjadi sangat lama, yaitu menjadi 1460 hari.

Evolusi bumi berubah menjadi sekian kali lipat semula karena Matahari semakin mengembang. Okay. Logikaku jadi seperti ini: matahari mengembang = gaya tariknya semakin besar = benda-benda di sekitarnya jadi lebih mendekat = bumi (kalau masih bisa mengorbit) seharusnya justru berevolusi lebih cepat karena gaya tarik tadi. Tapi dalam cerita ini kok malah semakin menjauh, kok bisa? Ditambah dengan kalimat berikut:

Bumi seperti terbagi menjadi 2 bagian karena tidak berotasi, bagian malam dan bagian siang.

CMIIW, medan magnetik bumi, yang berperan untuk ‘menolak’gaya tarik matahari, disebabkan oleh rotasi. Kalau bumi berhenti berotasi, kemungkinan bumi ditarik matahari bisa dibilang mendekati seratus persen karena medan magnetiknya tidak ada lagi.

Walaupun sudah tidak berotasi, bumi tidak terbagi menjadi wilayah malam dan siang karena semua bagian sama-sama mengalami siang dan malam mengikuti waktu evolusi bumi. Coba putar sebuah jeruk mengelilingi kepalan tangan. Pasti ada bagian yang menghadap kepalan tangan dan ada bagian yang tidak, bergantian selama satu putaran berlangsung. Siang dan malam tetap ada untuk semua bagian bumi, hanya saja satu hari sama dengan satu tahun. Err … *nepok jidat* baru nyadar sehari itu sama dengan satu kali siang dan satu kali malam. Jadi kalimat di atas tentang revolusi 1460 hari itu apa dong, kalo rotasinya udah gak ada?

Lagipula kalau hanya ada siang, suhu akan amat sangat panas sehingga tanaman sulit bertahan. No plants = no animal = no human. Sebaliknya tanpa matahari tanaman juga tidak bisa berfotosintesis, jadi piramida makanan juga tidak ada. We wont need Lucifers to annihilate humans because the climate will kill them first. Jadi dalam cerita ini ada blank logika yang lumayan fatal, karena kalau sejak awal dinyatakan tidak berotasi lagi berarti bumi tamat dan seharusnya cerita 5 black castles ini tidak mungkin terjadi. See what I mean?

Ngomong-ngomong soal Lucifer, kok rasanya ada yang nggak cocok. Sejak awal cerita sudah muncul penjelasan-penjelasan ilmiah, tapi kemudian muncul ramalan, makhluk-makhluk ajaib dan sayap di punggung para ‘terpilih’. Hal-hal yang terkait dengan ilmiah biasanya tidak bisa menjelaskan hal-hal ajaib dan begitu pula sebaliknya. So sorry, this probably another blank of this story.

Untuk risetnya, kukasih standing applause deh, Yonika. Jangan marah karena komenku di ceritamu bejibun, ya. Trust me, I know how it feels to write sci-fi. It’s not easy, you’re talented, and I’m looking forward to see another sci-fi writing of yours J

http://dunia-statistik.blogspot.com/2010/08/apa-jadinya-jika-bumi-berhenti-berputar.html

http://www.lintasberita.com/go/1008549

http://unic77.blogspot.com/2010/03/apakah-yang-terjadi-seandainya-bumi.html

Bonmedo:

Having problem firstly with logic. Earth not rotating: all should probably die, or earth destroyed. And why the mutation? The logic and plot here sounds forced.

Iklan